Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

27 Juni 2011

ANALISIS TINGKAH LAKU TOKOH DALAM NOVEL KEMERDEKAAN DIMULAI DARI LIDAH KARYA A.D.DONGGO DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI BEHAVIORAL (BAB 1)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
   Karya sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan seorang pengarang berarti di dalamnya ternuansakan kejiwaan sang pangarang,baik suasana pikirmaupun suasana rasa atau emosi.
   Karya sastra itu lahir dari pengekspresian ungkapan pengalaman yang telah lama ada dalam jiwanya dan mengalami proses pengolahan jiwa secara mendalam melalui proses perenungan. Seperti yang pernah dikatakan oleh C. G Jung (dalam Amiduddin 1990:92) bahwa pengarang adalah manusia yang memiliki kepekaan jiwa sangat tinggi, sehingga mereka mampu menangkap suasana batin manusia lain yang paling dalam.
   Gejala-gejala jiwa yang ditangkap oleh sang pengarang dari manusia-manusia lain tersebut kemudian diolah dalam batinnya dipadukan pada kejiwaannya sendiri lalu disusunlah menjadi suatu pengetahuan baru dan diendapkan dalam batin. Jika enapan pengalaman tersebut telah cukup kuat memberikan doronganpada batin sang pengarang untuk melakukan proses kreatif, maka dilahirkannya endapan dalam wahana bahasa yang dipilihnya dan diekspresikanmenjadi karya sastra. Dengan demikian, pengalaman kejiwaan sang pengarang yang semula terendap dalam jiwanya telah beralih ke dalam karya sastra yang diciptakannya yang terproyeksi lewat tingkah laku tokoh imajinernnya. (Amiduddin, 1990:92).
   Sastra sebagai gejala kejiaan di dalamnya terkandung fenomena-fenomena kejiwaan yang tanpak lewat tingkah laku tokoh-tokohnya. Dengan demikian, karya sastra atau teks sastra dapat didekati dengan menggunakan pendekatan psikologi. Hal ini dapat diterima karena antara sastra dengan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional (darmanto dalam Amiduddin, 1990:94).  
   Hubungan tidak langsung artinya hubungan itu ada, karena baik sastra maupun psikologi kebetulan memiliki tempat berangkat yang samayakni kejiwaan manusia perbedaannya adalah sang pengarang mengemukakannya dalam bentuk karya sastra. Sedangkan psikologi mengemukakannya dalam bentuk formasi teoriteori psikologi. Psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional yakni sama-sama berguna untuk sarana mempelajari kejiwaan orang lain, hanya perbedaannya gejala kejiwaan yang ada dalam karya sastra adalah kejiwaan manusia imajiner, sedangkan gejala kejiwaan dalam psikologi adalah manusia riil atau nyata, yaitu gejala kejiwaan seseorang dalam kehidupan manusia. Namun keduanya dapat saling melengkapi dan saling mengisi untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap kejiwaan manusia.
   Berdasarkan uraian yang di atas, sudah jelas bahwa karya sastra mengandung psikologi yaitu tentang jiwa manusia. Karena karya sastra memuat fenomena-fenomena kejiwaan manusia.
   Dalam bahasa Sansekerta jiwa adalah lembaga hidup (levensbigensel) atau daya hidup ( levenkracht). Menurut Abu Ahmadi (1983:11) jiwaitu merupakan pengertian  yang abstrak, tidak bisa dilihat dan belum bisa di ungkapkan secara lengkap dan jelas, maka orang lebih cenderunng mempelajari “ jiwa yang memateri” atau gejala “jiwa yang meraga / menjasmani” yaitu bentuk tingkah laku manusia (segala aktifitas, perbuatan, penampilan diri) sepanjang hidupnya.
   Dalam perkembangan manusia mengalami proses perubahan baik jasmani maupun rohaninya. Perubahan itu disebabkan unsure-unsur  perkembangan yang ada pada manusia. Perkembangan itu dapat dipengaruhi oleh lingkungnan seperti halnya psikologi behavior yang berpijak pada anggapan bahwa tingkah laku manusia adalah hasil bentukan dari lingkungan. (Amiduddin, 1990:94).
   Dalam mengamati tingkah laku manusia, biasanya kita dapat mengetahui apa yang dikerjakan seseorang, sebelum megetahui mengapa ia berbuat demikian atau bagaimana ia telah melakukannya. Bahkan orang itu sendiri kadang-kadang juga demikian keadaannya karena kerap kalli seseorang kurang menyadari motif-motifnya sendiri atau proses yang terjadi dalam di dalamnya jiwanya. (F. Patty, 1982:67).
   Bermacam-macam tingkah laku manusia yang tidak terhitung jumlahnya muali dari yang sangat konkrit dan sederhana seperti berjalan, mandi, berpakaian, melamun dan sebagainya kepada jenis tingkah laku yang abstrak dan komplek seperti tingkah laku pada waktu orang terpesona, iri hati, memecahkan masalah yang sulitdan sebagainya.Dengan bermacam-macam tingkah laku itu manusia berhubungan/ bergaul dengan lngkungannya. Seperti contoh seorang yang sedang kehilangan sepatunya akan memperhatikan sepatu atau benda-benda sebangsanya dan tidak tertarik kepada benda-benda lain yang sama disekitarnya meskipun benda-benda tersebut secara obyektif lebih bernilai (F. Patty, 1982:68).
   Dengan demikian lingkungan yang kita maksudkan disini adalah lingkungan yang efektif, linkunan yang menarik perhatian seseorang pada suatu waktu tertentu  karena arti yang dapat diberikanny. Lischoten menyebutkan lingkungan semacam ini “situasi psychis” sebagai lawan dari “situasi fisis” yaitu lingkunan objektif yang mengelilingi diri kita, baik yang efektif maupun tidak.
               Perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan bukanlah benda-benda yang konkret saja, perasaan dan harapan-harapan yang ada dalam diri kita termasuk juga lingkungan. Begitu uga massalah-masalah dan persoalan –persoalan  yang sedang kita hadapi semuanya ini bisa memberikan perangsang pada diri kita untuk melakukan  suatuperbuatan tertentu (F. Patty, 1982:68).
   Dalam interaksi antaraindividu dan ligkungannya ada empat kemungkinan hubunganyaitu, individu menentang lingkungannya, individu memanfaatkan lingkungannya, individu ikut serta pada apa yang sedang berjalan dalam lingkungannya dan individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya (F. Patty, 1982:68).
   Individu yang menentang lingkungannya terjadi kalau ternyata pengaruh lingkungan dirasakan kurang menguntungkan bahkan membahayakan . Seorang bayi akan menentang makanan pahit yang dimasukkan ke mulutnya ddemikian juga seorang dewasa akan mnentang peraturan-peraturan yang merugikan dirinya. Menentang lingkungan tidaklah selamanya berarti penentang terang-terangan. Penentangan itu bisa juga berwujud penghindaran ang maksudnya pada dasarnya adalah sama yaitu menyelamatkan diri.
   Pemakaian atau pemanfaatan lingkungan terjadi bilamana lingkungan dapat memberikan pengaruh-pengaruh positif. Seorang individu menerima dan memakai udara yang ada dalam lingkungannya karena udara memungkinkandia hidup. Begitu juga orang dewasa menerima adanya lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat karena lembaga-lembaga ini bisa memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan diri.
   Dalam hubungan yang ketiga yaitu individu ikut serta dengan lingkungannya karena segala kehidupan sosial pada dasarnya memperlihatkan corak hubungan yang sesuai dengan individu tersebut.
   Ada juga individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam hubungan tersebut seorang individu kadang-kadang harus mengubah lingkungannya untkkepentingan dirinya sendiri, misalnya membersihkan rumah untuk kesehatan, untuk mengubahdirinya sendiri sesuai dengan tuntutan lingkungan dimana ia berada sehingga lingkungan yang mempengaruhi individu tersebut akan mengubahnya sesuai dengan situasi pada saat itu
   Kondisi tau hal yang terjadi pada manusia nyata juga terdapat pada manusia-manusia imajiner. Begitu juga pada Novel Kemerdekaan Dimulai Dari Lidah Karya A. D. Donggo ini merupakan novel yang menggamarkan sosok tokoh dengan berbagai macam tingkah laku sesuai deangan lingkungan yang mempengaruhinya, sehingga menarik untuk dikaji dengan memanfaatkan ilmuilmu psikologi.
   Dari hal tersebut untuk mengtahui tingkah laku tokoh dalam novel Kemerdekaan Dimlai Dari LidahKarya A. D. Donggo. Penulis menganalisis tingkah-laku tokoh dengan menggunakan psikologi yaitu psikologi behavior.

1.2 PERMASALAHAN
1.2.1 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dirumuskan masalah sebagai berikut, “Bagaimanakah Tingkah Laku Tokoh Madun Dalam Novel Kemrdekaan Dimulai Dari Lidah Karya A. D. Donggo Dengan Menggunakan Pendekatan Psikologi Behavior”.
1.2.2 Penegasan Konsep Variabel
Untuk memperoleh kesamaan pengertian dan agar tidak terjadi salah tafsir terhadap judul, maka perlu dijelaskan konsep variable berikut ini.
            Yang dimaksud tingkah laku tokoh madun dalam novel Kemerdekaan Dimulai Dari Lidah Karya A. D. Donggo adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh tokoh yaitu Madun yang merupakan proses kreatif seorangpengarang yaitu A. D. Donggo.
            Psikologi behavior meupakan sebuah teori psikologi yang menganggaptingkah laku manusia adalah hasil bentukan dari lingkungan tempat ia berada / oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya.
            Dari hal tersebut, tingkah laku tokoh dalam karya sastra akan dianialisis untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadaptingkah laku sang tokoh.
1.2.3 Deskripsi Masalah
Penelitian terhadap tingkah laku tokoh dalam nonel Kemerdekaan Dimulai Dari Lidah Karya A. D. Donggo tersebut dianalisis melalui pendekatan psikologi behavior.
Psikologi behavior ini beranggapan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil bentukan dari lingkungan tempat manusia itu tinggal atau oleh pendidikan atau pengalaman yang diperolehnya.
Novel Kemerdekaan dimulai dari lidah Karya A. D. Donggo merupakan novel yang bernuansa politik yang di dalamnya terdapat beberapa tokoh seperti: Madun, Supar, Ambar, Sani, Pieter, Didin, Karta, Darso, Surti, Adi, Petugas A, Petugas B,tokoh-tokoh tersebut yang melatar belakangi cerita degan berbagai maam tingkah laku yang merupakan proses kreatif seorang pengarang.      
DOWNLOAD SKRIPSI LENGKAP
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog