Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

12 Juli 2011

REFLEKSI NILAI-NILAI ISLAMI DALAM PUISI DERAP-DERAP TASBIH KARYA D. ZAWAWI IMRON

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

REFLEKSI NILAI-NILAI ISLAMI
DALAM PUISI DERAP-DERAP TASBIH
KARYA D. ZAWAWI IMRON

 BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang Masalah
            Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannnya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1988:8). Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam segi kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir, tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori, atau sistem berpikir manusia.
            Sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahiran suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan  kebutuhan keindahan manusia. Di samping itu, sastra harus pula mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan manusia.  Dalam proses kreatif karya sastra, banyak unsur yang terlibat di dalamnya, seperti ilmu pengetahuan, wawasan, pemikiran, keyakinan, dan pengalaman fisik, serta unsur imajinasi pengarang. Unsur yang terakhir itu sangat memegang peranan penting dan memberi nilai lebih, bahkan menjadi jiwa karya sastra.
            Karya sastra lahir dan bersumber dari pengalaman sastrawan sendiri, baik dalam bentuk pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniah. Secara sadar atau tidak sadar, sastrawan mengungkapkan pengalaman tersebut ke dalam karyanya yang dimaksudkan sebagai konsumsi mental dan pikiran orang lain. Pada waktu karya sastra di tulis, ada orang lain dalam pikiran pengarang, dan setelah karya ditulis orang lain itu tidak lain adalah pembaca. Dengan demikian melalui karyanya, pengarang menghimbau dan mengajak pembaca untuk ikut mengalami dan merasakan pengalaman lahir atau batinya yang pernah dialami dan dirasakannya.
            Karya sastra juga merupakan produk imajinasi pengarang, yaitu sebuah hasil proses pemikiran dan pengamatan intens pengarang terhadap kehidupan. Imajinasi itu tidak muncul tanpa adanya fakta yang dipikirkan. Puncak dari pemikiran melahirkan imajinasi, dan imajinasi yang luas dan mendalam memunculkan konsep yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya sastra.
            Sastra sebagai salah satu dunia ekspresi juga tidak terlepas dari proses pemikiran, artinya pola berpikir penulis atau pengarang akan menentukan pola dan corak karyanya. Dari sinilah bermula beragamnya karya dengan ciri khas tertentu, yang membedakan antara karya pengarang yang satu dengan pengarang yang lainnya. Seseorang yang berlatar belakang pemikiran kapitalis, senantiasa mengarah pada corak dunia kapitalisme sebagai sudut pandang, demikian juga pengarang yang berlatar pemikiran sosialis, maka karya yang dihasilkannnya akan cenderung mengedepankan faham dan pemikiran sosialisme.
            Sastra sosialis pernah tercermin dalam sejarah pertumbuhan sastra Indonesia, yakni munculnya penulis-penulis LEKRA pada masa jayanya, yaitu antara tahun 1950 sampai dengan tahun 1965, yang lebih dikenal dengan faham Realisme Sosialis. Faham Rasionalisme Sosialis tidak mengakui eksistensi Tuhan sebagai pencipta, ia juga tidak mau diatur  oleh aturan apapun atas nama Tuhan, karena dirinya, alam, dan kehidupan bagi kaum Sosialis  tidak ada yang menciptakan. Karya- karya tersebut misalnya “ Si Kampeng” karya Utuy Tatang Sentani dan “ Si Manis Bergigi Emas” karya Pramudya Ananta Toer  (Semi, 1984:79).
            Sastra berlatar belakang pemikiran sekuler atau kapitalisme  menunjukkan gejala dan corak yang lain lagi, sastra dengan corak ini banyak bercerita mengenai usaha pencarian nilai-nilai humanistik yang etentik dalam sebuah sebuah dunia yang terdegradasi. Di dalamnya diwarnai oleh perjuangan untuk membangun kembali suatu totalitas di atas dunia  yang sudah menjadi fragmatis, tema sentralnya  adalah pergulatan manusia  dalam mencari identitas diri sebagai makhluk sosial semata-mata dan ketegangan-ketegangan antara hal-hal yang bersifat irrasional dan rasional. Corak lain dari sastra ini berbicara tentang  kesadaran manusia  sebagai sosok subyektif dalam hubungannya dengan manusia lainnya, yang sama sekali tidak berkaitan dengan Tuhan sebagai pencipta. Bagi faham ini, Tuhan hanya berurusan dengan masalah aturan keagamaan/peribadatan, sedangkan urusan dunia tidak perlu campur tangan Tuhan (Tjahyono, 2002:182).
            Pada sastra dengan latar belakang pemikiran Islami menunjukkan corak yang berbeda, aliran ini berpedoman pada nilai-nilai Islam yang menganggap bahwa di balik alam, hidup dan kehidupan ada pencipta yang mengatur dengan aturan- aturan baku  dan akan meminta pertanggungjawaban atas keterikatannya dengan aturan tersebut, maka setiap gerak dan laku dalam hidup selalu berjalan di atas panduan aturan Tuhannya. Islam sebagai sebuah agama,  memberikan sentuhan dan warna  bagi kesusastraan dunia dengan hadirnya sastra yang khas dan bercorak Islami, sampai pada puncaknya yang disebut sastra sufistik. Karya-karya dimaksud di atas seperti karya-karya Sastrawan Islam, diantaranya Rabiah Al Adawiyah, Jalaluddin Rumi, Ansari, dan Farid Attar.
            Salah satu ciri sastra sufi adalah selalu memuat ajaran sufi yang berintikan pandangan-pandangan kerinduan dan  kecintaan kepada Allah, serta pandangan diri mengenai kehidupan dunia yang bersifat sementara. Puisi-puisi sufistik selalu berbicara mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan  hidup untuk selalu dekat dengan Allah dan bagaimana kegelisahan mereka untuk selalu merindu kepada Allah. Jadi ciri sastra sufi selau berpusat pada kecintaan kepada Allah dan upaya mengungkapkan kerinduan kepada Allah serta merenungkan kefanaan dan kekekalan hidup (Tjahyono, 2002:188-189).
Karya sastra bercorak Islami dengan salah satu genrenya sastra sufi, tidak hanya ada di negara-negara Islam atau Timur Tengah umumnya. Sastra sufi yang mencerminkan nilai-nilai Islam juga ditunjukkan oleh sastrawan kita, misalnya; D.Zawawi Imron. Beliau seorang penyair yang di daerahnya dikenal sebagai ustadz dan juru dakwah. Sastrawan kelahiran Madura ini telah banyak menghasilkan karya sastra lewat kreatifitasnya, seperti “Semerbak Mayang” (1977), “Bangsawan Raga Padmi” (1980), “Clurit Emas” (1986), dan “Bulan Tertusuk Ilalang” (1978) merupakan  cerita-cerita berlatar Madura yang menarik untuk dikaji. Penyair Madura ini  lebih banyak berlatar pendidikan agama daripada pendidikan Formal, bahkan ia  tidak sempat mengenyam pendidikan SLTP.
Karya sastra ada karena adanya pengarang. Sastra lahir karena dorongan batin pengarang yang ingin menuangkan gagasan, dan ide, atau pandangan dirinya tentang sesuatu yang dilihat, dirasakan, atau dipikirkan. Pandangan dan idenya ditentukan oleh pengalaman dirinya dalam hidup ini, apa yang ditulis merupakan pengalaman dirinya atau refleksi dari keyakinan yang diyakininya dalam hidup. Gagasan dan ide itu dipengaruhi juga oleh latar tempat tinggal dan keyakinan atau faham yang melingkunginya. Demikian juga yang terjadi pada diri Zawawi berhubungan dengan karya yang dihasilkannya. Pengenalan terhadap nilai-nilai agama dan lingkungan hidupnya mempengaruhi jiwa Zawawi. Ibunya yang selalu membaca Ayat-ayat Suci Al-Qur’an dan lingkungan pesantren dimana ia mengenyam pendidikan dan kepekaan diri dalam menangkap setiap gejala alam Madura memberikan andil yang besar sekali dalam kreatifitasnya menciptakan puisi-puisi religius yang digalinya dari Al-Qur’an dan Hadist.
Salah satu karyanya yang sangat kentara memperbincangkan hubungan manusia dengan Khaliqnya, hubungan dengan manusia lainnya, bahkan pandangannnya akan alam ciptaan Tuhan adalah “Derap-Derap Tasbih”. Maka berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dilakukan dengan mengambil judul “ Refleksi Nilai- Nilai Islami Dalam Puisi Derap-Derap Tasbih Karya D.Zawawi Imron”. Kumpulan puisi ini ditulis pada babak-babak awal kepenyairannya (1960-170) pada waktu ia masih menjadi santri di salah satu pondok pesantren di daerahnya. Puisi ini merupakan kerinduan seorang santri yang selalu berdenyut-denyut mencari rahmat Ilahi.
1. 2 Permasalahan

1. 2. 1 Rumusan Masalah
                        Berdasarkan uraian dalam latar belakang dan proses apresiasi awal pada kumpulan puisi “Derap-Derap Tasbih”  karya D. Zawawi Imron, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:“ Bagaimanakah refleksi Nilai-nilai Islami dalam kumpulan puisi ‘Derap-Derap Tasbih’ karya D. Zawawi Imron?”
1. 2. 2 Penegasan Konsep Variabel
           Kajian tentang refleksi nilai-nilai Islami dalam  kumpulan puisi “Derap-Derap Tasbih” ini merupakan  penelitian kualitatif yang terdiri atas satu variabel. Variabel yang dimaksud adalah Derap-Derap Tasbih.
                  Derap-Derap Tasbih adalah kumpulan puisi yang dihasilkan oleh D. Zawawi Imron sebagai penyair Islam dalam masa-masa awal kepenyairannya sekitar tahun 70-an, ketika ia sedang menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Kumpulan puisi itu terdiri atas 19 judul puisi yang kesemuanya memperbincangkan hal-hal yang berkaitan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam.
                  Sudut pandang yang digunakan pada Variabel di atas adalah Refleksi Nilai-Nilai Islami. Refleksi Nilai-Nilai Islami adalah pantulan atau cerminan sikap, ucapan , prilaku, dan pandangan Islami seseorang yang bersumber dari Al-quran dan Al-Hadist dalam kehidupannya.
            Refleksi Nilai-nilai Islami dalam puisi Derap-Derap Tasbih adalah pantulan atau cerminan sikap, prilaku, dan pandangan Islami D. Zawawi Imron yang bersumber dari Al-quran dan Al-hadist yang dituangkan dalam kumpulan puisinya Derap-Derap Tasbih.
1. 2. 3 Deskripsi Masalah
                        Pembicaraan dalam penelitian ini menyangkut dua hal yang saling berhubungan yaitu: Nilai-nilai Islami dan kedua Derarp-Derap Tasbih.
            Nilai-nilai Islami yang dimaksud adalah terdiri atas 7 bagian yaitu:
1)      Rukun Iman, meliputi : iman kepada Allah, iman kepada malaikat Allah, iman kepada kitab Allah, iman kepada rasul-rasul Allah, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada qadha’ dan qadhar Allah,
2)      Rukun Islam, yaitu; mengucapkan kalimat syahadat, mengerjakan sholat, membayar zakat, berpuasa, dan menunaikan ibadah haji,
3)      Muamalat (hubungan sosial),
4)      Uqubat (sanksi-sanksi),
5)      Akhlak. Meliputi ahkhlak kepada Allah, akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak kepada alam ,
6)      Malbusat (pakaian),
7)      Mathumat (makanan) (Nidham Islam, 2001:129).
Derap-Derap Tasbih terdiri atas 19 judul puisi yaitu:
1) Muhammad (1966)
2) Kelahiran Seorang Bayi
3) Saat-Saat Hijrah (1969)
4) Surat Untuk Rasulullah (1967)
5) Khutbah Sholat Meminta Hujan (1970)
6) Si Miskin Yang Agung (1969)
7) Penyesalan (1966)
8) Doa Di Senja Bisu (1967)
9) Dasi Seorang Koruptor (1966)
10) Kakek Yang Mengaji (1967)
11) Doa II (1966)
12) Pagi Di Pantai (1966)
13) Desaku (1967)
14) Di Atas Telaga Sorga (1970)
15) Nyanyian Idul Fitrih (1970)
16) Sementara Diri Berangkat Tua (1969)
17) Doa I (1965)
18) Seorang Penghianat (1966)
19) Bisik Dalam Bisu (1965) (Imron, 1993)

1. 2. 4 Pembatasan Masalah
                        Mengingat luasnya permasalahan yang berkaitan dengan penelitian ini, maka peneliti perlu membatasi permasalahan pada hal-hal yang urgen agar memperoleh fokus demi pemecahan yang lebih sempurna. Peneliti membatasi pada masing-masing sebagai berikut:

            1) Pembahasan nilai-nilai Islami dibatasi pada rukun Islam dan akhlak.
            2) Pada Derap-Derap Tasbih tidak dibatasi.
             
1. 3 Tujuan Penelitian
1. 3. 1 Tujuan Umum
            Secara umum penelitian ini bertujuan  unutk memperoleh deskripsi objektif tentang refleksi nilai-nilai Islami dalam Kumpulan Puisi “Derap-Derap Tasbih” karya D.Zawawi Imron.
1. 3. 2 Tujuan Khusus
            Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memperoleh gambaran objektif tentang refleksi nilai-nilai Islami dalam Kumpulan Puisi “Derap-Derap Tasbih” karya D.Zawawi Imron. Pada aspek:
a.       Rukun Islam, yaitu: Syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji.
b.       Akhlak yang meliputi: akhlak kepada Allah, akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak kepada alam.

1. 4 Asumsi
            Penelitian ini didasarkan pada sejumlah asumsi sebagai berikut:
1.       Karya satra sangat beragam karena setiap pengarang mempunyai wawasan pemikiran atau, ilmu pengetahuan, pengalaman, dan daya imajinasi yang berbeda.
2.       Nilai keagamaan atau religiusitas banyak terpancar dalam karya-karya D. Zawawi Imron yang menarik untuk dikaji.
3.       Nilai-nilai Islami  yang terpancar dalam karya D. Zawawi Imron banyak digali dari Al-Qur’an dan Al-hadist.
4.       D. Zawawi Imron adalah penyair ayang lebih banyak brlatar belakang dunia keagamaan yang Islami.

1. 5 Manfaat Penelitian
            Penelitian ini sangat bermanfaat karena hasilnya berguna untuk:
1.       Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu sebagai bahan masukan atau sebagai bahan tambahan dalam mengembangkan materi pengajaran apresiasi Sastra Indonesia, khususnya puisi.
2.       Mahasiswa FKIP Juruasan Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu sebagai tambahan pengetahuan dalam proses apresiasi karya sastra, khususnya puisi, dan untuk mengetahui dan memperdalam nilai-nilai yang terkandung dalam kkhasanah sastra Indonesia.
3.       Peneliti, yaitu dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan spesifikasi keilmuan di bidang sastra Indonesia, serta untuk menyingkap tujuan atau amanat terpendam yang ingin disampaikan pengarang.
4.       Universitas Madura, yaitu sebagai tambahan literature di perpustakaan UNIRA.




1. 6 Alasan Pemilihan Judul
1. 6. 1 Alasan Objektif
1.       Nilai-nilai Islami yang terefleksikan dalam Kumpulan Puisi “Derap-Derap Tasbih” karya D.Zawawi Imron digali dari Al-Qur’an dan Al-Hadist, sehingga menarik untuk dikaji.
2.       D.Zawawi Imron adalah sastrawan yang berlatar belakang keagamaan

1. 6. 2 Alasan Subjektif
a.       Peneliti  merasa kagum terhadap D.Zawawi Imron karena walaupun tidak pernah mengecap pendidikan di lembaga pendidikan formal yang cukup, tetapi mampu menghasilkan karya yang sangat berarti bagi perkembangan  sastra Indonesia dan tetntunya sangat bermanfaat bagi generasi openerus, terutama bagi pewaris kesusastraan Indonesia.
b.      Peneliti mempunyai kesamaan agama, yaitu Agama Islam, sehingga sedikit banyak dapat menagkap pesan dan amanat yang ingin disampaikannya.
c.       Kumpulan Puisi “Derap-Derap Tasbih” karya D.Zawawi Imron yang selama ini telah banyak yang meneliti, namun karena karya tersebut kaya akan kandungan nilai-nilai dengan pendekatan dan kajian yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda pula, kajian ini dapat dijadikan pembanding dengan hasil kajian lainnya.


1. 7 Batasan Istilah Dalam Judul
            Untuk menghindari salah tafsir dan salah persepsi terhadap pokok-pokok masalah yang terdapat dalam penelitian ini, maka perrlu  dijelaskan batasan istilah penting berikut:
1.       Refleksi adalah pantulan atau cerminan sikap, ucapan, prilaku, dan pandangan seseorang sebagai akibat dari sesuatu yang diyakininya, diketahuinya, dirasakan, atau dialaminya dalam kehidupannya.
2.      Nilai-nilai Isalami adalah sesuatu yang penting dan berguna bagi manusia yang digali dari ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Al-hadist.
3.      “Derap-Derap Tasbih” adalah karya D.Zawawi Imron yang berupa kumpulan puisi yang ditulis pada awal kepenyairannya, pada tahun 70-an.
4.      Refleksi nilai-nilai Islami adalah pantulan atau cerminan sikap, ucapan, prilaku, dan pandangan Islami seseorang yang bersumber dari Al-qur’an dan Al-Hadist dalam kehidupannya.

1. 8 Metode Penelitian
1. 8. 1 Metode Pengumpulan Data              
             Penelitian terhadap Kumpulan Puisi “Derap-Derap Tasbih” karya D.Zawawi Imron ini merupakan penelitian kualitatif yang mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antara konsep yang sedang dikaji secara empiris.  Jenis penelitian kualitatif adalah prosedur penelitan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang berprilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 1995:3).
             Dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan cara telaah pustaka di awal penelitian. Dan kemudian dilanjutkan dengan pemfokusan data yang berkaitan erat dengan masalah penelitian. Pengumpulan data ini diteruskan pada analisis data.
1. 8. 2 Metode Analisis Data
                  Metode analisis digunakan untuk menganalisis data yang diteliti dengan cermat sesuai dengan permasalahan yang berhubungan dengan nilai-nilai Islami yang terdapat dalam Kumpulan Puisi “Derap-Derap Tasbih” karya D.Zawawi Imron. Data yang diperoleh disikapi dari landasan teori yang ditetapkan untuk memperoleh hasil analisis.
                  Metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil analisis data tertulis secara terinci setiap permasalahan yang berhubungan dengan nilai-nilai Islami yang terdapat dalam puisi tersebut, kemudian dideskripsikan sesuai dengan hasil analisis.

1. 9 Sistematika Penulisan
             Untuk  memperoleh pembahasan yang sistematis, maka penelitian ini dalam laporannya tersusun atas lima bagian, yaitu; pendahuluan, kajian pustaka, metode penelitian, laporan empiris, analisis data, dan penutup.
             Bab I Pendahuluan berisi; latar belakang masalah, permasalahan (berisi: rumusan masalah, penegasan konsep variabel, deskripsi masalah, dan pembatasan masalah), tujuan penelitian, asumsi, alasan pemilihan judul, manfaat penelitian, batasan istilah dalam judul, dan sistematika penulisan. Bab ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran awal dan sekilas tentang  skripsi yang sebenarnya.
             Bab II kajian pustaka, berisi: 1) kajian tentang Puisi yang terdiri atas; pengertian, dan unsur pembangun, 2) kajian tentang nilai-nilai Islami, yang terdiri atas; pengertian , dan klasifikasi.
             Bab  III metode penelitian, berisi; 1) teknik penentuan objek penelitian (populasi dan sampel), 2) metode pengumpulan, pengkajian, dan analisis data. Hal ini dimaksudkan untuk menemukan refleksi Nilai-nilai Islami Kumpulan Puisi “Derap-Derap Tasbih” karya D.Zawawi Imron.
             Bab IV Analisis data, meruapakan sajian sebagai hasil dari analisis data secara deskriptif kualitatif. Bab V penutup, berupa simpulan dan saran sebagai proses akhir dari penelitian ini secara keseluruhan.

1. 10 Biografi D. Zawawi Imron
             Di desa Batang-batang Laok kecamatan Batang-batang kabupaten Sumenep pada tahun 1946 terlahir seorang bocah laki-laki yang oleh orang tuanya diberi nama D. Zawawi Imron. Desa Batang-batang adalah desa tandus dan gersang terletak 22 kilometer di sebelah timur kota Sumenep. Kondisi daerah Batang-batang yang demikian itu ikut memberikan pengaruh pada kejiwaan bocah tersebut.
             Setelah tamat SD ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya pada jenjang yang lebih tinggi karena kedua orang tuanya tidak mampu, lebih memprihatinkan lagi ketika pada saat itu ayahnya terlibat hutang piutang dan harus mendekam di dalam penjara karena tidak bisa melunasinya. Kejadian itu membuat jiwa Zawawi semakin tertekan karena pada saat itu pula ia dinyatakan lulus masuk sekolah guru B(SGB), namun apa daya semuanya tidak dapat dinikmatinya karena biaya yang dirasakan tidak akan mampu dibayar kedua orang tuanya.
             Keadaan yang semakin menjepit itu membuat dirinya dan keluarganya mengasingkan diri dari pergaulan di masyarakat, hanya kasih sayang dan semangat yang diberikan oleh ibunya mengasah kepribadiannya, seolah ia tertantang untuk mencari makna hidup. Jalan satu-satunya untuk ia memilih melanjutkan pendidikan di pondok pesantren, dan ini dilakukannya dalam 18 bulan. Di sini ia memperdalam ilmu-ilmu keIslaman. Disela-sela kesibukannya sebagai santri ia pun sering menulis sajak berbahasa Madura yang oleh uztadnya sering dicemooh, akhirnya ia pun menulis sajak dalam bahasa Indonesia.
             Proses kreatifnya dimulai sejak umur 13 tahun. Ketajaman imajinasi, dan kepekaan melihat sisi budaya Madura yang lluhur membuat karya-karya yang dihasilkannya memiliki ciri khas tersendiri. Getaran-getaran dalam jiwanya ia lukiskan ke dalam bentuk sajak, dan sering kali ia juga bingung memberi alasan mengapa dia menulis sajak, hal ini sebagai bukti bahwa gairah menulisnya memang betul-betul merupakan kepekaan naluri insaniahnya. Kepekaan mengangkat sisi budaya Madura jagu terlihat pada kosakata yang digunakan antara lain; celurit, seronin, siwalan, lalamng, dan lain-lain.
             Setelah dari pesantren ia merantau ke Banyuwangi, tepatnya di Rogojampi selama tiga bulan dan kini ia menjadi seorang pemuda. Di tempat barunya itu Zawawi sering melihat pertunjukan teater pimpinan Akhdiyat yang membuat gelora seni dalam jiwanya semakin tak terbendung, maka lahirlah sejumlah karyanya pada saat itu, satu diantaranya yang paling terkenal adalah puisi denganm judul “Ibu”. Tahun 1967 ia diangkat menjadi pegawai di Departemen Agama, saat itu ia mulai mengenal celana dari sebelumnya yang selalu memakai sarung, setahun kemudian ia kawin dengan gadis pilihan orang tuanya yang masih anak famili dekatnya berumur 13 tahun.
             Di tahun 1969 ia diangkat sebagai guru agama di Batang-batang sebagai PNS, dan tahun 1984 dimutasi menjadi Kasubsi Penyuluhan DEPAG kabupaten Sumenep. Namun sebelum tahun tersebut, tepatnya mulai tahun 1983, Zawawi mulai menampakkan bakat kepenyairannya secara formal, mulai tampil di TVRI. Dan penghargaanpun mulai mengalir pada dirinya, yaitu: 1) mendapat pujian dari penyair Sutardji Calzoum Bachri sebagai penyair terbaik, 2) mendapat penghargaan dari Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA) atas karyanya yang berjudul Sajak Hitam (1983), Meditasi Celurit (1984), dan puisi Dari Andulang ke Batang- Batang (1985), 3) pemenang pertama penulis puisi terbaik pada festival  Surabaya ke-69 pada tahun 1984.
             Sejak saat itu namanya sudah dikenal masyarakat perpuisian Indonesia, dan mulailah ia intens pada pertemuan dan acara sastra. Tahun 1986 menjadi wakil Jwa Timur pada pertemuan Sastrawan Nusantara V di Ujung Pandang bersama Budi Darma, dan dirinya mulai dipertokohkan sebagai penyair nasional. Tahun 1987 menghadiri undangan istri Taufik Ismail dengan acara “Mubaligh Baca puisi” dalam rangka menyambut kemerdekaan RI. Tahun 1991 mendapat kehormatan memberikan materi dalam Kongres Bahasa Jawa di Semarang  Jawa Tengah, dan sering kali ia medapat undangan dari dalam dan luar negeri. Dan eksistensinya sebagai penyair tidak diragukan lagi.
             Kegiatan Zawawi bukan hanya di dunia kepenyairan saja, karena predikat penyair dipadukan dengan predikatnya sebagai budayawan dan mubaligh. Jemaah pengajiannya tersebar di Madura dan Makassar hingg ia berani membuat puisi Berlayar di Pamor Badik (2005). Selain itu ia aktif dalam organisasi sosial dan kemasyarakatan misalnya; KNPI, LKS, Pembina Sanggar Kembara Sumenep, dan Dosen di Universitas Madura Pamekasan pada Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 1995.
             Puisi yang dihasilkan Zawawi sekitar 4000 buah, dan kebanyakan karya tersebut mengisi lembaran media massa nasional seperti; Jawa Pos, Memorandum. Buku kumpulan puisinya yang diterbitkan oleh Penerbitan Nasional antara lain:1) Semerbak Mayang (1977) dan Madura Akulah Lautmu (1978) oleh Trem, 2 ) Bulan Tertusuk Lalang (1982 ) dan Nenek Moyangku Air Mata (1985) oleh Balai Pustaka, 3 ) Celurit Emas (1986) oleh Bintang, 4) Berlayar di Pamor Badik (1991) oleh Universitas Hasanuddin, dan 5 ) Derap-Derap Tasbih (1992) oleh Pustaka Progresif.
             Kini Zawawi sudah membuktikan bahwa budaya Madura yang terkenal keras, tanah Madura yang tandus, dan kepelitan hidup yang menghimpit tidak dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk menyerah pada alunan nasib dan suratan takdir. Zawawi
terus berkarya demi Budaya Madura dan cita-cita yang agung dalam dirinya.        
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

1 komentar:

flash mengatakan...

yes,, terimakasih.. skrip ini meenjadi motivasi untuk pembacanya.

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog