Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

05 November 2011

Analisis Komposisi Tutur dalam Ceramah Agama Aa Gym

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1  Komposisi Tutur Ceramah Sebagai Bagian Kegiatan Berbahasa.
2.1.1        Pengertian Komposisi Tutur
Komposisi tutur terdiri dari dua kata, yaitu “komposisi” “dan tutur”  Menurut kamus besar bahasa Indonesia komposisi adalah susunan / tata susun. Sedangkan Rahmat (2002:34) menyatakan secara singkat prinsip-prinsip komposisi ialah kesatuan, pertautan, dan titik berat. Kesatuan berarti satunya isi, tujuan dan sifat. Tetapi kesatuan tanpa susunan gagasan yang teratur akan menimbulkan kebingungan, karena itu diperlukan syarat kedua : pertautan. Setelah itu beberapa gagasan harus ditonjolkan, yang lain dibelakangkan, sebagian ditekankan dan sebagian lain diuraikan sambil lalu, inilah yang disebut titik berat.
Sedangkan tutur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ucapan / kata / perkataan. Penutur adalah orang yang bertutur / orang yang berbicara / orang yang mengucap atau mengucapkan. Penuturan adalah proses / cara / perbuatan menuturkan pemberitaan / pembicaraan / uraian tentang suatu hal. Menurut Oka (1976:60) tutur adalah bentuk bahasa dari gagasan yang tersimpul dalam suatu topik tutur yang terpilih. Ditegaskan lagi dalam Oka (1990:1) bahwa tutur adalah sesuatu yang telah dibahasakan. Orang yang menuturkannya disebut penutur, sedangkan penghayat tutur disebut petutur atau penanggap tutur atau pembaca.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa komposisi tutur adalah tindak dan usaha yang dilakukan seorang penceramah dalam menata dan penyusun gagasan  yang akan disampaikan pada pendengar, dengan metode tertentu yang disusun mulai dari pendahuluan, isi, dan penutup  untuk memperoleh pemahaman yang baik dari lawan tutur.

2.1.2        Macam-macam Koposisi Tutur
2.1.2.1 Aspek Metode
Metode merupakan sebuah cara untuk menggali topik yang sebenarnya. Meskipun demikian, pembicara tak pernah tahu secara detail hakekat topik yang  dipilihnya. Pada umumnya pembicara hanya tahu tentang struktur serta hubungan bagian-bagiannya saja. Pembicara sebenarnya berada diluar topik yang dipilihnya dan hanya bersifat pemetaan saja.
Topik tutur adalah segala sesuatu yang diangkat oleh penutur sebagai pokok tuturan. Secara umum dia biasa berupa ungkapan diri (buah pikiran, cetusan perasaan, kemauan, imajinasi, fantasi, cita); pengetahuan dan pengalaman, baik pengalaman sendiri, maupun pengalaman orang lain; lingkungan sekitar dan alam raya (Oka, 1976:58).
Komposisi tutur, khususnya aspek metode, memanfaatkan peranan retorika, karena pada umumnya semua permasalahan hanya dapat diatasi dengan retorika sebagai pengungkap kemauan manusia. Oka (1976:59) menyatakan bahwa, setelah sebuah topik tutur dipilih, kesulitan berikutnya adalah mengolah dan menganalisa topik tersebut, bidang inipun digarap oleh retorika, yaitu merupakan masalah metode.
1)      Pengetahuan dan pengalaman, baik milik sendiri maupun milik orang lain.
Dalam ceramah atau pidato jangan sekali-kali pembicara mengangkat masalah yang kurang atau bahkan tidak dikuasai, karena hal itu menyebabkan arah pembicara menjadi kabur, membingungkan, dan bisa menimbulkan salah paham, bahkan konsentrasi pembicara akan pecah karena dihantui rasa gugup dan tidak percaya diri.
Untuk menjadi pembicara yang baik dan penuh percaya diri, kita harus mengetahui dan menguasai apa yang akan atau harus kita bicarakan. Sebaiknya materi pembicara adalah masalah yang dikuasai, atau sesuai dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman, serta cukup waktu mempersiapkannya, (Romli, 2003:73).
Pengetahuan dan pengalaman dapat dikolaborasikan atau dipadukan antara pengetahuan dan pengalaman sendiri dengan pengetahuan dan pengalaman orang lain. Pengetahuan milik sendiri berfungsi untuk memberikan informasi baru atau menambah wawasan baru pada pendengar. Sedangkan pengetahuan dan pengalaman milik orang lain (Audien) berfungsi sebagai penyambung gagasan serta untuk memuaskan pendengar tentang hal yang dibicarakan.
Romli (2003:70) menyatakan untuk memuaskan pendengar, tiga faktor berikut ini sangat menentukan :
a.      Bicara dengan percaya diri
b.     Bicara dengan jelas
c.      Libatkan pendengar dalam pembicaraan
           Berbagai ilmu dan pengalaman yang dijadikan topik tutur menurut Oka (1990:52) bisa berasal dari pengalaman diri- sendiri atau pangalaman orang lain
Pembicara bertujuan memberikan informasi baru (to inform) atau menambah pengetahuan atau wawasan baru kepada hadirin (Romli, 2003:70).
2)       Ungkapan
Dalam bahasa, agaknya setiap penutur berusaha memilih bahasa (kata-kata, ungkapan, istilah dan lain sebagainya) yang tepat untuk menuturkan gagasannya. Dari perbendaharaan bahasa yang dikuasainya diangkatnya sejumlah materi untuk selanjutnya disusun menjadi kalimat-kalimat yang satu pihak diperkirakan mampu mewadahi gagasan, sedangkan dipihak lain diduganya pula sebuah kalimat-kalimatnya akan mampu mengungkapkan kembali gagasan itu yang menerangkan pada diri penanggap tutur (Oka, 1976:5).
Pemanfaatan ungkapan dalam suatu pembicara memang sangat diperlukan. Karena dengan ungkapan pembicara dapat dengan mudah menjembatani gagasan-gagasannya satu dengan yang lain dan lebih mudah dalam  merebut perhatian pendengarnya. Ungkapan yang dikeluarkan harus menyinggung permasalahan yang dibicarakan, dengan mengeluarkan statement yang sejenis tetapi memamfaatkan bahasa ungkapan yang menarik pemikiran pendengar walaupun sejenak.
Dalam Romli (2003:103), keterkaitan antara bagian pesan yang dilakukan dengan cara, salah satunya; paralilisme, ungkapan sejenis atau setara, misalnya rincian karakteristik sesuatu atau persyaratan menjadi sesuatu.
Secara umum seseorang dalam kegiatan bertutur senantiasa akan memilih ungkapan dan bahasa yang dapat mewakili gagasan yang hendak dituturkan (Oka,1990:3).
3)       Lingkungan sekitar
Perlu diketahui bahwa setiap perbuatan khususnya bertutur, bukanlah murni datang dari si pembicara. Tidak ada yang orisinil dalam hidup ini, karena semuanya tercipta karena pengaruh lingkungan sekitar dan bahkan lingkungan terdahulu yang masih terus melekat dalam ingatan bisa menjadi acuan.  Dunia di sekitar pembicarapun cukup menunjang proses bertutur, sebab dapat dijadikan penopang gagagsan dengan tujuan untuk memperlengkap bahan tuturan, dengan cara memeberikan ilustrasi, perumpamaan dan lain-lain.
Menemukan inspirasi di dunia sekitar kita (Finding Inspiration in the World Around you) (Romli, 2003:74).
Termasuk kedalam ulasan (argumen) adalah bukti-bukti, contoh-contoh, perbandingan, ketentuan-ketentuan, ataukah yang semacam dengan ini yang biasa dimanfaatkan untuk menopang gagagsan dan memperjelas gagasan (Oka, 1976:5).
Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog