Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

01 Juni 2011

ANALISIS NILAI – NILAI PATRIOTISME DALAM NASKAH DRAMA “GEMPA” KARYA B. SOELARTO (BAB I)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?


BAB I
PENDAHULUAN

1.1             LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa merupakan salah satu ciri kekhususan seni sastra. Hal ini disebabkan bahasa dalam seni sastra bersifat perasaan, mengandung banyak tafsir. Selain itu, bahasa dalam seni sastra tidak saja menunjuk tetapi bersifat apresiatif, tidak hanya menerangkan dan menyatakan apa yang dilakukan, namun bermaksud mempengaruhi sikap pembaca. Di pihak lain sastra lebih sekedar dari bahasa, deretan kata, namun unsur kelebihannya hanya dapat di ungkap dan di tafsirkan melalui bahasa. Jika sastra dikatakan ingin menyampaikan sesuatu, mendialogkan sesuatu, sesuatu tersebut hanya dapat di komunikasikan lewat sarana bahasa. Bahasa dalam sastra mengandung fungsi utama yaitu fungsi komunikatif (Nurgiyantoro, 1994:277).
Pada kenyataannya dunia sastra merupakan hasil kreatifitas pengarang yang menggunakan media bahasa, yang diabdikan untuk kepentingan estetis. Dengan kata lain sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan seorang pengarang, yang berarti di dalamnya ternuansakan suasana kejiwaan sang pengarang, baik suasana pikir maupun suasana rasa atau emosi. Di jelaskan bahwa karya satra itu lahir dari pengekspresian endapan yang telah lama ada dalam jiwanya dan mengalami proses pengolahan jiwa secara mendalam melalui proses berimajinasi (Aminuddin, 1990:91).
Karya satra (Kesusastraan) diciptakan secara kreatif, dalam pengertian bahwa ia diciptakan dalam realitas baru, yang berarti sesuatu yang belum terlintas dan terungkap oleh orang lain. Selain itu sastra sejati selalu bersifat individual. ia diciptakan oleh perorangan tertentu, mengungkapkan nilai-nilai dan norma-norma seperti yang ditulis oleh kretornya. Dengan penampilan hasil sastra demikian maka ia mempunyai sifat pribadi, karena itu sastra sejati bersifat semesta, universal. Hal ini berhubungan dengan nilai yang dikandung oleh karya sastra tersebut.(Korrie Lajun. R, 1984:15).
Dengan kata lain, karya sastra merupakan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Karya sastra menjadi suatu wadah untuk mengetahui kebenaran kehidupan yang terjadi disekitar pengarang. “Kebenaran kehidupan bukan hanya dapat didekati melalui pengetahuan atau filsafat, tetapi dapat pula melalui penghayatan orang lain”. Penghayatan orang lain adalah penghayatan perasaan pengarang yang dilahirkan melalui karya sastra salah satunya melalui sastra drama.(Sumardjo, 1986:37).
Dalam dunia sastra kita mengenal istilah drama yang merupakan genre sastra imajinatif ketiga setelah puisi, dan fiksi atau prosa noratif. Drama merupakan karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog, dialog para tokohnya. Drama sebagai karya sastra sebenarnya hanya bersifat sementara, sebab naskah drama di tulis sebagai dasar untuk di pentaskan. Dengan demikian, tujuan drama bukanlah untuk dibaca seperti orang membaca novel atau puisi. Drama yang sebenarnya adalah kalau naskah drama tadi telah di pentaskan. Tetapi bagaimanapun, naskah tertulis drama selalu dimasukkan sebagai karya sastra. Pokok drama adalah cerita yang membawakan tema tertentu, di ungkapkan oleh dialog dan perbuatan para pelakunya. Dialog dalam drama dapat berbentuk bahasa prosa maupun puisi. Dalam drama modern kebanyakan dialog ditulis dalam bentuk prosa. Kadar puisi dalam drama tidak sepekat seperti dalam genre puisi sendiri. Unsur yang menonjol dari puisi dalam drama adalah bunyi dan irama bahasanya, kadang-kadang juga imaji dan penggunaan simbol-simbol. Seperti halnya genre puisi, drama juga mengenal drama panjang dan drama pendek. Drama panjang biasanya terdiri dari tiga atau lima babak, mengandung cerita panjang, karakter yang beragam, dan juga setting  yang beragam pula. Jumlah tiga atau lima babak di sesuaikan dengan tiga atau lima tingkatan plot yakni pengenalan, konflik, klimaks, penguraian masalah, dan penutup. Sedangkan drama pendek hanya terdiri dari satu babak saja, sehingga sering  disebut drama satu babak. Dalam satu babak itulah struktur cerita dalam satu tingkatan tadi diselesaikan. (Sumardjo, dan Zaini, 1997:31).    
Dari ungkapan yang terkandung dalam drama, seseorang akan menghayati pengalaman orang lain, mengidentifikasi diri dengan tokoh dalam drama sehingga dapat ikut mengalami peristiwa yang dihadapi, termasuk perbuatan, pikiran, perasaan, keputusan serta dilema yang dihadapi tokoh.
B. Soelarto banyak menghasilkan sastra drama yang berlatar belakang  revolusi, drama salah satu di antaranya “Gempa“ yang mengambil kejadian waktu zaman revolusi yang sedang bergejolak pada tahun 1945-an dan 1949-an. Meskipun drama-drama itu mengambil kejadian waktu zaman revolusi, namun jarang yang mempersoalkan revolusi itu sendiri. Setting revolusi kebanyakan hanya dipakai dasar untuk masalah sosial dan kejiwaan. Yang menyangkut langsung revolusi dan patriotisme hanya karya B. Soelarto, yang ditulis pada dasa warsa 1960-an. Persoalan revolusi justru tidak menjadi masalah pada tahun 1950-an tetapi persoalan itu baru muncul kembali tahun 1960-an, mengkin disebabkan oleh pengaruh iklim politik waktu itu, yakni masa demokrasi terpimpin yang santer memproklamasikan bahwa revolusi belum selesai. B. Soelarto mempersoalkan pengagungan patriotisme pada pahlawan-pahlawan di zaman revolusi. (Sumardjo, 1992:312).

1.2             PERMASALAHAN
1.2.1       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah.
Bagaimanakah nilai-nilai patriotisme yang terkandung dalam naskah drama “Gempa” karya B. Sularto?
1.2.2       Penegasan Konsep Variabel
Untuk menghindari kesalahan persepsi dalam penyusunan skripsi ini, dan menyamakan konsep yang dimaksud pada judul yang telah ada, maka perlu ditegaskan konsep variabel sebagai batasan operasional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang terdiri dari satu variabel yaitu tentang analisis  nilai - nilai  patriotisme  yang  terdapat  dalam  naskah  drama “Gempa”  Karya  B. Soelarto
Nilai-nilai patriotisme adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan yang dimiliki oleh para tokoh-tokoh dalam naskah drama “Gempa” karya B. Sularto, dimana para tokoh-tokoh mempunyai semangat cinta tanah air dan sikap yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan kemakmuran tanah airnya.
1.2.3       Deskripsi Masalah
Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah nilai-nilai patriotisme dalam naskah drama “Gempa”  Karya  B. Soelarto.
Dalam sebuah drama ada unsur-unsur yang membangun. Unsur-unsur yang membangun sebuah drama menurut adalah :
a.                  Plot atau Kerangka cerita
Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan.
b.                  Penokohan dan Perwatakan
Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Susunan tokoh (drama personal) adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam drama itu, sedangkan perwatakan adalah watak atau karakter dari tokoh-tokoh yang berperan dalam drama itu.
c.                  Dialog atau Percakapan
Ciri khas suatu drama adalah naskah, naskah itu berbentuk percakapan atau dialog.
d.                  Setting atau Landasan atau tempat kejadian
Setting adalah tempat dimana kejadian dalam drama sedang berlangsung tetapi tempat kejadian sering pula disebut latar cerita.
e.                  Tema atau Nada dasar cerita
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama, tema berhubungan dengan premis dari drama tersebut yang berhubungan pula dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang di kemukakan oleh pengarangnya.
f.                    Amanat
Amanat adalah pesan pengarang yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya. (Waluyo, 2002:8).
Kecintaan akan tanah air dan bangsa telah mendorong seseorang rela berkorban untuk bangsa dan negara. Dengan mendalami makna patriotisme, kita akan dapat mengambil nilai-nilai yang ada didalamnya. Semangat bersedia dengan ikhlas hati memberikan segala sesuatu yang dimiliki demi kepentingan bangsa dan negara merupakan salah satu nilai patriotisme yang perlu kita pegang teguh. (TIM MGMP, 1994:16).
Nilai-nilai budi pekerti yang terkandung pada petriotisme yakni patriotik, tangguh, tegar, dan ulet.
a.      Patriot                         : Selalu bersedia membela kepentingan negara
b.      Tangguh                     : Selalu bersikap dan bertindak lurus
c.      Tegar              : Selalu berusaha mewujudkan cita-cita seoptimal mungkin
d.      Ulet                       : Selalu berusaha mencari alternatif yang baik dalam belajar.                                                                                                                                              (Abu Bakar, 1994:72)      

Sedangkan nilai-nilai patriotisme dalam angkatan 1945 adalah :
a.                  “Pro Patria” dan “Primus Patrialis”, yaitu selalu berjiwa patriot untuk tanah air dan mendahulukan kepentingan tanah air.
b.                  Jiwa solidaritas atau kesetiakawanan.
c.                  Jiwa toleransi atau tenggang rasa.
d.                  Jiwa tanpa pamrih dan bertanggung jawab.
e.                  Jiwa satria.
f.                    Semangat menentang dominasi asing.
g.                  Semangat pengorbanan.
h.                  Semangat derita dan tahan uji.
i.                    Semangat kepahlawanan.
j.                     Semangat persatuan dan kesatuan.
k.                  Percaya pada diri sendiri. (TIM MGMP, 1994:17).
1.2.4       Pembatasan Masalah
Berhadapan dengan naskah drama “Gempa”  Karya  B. Soelarto berbagai pemikiran segera muncul. Untuk pembaca yang awam, tentunya semakin tidak tahu dan semakin tidak mampu menangkap maksud pengarang. Untuk pembaca yang kritis dan mempunyai pemahaman sastra yang tinggi serta mempunyai keinginan untuk membedahnya, maka pemikiran yang bermacam-macam akan segera membelitnya.  Karena pada dasarnya naskah drama “Gempa” ini dibuat oleh pengarangnya dengan pemikiran yang penuh.
Memperhatikan luasnya permasalahan yang tergambar dalam deskripsi masalah di atas, perlu dibatasi yaitu pada penokohan. Sedangkan pada unsur nilai-nilai patriotisme dibatasi pada nilai-nilai budi pekerti yaitu patriotik, tangguh, dan tegar.

1.3             TUJUAN PENELITIAN
1.3.1       Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk memperoleh deskripsi objektif tentang nilai - nilai  patriotisme  yang  terkandung   dalam  naskah drama “Gempa”  Karya B. Soelarto. 
1.3.2       Tujuan Khusus
Tujuan penelitian ini secara khusus adalah memperoleh deskripsi tentang   nilai – nilai  patriotisme  yang  terkandung  dalam  naskah  “Gempa”   Karya B. Soelarto yang dibatasi pada nilai-nilai budi pekerti yaitu patriotok, tangguh, dan tegar.

1.4             ASUMSI
Penelitian ini berdasarkan pada asumsi sebagai landasan kerja dan arahan pelaksanaan, yaitu :
1.                                          Semua karya sastra yang berbentuk drama menggambarkan pengalaman peristiwa yang terjadi sehari-hari yang bersifat kebetulan dan dialami oleh sang tokoh, oleh karena itu, merupakan sumber data untuk dianalisis.
2.                                          Naskah drama “Gempa” karya B. Sularto membicarakan tentang perlawanan terhadap kaum penjajah pada masa revolusi, sehingga dalam naskah drama “Gempa” dikaji tentang nilai-nilai patriotisme karena peristiwa terjadi pada masa revolusi.



1.5             MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
1.                                          Memberikan wawasan yang objektif terhadap pengkajian sastra khususnya prosa, sehingga mampu memberikan pengetahuan tentang keilmuan, pemahaman, dan penghayatan sebuah karya sastra.
2.                                          Bagi peneliti merupakan pengetahuan baru sebagai acuan dalam menciptakan karya sastra yang mempunyai nilai astetik tinggi.
3.                                          Bagi guru dan pemerhati karya sastra dapat menambah kepekaan batin dalam menganalisis jiwa tokoh dalam drama.
4.                                          Hasil dari penelitian ini dapat digunakan guru, dan peneliti bahasa dan sastra seni. Juga para siswa untuk menambah bahan referensi tentang nilai-nilai patriotisme dalam naskah “Gempa”  Karya  B. Soelarto.

1.6             ALASAN PEMILIHAN JUDUL
1.6.1       Alasan Objektif
  1. Karya sastra selalu berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Oleh karena itu pengkajian terhadap suatu karya sastra atau prosa perlu selalu dilakukan guna memberikan gambaran tentang peristiwa yang terjadi.
  2. Naskah drama “Gempa” adalah naskah konvensional, dan penuh pemikiran.
1.6.2       Alasan Subjektif
  1. Peneliti tertarik meneliti kejadian nilai-nilai patriotisme dalam naskah drama “Gempa” karya B. Soelarto.
  2. Ingin mengembangkan pemikiran dalam pengalaman mengenai pemahaman sebuah karya sastra khususnya prosa.

1.7             BATASAN ISTILAH DALAM JUDUL
Batasan istilah ini dimaksudkan agar tidak terjadi salah persepsi dan penafsiran terhadap pokok-pokok masalah yang terdapat dalam penelitian ini. Istilah-istilah penting dalam penelitian ini antara lain :
1                                Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa yaitu (Karangan, perbuatan dan sebagainya), untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab musabab, duduk perkaranya dan sebagainya). (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001: 43).
2                                Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. (Poerwandarminta, 1984: 677).
3                                Patriotisme adalah semangat cinta tanah air, sikap yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. (TIM MGMP PPKN, 1994 : 16).
4                                Drama adalah karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog-dialog para tokoh-tokohnya (Soemardjo, 1997: 31).
5                                Naskah drama “Gempa” adalah naskah drama  karya B. Soelarto yang di terbitkan oleh penerbit PT. Gunung Agung, 1968.

1.8             SISTIMATIKA PENULISAN
Untuk mendapatkan pembahasan yang sistematis dalam penganalisisan skripsi ini, maka akan diuraikan dari bagian awal sampai bagian akhir dari Bab I, Bab II, Bab III, Bab IV, dan Bab V.
BAB I Pendahuluan, berfungsi sebagai pengantar terdiri dari latar belakang masalah, permasalahan, rumusan masalah, penegasan konsep variabel, deskripsi masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, asumsi, manfaat penelitian, alasan pemilihan judul, dan sistematika penulisan. Melalui Bab I ini diharapkan mendapatkan gambaran sekilas tentang skripsi yang akan dibahas.
BAB II Kajian pustaka, berfungsi sebagai landasan teori dari variabel yang akan diteliti dalam penulisan skripsi.
BAB III Metode penelitian, berfungsi untuk menentukan objek, teknis pengumpulan data dan analisis data.
BAB IV Hasil penelitian dan pembahasan, berfungsi untuk menganalisis data-data temuan secara deskripsi kualitatif.
BAB V Penutup, berisi kesimpulan dan saran sebagai hasil dan manfaat yang dapat diambil dari penelitian.
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog