Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

14 September 2011

Keajaiban Kelahiran Potre Koneng

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

Kehidupan yang mewah, keraton yang megah memang sudah menjadi ciri khas sebuah kerajaan, tepatnya di desa Pasongsongan Sumenep. Begitulah kehidupan Raja Mandaraga yang mempunyai dua orang putra, yaitu Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung yang meninggal dunia. Jenazah Pangeran Bukabu dimakamkan di Bukabu dan Jenazah Pangeran Baragung dimakamkan di Baragung. Kematian pangeran meninggalkan para Kyai, khususnya di Sumenep. Sedangkan Pangeran Baragung meninggalkan seorang putri yang bernama Endang Kilengan.
Endang Kilengan menikah dengan Brumakanda, yang kemudian dalam perkawinannya itu dikaruniai seorang putra yang bernama Wagung Rukyat. Wagung Rukyat menjadi Raja di Sumenep. Beliau mempunyai julukan Saccadiningrat Keratonnya terletak di Desa Banasare.
Pangeran Saccadiningrat menikah dengan saudara sepupu ibunya yang bernama Dewi Sarini, yang pada akhirnya mereka dikaruniai seorang putri bernama Saini dan diberi julukan R.A. Potre Koneng, karena kulit yang mengkilap dan kebaikan budi pekertinya.
“Putriku…, Potre Koneng, engkau sekarang sudah dewasa dan berarti engaku harus menyegarakan untuk memberi keturunan untuk menggantikan tahtaku ini”. Kata Pangeran Saccadiningrat.
“Ayahanda …, maafkanlah ananda atas kelancangan hamba yang belum bisa memenuhi permintaan ayahanda”. Jawab Potre Koneng dengan lembut.
“Dengan dasar apa engkau mengakatan hal yang demikian itu?” kata Pangeran Saccadiningrat ingin tahu.
“Ananda sama sekali tidak mengetahui tentang masalah perkawinan dan ananda lebih senang berbakti kepada Allah dari pada kawin”. Jawab Potre Koneng dengan tegas.
Kejadian itu berlangsung cukup lama yang pada akhirnya Potre Koneng berpamitan kepada ayahanda dan ibundanya untuk bertapa ke gua Payudan.
Potre Koneng meminta izin untuk menghadap Pangeran Saccadiningrat.
“Ayahanda, izinkanlah ananda untuk bertapa di gua Payudan”. Pinta Potre Koneng.
“Putriku…., engkau adalah satu-satunya putriku. Apakah seorang ayah tega membiarkan putrinya di luar sana sendirian?” kata Pangeran Saccadiningrat.
“Ayahanda…, ananda mohon dengan penuh belas kasihan ananda”. Jawab Potre Koneng sedih.
Setelah memikirkan dengan penuh pertimbangan akhirnya kedua orang tua Potre Koneng mengizinkan dengan syarat ditemani dengan tiga orang pengiringnya. Potre Koneng pun berangkat meninggalkan keraton menuju gua Payudan.
Potre Koneng menjalani masa pertapaannya dengan tidak makan, minum dan tidur. Suatu hari tanggal empat belas Potre Koneng tertidur, yang dalam tidurnya Potre Koneng bertemu dengan seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah.
“Siapa engkau ini?” tanya Potre Koneng.
“Aku adalah Adi Poday” jawab pemuda tersebut.
Keesokan harinya, Potre Koneng kembali ke Sumenep ditemani pengiringnya.
* * *
 Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ada sebuah keajaiban pada diri Potre Koneng, yaitu perutnya yang semakin membesar. Maka murkalah kedua orang tua Potre Koneng.
“Potre Koneng …!! Apa yang telah engkau lakukan?! Engkau telah membuat aib yang sangat besar, yaitu engkau telah hamil di luar nikah dan telah merusak nama baik keraton ini”. Kata Pangeran Saccadiningrat.
Permaisuri merasa kasihan pada putrinya, berbagai cara ia lakukan demi melunakkan hati Baginda Raja.
Para Mentri dan Patih yang menaruh belas kasihan pada Potre Koneng dan ikut membantunya. Akhirnya setelah menempuh berbagai cara tersebut, Baginda Raja berkenan merubah keputusan tersebut dengan syarat Potre Koneng tidak pernah menampakkan diri di depan Baginda Raja. Dengan batalnya hukuman mati tersebut maka R.A. Potre Koneng disembunyikan agar tidak terlihat oleh Baginda Raja.
* * *
Sembilan bulan kemudian, lahirlah bayi dari rahim Potre Koneng yang berjenbis kelamin laki-laki. Namun ada sebuah kejanggalan, ketika sang putri melahirkan tidak mengucurkan darah setetespun bahkan ari-arinya juga tidak ada. Bayi yang dilahirkan oleh sang putri tampak elok, bersih dan berseri-seri dan hal itu mengingatkan pada sang putri pada laki-laki yang pernah datang dalam mimpinya. Kejadian itu membuat takut dan malu, karena hal itu disangkanya telah melakukan hal yang tidak baik dan dengan alasan itu sang putri menyuruh dayangnya untuk membawa ke tempat yang aman.
“Putraku… ibu sangat menyayangimu, maafkanlah ibu!” kata Potre Koneng sambil menciumnya.
“Mbok! Aku tidak tega menyingkirkan bayi ini akan tetapi apa mau dikata inilah cara yang terbaik” kata sang putri menjelaskan.
“Apa maksud tuan putri?” tanya si mbok penuh keheranan.
“Taruh anakku ini di tempat yang jauh dan aman”. Kata sang putri menghawatirkannya.
“Baik tuan putri hamba bersedia melakukan segala titik tuan putri dan demi keselamatan tuan putri” jawab si mbok.
Dengan sangat berat hati dan diiringi dengan deraian air mata sang putri menyerahkan bayi itu kepada si mbok. Maka berangkatlah si mbok ke hutan dan meletakkan bayi itu di tempat yang terjamin keamanannya. Bayi itu diletakkan di bawah pohon rindang dan di tutup dengan dedaunan, setelah melaksanakan tugasnya itu maka sang pengasuh kembali ke keraton.
Tidak jauh dari tempat itu terdapat seorang pandai pembuat keris. Beliau itu bernama Empu Kaleng, yang belum dikaruniai seorang anak, selain itu juga beliau itu mempunyai ternah kerbau. Kerbau-kerbau itu di lepas di padang rumput dan bila senja tibu kerbau-kerbau itu pulangdengan sendirinya, begitulah kerbau Empu Kaleng setiap harinya.
Di antara kerbau-kerbau piaraannya itu ada seekor kerbau betina yang saat itu terjadi suatu keanehan, kerbau yang satu ini memang lain daripada yang lainnya. Kerbau itu berbulu putih, mulus dan paling bagus diantara yang lainnya. Kerbau piaraan Empu Kaleng makin hari makin kurus setiap pulang mesti yang paling akhir diantara yang lainnya, maka curigalah Empu Kaleng dnegan kerbau piarannya tersebut.
“Waduh-waduh kenapa dengan kerbau-kerbauku yang satu ini, kok makin hari semakin kurus saja”. Kata Empu Kaleng dengan perasaan curiga.
Demi menjawab pertanyaannya tersebut Empu Kaleng mempunyai sebuah ide yaitu dengan membututi kerbau itu kemana perginya.
“Lo lo kok kerbauku berlari ke arah lain bukan berlari bersama yang lainnya” kata Empu Kaleng yang semakin curiga.
Ternyata kerbau putih itu berlari menuju arah bayi dan menyusuinya, serta menjaganya pula supaya tidak di makan oleh binatang buas. Betapa kagetnya dia melihat bayi laki-laki yang sangat tampan dan wajahnya yang berseri-seri dan digendonglah bayi tadi dan dibawalah ia pulang ke rumah untuk diberikan pada istrinya.
“Istriku … lihat apa yang telah aku bawakan untukmu, seorang bayi yang mukanya bersinar-sinar dan sangat tampan”. Kata Empu Kaleng dengan bangga.
“Bayi siapa ini kang?” kata nyai Empu yang meminta memberi penjelasan.
“Bayi ini ku temukan di hutan tempat dimana kerbau kita yang sedang mencari makan”. Jawab Empu Kaleng dengan persaaan bahagia.
Empu Kaleng bersama nyai Empu merasa sangat bersyukur mendapat seorang anak yang tidak di sangka-sangka kehadirannya. Berbagai cara nyai Empu lakukan untuk mencoba menyusui tapi hal itu hanyalah sia-sia belaka. Nyai Empu dan Empu Kaleng bersepakat untuk memberinya nama “Jokotole”
Semenjak kedatangan Jokotole dalam kehidupannya menjadi lebih risqinya. Orang-orang pada berdatangan kerumahnya untuk membawakan oleh-oleh, memberi uang dan juga dibelikannya baju untuk Jokotole.
* * *
Dua tahun kemudian, kejadian itu terulang kembali R.A Potre Koneng bermimpi bertemu dengan pemuda yang pernah datang di mimpinya tersebut dan sampai tidur bersama. Ketika sang putri terbangun ia merasa terkejut dan sangat takut kejadian yang dua tahun silam terulang kembali. Sang putri menangis penuh haru sang putri takut kalau sampai ia dijatuhi hukuman mati oleh ayahandanya, mendengar tangisan sang putri akhirnya si mbok terbangun.
“Ada apa dengan tuan putri, kok tidak seperti biasanya tuan putri menangis seperti ini. Biasanya tuan putri bangun langsung mengambil wudhu dan membaca al-qur’an?” tanya si mbok heran.
“Mbok aku bermimpi lagi tentang laki-laki yang pernah datang dalam mimpiku dan aku takut kalau sampai aku hamil lagi dan itu berarti aku akan tidak akan diampuni untuk yang keuda kalinya, mbok” jawab sang putri yang terbata-bata serta bercampur tangis.
“Tuan putri jangan bersedih karena tidak mungkin seorang ayah tega membunuh anak kandungnya sendiri” kata si mbok yang mencoba menenangkan Sang Putri

DOWNLOAD SELENGKAPNYA
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

2 komentar:

Sofya Poerwanta mengatakan...

cerita lengkapnya bisa dilihat dimana ya?

Lukman Hakim mengatakan...

Bo'ong wkkkk

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog