Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

14 September 2011

Tradisi Kawin Muda

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

Dahulu kala ada sebuah desa yang sangat terbelang pengetahuannya, memunculkan peradaban pincang sebagai sistem budaya di desa itu. Masyarakatnya mempercayai tahayul dan hal-hal yang ghaib bahkan setiap malam jum’at menyongsong pokok rumahnya yang menjadi tradisi setiap minggu seperti sebuah kewajiban serta mentradisikan kawin muda pada anak-anaknya.
Pak Karim yang merupakan salah satu masyarakat di desa itu, juga aktif melakukan penyosonan setiap malam jum’at di pojok rumanya dengan minyam yang di bakar sambil memperingatkan anakknya, Thahir. “Nak setiap kamu berdo’a, pintahlah rezegi kakek mu yang sudah meninggal bulan yang lalu, agar kamu tambah murah rezeqinya.”
Itu juga salah satu kepercayaan masyarakat di desa itu. Tapi Thahir tak dapat mengucapkan satu kata pun kecuali hanya mengangkukkan kepala yang berarti mengiyahkan sebab Thahir sudah terdidih sejak kecil tentang dunia yang semacam itu, mempercayai hal-hal yang ghaib.
Thahir yang masih belum puber di ajak Pak Karim kesawahnya sambil memperkenalkan semua apa yang dilakukan. Tapi Thahir anak muda yang selalu ingin hal yang baru, dia tidak hanya melihat dan mendengar apa yang diperkenalkan ayahnya malah dia juga praktek mengganti ayahnya, seperti ada rasa prihatin dalam hatinya terhadap ayahnya yang sedang meneteskan air peluh di seluruh tubuhnya.
Sebagaimana anak muda yang masih dibawah umur. Thahir mengganti ayahnya anya beberapa menit sudah berhenti, air peluh yang keluar dari tubuhnya mengalir deras hampir membasai seluruh bajunya. Tapi ayahnya ketawa dengan penuh kegembiraan melihat anaknya yang masih di bawah umur sudah berani hidup sengsara.
Pak Karim termenung sendirian di depan rumah pada waktu malam, memikirkan Thahir yang hampir mengijak masa puber. Sementara Thahir bersma ibunya tidur nyenyak di dalam kamar. Yang selalu menghantui pemikiran Pak Karim siapa kira-kira yang mau dijadikan tunangan Thahir, sampai detik ini masih ada, sepertinya semua sudah punyak tunangan bahkan anak tetangganya yang baru lahir sudah banyak orang yang meminta sebagai calon tunangan anaknya.
Kegelisahan Pak Karim semakin memuncak untuk mencarikan tunangan anaknya yang sampai detik ini masih belum menemukan satu gadis pun yang belum tunangan. Ungkapan yang sering di ucapkan dalam benaknya bagaimana kata orang nanti, anak ku yang sudah segini masih belum bertunangan. Hal ini yang sudah membudayah di desa Pak Karim anak yang baru lahir sudah ditunangkan.
Budaya itu sudah semakin kental di desa Pak Karim, tidak hanya anak yang baru lahir ditunangkan malahan anak kyang masih baru remaja sudah di kawinkan karena di desa itu hal perkawinan merupakan beban bagi orang tua bila tidak cepat diatasi.
Saat Thahir tidak ada di rumah, ayah dan ibunya, Halima duduk di serambi rumahnya sambil membicarakan taninya tapi pak Karim tak sabar untuk segera membicarakan pada istrinya tentang mencarikan calon tunangan Thahir hingga ia menghentikan berbicara masalah tani. Yang hal itu merupakan hal yang sangat penting untuk segera diselesaikan agar anaknya tidak menjadi bahan pembicaraan masyarakat.
“Bu. Bagaimana anak kita, Thahir. Sudah segini masih belum punya tunangan” Pak Karim memulai pembicaraan dengan istrinya.
“Iya, Pak memang hal itu yang sedang ibu pikirkan. Tapi ibu tidak berani membicarakan karena masih belum menemukan.” Bu Halimah menjawab sambil menjelaskan kebingungannya.
“Sementara anak yang seumur Thahir sudah menyiapkan hari perkawinannya” jawabnya Pak Karim dengan wajah lusu.
“Pak. Bagaimana kalau Thahir ditunangkan dengan keponakan bapak sendiri, khairiyah” Bu Halima memberi usulan.
“Baiklah kalau begitu, Bu. Besok kita minta” Pak Karim langung mengiyakan.
***
Thahir pulang dari rumah temannya membawa kepedihan yang sangat, diejek-ejek orang karena masih belum punya tunangan untuk dikawin, dibilang banci, sudah lewat umur. Teman-temannya yang Thahir kunjungi sudah punya tunangan semua bahkan sudah ada yang kawin walau masih sangat remaja, seumuran dengan Thahir.
Akhirnya Thahir mengurung dalam kamar tanpa memberitahukan dulu penyebab kepedihannya yang diomel-omeling orang. Ayahnya sedang berada di kandang memberi makan sapinya sementara ibunya sedang menanak di dapur. Mereka tidak mengetahui kepulangannya Thahir, yang langsung masuk kamar, tidak seperti biasanya memanggil salam sebagai tanda kedatangannya pada orang tuanya.
Bu Halimah memasuki rumahnya, mau mengambil sesuatu yang merupakan salah satu keperluan dapur, tiba-tiba ia melihat pintu kamar tertutup yang tadinya terbuak sebelum menanak sedangkan suaminya masih belum berinjak kemana-mana, tetap di dalam kandang. Bu Halimah meyakini pasti ia adalah anaknya Thahir tanpa meninguk terlebih dahlu. Ia tergesa-gesa memanggil suaminya untuk segera memberitahukan kabar gembira ini pada Thahir.
Pak Karim mendengar teriakan istrinya yang sedang memanggil dirinya sambil memberi tahukan kedatangannya Thahir. Maka Pak Karim segera keluar dari kandangnya sepertinya sudah memahami maksud istrinya saat mendengar Thahir walau masih belum dijelaskan. Ia langsung mendatangi istrinya.
Orang tuanya Thahir senyum-senyum penuh kegembiraan duduk diserambi dalam rumahnya untuk segera memberi tahukan tentnag pertunangannya dengan Khairiyah keponakan ayahnya. Bu Halimah sangat meyakini pasti anaknya akan sangat gembira mendengar berita ini sebab teman-teman yang seumuran dengan Thahir sudah bertunangan semua.
“Thahir, anakku. Keluar dulu, Ibu sama Ayah ada perlu” Ibunya memanggil Thahir dengan penuh kegembiraan.
Tapi Thahir tak menjawab sepatah katapun, kepedihan yang dipendam menggetarkan seluruh tubuhnya seperti hidup sudah tiada berarti tanpa calon pendamping yang sekarang tidak punya ruang untuk itu. Ia mengira keperluan ibunya yang memanggil bukan tunangan tapi hal lain yang kurang penting untuk didahulukan.
“Thahir, cepat keluar, Nak. Ini masalah pertunangann kamu” Ayahnya memanggil Thahir sambil menjelaskan maksudnya.
Dengan sepontan Thahir keluar, kepedihan yang sedang ia emban berubah secara derastis menjadi kebahagiaan yang tak dapat dibayangkan, dengan tubuh yang segar yang diirngi senyum kegembiraan membuat wajah menjadi bersinar, yang baru kali ini orang tuanya melihat Thahir sesenang ini, membuat kedua orang tuanya semakin semangat.
Kebahagiaan yang dasyat yang timbul dalam benak Thahir, terdorong dari akan hilangnya omelan masyarakat terhadap dirinya, yang selama ini selalu terngiang dalam benak Thahir, membuat hatinya terasa teriris seperti hidup sudah tiada berarti kecuali hanya menunggu maut tiba.
Budaya kawin muda, di desa Thahir merupakan hal keharusan. Biar hidupnya tidak menjadi omongan orang sebab masyarakatnya mempercayi kawin lebih dini itulah paling baik selain karena masih hanyatnya sahwat, ia juga mengurangi beban orang tua.
Maka dari itu orang tuanya menceritakan masalah pertunangan pada Thahir sambil menawarkan Khairiyah sebagai calon tunangannya. Thahir langsung tanpa memikirkan terlebih dahulu dampaknya kawin muda, yang penting enak sebagaimana sosok muda yang hanya senang terhadap kesenangan sekilas.

DOWNLOAD SELENGKAPNYA
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

2 komentar:

YOGYAKARTA mengatakan...

wow this really good blog content
visit : http://uii.ac.id

Admin Skripsi Plus mengatakan...

@Yogyakarta, Thanks for your attention to my blog. Please come again.

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog