Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

22 Juli 2011

ANALISIS SIKAP SOSIAL DALAM CERPEN LELAKI HUJAN KARYA WINCE SINDRIA DENGAN KAJIAN PSIKOLOGI SOSIAL

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     CERPEN
1.    Pengertian Cerpen
Cerpen sesuai dengan namanya adalah cerita pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada ahlinya. Edgar Allan Poe mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam - suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 10).
Ayip Rosidi (dalam Badrun, 1983 : 101-102) mengatakan bahwa cerita pendek merupakan cerita yang pendek dan merupakan suatu kebulatan ide. Untuk menemukan sebuah karangan termasuk cerita pendek atau bukan maka ciri-cirinya antara lain :
a.       Cerita pendek mengandung interprestasi tentang kehidupan, baik secara langsung atau tidak langsung.
b.      Cerita pendek harus menimbulkan suatu efek dalam pikiran pembaca dan juga harus menarik perhatian.
c.       Cerita pendek mengandung detail dan insiden yang dipilih dengan pendapat menimbulkan pertanyaan dalam pikiran pembaca.
d.      Jalan cerita pendek dikuasai oleh sebuah insiden.
e.       Dalam cerita pandek harus ada seorang pelaku utama.
f.        Cerita pendek menyajikan suatu kesan tunggal dan menyajikan satu emosi saja
g.       Cerita pandek tergantung pada situasi dan hanya satu situasi.
h.       Bahasa yang digunakan dalam cerita pendek lebih tajam, Sugestif dan padat.
i.         Jumlah kata dalam cerita pendek di bawah 10.000 dan tidak lebih dari
33 halaman kuarto spasi rangkap.
Macam-macam cerita pendek di bagi menjadi dua yaitu :
1.      Cerita pendek yang pendek (short-shot story) yaitu cerita pendek yang jumlah katanya dibawah lima ribu kata atau 16 halaman kuarto spasi rangkap dan dapat dibaca seper empat jam
2.      Cerita pendek yang panjang (long short story) yaitu cerita pendek yang jumlah kata-katanya lima ribu, maksimum 10.000 kata atau 33 halaman kuarto spasi rangkap dan dapat dibaca dalam waktu kira-kira setengah jam.
2.    Unsur-Unsur Pembangun Cerpen
a. Unsur Intrinsik
Sebagai salah satu genre sastra, karya fiksi mengandung unsur-unsur yakni salah satunya yaitu unsur-unsur Intrinsik yang dapat membangun karya sastra itu sendiri sehingga menjadi suatu wacana. Oleh karena itu wacana sastra mempunyai ciri-ciri khusus yang salah satunya ditandai oleh unsur Intrinsik sehingga bisa dibedakan dengan wacana lainya.
Unsur intrinsik menurut Nurgiyantoro (2005 : 23) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur-unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut :
2.1   Tokoh dan Penokohan
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminuddin 1987 : 79).
Menurut Badrun (1983 : 87) istilah penokohan sering disamakan dengan karakter. Kedua istilah itu masing-masing menekankan pada teknik penampilan tokoh (penokohan). Sedangkan karakter sering menekankan pada masalah watak tokoh. Tokoh adalah pelaku dalam cerita atau pementasan drama, pengarang cerita pendek dalam melukiskan watak dari pelakunya seperti pemalu, penakut, rendah hati, sombong hati, egois dan pemberi watak pelaku dapat dilukiskan melalui :
1.      Bentuk lahir pelaku
2.      Jalan pikiran pelaku
3.      Reaksi tokoh terhadap peristiwa yang terjadi
4.      Keadaan sekitar tokoh
Di samping itu, (dalam Nurgiyantoro : 176-194) peran tokoh-tokoh cerita dalam sebuah karya fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat dibedakan yakni :
a.       Segi peranan
1.      Tokoh Utama adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam cerita pendek yang bersangkutan
2.      Tokoh Tambahan adalah yang hanya melengkapi dalam bentuk konflik
b.Segi fungsi penampilan tokoh
1.  Tokoh Protogonis adalah tokoh yang memerankan prilaku positif
2.  Tokoh Antagonis adalah tokoh yang penyebab terjadinya konflik atau pelaku negatif
c.       Segi perwatakannya
1.      Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi atau watak tertentu
2.      Tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya.
d.Segi berkembang atau tidaknya perwatakan
1.      Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya   peristiwa-peristiwa  yang terjadi
2.      Tokoh berkembang adaalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot atau alur yang dikisahkan
e.       Segi kemungkinan pencerminan tokoh cerita
1.      Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan
2.      Tokoh netral adalah tokoh cerita yang beriksistensi demi ceritaa itu sendiri.
Dalam menentukan siapa tokoh utama dan siapa  tokoh tambahan dalam suatu cerpen, pembaca dapat menetukannya dengan jalan :
(1) Melihat keseringan pemunculannya dalam suatu cerita (2) Lewat petunjuk yang diberikan oleh pengarangnya. Tokoh utama pada umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar yang diberikan oleh pengarangnya, sedangkan tokoh tambahan hanya dibicarakan ala kadarnya, (3) Lewat judul cerita kita dapat menentukan siapa tokoh utamanya, misalnya cerita yang berjudul Siti Nurbaya, Malin Kundang dan
lain-lainnya.
Tokoh dalam cerita seperti halnya menusia dalam kehidupan
sehari-hari  disekitar kita, selalu memiliki watak-watak tertentu. Menurut Aminuddin (1987 : 80-81), dalam upaya memahami watak pelaku, pembaca dapat menelusurinya lewat (1) Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya (2) Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian,
(3) Menunjukkan bagaimana perilakunya, (4) Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri, (5) Memahami bagaimana jalan pikirannya, (6) Melihat bagaimana tokoh lain berbincang tentangnya,
(7) Melihat bagaimana tokoh lain berbincang tentangnya, (8) Melihat bagaimana tokoh yang lain itu memberikan reaksi terhadapnya, dan
(9) Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lainnya.
2.2   Plot/Alur
Plot/Alur merupakan unsur cerita fiksi yang penting, bahkan tak sedikit orang yang menanggapinya sebagai yang terpenting diantara berbagai unsur cerita fiksi yang lain.
Menurut Aminuddin (1987 : 8.3) pengertian alur dalam cerpen atau dalam karya fiksi pada umunya adalah rangkaian cerita yang terbentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah Plot maupun struktur cerita. Tahapan peristiwa yang menjalin suatu cerita bisa terbentuk dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam.
Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 113) mengemukakan bahwa Plot / Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Penampilan peristiwa demi peristiwa yang hanya mendasarkan diri pada urusan waktu saja belum merupakaan Plot. Agar menjadi sebuah Plot, peristiwa-peristiwa ini haruslah diolah dan disiasati secara kreatif, sehingga hasil pengolahan dan penyiasatannya itu sendiri merupakan suatu yang indah dan menarik, khususnya dalam kaitannya dengan karya fiksi yang bersangkutan secara keseluruhan.
Rober Stanton (dalam Badrun : 1983 : 85 - 87) membagi jenis Plot/Alur ; (1) Sub Plot, (2) Main Plot. Sub Plot biasanya membuat rangkaian kejadian yang lengkap dan lebih kecil. Sedangkan Main Plot atau Plot utama adalah bagian yang lebih besar dari pada Sub Plot.
Setiap cerita mempunyai plot yang merupakan satu kesatuan tindak. Menurut Murgiyantoro (2005 : 153-163) plot dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yang berbeda berdasarkan sudut-sudut tinjauan dan kriteria yaitu :
a.       Berdasarkan kriteria urutan waktu
Urutan waktu yang dimaksud adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi yang bersangkutan. Macam-macam plot berdasarkan urutan waktu yaitu :
1.      Plot maju atau lurus
2.      Plot sorot balik
3.      Plot campuran
b.      Berdasarkan kriteria jumlah
Dengan kriteria jumlah dimaksudkan sebagai banyaknya plot cerita yang terdapat dalam sebuah karya fiksi. Macam-macam plot berdasarkan kriteria jumlah yaitu :
1.      Plot tunggal
2.      Plot sub-sub plot


c.       Berdasarkan kriteria kepadatan
Dengan kepadatan dimaksudkan sebagai padat atau tidaknya pengembangan dan perkembangan cerita kriteria kedapatan yaitu :
1.      Plot padat
2.      Plot longgar
d.      Berdasarkan kriteria isi
Dengan isi dimaksudkan sebagai sesuatu, masalah kecenderungan masalah, yang diungkapkan dalam cerita. Jadi, sebenarnya, ia lebih merupakan isi cerita itu sendiri secara keseluruhan dari pada sekedar urusan plot. Jenis-jenisnya antara lain :
1.      Plot peruntungan
2.      Plot tokohan
3.      Plot pemikiran
Loban dkk (dalam Aminuddin 1987 : 84 - 85) menggambarkan gerak tahapan alur cerita seperti halnya gelombang-gelombang itu berawal dari : (1) ekposisi, (2) komplikasi, atau intrik-intrik awal yang akan berkembang menjadi konflik hingga menjadi konflik, (3) klimaks, (4) relevasi atau penyikatan tabir suatu problema, dan (5) denovement atau penyelesaian yang membahagiakan, yang dibedakan dengan catastrophe, yakni penyelesaian yang menyedihkan ; dan solution yakni penyelesaian yang masih bersifat terbuka karena pembaca sendirilah yang dipersilakan menyelesaikan lewat daya imajinasinya.


2.3   Latar / Setting
Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 216) setting atau latar disebut juga sebagai landas tumpu, mengarah pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Sedangkan Aminuddin (1987 : 067), setting atau latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Leo Hamalian dan Frederick R. Karel menjelaskan bahwa setting dalam karya fiksi bukan hanya berupa tempat, waktu, pristiwa atau suasana serta benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka maupun gaya hidup suatu masyarakat dalam menanggapi suatu problema tertentu. Setting dalam bentuk yang terakhir itu dapat dimasukkan ke dalam setting yang bersifat psikologis (dalam Aminuddin, 1987 : 68).
Dari keseluruhan uraian diatas, pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara setting yang bersifat fisikal dengan setting yang bersifat psikologis adalah : (1) Setting yang bersifat fisikal berhubungan dengan tempat, misalnya : Kota Jakarta, daerah pedesaan, pasar, sekolah dan lain-lain, serta benda-benda dalam lingkungan tertentu yang tidak menuansakan apa-apa. Sedangkan setting psikologis adalah setting berupa lingkungan atau benda-benda dalam lingkungan tertentu yang mampu menuansakan suatu makna serta mampu mengajak emosi pembaca, (2) Setting Fisikal hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik, sedangkan setting psikologi dapat berupa suasana maupun sikap serta jalan pikiran suatu lingkungan masyarakat tertentu, (3) untuk memahami setting yang bersifat fisikal, pembaca cukup melihat dari apa yang tersurat, sedangkan pemahaman terhadap setting yang bersifat Psikologis membutuhkan adanya penghayatan dan penafsiran, (4) terdapat saling pengaruh dan ketumpangtindahan antara setting fisikal dan setting psikologis.
Unsur latar setting atau dapat dibedakan dalam tiga unsur pokok, yaitu:
e.       Latar tempat adalah menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
f.        Latar waktu adalah latar yang berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
g.       Latar sosial adalah latar yang menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (Nurgiyantoro, 2005 :
227-233).
2.4   Tema
Istilah tema menurut Scharbach berasal dari bahasa latin yang berarti “tempat meletakkan suatu perangkat”. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diceritakannya. Dilanjutkan oleh Scharbach (dalam Aminuddin, 1987 : 91) bahwa tema adalah kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa fiksi oleh pengarangnya. Sedangkan Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.
Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 68), tema merupakan gagasan dasar yang merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Sedangkan menurut Aminuddin (1987 : 91), untuk memahami tema, pembaca terlebih dahulu harus memahami unsur-unsur signifikasi yang membangun suatu cerita menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. Seperti yang dikemukakan oleh Walter Loban, (dalam Aminuddin, 1987 : 93) mengungkapkan masalah kehidupan dan kemanusiaan lewat karya prosa. Pengarang berusaha memahami keseluruhan masalah itu secara internal dengan jalan mendalami sejumlah masalah itu dalam hubungannya dengan keberadaan suatu individu maupun dalam hubungan antara individu dengan kelompok masyarakatnya. Perolehan nilai itu sendiri umumnya sangat beragam sesuai dengan daya tafsir pembacanya.
Menurut Aminuddin (1987 : 92). Dalam upaya pemahaman tema, pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah-langkah berikut :
1.      Memahami setting dalam prosa yang dibaca.
2.      Memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca
3.      Memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam prosa fiksi yang dibaca
4.      Memahami plot ataau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca
5.      Menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan lainnya yang disimpulkan dari satuan –satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita
6.      Menentukan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran yang ditampilkan
7.      Mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya denan bertolak dari satuan pokok serta sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkan
8.      Menafsirkan tema dalam cerita yang di baca serta menyimpulkannya dalam satu dua kalimat yang diharapkan ide dasar cerita yang dipaparkan yang pengarangnya.
2.5   Gaya
Istilah gaya menurut Aminuddin (1987 : 72), gaya diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa latin sitlus dan mengandung arti leksikal “alat untuk menulis”. Dalam karya sastra istilah gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu memuaskan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Menurut Brooks dan Warren (dalam Taringan, 1993:154) yakni dalam pengertian yang sesungguhnya, struktur dan gaya bersinonim dengan istilah form (bentuk), tetapi gaya atau style selalu dipergunakan dalam pengertian serta penyusunan bahasa.
Sejalan dengan uraian pengertian gaya diatas, Scharbach (dalam Aminuddin, 1987 : 72), menyebut gaya ”sebagai hiasan, sebagai sesuatu yang suci,  sebagai sesuatu yang indah, dan lemah gemulai serta sebagai perwujudan manusia itu sendiri”.
Menurut Aminuddin (1987 : 76). Gaya adalah cara seorang  pegarang menyampaikan gagasannya lewat media bahasa yang indah dan harmonis meliputi aspek-aspek : (1) pengarang, (2) ekspresi, (3) gaya bahasa. Sebab itulah ada pendapat yang menjelaskan bahwa gaya adalah orangnya atau pengarangnya karena lewat gaya kita dapat mengenal bagaimana sikap dan endapan pengetahuan, pengalaman dan gagasan pengarannya. Gaya erat kaitannya dengan ekspresi karena jika gaya adalah cara dan alat seorang pengarang untuk mewujudkan gagasannya, maka ekspresi adalah proses atau kegiatan perwujuadan itu sendiri. Sebab itulah gaya dapat juga disebut sebagai cara, teknik maupun bentuk pengekspresian suatu gagasan. Namun gaya juga erat kaitannya dengan gagasan, karena gagasan merupakan isi atau sumber dari keseluruhannya.
Demikian uraian tentang masalah unsur gaya dalam cerpen. Dari uraian di atas, pada dasarnya kita telah mengkaji masalah-masalah penting, meliputi : (1) pengertian gaya, (2) unsur-unsur gaya, yang melibatkan kata dan kalimat yang lebih lanjut akan melibatkan berbagai macam bentuk gaya bahasa, (3) hubungan gaya dengan ekspresi pengarang yang begitu eratnya sehingga ada anggapan bahwa gaya adalah pengarangnya itu sendir, dan
(4) Implikasi gaya terhadap makna yang mampu menghadirkan berbagai macam nuansa makna, ada denotatif maupun konotatif. Sedangkan dalam nuansa penuturan, gaya juga mampu menampilkan berbagai macam suasana penuturan.
2.6   Point Of View
Menurut Tarigan (1993:140) Point Of View adalah hubungan yang terdapat antara sang pengarang dengan alam fiktif ceritanya, ataupun antara sang pengarang dengan pikiran dan perasaan para pembacanya. Sedangkan menurut Aminuddin (1987 : 90) titik pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan.
Menurut Booth (dalam Nurgiyantoro, 2005:249) sudut pandang (point of view) merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca. Sedangkan menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005:248) Point of view adalah cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
Menurut Alton C. Morris (dalam Tarigan, 1993:140-141), pembagian point of view dalam fiksi ada 5 bagian penting yaitu :
1.        The Omniscient Point Of View ; sang pengarang mengetahui segala sesuatunya, bahkan pikiran dan perasaan dari para pelakunya, dan dapat melihat tingkah laku mereka dari segala sudut
2.        The First Person Point Of View ; sang pengarang berbicara sebagai salah seorang dari para pelaku
3.        The Tird Person Point Of View; seseorang di luar cerita itu bertindak sebagai tukang cerita atau narator
4.        The Central intelligence; cerita ini disajikan seperti yang terlihat melalui mata salah seorang pelaku, walaupun ada hubungannya dengan yang dilakukan oleh anniscient narrator
5.        The Scenec; tukang cerita disingkirkan dan cerita itu disajikan hampir seluruhnya dalam percakapan atau dialog, seperti yang biasa dalam drama.

b. Unsur Ekstrinsik
Sebuah karya sastra tidak terlepas dari unsur-unsur yang membangun di dalamnya yakni unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik menurut Nurgiyantoro (2005 : 23) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun atau sistem organisme karya sastra. Atau, dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walaupun demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan.
Wellek dan Werren (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 24) mengatakan bahwa unsur ekstrinsik terdiri dari sejumlah unsur antara lain :
a.       Biografi Pengarang
Keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup dapat mempengaruhi karya tulisnya dengan kata lain pengarang juga akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya.
b.      Psikologi
Psikologi baik yang berupa psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifinya), psikologi pembaca, maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya dapat mempengaruhi sebuah karya fiksi.
c.       Keadaan Lingkungan Pengarang
Keadaan lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik dan sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra.
d.      Pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain dapat mempengaruhi terhadap karya sastra.

3.    Hubungan Tokoh dengan Unsur Cerita Yang Lain
Di dalam sebuah karya fiksi tidak terlepas dari unsur-unsur yang membangun didalamnya. Pengarang dalam membentuk sebuah tokoh dan kisahan yang meyakinkan, seorang tidak hanya mengandalkan pengalaman saja tetapi seorang pengarag tersebut harus melengkapi diri dengan pengetahuan yang luas tentang karakter, sifat, dan tabiat manusia, serta tentang tindakan, perilaku, ujaran yang ada dalam lingkungan masyarakat yang hendak dijadikan sebagai latar. Oleh karena itu, setiap unsur membangun karya fiksi tersebut saling erat kaitannya satu dengan yang lain.
Menurut Aminuddin (1987:69), hubungan setting dengan penokohan, misalnya jika pengarang mau menampilkan seorang tokoh petani yang sederhana dan buta huruf, maka tidak mungkin petani itu diberi setting kota jakarta, Aldiron Plaza, perkantoran maupun diskotik serta restoran. Begitu juga seorang tokoh yang digambarkan berwatak alim tidak mungkin diberi setting : kamarnya dipenuhi gambar botol minuman keras serta bertempat tinggal di daerah mesum.
Seperti yang telah disinggung di atas, Aminuddin (1987:69-70) memandang bahwa setting juga mampu menuansakan suasana-suasana tertentu akibat penataan setting oleh pengarangnya itu lebih lanjut juga akan berhubungan dengan suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Suasana penuturan itu sendiri dibedakan antara tone sebagai suasana penuturan yang berhubungan dengan sikap pengarang dalam menampilkan gagasan atau ceritanya, dengan mood yang berhubungan dengan suasana batin individual pengarang dalam mewujudkan suasana cerita. Sementara suasana yang di timbulkan oleh setting maupun implikasi maknanya dalam rangka membangun suasana cerita diistilahkan dengan atmosfer. Selain berhubungan dengan penokohan, watak, dan atmosfer, setting juga berhubungan dengan pengolahan peristiwa dalam suatu cerita, dengan penahapan peristiwa, dan dengan alur cerita itu sendiri.
B.     PSIKOLOGI SOSIAL
1.      Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi sosial adalah merupakan ilmu tentang perilaku individu dalam situasi sosial (dalam Walgito, 1999:7). Baron dan Byrne mengatakan bahwa psikologi sosial (dalam Walgito, 1999:7) adalah ingin mengerti sifat dan sebab-sebab perilaku individu dalam situasi sosial.

Di samping itu, Hartley dan Hartley (dalam Walgito, 1999:6) mengemukakan pendapat bahwa psikologi sosial adalah prilaku individu dalam konteks interaksi sosial. Interaksi sosial adalah dimana adanya hubungan antara individu satu dengan yang lain, atau adanya situasi sosial.

Berkaitan dengan psikologi sosial ini ada beberapa hal yang dapat dikemukakan, yaitu bahwa psikologi sosial, fokusnya pada prilaku individu dan dalam kaitannya dengan situaisi sosial. Dengan demikian apapun definisi mengenai psikologi sosial itu, tidak lepas dari adanya situasi sosial atau interaksi sosial dan fokusnya  adalah perilaku individu
2.      Peristiwa-peristiwa Jiwa Dalam Psikologi Sosial
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa psikologi sosial tidak lepas dari kehidupan perilaku individu dalam lingkungnannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Sejak individu dilahirkan, sejak itu pula individu langsung berhubungan dengan dunia luar. Menurut Bimo Walgito (1999:
45-107) mengatakan bahwa peritiwa kejiwaan dalam psikologi sosial terdiri dari 8 yaitu :
1.      Persepsi Sosial
Persepsi sosial merupakan suatu proses seseorang untuk mengetahui, menginterpretsikan dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, tentang sifat-sifatnya, kwalitasnya dan keadaan yang lain yang ada dalam diri orang dipersepsi.
2.      Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain.
3.      Komunikasi
Kumunikasi adalah proses penyampaian informasi, ide, pemikiran, pengetahuan yang dapat berlangung dalam situasi sosial
4.      Kelompok
Kelompok adalah saling bergantung dengan yang lain antara individu yang satu dengan yang lain
5.      Prasangka
Prasangka adalah evaluasi kelompok atau seseorang yang mendasarkan diri dari pada keanggotaan dimana seseorang tersebut menjadi anggotanya.
6.      Sikap Sosial
Sikap sosial adalah tindakan atau kesediaan bereaksi terhadap suatu hal dalam situasi sosial.

C.     SIKAP SOSIAL
1.      Pengertian Sikap Sosial
Sikap merupakan masalah yang penting dan menarik dalam lapangan psikologi sosial. Menurut Thurstone (dalam Walgito, 1999 : 109) sikap sosial adalah suatu tindakan dalam situasi sosial yang berupa afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologi.
Menurut Gerungan (1966 : 151) sikap sosial adalah suatu sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasan, tetapi disertai oleh kecenderungan bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek atau suatu tindakan dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal dalam situasi sosial.
Di samping itu Rokeach (dalam Walgito, 1999 : 110) memberikan pengertian tentang sikap sosial yaitu : Predisposisi untuk berbuat atau berprilaku terhadap objek sikap dalam situasi sosial. Oleh karena itu, dari batasan ini, juga dapat dikemukakan bahwa sikap sosial mengandung komponen kognitif, komponen afektif, dan juga komponen konatif, yaitu merupakan kesedian untuk bertindak atau berprilaku.
Dari macam-macam diatas dapatlah ditarik suatu pendapat bahwa ”sikap sosial merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau berprilaku  dalam cara tertentu yang dipilihnya”.
2.      Struktur Pembentukan Sikap Sosial
Seperti yang telah dijelaskan di atas para ahli dalam membahas mengenai sikap sosial cukup untuk menunjukkan adanya pandangan yang berbeda satu dengan yang lain. Thrustone menekankan pada komponen afektif, pada Rokeach menekankan pada komponen kognitif, afektif, dan konatif. Menurut Walgito (1999 : 111) berdasarkan hal-hal diatas, struktur pembentukan sikap sosial terdiri dari tiga komponen yaitu:
a.       Komponen kognitif (Komponen Perseptual)
Komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap dalam situasi sosial.
b.      Komponen Afektif (Komponen Emosional)
Komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.
c.       Komponen Konatif (Komponen Prilaku atau Action Component)
Komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap dalam situasi sosial. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berprilaku seseorang terhadap objek sikap dalam situasi sosial.
Komponen-komponen tersebut di atas merupakan komponen yang berbentuk sikap sosial. Analisis dengan melihat komponenikomponen yang membentuk sikap sosial disebut analisis komponen.
3.      Ciri-ciri Sikap Sosial
Seperti yang telah dipaparkan di depan bahwa sikap sosial merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku yang tertentu dalam lingkungan sosial. Walaupun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri manusia itu. Oleh karena itu, menurut Walgito (1999 : 113-114) sikap sosial terdiri dari beberapa ciri yaitu :
a.       Sikap Sosial itu tidak dibawa sejak lahir
Sikap sosial terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu, terbentuk atau dibentuk sikap itu dapat dipelajari, dan karenanya sikap itu dapat berubah.
b.      Sikap Sosial itu selalu berhubungan objek sikap
Sikap sosial terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan objek-objek yang tertentu : yaitu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut, hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan objek tertentu akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut.
c.       Sikap sosial dapat tertuju pada satu objek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan objek-objek.
Bila orang yang mempunyai sikap yang negatif pada seseorang, orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif pula pada kelompok dimana seseorang tersebut bergabung didalamnya, begitu juga sebaiknya.
d.      Sikap sosial itu dapat berlangsung lama atau sebentar.
Apabila suatu sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidipan seseorang, secara relatif akan lama bertahan pada diri orang yang bersangkutan. Sikap tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama.
e.       Sikap sosial itu mengandung faktor perasaan dan motivasi.
Ini berarti bahwa sikap sosial terhadap suatu objek tertentu akan selalu di ikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif atau juga dapat bersifat negatif terhadap objek tersebut. Disamping itu juga mengandung motivasi, yakni sikap sosial itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap objek yang dihadapinya.

D.    CERPEN LELAKI HUJAN DAN PENGARANGNYA
Cerpen Lelaki Hujan adalah karya sastra berbentuk prosa fiksi yang dimuat dalam kumpulan cerpen Lelaki Hujan Karya Wince Sindria pada tahun 2003 dan diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Gema Insani Jakarta pada tahun 2003. Cerpen Lelaki Hujan terdiri dari delapan buah tulisan antara lain (a) Antara Aku, Ufi, dan ulang tahun, (b) Berselimut Binbang, (c) Audrey Tatia (Surtiah), (d) Istana Pasir, (e) Lelaki Hujan, (f) Senja Bersemi, (g) Episode Dias, dan
(h) Tatkala Cinta hilang makna. Cerpen Lelaki Hujan menampilkan benturan-benturan dalam jiwa manusia tentang perbedaan status sosial yang bertolak belakang, yaitu dunia mimpi dan dunia jaga, kecintaan, kesetian dan ketulusan ternyata tidak cukup mampu mengubah nasib. Tetapi keikhlasan dan keberanian menentukan pilihan adalah suatu perjuangan besar.
Cerpen ini mengisahkan pertemuan dan perkenalan, impian dan harapan perjuangan lelaki yang melawan penyakittnya demi bertahan hidup serta pencarian seseorang (Tokoh Lelaki Hujan / Andi) tentang arti sebuah kehidupan dan persahabatan yang tidak pernah dirasakannya, dimana tokoh tersebut (Andi atau Lelaki Hujan) hidupnya selalu diwarnai dengan intrik bisnis, perjamuan dan pesta. Sehingga dia lupa akan indahnya hujan di sore hari, harumnya aroma tanah, dan nikmatnya arti sebuah persahabatan. Karena tokoh-tokoh itu rekaan pengarang, hanya pengaranglah yang mengenal mereka. Adapun tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita ini adalah sebagaimana yang tertera dalam tabel dibawah ini.







TABEL 1
TOKOH-TOKOH DALAM CERPEN LELAKI HUJAN
TOKOH
RAGAM LELAKI
KETERANGAN
1.     Andi (Lelaki
Hujan)
a.       Pelaku utama (sentral)
b.      Protogonis
c.       Pelaku bulat
-         Menjadi pusat yang diutamakan penceritaannya
-         Memerankan perilaku positif
-         Memiliki dan diungkapkannya berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya
2.  Achmad (Aku)
a.       Pelaku sederhana
b.      Protagonis
c.       Pelaku statis
-         Memiliki satu kwalitas pribadi atau watak
-         Memerankan perilaku positif
-         Tidak menunjukkan adanya perubahan sikap dari awal sampai akhir
3.   Wahid
Pelaku tipikal
-         Pelaku yang hanya sedikit di tampilkan keadaan individu dualitasnya dan ditonjolkan kualitas pekrjaannya
4.   Istri
Pelaku netral
-         Pelaku yang hanya bereksitensi demi cerita itu sendiri
Jika kita membaca karya sastra dan karya itu menarik hati kita, maka pertanyaan yang langsung timbul ialah ”Siapa Pengarangnya?”. Pada sebuah karya modern jawaban atas pertanyaan itu tidak sukar dicari  karena nama pengarang selalu dicantumkan. ”Lelaki Hujan”, misalnya, dikarang oleh
Wince Sindria yang dimuat dalam kumpulan cerpen Lelaki Hujan (2003).
Wince Sindria menulis sejak duduk sekolah dasar. Karya pertama dimuat saat duduk di kelas 6 SD di majalah SAI, yaitu majalah anak-anak yang terbit di Padang. Ketika SMP dan SMA lebih banyak menulis puisi dan cerpen untuk diri sendiri, mading, buletin SKR (Sanggar Kosultasi Remaja), atau majalah sekolah. Semasa kuliah kegiatan menulis bisa dikatakan terhenti sama sekali karena saat itu aktif dalam LSM yang membantu remaja bermasalah dan membina SKR di SMA-SMA. Beberapa tulisannya pernah dimuat di majalah Annida. Buku pertamanya yang diterbitkan berjudul ”yang Tak Tersentuh”
DOWNLOAD SELENGKAPNYA

DOWNLOAD SKRIPSI LAINNYA

Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog