Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

18 Oktober 2011

Contoh Makalah PTK

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

PENINGKATAN KEMAMPUAN
MEMBUAT KALIMAT MENGGUNAKAN KATA-KATA BERSINONIM
MELALUI TEKNIK MELENGKAPI PARAGRAF
SISWA KELAS VI SD 
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Seperti kita ketahui bahwa masih banyak ditemui berbagai masalah implementasi pembelajaran, yang antara lain disebabkan oleh padatnya materi pelajaran sehingga mengakibatkan munculnya kecenderungan pengajaran yang berpusat pada guru. Situasi belajar-mengajar seperti ini mengakibatkan berkurangnya kreativitas guru dan siswa selama kegiatan belajar-mengajar (KBM) berlangsung. Kondisi demikian dapat menyebabkan siswa pasif dan cenderung untuk menghafal konsep tanpa disertai pemahaman yang memadai. Semua ini terjadi karena selama ini nuansa pembinaan pendidikan dan pelaksanaannya secara operasional oleh kebanyakan guru, lebih menitikberatkan pada mengajar daripada belajar. Paradigma demikian dipegang erat sehingga banyak guru yang terjebak pada keyakinan yang keliru, yakni mengajar selalu menghasilkan belajar. Fenomina pendidikan seperti itu jelas memerlukan perubahan paradigma.
Upaya peningkatan mutu pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai. Pengembangan aspek-aspek tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup (life-skills) melalui seperangkat kompetensi, agar siswa dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karenanya diperlukan kemampuan untuk memperoleh dan mengelola serta memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Dalam hal ini, bahasa menjadi salah satu faktor penting sebagai alat komunikasi yang dapat digunakan untuk memperoleh dan mengelola serta memanfaatkan informasi dimaksud. 
Komunikasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses penyampaian maksud pembicara kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa, dan lain-lain. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan), ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis, serta unsur-unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo 
Ironisnya, pembelajaran matematika yang memiliki peran penting tersebut justru pada sisi siswa atau anak didik kurang disambut dengan baik. Mata pelajaran ini dianggap oleh anak sebagai mata pelajaran yang paling sulit, membosankan, dan bahkan menakutkan. Matematika dilihat dari situasi yang membuat seseorang tampak dungu, tolol dan canggung. Situasi ini hampir terjadi di semua tingkatan sekolah, dari sekolah dasar ke perguruan tinggi mengalami hal tersebut. Seperti opini yang dikemukakan oleh Rita K. (1994:18). Ia mengatakan bahwa metematika adalah pelajaran yang menakutkan. Akibat dari opini tersebut, prestasi siswa dalam pembelajaran matematika umumnya sangat rendah dan jauh dari harapan.
Persoalan di atas, juga dihadapi oleh siswa kelas VI SD Negeri Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan. Dari hasil kajian pendahuluan yang datanya dijaring melalui tes, ditemukan fakta bahwa nilai rata-rata siswa kelas VI, khususnya untuk prestasi belajar siswa dalam menyelesaikan penghitungan volume balok adalah 4. Perinciannya adalah 15,4% siswa mendapat nilai 10 (sepuluh), 50% siswa mendapat nilai 5 (lima), dan 34,6% siswa tidak bisa menjawab sama sekali alias 0 (nol). Data ini memberikan informasi pula bahwa siswa kelas VI SD Negeri Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan tidak tuntas dalam belajar menyelesaikan penghitungan volume balok.
Permasalahan di atas, jika ditinjau dari perkembangan psikologis anak, khusus siswa SD memang terdapat hal yang kontradiktif. Di satu sisi siswa SD sedang mengalami perkembangan dalam tingkat berpikirnya. Tahap berpikir mereka masih belum formal, malahan sebagian dari mereka berpikirnya masih berada pada tahapan pra kongkret. Di lain sisi, matematika adalah ilmu deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat arti dan semacamnya. Keadaan yang sangat kontradiktif ini perlu mendapat penanganan khusus dan serius agar pembelajaran matematika dapat berhasil dengan sukses. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Karso (2002:1.4). Ia mengatakan bahwa mengingat adanya perbedaan karakteristik (khususnya antara hakikat anak dengan hakikat matematika), maka diperlukan adanya kemampuan khusus dari seorang guru untuk menjembatani antara dunia anak yang belum berpikir secara deduktif untuk dapat mengerti dunia matematika yang bersifat deduktif.
Hasil refleksi awal yang dilakukan bersama antara guru peneliti dengan teman sejawat, disepakati bersama bahwa ada sejumlah variabel penting dari sisi guru yang mempengaruhi ketidakberhasilan siswa dalam pembelajaran matematika selain faktor-faktor kendala yang telah disebutkan di atas. Sejumlah variabel dimaksud antara lain adalah (1) metode ceramah lebih dominan digunakan dalam setiap pembelajaran, (2) urutan materi mengajar kadang-kadang tidak runtut, (3) media belajar banyak didominasi oleh penggunaan papan tulis saja, dan (4) kurangnya pelayanan khusus guru terhadap siswa yang tidak memiliki kemampuan pokok bahasan tertentu sebagai prasyarat mengikuti pembelajaran berikutnya. Hal terakhir disebabkan terbatasnya waktu bagi seorang guru kelas yang mendapat beban tugas pada hampir semua mata pelajaran kecuali mata pelajaran agama dan penjaskes.
Dari beberapa uraian di atas, dapat ditarik benang merah tentang kendala yang menjadi penyebab gagalnya pembelajaran matematika khususnya dalam penghitungan volume balok. Kendala yang dianggap penting dan paling dominan mempengaruhi kegagalan tersebut serta mendesak untuk segera diatasi dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) persepsi anak yang keliru terhadap pembelajaran matematika, yakni pembelajaran matematika yang dianggap menakutkan, (2) penggunaan metode ceramah yang lebih dominan sehingga memberikan peluang bagi anak untuk tidak konsentrasi dalam belajarnya, dan (3) kurangnya pelayanan khusus bagi anak yang belum siap menerima pembelajaran baru. Atas dasar itu, argumentasi logis terhadap pilihan tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi tiga kendala di atas dengan tanpa menambah beban guru SD yang memang sudah sangat berat dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) menghilangkan persepsi anak yang keliru terhadap pembelajaran matematika, yakni pembelajaran matematika dibuat menyenangkan bagi anak; (2) penggunaan metode ceramah yang lebih dominan sehingga memberikan peluang bagi anak untuk tidak konsentrasi dalam belajarnya diputar balik, yakni dengan lebih banyak menggunakan metode tanya jawab, penugasan, latihan, serta demontrasi; sehingga tidak memberi peluang sedikitpun bagi anak-anak untuk melakukan kegiatan lain selain belajar; (3) memberikan pelayanan khusus bagi anak yang belum siap menerima pembelajaran baru dan dijaring melalui pretest; dan (4) memberikan kemudahan belajar sesuai dengan tingkat kemampuan anak melalui berbagai cara yang mungkin dapat ditempuh anak dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Barangkali jawaban sementara yang pas untuk dapat mengkafer keempat permasalahan di atas sekaligus, apalagi dengan tanpa menambah beban guru sangatlah sulit. Namun  argumen logis sebagai jawaban yang paling mendekati kebenaran adalah dengan penggunaan media yang dalam hal ini adalah alat peraga yang sesuai dengan topik pembelajaran, yakni alat peraga kubus satuan. Alasan teoritis yang dapat dikemukakan adalah karena media (alat peraga) berguna untuk (1) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis; (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera; dan (3) mengatasi sikap pasif anak didik (Sadiman, 1986:16-17). Di samping itu secara khusus, alat peraga kubus satuan selain memiliki kegunaan seperti tersebut di atas, juga memberikan kemudahan bagi anak yang lambat untuk tetap dapat menghitung volume balok melalui penghitungan manual jumlah kubus satuan yang dapat dimuat balok tersebut untuk mengetahui volumenya. Dengan kata lain dengan penggunaan alat peraga kubus satuan dapat melayani kemampuan siswa yang hiterogen, yakni yang lambat, yang tidak memiliki kemampuan prasyarat, apalagi bagi anak yang memang cepat atau iq tinggi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti marasa tertarik untuk membahasnya dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan mengambil judul “Peningkatan Kemampuan Siswa Kelas VI SD Negeri Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan Tahun Pelajaran 2006/2007 Menyelesaikan Penghitungan Volume Balok Melalui Alat Peraga Kubus Satuan”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya seperti berikut ini.
“Apakah penggunaan alat peraga kubus satuan dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SDN Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2006/2007 dalam menyelesaikan penghitungan volume balok?”
C.     Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk “meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SDN Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2006/2007 dalam menyelesaikan penghitungan volume balok melalui alat peraga kubus satuan.”
D.    Manfaat
Penelitian ini penting karena hasilnya dapat bermanfaat antara lain sebagai berikut ini:
1.  Bagi siswa, pengalaman belajar dengan menggunakan alat peraga kubus satuan akan merupakan pengalaman yang sangat bermakna untuk terus mengembangkan cara-cara belajarnya. Hal ini sesuai benar dengan apa yang dikatakan Novak, 1984 dalam “Learning how to learn”.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas.
3. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam membuat kebijakan tentang peningkatan kualitas sekolah.
4. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan penelitian yang sejenis.
E.     Hipotesis Tindakan
Dalam penelitian tindakan kelas dikemukakan hipotesis tindakan. Dalam penelitian ini dikemukakan hipotesis tindakan dengan rumusan berikut.
“Jika pembelajaran dilakukan dengan menggunakan alat peraga kubus satuan, maka kemampuan menghitung volume balok siswa kelas VI SD Negeri Tebul Barat Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan tahun pelajaran 2006/2007 akan meningkat”
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

1 komentar:

Acip Hariawan mengatakan...

Ditunnggu Lanjutannya ////////////

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog