Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

09 Juli 2011

PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN STATISTIKA (BAB I)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

PENGARUH   PENERAPAN   PEMBELAJARAN   KOOPERATIF DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN STATISTIKA

 BAB I

PENDAHULUAN

 A.     Latar Belakang

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, dewasa ini pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, karena pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Sebagaimana dinyatakan dalam UU no. 20/2003 bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Untuk tercapainya tujuan pendidikan tersebut, inovasi pendidikan mulai dari penyempurnaan kurikulum, pengadaan fasilitas, peningkatan mutu guru dan penyempurnaan strategi-strategi serta model pembelajaran juga secara terus menerus telah lama dilaksanakan. Namun hal itu masih belum berhasil secara signifikan. Menurut Human Development Index (HDI), Indonesia menduduki peringkat 102 dari 106 negara yang disurvei dan satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil study The Third International Mathematics and Science Study-Repeat juga melaporkan bahwa skor matematika siswa kelas II SLTP Indonesia jauh di bawah rata-rata skor Internasional dan berada pada ranking 34 dari 38 negara yang disurvei (Depdiknas, 2002:1).
Dalam kurun waktu yang sama negara-negara tetangga umumnya bergerak maju. Singapura misalnya, meningkat dari urutan 34 ke 24, Australia dari urutan ke 11 ke 4, Filipina dari urutan 95 ke 64, China dari urutan 121 ke 99 dan Vietnam dari urutan 121 ke 108, sedangkan Indonesia tetap berada pada urutan ke 122 (Abbas, 2003:61). Rendahnya prestasi belajar matematika khususnya disebabkan sulitnya siswa dalam menerima materi pelajaran dan kurangnya motivasi belajar terhadap matematika.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa matematika merupakan pelajaran yang paling menakutkan bagi sebagian besar siswa. Nasoetion (2000:23) mengatakan bahwa ada tiga faktor penyebab munculnya perasaan takut anak terhadap pelajaran matematika. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kondisi awal siswa yang kurang berminat terhadap matematika, peran orang tua dan guru yang kurang profesional.
Dari pengalaman penulis selama melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL), terlihat banyak siswa tidak suka atau takut saat mengikuti pelajaran matematika. Mereka beranggapan bahwa matematika pelajaran yang sulit, menakutkan, tidak menarik, membosankan dan tidak ada manfaatnya bagi kehidupan mereka. Hal itu dapat dilihat pada setiap ada pelajaran matematika, siswa cenderung ramai sendiri, tidak memperhatikan guru mengajar, tidak mau mencatat atau mengerjakan tugas. Bahkan ada yang sengaja “bolos” saat ada pelajaran matematika sehingga mengakibatkan kurangnya usaha dan minat siswa untuk belajar matematika. Dalam hal ini seharusnya siswa dilatih untuk merumuskan suatu masalah, mengantisipasi munculnya masalah dan mencari solusi, mutlak harus ditekankan kepada siswa. Siswa tidak hanya diberi pengetahuan yang bersifat teoritis saja, tapi siswa dilatih dan dibimbing untuk mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan belajar mengajar matematika, siswa diberi permasalahan setelah materi dijelaskan. Misalnya dengan menyelesaikan permasalahan yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan demikian siswa akan berusaha menemukan (inquiry) dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerja sendiri (konstruktivisme), kemudian siswa akan berusaha berinteraksi dengan teman sebangku dari hasil yang telah dikerjakan (masyarakat belajar).
Dengan pendekatan CTL siswa akan lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar secara fisik, mental maupun sosial. Mengingat siswa pada umumnya di kelas lebih menyenangi kermaian dan kegembiraan pada khususnya dalam pembelajaran matematika, maka CTL sangatlah baik diterapkan karena kelas CTL adalah siswa selalu ramai dan gembira dalam belajar sehingga dengan pendekatan CTL akan memberikan peluang yang lebih besar bagi siswa terhadap perkembangan potensi intelektualnya.
Penelitian Muniarsih (2003:12) menyimpulkan bahwa sikap siswa berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar matematika siswa. Dollar and Miller (dalam Syamsuddin, 2002:164) menyatakan bahwa keefektifan perilaku belajar dan hasil belajar dipengaruhi empat faktor, antara lain:
  1. Adanya motivasi (drives).
  2. Adanya perhatian dan mengetahui sasaran.
  3. Adanya usaha (response).
  4. Adanya evaluasi dan pemantapan hasil.
Berdasarkan uraian di atas, maka pendidikan seharusnya lebih berorientasi ke depan terkait dengan kesiapan siswa menghadapi persaingan di era global. Siswa seharusnya dibiasakan belajar dengan memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Selain itu, siswa juga diarahkan untuk menemukan masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawabnya sebagai pelajar, anggota keluarga dan sebagai warga negara. Dengan demikian apa yang dipelajari siswa tidak hanya sekedar teori saja, tetapi dapat diterapkan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan nyata, sehingga siswa akan merasa bahwa apa yang dipelajari di sekolah bermakna dan berperan penting bagi kehidupannya.
Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan dalam proses belajar pada hakekatnya ada tiga faktor yang mempengaruhi terhadap proses belajar peserta didik yang merupakan penentu keberhasilan belajarnya, yaitu: pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya, sikap dan nilai serta motivasi yang dimiliki siswa menghadapi tugas-tugas belajarnya.
Menurut Tabrani (1993:5) bahwa:
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar dalam berbagai dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi, proses disini maksudnya adalah adanya interaksi antara individu dengan suatu sikap, nilai atau kebiasaan, pengetahuan dan keterampilan hubungannya dengan dunianya sehingga individu itu berubah.

Pembelajaran yang selama ini berkembang adalah pembelajaran yang berpusat pada guru dan tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran di kelas. Selama ini siswa cenderung hanya diberi teori-teori saja tanpa diarahkan untuk menemukan sendiri ide-idenya. Hal inilah yang menjadi penyebab siswa merasa bosan pada pembelajaran matematika dan menganggap matematika merupakan pelajaran yang paling sulit, sehingga berakibat menurunnya prestasi belajar matematikanya.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pembelajaran matematika diharapkan dapat mengubah persepsi siswa yang menganggap pembelajaran matematika itu membosankan menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Loree (dalam Syamsuddin, 2002:16) menulis, guru sebagai fasilitator pembelajaran bertugas merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar mengajar. Artinya guru harus merencanakan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran, menerapkan strategi tersebut dalam pembelajaran dan mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Purwanto (1990:105) mengatakan “bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak didiknya, turut menentukan hasil belajar yang dapat dicapai anak”. Guru merupakan penggerak kegiatan belajar para siswanya (Hamalik, 2002:176), artinya bahwa guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi peran guru adalah sebagai motivator dan fasilitator yang membantu mengembangkan pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Untuk itu, guru harus mampu membuat rencana-rencana dan model-model pembelajaran yang akan membantu siswa mengembangkan pengetahuannya. Diharapkan pembelajaran yang direncanakan adalah pembelajaran yang mendorong dan menggerakkan siswa untuk selalu aktif di dalam kelas. Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan suatu pendekatan yang menekankan pada peran aktif siswa.
Salah satu alternatif pembelajaran matematika yang diangkat dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual atau biasa disebut CTL (Contextual Teaching and Learning). Pembelajaran ini menekankan pada pembelajaran yang mengkaitkan pengetahuan dengan situasi dunia nyata. Hal ini sejalan dengan pendapat Djiwandono (2002:358) bahwa “salah catu cara yang kelihatan logis untuk memotivasi siswa selama pelajaran adalah menghubungkan pengalaman belajar dengan minat siswa serta mengaitkannya dalam kehidupan nyata”.
Dalam pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual siswa belajar dalam kelompok-kelompok kooperatif dan proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa aktif (bekerja) dan mengalami bukan transfer pengetahuan yang berasal dari guru kepada siswa. Selain itu, siswa dilatih untuk berfikir kritis, kreatif dan bekerja dalam kelompok. Di sini fungsi guru adalah sebagai fasilitator yang akan membantu dan memotivasi siswa mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata mereka. Sementara ini di lokasi peneliti yakni di MA Darussalam masih menggunakan pembelajaran tradisional, dalam hal ini peneliti ingin mencoba untuk menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual pada pokok bahasan Statistika. Diharapkan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual ini, siswa dapat meningkatkan prestasi belajar atau hasil belajar matematikanya.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Matematika Pada Pokok Bahasan Statistik Siswa Kelas XI IPS

B.     Permasalahan

1.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis paparkan di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
a.       Adakah pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika siswa kelas XI IPS
b.      Seberapa besar pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika siswa kelas XI IPS
2.      Penegasan Konsep Variabel
Dari judul penelitian yang penulis ambil, yaitu “Pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika siswa kelas XI IPS dapat penulis tegaskan bahwa variabel dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 2 yaitu: variabel bebas dan variabel terikat.
a.       Variabel bebas (X).
Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual.
b.      Variabel terikat (Y).
Variabel terikat pada penelitian ini yaitu hasil belajar matematika. Dengan demikian variabel bebas dapat diartikan kondisi yang dapat dimanipulasi dan sengaja dipelajari oleh peneliti, sehingga dapat diketahui hubungannya dengan segala yang diteliti. Dalam hal ini variabel X bertindak sebagai sebab. Sedangkan variabel terikat merupakan variabel yang timbul sebagai akibat dari variabel bebas yang bertindak sebagai akibat (variabel Y).
3.      Deskripsi Masalah
Sesuai dengan rumusan masalah yang peneliti uraikan di atas, maka peneliti dapat mendeskripsikan masalah yang akan diteliti yaitu mengenai pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual pada pokok bahasan statistika yang menerapkan tujuh komponen utama yaitu: konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya (Nurhadi, 2003:31).
Hasil belajar merupakan suatu nilai yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu. Hasil belajar matematika pada umumnya diukur melalui tes. Hasil belajar matematika yang dimaksud adalah skor yang diperolah siswa kelas XI IPS setelah mengikuti tes matematika pokok bahasan statistika.
Sedangkan materi pelajaran yang dikaji pada penelitian ini adalah statistika. Statistika adalah ilmu tentang teori dan penggunaan metode-metode untuk mengumpulkan data (statistik). Pokok bahasan yang dikaji adalah:
a.       Mengenal populasi dan sampel.
b.      Membahas penyajian data.
c.       Mengenal histogram dan poligon frekuensi.
d.      Membahas pengertian distribusi frekuensi.
e.       Menghitung nilai rataan, median dan modus dari suatu data.
f.        Membahas pengertian jangkaun/rentangan suatu data dan jangkauan inter-kuartil.
g.       Menghitung jangkauan dan jangkaun inter-kuartil suatu data.
h.       Membahas pengertian rataan, median dan modus dari suatu data.
i.         Membahas berbagai penyajian data dalam bentuk diagram.
4.      Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terfokus dan mengarah pada permasalahan yang dimaksudkan, maka perlu adanya batasan masalah yang dibatasi sebagai berikut:
a.       Hasil belajar dibatasi pada nilai yang menunjukkan kemampuan dalam aspek kognitif siswa dalam menyelesaikan soal-soal pokok bahasan statistika di sekolah dalam selang waktu tertentu.
b.      Statistika dibatasi pada:
1)      Populasi dan sampel
2)      Penyajian data tunggal dan data berkelompok
3)      Penyajian data dalam bentuk diagram batang, diagram garis dan diagram lingkaran.

C.     Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan target yang ingin dicapai. Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah:
1.      Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika siswa kelas XI IPS Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika siswa kelas XI IPS

D.    Asumsi atau Postulat

Sebelum penelitian dilakukan, peneliti haruslah mempunyai gambaran awal tentang apa yang akan diteliti dan gambaran awal inilah yang lazim dinamakan postulat atau asumsi atau anggapan dasar. Postulat merupakan keyakinan yang mengarah kepada kepastian atau yang sudah diyakini kebenarannya, seperti yang telah dikemukakan oleh Arikunto (1996:60) bahwa postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik.
Maka postulat atau asumsi dalam penelitian ini dapat peneliti rumuskan sebagai berikut:
1.      Pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual lebih banyak meningkatkan hasil belajar daripada pembelajaran individual atau kompetitif dan dapat mengaitkan materi dengan kehidupan nyata siswa.
2.      Pembelajaran kooperatif betul-betul meningkatkan keterampilan, keyakinan, kepercayaan diri, berfikir kreatif dan kegemaran berteman sehingga dapat mengembangkan rasa tanggung jawab.
3.      Materi statistika itu betul-betul sesuai dengan program dan GBPP yang berlaku.
4.      Rata-rata kemampuan siswa di setiap kelas dianggap normal.
5.      Hasil tes mencerminkan kemampuan siswa sebenarnya.
6.      Tes yang diberikan sesuai dengan GBPP kurikulum 2004.
7.      Siswa memiliki kesempatan yang sama dalam menerima materi statistika dengan penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual pada saat proses pembelajaran.

E.     Hipotesis
Menurut Arikunto (1996:70) bahwa hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Dalam hal ini untuk menyelaraskan jawaban dari rumusan masalah maka dibuat hipotesis yang akan diuji kebenarannya.
1.      Hipotesis Kerja (H1).
Ada pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika siswa kelas XI IPS
2.      Hipotesis Nihil (H0).
Tidak ada pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika siswa kelas XI IPS

F.      Pentingnya Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan bisa mendapatkan hasil yang bermanfaat dalam hal pembelajaran matematika:
1.      Bagi Guru/Pengajar
Memberikan pengalaman dalam melaksanakan pembelajaran matematika atau pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual dan memberikan salah satu alternatif dalam pemilihan pendekatan pembelajaran untuk memotivasi belajar matematika siswa.
2.      Bagi siswa
Siswa dapat lebih selektif dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam menyelesaikan permasalahan khususnya dalam pelajaran matematika.
3.      Bagi Peneliti
Sebagai bekal bagi calon guru akan arti dan pentingnya penekanan tentang pemilihan pendekatan dalam pembelajaran matematika.
4.      Bagi Sekolah
Memberikan input dalam pencapaian proses belajar mengajar terhadap bidang studi matematika khususnya pada sub pokok bahasan statistika.
5.      Bagi Universitas
Menambah koleksi referensi di lingkungan Universitas Madura pada unumnya dan FKIP pada khususnya serta hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar pemikiran untuk melakukan penelitian berikutnya.

G.    Alasan Pemilihan Judul

Alasan peneliti dalam pemilihan judul meliputi dua hal, yaitu:
1.      Alasan Objektif
a.       Bahwa uji coba pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual ini merupakan pendekatan yang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. Sehingga cocok untuk memotivasi siswa dan meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan juga siswa tetap tertarik pada pelajaran matematika, sehingga tidak semua siswa beranggapan bahwa matematika itu sulit.
b.      Karena pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual selama ini masih belum ada yang secara khusus mengkajinya.
2.      Alasan Subjektif
a.       Permasalahan yang diteliti sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni dan ketertarikan peneliti dalam mengkaji materi statistika melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual.
b.      Penempatan lokasi penelitian, masih memungkinkan terjangkaunya dari tempat tinggal peneliti.

H.    Pengertian Istilah Dalam Judul

Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda-beda terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka dibuat definisi beberapa istilah sebagai berikut:
1.      Pengaruh diartikan daya yang ada atau timbul dari sesuatu (Depdikbud, 1990:64). Dalam penelitian ini diartikan daya yang timbul dari penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar matematika.
2.      Penerapan diartikan penggunaan suatu hal terhadap hal yang lain (Abdullah, 1993:484). Dalam penelitian ini diartikan suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dan interaksi dengan lingkungannya.
3.      Pembelajaran kooperatif diartikan suatu pembelajaran yang menuntut siswa untuk saling bekerja sama dan saling bergantung dalam struktur tugas, tujuan dan hadiah (Ibrahim, 2000:23)
4.      Pendekatan kontekstual diartikan suatu pendekatan pembelajaran yang dibantu guru mendekatkan materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai warga negara, anggota keluarga dan masyarakat (Nur, 2001:57).

5.      Hasil belajar matematika diartikan skor yang diperoleh siswa setelah mengikuti tes (Nuryanti, 2003:45).
6.      Statistika adalah ilmu pengetahuan (metode ilmiah) yang mempelajari cara pengumpulan, penyusunan, pengolahan, penyajian, penganalisaan data dan pengambilan kesimpulan yang logis sehingga dapat diambil keputusan yang akurat dari sifat-sifat data (Mandiri, 2003:31).

I.       Ruang Lingkup Penelitian

1.      Ruang Lingkup Area/Wilayah
Penelitian ini dilaksanakan di MA Darussalam dengan sasaran utamanya siswa kelas XI IPS semester I.
2.      Ruang Lingkup Materi.
Materi yang diteliti adalah penerapan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual yang terdiri dari tujuh komponen yaitu: konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya pada pokok bahasan statistika MA Darussalam kelas XI IPS semester I
3.      Ruang Lingkup Waktu.
Penelitian ini berlangsung pada siswa kelas XI
J.      Sistematika Penulisan
Agar dalam penulisan skripsi ini lebih terperinci, maka penulis susun suatu sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab Pertama membahas tentang pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, postulat, pentingnya penelitian, alasan pemilihan judul, pengertian istilah dalam judul, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan.
Bab Dua membahas tentang landasan teori atau kajian kepustakaan mengenai tinjauan teoritis tentang pembelajaran kooperatif (Pengertian pembelajaran kooperatif, beberapa pandangan tentang pembelajaran kooperatif, keunggulan pembelajaran kooperatif, fase- fase pembelajaran kooperatif) tinjauan teoritis tentang pembelajaran dan pengajaran kontekstual, tinjauan teoritis tentang hasil belajar, materi statistika dan pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar matematika.
Bab Tiga membahas tentang metodologi penelitian yang terdiri dari penentuan subjek penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
Bab Empat membahas tentang laporan empiris yang meliputi: tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap penyajian data.
Bab Lima membahas tentang analisis data yang diperoleh dalam penelitian.
Bab Enam berisi penutup yang merupakan kesimpulan dan selain itu pada bab ini juga berisi saran-saran dari penulis.

DOWNLOAD SKRIPSI LENGKAP
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog