Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

18 Oktober 2011

Contoh Kajian Pustaka Makalah PTK

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

PENINGKATAN KEMAMPUAN
MEMBUAT KALIMAT MENGGUNAKAN KATA-KATA BERSINONIM
MELALUI TEKNIK MELENGKAPI PARAGRAF
SISWA KELAS VI SD 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif). Perubahan tingkah laku dimaksud adalah perubahan yang terjadi sebagai akibat interaksi dengan lingkungannya, tidak karena proses pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan. Kecuali itu perubahan tersebut haruslah bersifat relatif permanen, tahan lama, dan menetap, tidak berlangsung sesaat saja.
Pada mulanya guru merupakan satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, seorang siswa atau anak selalu memperolehnya dari guru. Sementara sumber belajar yang lain  seperti orang lain, teman, buku, majalah, surat kabar, film, radio dan lain-lainnya hanyalah pelengkap atau alat bagi guru untuk lebih mengkongkretkan tentang materi yang diajarkannya. Misalnya seorang guru akan mengajar bagaimana tumbuh-tumbuhan berkembang biak. Guru bisa saja bercerita panjang lebar tentang cara-cara perkembangbiakan tumbuh-tumbuhan, apakah secara generatif ataukah vegetatif. Namun hasilnya tentulah berbeda dengan kalau ditunjukkan benda yang sebenarnya atau ditunjukkan gambar penampangnya atau sumber belajar lainnya. Dengan penggunaan sumber belajar lain sebagai alat atau pelengkap bagi guru dalam mengajar menjadikan materi yang diajarkan lebih kongkrit dari pada hanya diceritakan secara verbal saja.
Sumber belajar yang sangat membantu kesuksesan siswa belajar di atas,  dapat golongkan ke dalam dua jenis, yaitu: (1) bahan (materials) yang biasa disebut dengan istilah perangkat lunak atau software yang mengandung pesan-pesan yang perlu disajikan baik dengan bantuan alat penyaji maupun tanpa alat penyaji, seperti: buku, modul, majalah, transparansi OH, film bingkai, audio; dan (2) alat (device) yang biasa disebut dengan perangkat keras atau hardware digunakan untuk menyajikan pesan, contohnya: film, film bingkai, proyektor overhead, video tape dan cassette recorder, pesawat radio dan TV. Bahan dan alat ini, yang kita kenal pula dengan istilah software dan hardware tak lain dan tak bukan adalah media pendidikan.

A. Kajian tentang Alat Peraga

1. Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar. Penggunaannya sangat dianjurkan agar proses belajar mengajar antara guru dan murid tidak membosankan, serta dapat merangsang keaktifan, minat dan kreativitas siswa. Dengan demikian, kreatifitas guru dalam memanfaatkan media pembelajaran akan sangat dominan pengaruhnya untuk mewujudkan keaktifan, minat, dan kreativitas siswa tersebut.
Menurut Heinich (dalam Winataputra, 1997), media berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti perantara (between) yaitu perantara sumber pesan (source) dengan penerima pesan (receiver). Sebagai perantara media pengajaran mencakup dua unsur, yaitu unsur perangkat keras atau peralatan (hard ware) dan unsur pesan (message) atau perangkat lunak (soft ware).
Senada dengan itu, Soeparno (1988) mengemukakan bahwa media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) atau informasi dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver). Dalam dunia pengajaran, pada umumnya pesan atau informasi tersebut berasal dari sumber informasi, yakni guru; sedangkan sebagai penerima informasinya adalah siswa. Pesan atau informasi yang dikomunikasikan tersebut berupa sejumlah kemampuan yang perlu dikuasai oleh para siswa.
Masih banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and Commonication Technology/AECT) di Amerika misalnya, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Gagne (1970 dalam Sadiman, 1986) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970 dalam Sadiman, 1986) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya.
Agak berbeda dengan itu semua adalah batasan yang diberikan oleh Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA). Dikatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca (Sadiman, 1986). Informasi atau bahan ajar yang akan disampaikan kepada siswa menggunakan sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan pesan/bahan ajar tersebut kepada siswa. Jadi media pengajaran adalah sarana atau alat bantu perantara yang digunakan guru atau siswa dalam proses belajar mengajar untuk menyalurkan pesan/informasi pembelajaran dari sumber pesan ke penerima pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan siswa serta mencegah vebalisme sehingga mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan.
Dari beberapa definisi media pengajaran di atas, maka dapat ditegaskan pula bahwa media pengajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message) atau informasi dari suatu sumber (resource) atau pengirim kepada penerimanya (receiver) sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar yang efektif terjadi.
2. Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum media pembelajaran mempunyai manfaat atau kegunaan-kegunaan sebagai berikut ini.
(1)   Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
(2)   Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya:
a.   objek yang terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar, film bingkai, film atau model;
b.   objek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film atau gambar;
c.   gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan timelapse atau high-sped photo-graphy;
d.   kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal;
e.   objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain; dan
f.     konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-lain. 
  (3) Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran bermanfaat untuk:
a.   menimbulkan kegairahan belajar;
b.   memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan;
c.   memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
(4) Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Apalagi latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pembelajaran, yaitu dengan kemampuannya dalam:
a.       memberikan perangsang yang sama.
b.      mempersamakan pengalaman.
c.       menimbulkan persepsi yang sama.

3. Media, Alat Pelajaran, dan Alat Peraga
Media pengajaran berbeda dengan alat pelajaran maupun dengan alat peraga. Alat pelajaran adalah alat yang dipakai untuk menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar. Jadi, merupakan peralatan yang semata-mata dipandang dari segi hardware-nya saja. Dengan kata lain dapat disebutkan, alat pelajaran adalah hardware (perangkat keras) yang belum diisi program atau memang tidak dapat diisi program. Papan tulis yang masih bersih merupakan alat pelajaran yang belum diisi suatu program, sedangkan kapur tulis dan penghapus papan tulis merupakan alat pelajaran yang memang tidak dapat diisi suatu program. Dengan demikian, papan tulis yang masih bersih, kapur tulis, dan penghapus papan tulis tersebut bukan media pengajaran, melainkan sebagai alat pelajaran saja, sebab alat-alat tersebut tidak dapat diisi program pengajaran.
Media merupakan paduan antara hardware dan software. Software (perangkat lunak) adalah suatu program yang diisikan pada hardware. Hardware yang telah diisi dengan software atau perangkat keras yang telah diisi dengan perangkat lunak barulah dapat disebut media. Media berbeda juga dengan alat peraga. Alat peraga pada hakikatnya hanya merupakan alat yang berfungsi memvisualkan suatu konsep tertentu saja.
Dilihat dari segi penggunaannya pun alat peraga berbeda pula dengan alat pelajaran maupun media. Penggunaan alat peraga dan alat pelajaran seratus persen di tangan guru. Tanpa guru alat peraga dan alat pelajaran tidak akan ada artinya. Lain halnya dengan media, tanpa kehadiran guru pun tetap dapat berfungsi sebagai pencipta suasana belajar. 
Dari beberapa uraian di atas, dapat ditegaskan pula bahwa yang dimaksud dengan alat peraga adalah segala sesuatu yang dapat digunakan guru dalam proses belajar mengajar dan berfungsi untuk menyalurkan pesan (message) atau informasi kepada penerimanya (siswa) sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar yang efektif terjadi.


4. Alat Peraga Kubus Satuan
Alat peraga kubus satuan termasuk media pandang nonproyeksi. Diklasifikasikan demikian karena alat peraga ini sesuai karakteristiknya hanya membutuhkan alat indera penglihatan untuk memfungsikannya. Dengan kata lain kita tidak butuh indera pendengaran dalam menggunakan alat peraga kubus satuan. Di samping itu, alat peraga ini bukan hasil pemroyeksian seperti film bisu, film strip, dan lain sebagainya.
Dilihat dari bentuknya, alat peraga ini berbentuk kubus yang memiliki ukuran rusuk sama yaitu 1 cm sehingga volumenya adalah 1 cm³. Untuk mengetahui volume bangun ruang kubus atau balok dapat juga menggunakan alat peraga ini, yakni dengan memasukkan kubus satuan ke dalam bangun kubus atau balok. Jumlah kubus satuan yang dapat tertampung dalam kubus atau balok, itulah volume dari bangun kubus atau balok tersebut. Jadi, misalnya sebuah balok dapat memuat 100 buah kubus satuan maka volume balok itu tentu 100 cm³. Dengan kubus satuan ini pula lambang bilangan yang sifatnya abstrak akan nampak lebih konkret kepada anak karena langsung ada acuannya.   

B. Kajian tentang Volume Bangun Ruang Balok

       1. Karakteristik Matematika dan Pembelajarannya di SD
Menurut teori Piaget (Karso, 2002:2.16) bahwa siswa usia SD belum berada pada tahapan berpikir formal. Mereka masih berada pada tingkat operasi konkret. Di lain pihak, bahwa objek pembelajaran matematika adalah abstrak. Dengan demikian, pembelajaran matematika di SD tidak bisa terlepas dari sifat-sifat matematika yang abstrak dan sifat perkembangan intelektual siswa yang masih bersifat konkret. Untuk itu diperlukan adanya jembatan yang dapat menetralisir perbedaan atau pertentangan tersebut. Di samping itu kita juga perlu memperhatikan beberapa sifat dan karakteristik pembelajaran matematika di jenjang Sekolah Dasar.
Menurut Karso (2002:2.16), karakteristik pembelajaran matematika itu antara lain:
1.      Pembelajaran matematika adalah berjenjang (bertahap)
Bahan kajian matematika diajarkan secara berjenjang atau bertahap, yaitu dimulai dari konsep yang sederhana menuju konsep yang lebih sukar. Pembelajaran matematika harus dimulai dari yang konkret, ke semi konkret dan berakhir pada yang abstrak.
2.      Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral
Dalam memperkenalkan konsep atau bahan yang baru, perlu memperhatikan konsep atau bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Bahan yang baru selalu dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari dan sekaligus mengingatkannya kembali. 
3.      Pembelajaran matematika menekankan pola pendekatan induktif
Matematika adalah ilmu deduktif, matematika tersusun secara deduktif aksiomatik. Namun sesuai dengan perkembangan intelektual siswa SD , maka dalam pembelajaran matematika perlu ditempuh pola pikir atau pola pendekatan induktif.
4.      Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
Kebenaran dalam matematika sesuai dengan struktur deduktif aksiomatiknya. Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya merupakan kebenaran konsistensi, tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya.
Mengingat adanya perbedaan karakteristik maka dalam pembelajaran matematika si SD, diperlukan adanya kemampuan khusus dari seorang guru untuk menjembatani antara dunia anak yang belum mampu berpikir secara deduktif untuk dapat mengerti dunia matematika yang bersifat deduktif. Guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran yang bersifat operasional, langsung, dan nyata.
Menurut petunjuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD, bahwa penerapan strategi yang dipilih dalam pengajaran matematika haruslah bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi semua unsur pembelajaran dan optimalisasi keterlibatan seluruh indera siswa (Depdikbud, 1995). Dengan peningkatan optimalisasi interaksi dalam pembelajaran matematika, maka kompetensi dasar atau indikator tertentu dapat kita capai dengan pendekatan penemuan, pemecahan masalah atau penyelidikan. Bahkan untuk menyelesaikan soal-soal, memungkinkan siswa mencoba dengan berbagai cara sepanjang cara tersebut benar.
Di samping itu, penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep. Hal ini senada dengan Karso (2002) yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika tidak hanya kepada “bagaimana” suatu soal harus diselesaikan, tetapi juga pada “mengapa” suatu soal harus diselesaikan dengan cara tertentu.
Dari beberapa uraian di atas, tampak jelas bahwa penggunaan media pembelajaran yang berupa alat peraga tidak dapat dihindari oleh seorang guru matematika. Dengan menggunakan alat peraga yang sesuai dalam setiap pembelajaran matematika dapat membantu menjembatani perbedaan yang sangat kontradiktif antara dunia anak dengan dunia matematika.  Dengan penggunaan alat peraga juga, khususnya penggunaan alat peraga kubus satuan dalam menghitung volume balok memungkinkan siswa dapat terakomudasi walaupun  memiliki perbedaan kemampuan. Singkat kata dengan penggunaan alat peraga dua hal yang dapat diperoleh sekaligus yakni kegembiraan anak dalam belajar dan dapat menyerap pembelajaran matematika dengan mudah.
2. Volume Bangun Ruang Balok
Bangun ruang merupakan salah satu materi dalam pembelajaran matematika. Karena itu, materi ini tentu memiliki ciri-ciri yang sama dengan materi pembelajaran matematika lainnya, di samping ciri khusus yang membedakan sebagai karakteristiknya yang sekaligus juga menuntut perlakuan pembelajaran yang berbeda.
Volume dari suatu bangun ruang adalah suatu ukuran yang menyatakan kuantitas dari ruangan yang ditempati oleh benda ruang itu sendiri (Muchtar, 2002:4.3). Misalnya ada suatu bangun ruang balok, maka volume dari balok itu sama dengan kuantitas dari ruangan yang ditempati balok itu sendiri. Definisi ini dapat dinyatakan pula bahwa apabila diketahui suatu bangun ruang yang berongga (dan sisi dari benda ruang itu sangat tipis sehingga bisa diabaikan), maka volume dari benda ruang dapat dinyatakan sebagai ukuran yang menyatakan banyaknya tepung atau cairan yang memenuhi rongga bangun ruang tersebut. Dengan kata lain, jika benda ruang tersebut berbentuk balok dan rongganya diisi dengan kubus satuan, maka volumenya adalah jumlah dari kubus satuan yang dapat dimuat benda ruang berbentuk balok tersebut.
Pada bangun ruang yang disebut balok, dikenal istilah panjang, lebar, dan tinggi. Istilah panjang dan lebar dipakai sebagai ukuran untuk sisi-sisi yang terdapat pada balok, sedangkan tinggi digunakan sebagai ukuran dari sisi balok yang tegak lurus alas secara umum.
C. Pengaruh Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan terhadap Kemampuan Menghitung Volume Balok
Berdasarkan kajian teori pada pembahasan sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa secara teoritis penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika memiliki pengaruh yang sangat signifikan  Pengaruh tersebut dapat dijelaskan antara lain sebagai berikut ini.
1. Dengan menggunakan alat peraga, penyajian pesan akan menjadi jelas sehingga anak akan mudah merima pesan (materi) tersebut tanpa mengalami kesulitan;
2. Dengan alat peraga menjadikan pembelajaran lebih konkret, termasuk materi pelajaran yang memiliki sifat abstrak.. Dengan situasi ini tentu akan lebih mudah menyerap materi matematika yang memiliki sifat abstrak.; dan
3. Alat peraga mengatasi sikap pasif anak didik  Sikap aktif  siswa  dibutuhkan dala suasana belajar karena menjadi modal dasar keberhasilan seorang siswa dalam belajarnya.
Secara khusus pengaruh tersebut dapat diuraiakan berikut ini.
1. Alat peraga kubus satuan memberi kesempatan bagi anak yang lambat atau tidak memiliki kemampuan prasyarat dalam belajar menghitung volume kubus satuan. Peluang itu diperoleh karena dengan menggunakan kubus satuan volume balok tetap bisa dicari yakni dengan menghitung jumlah kubus satuan yang dapat dimuat dalam bangun balok  tersebut.
2. Dengan alat peraga kubus satuan, siswa akan menemukan sendiri rumus volume balok. Dengan penemuan sendiri tentu akan lebih mendalam pemahaman anak terhadap rumus volume balok.; dan
3. Dengan penemuan sendiri, siswa akan tertantang untuk mengkaji lebih mendalam tentang temuannya. Situasi ini tentu menciptakan situasi belajar mandiri yang pada gilirannya nanti tentu akan meningkatkan kualitas belajar anak.   

DOWNLOAD KAJIAN PUSTAKA LAINNYA KLIK LINK DI BAWAH INI
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog