Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

01 Juni 2011

ANALISIS NILAI – NILAI PATRIOTISME DALAM NASKAH DRAMA “GEMPA” KARYA B. SOELARTO (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN TENTANG DRAMA
2.1.1       Pengertian Drama
Seperti kita ketahui ada tiga macam genre sastra yaitu puisi, fiksi, dan drama. Namun dari ketiga jenis karya sastra tersebut yang mempunyai karakteristik menyolok yaitu drama. Kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Ada orang yang menganggap drama sebagai lakon yang menyedihkan, mengerikan, sehingga dapat diartikan sebagai sandiwara tragedi. (Harymawan, 1988:1).
Perkataan drama atau sandiwara semula bermakna kurang baik karena dikaitkan dengan sikap berpura-pura, menipu, atau munafik. Dengan mempelajari apa sesungguhnya drama itu, kesan negatif itu akan semakin hilang. Sikap pura-pura dipanggung bukan pura-pura yang munafik atau menipu. Sikap pura-pura itu dalam suasana sadar, dalam konsentrasi, karena seorang aktor terlibat fisik dan mentalnya “menjadi orang lain”. Pemain drama yang baik justru tidak berpura-pura, sebab dalam menjadi orang lain, mereka menjadi orang lain sungguh-sungguh, dan dalam kembali menjadi diri mereka lagi disertai dengan kesungguhan pula. (Waluyo, 2002:3-4).
Terdapat beberapa definisi drama, yaitu:
Ø                    Arti pertama: Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action (segala apa yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (exciting), dan ketegangan para pendengar atau penonton.
Ø                    Arti kedua: Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Jika buku roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan manusia diekspresikan secara langsung dimuka kita.
Ø                  Arti ketiga: Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, dan diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience). Harymawan, (1998:1-2).
Dari ketiga pengertian di atas yang dikemukakan oleh Harymawan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media percakapan, gerak, dan laku, dengan atau tanpa dekor, yang di dasarkan pada naskah drama tertulis atau secara improvisasi, dengan atau tanpa musik, nyanyian, dan tarian.
2.1.2       Sejarah Pertumbuhan Drama
Drama atau sandiwara ini sebetulnya telah ada dalam ratusan tahun, bahkan ribuan tahun sebelum Masehi.  Tapi tahun yang dapat  dicatat  dan  bisa   dipertanggung  jawabkan  ialah  tahun  490 S.M. Karangan drama yang tertua ditulis oleh Aeschylus (525 – 456 S.M), yaitu tentang The Suppliant (Permohonan). Allardyce Nicoll (dalam Asmara, 1978:10).
Penulis lakon drama Yunani yang kenamaan ialah Sophocles (495 – 406 S.M) dengan karyanya antara lain : Antigone dan Oedipus Tyranus. Drama Yunani kuno itu berasal dari dythiramb, nyanyian pujaan kuno untuk menyembah dewa Dionysos, sebuah patung berhala. Para penonton atau yang mengikuti yang bersifat keagamaan itu atau upacara ritual berkerumun disekitar Acropolis. Tontonan berada ditengah-tengah, diatas sebuah dataran sempit di lereng sebuah bukit. Ditengah-tengah sekali terdapat “altar”. Jadi kedudukan tontonan berada disebelah bawah penonton, seperti dalam stadion sekarang ini. (Asmara, 1978:10).
Di Barat, upacara keagamaan cenderung lebih bersifat penceritaan. Sekelompok manusia, dengan cara mengarak seekor kambing yang sudah dihiasi berbagai perhiasan. Serta merta mereka mengiringnya keliling pasar atau jalan-jalan raya dengan diikuti oleh berbagai taluan tambur dan bunyi-bunyian lainnya. Membeberkan kisah salah satu dewa pada penonton yang berderet dipinggir jalan. Bila perhatian besar, maka iring-iringan itu memperlambat atau menghentikannya guna memberi kesempatan pada seorang “narator” untuk mengisahkan kejadian. Begitulah bentuk yang paling awal dari sebuah “drama” ditanah asalnya Yunani.(Asmara, 1978:10).
Kemudian pada abad ke enam S.M., menambahkan seorang pemain sebagai pimpinan di sampingnya narator. Pemain ini dengan bertukar-tukar kedok atau topeng penutup muka, memainkan beberapa macam peranan tokoh dalam satu lakon dengan berbagai watak pula. Di mana itu sesuai dengan jalannya cerita yang di bawakan oleh narator tadi. Thepsis (dalam Asmara, 1978:10) 
Baru di abad ke lima, ditambah lagi seorang pemain. Dan mulailah dalam permainan itu dikenal dengan dialog atau wawan kata. Pengarang sandiwara atau penulis lakon itu sendiri pada waktu itu juga merupakan seorang pemain dan pelatih koor, yang menyanyikan dythiramb. Formasi koor ini berjumlah K.1.50 orang dan yang dinyanyikan biasanya sajak-sajak yang diperuntukkan guna memuja dewa anggur, Dionysus. Rombongan koor ini menempati kedudukan yang pokok, baik dalam tragedi atau duka carita maupun komedi suka carita, ia mempunyai tugas memberikan komentar liris atau apa yang disangkakan dan sedang berkecamuk didalam kalbu si pelaku atau aktor tersebut. Karena itulah teater Yunani ini harus mempunyai tempat yang agak luas, tersedia bagi bergeraknya rombongan koor maupun tempat yang dapat menampung penonton yang besar jumlahnya. Karena itu teater-teater Yunani kabanyakan dibangun pada sebuah bukit. Teater terbuka, demikianlah kita mengenalnya, bentuknya pun disesuaikan setengah lingkaran. Dibagian pusatnya terdapat dataran  berbentuk lingkaran atau orchestra dengan altar di tengah-tengahnya. Tempat bagi aktor terletak  dibagian muka dari orchestra yang di kenal dengan panggung atau skene. Dan dibelakang tempat bermain ini terdapat tempat berganti pakaian. Kiri, kanan dinding depan skene ini diberi dinding sayap yang disebut paraskenia. Sehingga terbentuklah tempat yang dikenal dengan proscenium atau bagian depan panggung. Kemudian orang-orang Romawi menambah lingkaran-lingkaran itu dan bangunan-bangunan yang mereka dirikan ditanah datar yang kemudian kita mengenalnya dengan amphiteater. Teater yang berbentuk lingkaran dengan auditorium yang bertingkat. Lalu pada perkembangan selanjutnya di atas proskenium ini dibangun atap dan ditempatkanlah disana patung dewa-dewa. Aeschylus (dalam Asmara, 1978:11).



2.1.3       Istilah-istilah Drama
Drama, untuk di Indonesia ada istilah tersendiri yang dikenal dengan kata sandiwara. Istilah ini mulai dikenalkan kepada segenap bangsa Indonesia oleh penciptanya KGP (Kanjeng Gusti Pangeran) Mangkunegara VII, sebagai pengganti kata  “Toneel” yang dianggapnya terlalu kebarat-baratan. Kemudian orang lebih banyak mengenal istilah-istilah lain di samping sandiwara ini ; drama, lakon, komedi atau stambul, dan sebagainya. Terakhir kali kita mengenalnya dengan kata “teater”.(Asmara, 1978:7).
Untuk lebih jelasnya dalam istilah drama, maka akan dipaparkan definisi dari istilah-istilah drama, antara lain :
Ø                  Drama, suatu segi dari kehidupan yang dihidangkan dengan gerak atau action. Jika bukan roman yang menggerakkan daya fantasi kita, maka dalam drama kita melihat suatu kehidupan manusia diekpresikan secara langsung dimuka kita sendiri.
Ø                  Sandiwara, pegajaran yang dilakukan secara rahasia atau perlambang. Kata ini mulai populer di Indonesia sejak zaman penjajahan jepang (1942-1945).
Ø                  Toniil, dari asal katanya sendiri kita mengetahui berasal dari pengaruh Belanda, “toneel”. Yang berarti pertunjukan.
Ø                  Lakon, kata “lakon” ini sebetulnya kurang begitu terkenal dinegara kita sendiri, Indonesia. Hanya pada beberapa tempat saja dipakai di Bali, Jawa dan Madura. Sedangkan kata lakon itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti perjalanan, cerita (dalam pementasan wayang).
Ø                  Komedi atau stambul, atau kemudian beralih menjadi komedi bangsawan, sedangkan arti komedi itu sendiri adalah pementasan yang lucu. Drama komedi, suatu pementasan tentang kehidupan manusia yang mempunyai jalinan cerita atau lakon dengan penuh kelucuan, banyolan, kekonyol-konyolan atau badut.
Ø                  Teater, seperti juga kata drama diatas. Kata ini juga berasal dari bahasa Yunani, “theatron”. Yang diturunkan dari kata ”theomai” yang berarti takjub melihat, memandang. (Asmara, 1978:7)
Teater ini sendiri kemudian mewakili tiga pengertian :
  1. Gedung atau tempat pertunjukan, panggung, yaitu sejak zaman Thucydides (471-395)dan Plato (428-348). Jelasnya disini teater berarti gedung tempat sandiwara diadakan, sedangkan tempat dimana pertunjukan tersebut dilakukan dinamai “panggung atau pentas”.
  2. Publik, auditorium, dalam zaman Herodotus (490/480-224).
  3. Karangan Tonil.
2.1.4       Jenis-jenis Drama
Klasifikasi drama didasarkan atas jenis stereotip manusia dan tanggapan manusia terhadap hidup dan kehidupan. Seorang pengarang drama dapat menghadapi kehidupan ini dari sisi yang menggembirakan dan sebaliknya dapat juga dari sisi yang menyedihkan. Dapat juga seseorang memberikan variasi antara sedih dan gembira, mencampurkan dua sikap itu karena dalam kehidupan yang riil, manusia tidak selalu sedih dan tidak selalu bergembira. Karya yang mampu memadukan dua sisi sikap hidup manusia itu di pandang merupakan karya yang lebih baik karena kenyataannya hidup yang kita jumpai memang demikian adanya. (J.Waluyo,2002:38).
Untuk lebih memahami hakekat drama secara lebih mendalam, kita harus lebih dalam mengetahui jenis-jenis drama menurut isi lakonnnya, yaitu :
a.                                          Drama tragedi atau duka cerita
b.                                          Drama komedi atau suka cerita
c.                                          Drama tragedi komedi atau suka-duka cerita
            Sedangkan bentuk, yaitu :
a.                  Melodrama
-         Opera
-         Operatte
b.                  Farce atau banyolan
c.                  Tablo
d.                  Dagelan
e.                  Drama mini kata
f.                    Drama tari atau sendratari. Asmara (1979:40) dan Waluyo Hadi (1988:57).
Untuk lebih jelasnya dalam istilah drama, maka perlu sekali definisi dari jenis-jenis drama tersebut diatas. yaitu :
1.                  Drama tragedi, yaitu drama yang penuh kesedihan, kemalangan. Hal ini disebabkan pelaku utama dari awal sampai akhir pertunjukan senantiasa kandas dalam melawan nasibnya yang buruk.
2.                  Drama komedi, yaitu drama penggeli hati. Dimana isinya penuh dengan sindiran atau kecaman terhadap orang-orang atau suatu keadaan pelaku yang dilebih-lebihkan. Bahannya banyak diambil dari kejadin yang terdapat dalam masyarakat sendiri dan sering berakhir dengan kegembiraan.
3.                  Drama tragedi komedi, yaitu drama yang penuh kesedihan, tetapi juga hal-hal yang menggembirakan, menggelikan hati.
4.                  Melodrama, yaitu lakon yang sangat sentimentil, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan.
5.                  Drama opera, yaitu drama yang berisikan nyanyian dan musik. Pada sebagian besar penampilannya di gunakan sebagai dialog. Kata yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti perbuatan.
Jenis opera antara lain :
-         Drama opera seria atau cerita sedih.
-         Drama opera buffo atau cerita lucu.
-         Drama opera komik atau lelucon.
6.                  Drama operatte, yaitu drama jenis opera tetapi lebih pendek.
7.                  Tablo, yaitu drama tanpa kata-kata dari si pelaku, milik pantomin atau bentuk pementasan teater yang singkat dan tanpa dialog, dimana penonjolan lebih banyak pantomin dan tehnik eksposisi dan dirangkai menjadi sebuah cerita atau cuplikan sebuah fragmen.
8.                  Dagelan, yaitu suatu pementasan yang sudah dipenuhi unsur-unsur lawakan atau badutan atau bentuk pementasan cerita yang sudah oleh lawakan atau humor yang menggelitik gelak penonton, misalnya memakai tata risa yang menor, yang eksentrik atau yang menggelikan.
9.                  Sendratari, yaitu seni drama tari tanpa dialog, segala sesuatu dinyatakan dengan tari. Sebagian besar pujiannya lakon, cerita klasik seperti cuplikan-cuplikan dari Ramayana, Brata Yudha (Mahabarata).
10.             Farce atau banyolan, yaitu bentuk pementasan yang ceritanya berpola pada komedi. Penyajiannya didominasi oleh komikus. Gelak diwujudkan pada kata atau perbuatan hampir menyerupai dagelan.
11.             Drama mini kata, yaitu drama pada pementasannya boleh dikatakan hampir tidak menggunakan dialog sama sekali. Caranya dengan improvisasi. Improvisasi saja dengan gerak-gerak teaterikal yang tuntas. Asmara (1979:40) dan Waluyo Hadi (1988:57)
2.1.5       Unsur-unsur yang membangun Drama
Drama naskah disebut juga sastra lakon. Sebagai salah satu genre sastra drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik, makna). Wujud fisik sebuah naskah adalah dialog atau ragam tutur.
Ragam tutur adalah ragam sastra. Oleh sebab itu, bahasa dan maknanya tunduk pada konvensi sastra, meliputi hal-hal sebagai berikut ini :
  1. Teks sastra memiliki unsur atau struktur batin (intern stucture relation) yang bagian-bagiannya saling menentukan dan saling berkaitan.
  2. Naskah sastra juga memiliki struktur luar atau ektern structure relation, yang terikat oleh bahasa pengarangnya.
  3. Sistem sastra juga merupakan model dunia sekunder, yang sangat kompleks dan bersusun-susun. Selanjutnya Teeuw juga menyebutkan tiga ciri khas karya sastra, yaitu sebagai berikut :
a.      Teks sastra merupakan keseluruhan yang tertutup, yang batasnya ditentukan dengan kebulatan makna.
b.      Dalam teks sastra ungkapan itu sendiri penting, diberi makna, di semantiskan segala aspeknya, barang atau persoalan yang dalam kehidupan sehari-hari tidak bermakna, diberi makna.
c.      Dalam memberi makna itu disatu pihak karya sastra terikat oleh konvensi, tetapi dilain pihak menyimpang dari konvensi. Karya sastra  menunjukkan ketegangan antara konvensi dengan pembaharuan, antara mitos dengan kontra mitos. (Teeuw, 1983:3-5).
Untuk memahami naskah drama secara lengkap dan terinci, maka struktur drama akan dijelaskan disini. Unsur-unsur struktur itu saling menjalin membentuk kesatuan yang saling terikat satu dengan yang lain. Unsur-unsur itu adalah unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik, unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.(Wellek, 1990:111).
Di sini akan dibahas tentang unsur instrinsik yang membangun karya sastra, diantaranya :
1.                  Tokoh atau Pemeran.
Dalam drama tokoh cerita yang disajikan, walaupun kadang-kadang dialami oleh binatang atau mahluk lain, umumnya dialami oleh tokoh-tokoh cerita yang berupa manusia. Tokoh cerita adalah orang-orang yang mengambil bagian yang mengalami peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam plot. (Sumardjo dan Zaini K.M, 1987:144)
Adapun sikap dan kedudukan tokoh cerita dalam suatu karya sastra drama beraneka ragam. Ada yang bersifat penting dan digolongkan kepada tokoh utama dan digolongkan tokoh pembantu atau minor, sering kita lihat  baik di telivisi maupun di bioskop kita bertanya siapa pemeran utama dalam cerita tersebut. Artinya kita tahu bahwa yang memerankan tokoh utama dalam cerita itu. Cerita dalam drama ada tokoh yang selalu berbuat kebajikan ada pula yang berbuat kemungkaran, kejahatan dan lain-lain.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan dengan demikian berperan sebagai penggerak cerita atau tokoh yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat kesukaran-kesukaran. Tokoh protagonis biasanya disenangi penonton. Sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang berperan sebagai penghalang dan masalah bagi protagonis.
Di dalam kisah dua pencuri, pencuri yang satu menjadi antagonis terhadap pencuri yang pertama-tama punya prakarsa untuk membunuh. Tokoh yang lain kedudukannya penting pula dalam cerita adalah kepercayaan. Tokoh ini menjadi kepercayaan protagonis dan antagonis. Dengan adanya tokoh kepercayaan protagonis dan antagonis dapat mengungkapkan isi hatinya di pentas dan oleh karena itu memberi peluang lebih besar kepada pembaca atau penonton untuk mengenal watak dan nilai-nilai tokoh-tokoh dengan baik. (Sumarjo dan Zaini K.M, 1986:144-145).
Untuk lebih banyak mengenal tokoh-tokoh dalam drama mari kita simak penggalan dialog drama “Orang Asing” karya dari Rubert Brook saduran D. Djajakusuma, yaitu :
Ibu                : (ragu-ragu) ah, saya tidak tahu
Gadis           : ia tenggelam (jengkel)
Orang asing  : o, maaf. Tetapi suami ibu selalu di tinggalkan ibu seorang diri.
......................................................................................................................
  Dari cuplikan naskah di atas kita tahu bahwa tokoh-tokoh yang tampak yaitu ibu, gadis dan orang asing. Tapi karena cuplikan drama tersebut hanya sebagian saja, artinya tidak keseluruhan naskah drama ditampilkan sehingga yang baru kita tahu pokok tersebut hanya ada tiga orang. Namun dalam drama “Orang Asing” ada tujuh tokoh ditambah tokoh ayah, anak mud, anak, dan tukang warung.
2.                  Penokohan atau Perwatakan.
Penokohan atau perwatakan dalam drama kebanyakan pemeran mengungkapkan wataknya dengan jalan menjelaskan kepada penonton. Adakalanya sekalipun pemeran atau tokoh mengungkapkan wataknya juga dapat mengungkapkan watak lain artinya bermuka dua. Namun ada cara lain untuk mangungkapkan watak tokoh adalah dengan menampilkan orang kepercayaan. Misalnya supir, pembantu rumah tangga, teman akrab, dan sebagaimya. Dengan munculnya orang kepercayaan ini dalam pentas menyebabkan pemeran utama itu dapat terungkap secara baik, dan dapat pula dengan perilaku atau action. Perilaku ini hendaknya ditampilkan dalam bentuk segi tiga, artinya ada dua perwatakan atau sikap yang bertentangan dan ada satu sikap atau perwatakan yang berada di tengah. (M. Atar Semi, 1998:173)
3.                  Alur cerita atau Plot.
Alur cerita atau plot adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain di hubungkan dengan hukum sebab akibat. Artinya peristiwa pertama menyebabkan terjadinya peristiwa kedua (Sumarjo dan ZainiKM,1986:139).
Alur dalam drama mempunyai kekhususan dibandingkan dengan alur fiksi. Adapun kekhususan, kekhususan alur drama ditimbulkan oleh karakteristik drama itu sendiri, yaitu :
a.      Alur mestilah merupakan alur cerita yang dapat dilakukan oleh manusia biasa dimuka publik penonton.
b.      Alur drama mesti jelas, bila tidak maka akan sukar sekali diteliti penonton.
c.      Alur drama mestilah sederhana dan singkat, dalam arti dia tidak boleh berputar kemana-mana, tetapi berpusat pada suatu peristiwa tersebut. (Semi, 1988:161-162),
Struktur dramatis sebuah drama terdiri dari lima bagian yaitu :
a.      Pembeberan mula (introduksi, eksposisi).
b.      Penggawatan, komplikasi.
c.      Klimaks, puncak kegawatan.
d.      Peleraian, anti klimaks.
e.      Penyelesaian. S. Efendi(dalam perkuliahan Drs.H.M. Zahir,2000).
4.   Dialog
Di dalam drama dialog merupakan unsur yang sangat penting, berbeda dengan film karena beberapa menitpun film bisa di bantu dengan gambar. Tokoh-tokoh dalam drama harus berbicara dan pembicaraan tokoh inilah yang disebut dialog. Dialog sangat penting untuk mengetahui ujaran dari setiap individu, setiap individu yang berdialog atau ucapan minimal merupakan suatu yang ideal adalah menunjukkan karakteristik pembicara. Adapun fungsi yang lain yaitu :
a.      Merupakan wadah menyampaian informasi kepada penonton, menjelaskan fakta atau ide pokok.
b.      Menjelaskan watak dan perasaan pemain dengan adanya dialog, maka tergambar bagaimana watak atau sikap perasaan seorang pemain.
c.      Dialog memberi tuntutan alur kepada penonton.
d.      Dialog dapat menggambarkan tema dan gagasan pengarang, hal ini disebabkan hekekat drama itu sendiri adalah akting dan dialog itu sendiri.
e.      Dialog mengatur suasana dan tempo permainan. menurut (Sumarjo, dan Zaini KM, 1986:144).



 
2.2 PATRIOTISME
2.2.1       Makna Patriotisme dari Berbagai Sumber
Makna dipahaminya patriotisme yaitu :
a.                  Mewujudkan warga negara Indonesia yang memiliki tekat sikap dan tindakan yang teratur, menyeluruh terpadu, dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa, dan bernegara Indonesia.
b.                  Keyakinan akan kesaktian pancasila sebagai ideologi negara dan kerelaan berkorban guna meniadakan setiap ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, keutuhan wilayah, dan yurisdiksi nasional serta nilai-nilai pancasila.
Maksud, tujuan, dan fungsi konsep patriotisme adalah memberikan kesadaran dan semangat cinta tanah air dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan patriotisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu berupa motivasi spiritual yang mempribadi dalam diri manusia dan dapat diungkapkan dalam bentuk perbuatan dan tingkah laku yang rela berkorban dengan dilandasi oleh semangat persatuan. Maka konsep patriotisme sangatlah menentukan dalam mencapai tujuan pembangunan nasional, sbab seorang warga negara yang memiliki jiwa patriotisme yang tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan selalu mendahulukan kepentingan umum atau kepentingan negara di atas kepentingan pribadi ataua golongan, sehingga tujuan akhir dari pembanguna nasional yang dicita-citakan akan segera terwujud. (TIM MGMP, 1994 : 16).
Patriotisme diartikan sebagai sikap untuk selalu mencintai atau membela tanah air. Seorang patriot akan selalu rela mengorbankan harta benda bahkan jiwa sekalipun untuk kemajuan kejayaan, dan kemakmuran tanah airnya. Bila di dada kita tertanam jiwa rela berkorban, bangga sebagai bangsa Indonesia, dapat menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan , tidak kenal menyerah, berjiwa pembaharu, dan sanggup membela kebenaran dan keadilan, ini berarti di dalam diri kita telah tumbuh rasa patriotisme (TIM MGMP, 1994: 16).
Dalam UUD 1945 pasal 30 ayat 1 dinyatakan, bahwa “ Tiap-tiap” warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Hal ini mengandung arti bahwqa setiap warga negara sesuai dengan kemampuan dan bidangnya wajib ikut aktif dalam pembelaan negara. Keikutsertaan warga negara dalam membela dan memperjuangkan kepentingan negara bukan sekedar hak, tetapi sekaligus kewajiban yang harus dilaksanakan dalam sikap dan perbuatan sehari-hari. Pasal inipun memberi petunjuk kepada kita agar menjadi patriot, pejuang, dan berani menengakkan kebenaran dan keadilan. (Abu Bakar, 1994 : 71).
Dengan mendalami makna patriotisme, kita dapat mengambil nilai-nilai yang ada di dalamnya. Semangat bersedia dengan ikhlas hati memberikan segal sesuatu yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya demi kepentingan bangsa dan negara merupakan salah satu nilai patriotisme yang perlu kita pegang teguh.\, panggilan iti bisa untuk kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, pertahanan keamanan dan lain-lain. (Abu Bakar, 1994 : 72).

2.2.2       Tata Cara Penerapan Prinsip dan Berprilaku Patriotisme
2.2.2.1Tata cara penerapan prinsip dalam berbagai lingkungan dewasa ini.
Pelajar sebagai salah satu generasi penerus harus berikrar dan bertikad dengan sepenuh hati akan melanjutkan dan meneruskan perjuangannya, sehingga cita-cita kemerdekaan segera dapat terwujud.
Dalam rangka untuk menyegarkan semangat perjuangan dan pembentukan watak bangsa, serta menumbuhkan jiwa idealisme, patriotisme dikalangan generasi muda dapat ditempuh : 
a.                  Mengadakan peringatan hari-hari besar nasional
b.                  Melakukan pendidikan politik, khususnya dikalangan generasi muda, dalam rangka meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
c.  Meningkatkan disiplin nasional dan tanggung jawab sosial dalam rangka menumbuhkan sikap mental kesetiakawanan sosial, tenggang rasa, tepa selira, dan rasa tanggung jawab.
d. Memelihara semangat, tekad disiplin serta meningkatkan partisipasi aktif dalam pelaksanaan pembangunan nasional.
            Untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang pada pngembangan sikap patriotisme, diantaranya :
a.  Upacara-upacara hari-hari besar nasional.
b.  Apresiasi seni dan budaya.
c.  Kegiatan wisata remaja.
d.  Kegiatan pecinta alam.
f.     Kegiatan keagamaan
g.   Kegiatan bakti sosial.
h.  Kegiatan pramuka, palang merah remaja. (TIM MGMP, 1994 : 17).
2.2.2.2  Tata cara berperilaku patriotik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wujud sikap dan perilaku patriotisme berdasarkan pada butir-butir pancasila antara lain :
a.      Menetapkan persatuan dan kesatuan,kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
b.      Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
c.   Cinta tanah air dan bangsa.
d.   Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia.
f.        Memajukan pergaulan demi kepentingan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.(TIM MGMP,1994:17).

2.2.3 Kaitan Patriotisme dengan Nasionalisme
      Arti patriotisme adalah semangat cinta tanah air, yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Untuk bangsa Indonesia, sikap patriotismemerupakan sikap yang bersumberkan dari nilai-nilai pancasila yang menjadikan pandangan hidup bangsa dan negara, oleh karena itu sikap patriotsme merupakan salah satu potensi nasional yang perlu ditanamkan kepada generasi muda khususnya, dengan tujuan dan sasaran pembinaan dan pengembangan generasi muda untuk mewujudkan kader-kader patriot pembela bangasa dan negara yang berkesadaran dan berketahana nasional sebagai pengemban dan penerus nilai-nilai serta cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. (TIM MGMP, 1994 : 16).
      Patriotisme mengandung arti yang dekat dengan nasionalisme. Adapun pengertian nasionalisme adalah patriotik yang dititik beratkan pada semagngat untuk mencintai tanah air. Kita dapat membahasa dan menjelaskan nasionalisme suatu bangsa tertentu, umpamanya nasioalisme bangsa Jepang denagn ketelitian yang memuaskan, akan tetapi tidak demikian halnya denagn pengertian obyektif nasioalisme. Nasiolisme khusus serupa itu dapat berwujud suatu falsafah, dokma atau idweologi yang ditandai dengan ciri-ciri khusus yang mendominir nasiolisme bangsa itu. Sebagaimana dikatakan oleh Roucek, nasiolisme “ ... is simply a tearm which mean different things to different people in different languages and symbols, in different timesn in different part of the world, and which creates different combinations of concepts “. Bahwa penafsiran yang berbeda-beda itu tidak akan memberikan keseragaman dalam arti nasionalisme, malahan menimbulkan kegaduhan dan keanekaragaman makna, sudah pula jels kiranya L.L Snyder, salah seorang ahli tentang nasiolisme yang kenamaan, karena itu memelai bukunya tentang “ Arti Nasiolisme “ yang tersohor, berbicara tentang “ The mysteries of nasionalism “. (Isjwara, 1971 : 125).
      Telah banyak diusahakan perumusan-perumusan tentang nasilisme bukan saja oleh sarjana-sarjana ilmu politik, historici, sarjana-sarjana sosiologi, antropologi dan psikologi meninjau pengertian itu dari seginya masing-masing, peninjauan-peninjauan ahli-ahli ilmu sosial itu dapat digolongkan kedalam peninjauan secara obyektif dan peninjauan secara subyektif. Ditijau secara obyektif maka nasionalisme dihubungkan dengan suatu kenyataan obyektif sebagai cirinya yang khas. Sebagai faktor-faktor obyektif, yang paling lazim dikemukakan adalah bahasa, ras, agama, peradapan, wilyah, negara, dan kewarganegaraan. Tetapi sudah menjadi pendapat umum dalam kalangan sarjana-sarjana ilmu sosial, bahwa nasionalisme tidak ditentukan semata-mata oleh faktor-faktor obyektif itu. Bahasa, ras, agama, peradapan dan lain-lain, bukan ciri-ciri yang khas dari nasionalisme. Faktor-faktor obyektif tidak menetukan ada-tiadanya nasionalisme. Umpamanya kita ambil “ bahasa ”  sebagai faktor obyektif. Bangsa Swiss yang merupakan salah satu natie tertua di Eropa menggunakan empat bahasa resmi, yakni bahasa Jerman, Prancis, Italia, dan Rhacto-Romanik. Bangsa Kanada menggunakan dua bahasa resmi, Inggris dan Prancis. Agamapun tidak menentukan ada-tiadanya nasionalisme. Lihat saja umpamanya bangsa Kanada yang terpisah dalam dua suku bangsa yang masing-masing beragama protestan dan katolik dan bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang multi-religious itu. Hanya dapat dikatakan bahwa faktor-faktor obyektif itu mungkin merupakan faktor-faktor kausatif yang menentukan ada-tiadanya suatu nasionalisme yang khusus. Faktor-faktor obyektif tidaklah merupakan faktor-faktor konstan yang membentuk nasionalisme, tetapi l;ebih merupakan kondisi-kondisi yang memberikan corak yang khusus kepada nasionalisme suatu bangsa. Dan dapat dikatakan juga bahwa adanya faktor obyektif itu membantu mempercepat proses evolusi nasionalisme kearah pembentukan negara nasional. (Isjwara, 1971 : 126).
      Oleh karena itu dengan tidak mengurangi faktor-faktor obyektif itu, Prof. Hans kohn, salah seorang ahli tentang nasionalisme, berkata bahwa nasionalisme itu ‘... is first and foremost a state of mind, an act of concioness’. Demikian pula pendapat Prof. Hertz yang memandang sebagai pokok yang fundamentil dari nasionalieme ialah ‘National Conciousnees’. Dengan agak sederhana dapat dikatakan bahwa nasionalisme adalah formalisasi ataupun nasionalisasi dari kesadaran nasional itu. Yaitu negara nasional. pendapat-pendapat yang diuraikan kemudian ini meninjau nasionalisme itu secara subjektif. Karena itu nasionalisme adalah rasa kesadaran yang kuat yang berlandaskan atas kesadaran akan pengorbanan yang pernah diderita bersama dalam sejarah dan atas kemauan menderita hal-hal serupa itu dimasa depan. Dewasa ini tinjauan-tinjauan subjektif inilah yang umum dianggap sebagai peninjauan yang tepat sebagai nasionalisme. Dengan nasionalisme negara menjadi milik seluruh lapisan rakyat, bukan lagi milik raja, kaum bangsawan tapi milik rakyat sebagai keseluruhan. Karena itu, nasionalisme dapat dipandang sebagai landasan idieel dari setiap negara nasional. (Isjwara, 1971:127).
2.2.4. Cita-cita Nasionalisme
            Naisonalisme sebagai manifestasi kesadaran nasional mengandung cita-cita yang merupakan ilham yang mendorong dan merangsang suatu bangsa, ada empat macam cita-cita nasionalisme yaitu :
a.      Perjuangan untuk mewujudkan persatuan nasional yang meliputi persatuan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, keagamaan, kebudayaan dan persekutuan serta adanya solidaritas.
b.         Perjuangan untuk mewujudkan kebebasan nasional yang meliputi kebebasan dari penguasaan asing atau campur tangan dunia luar dan kebebasan dari kekuatan-kekuatan yang tidak bersifat nasional atau yang hendak mengenyampingkan bangsa dan negara.
c.      Perjuangan untuk mewujudkan kesendirian (Separatensis, Pembedaan (distincvenses), individualitas, keaslian (originality) atau keistimewaan).
d.      Perjuangan untuk mewujudkan pembedaan diantara bangsa-bangsa, yang meliputi perjuangan untuk memperoleh kehormatan, kewibawaan, gengsi dan pengaruh.(Sabine, 1981:264).
Nasionalisme sebagai suatu kesadaran nasional juga terwujud dalam sejarah masing-masing bangsa itu. Pada umumnya nasionalisme merupakan gerakan yang bertujuan untuk eksistensi poltik yang tersendiri dengan otonomi menentukan nasib diri sendiri yang seluas-luasnya. Nasionalisme tidak pernah puas dengan pemerintahan endiri yang sebagian, tetapi selalu menghendaki pemerintahan sendiri yang lengkap. Nasionalisme juga merupakan sumber dari apa yang dinamakan asas penentuan nasib diri sendiri dari bangsa-bangsa. Cita-cita negara nasional dimasa depan senantiasa menjadi tujuan dari nasionalisme, aspirasi pertama nasionalisme adalah perjuangan untuk mewujudkan persatuan nasional dalam bidang politik negara nasional. negara nasional adalah syntise daripada nasionalisme.
2.2.5 Nilai-nilai Patriotisme
         nilai-nilai patriotisme yang melekat pada patriotisme yang telah teruji dan terbukti kehandalannya sejak bangsa Indonesia berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Dengan semangat patriotisme, kita yang semula lemah menjadi kuat, yang semula terbelenggu menjadi bebas.(Abu Bakar, 1994:72).
         Pelaksanaan sikap patriotisme tidak hanya milik angkatan 45 dan angkatan 66 saja, tetapi juga harus diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga akan tercipta suatu rantai perjuangan yang tidk ada putusnya, dan akan tetap lestari sepanjang masa. Karena tujuan perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya untuk memperoleh kemerdekaan semata, tetapi harus juga mengisi kemerdekaan tersebut dengan pembangunan disegala bidang, dimana sikap para pelaku pembangunan sudah dilandasi semgat patriotisme yang tinggi sehingga akan mempermudah tercapainya tujuan nasional yaitu mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur.
         Nilai-nilai moral yang terkandung dalam angkatan 1945 adalah :
a.      “Pro Patria” dan “Primus Patrialis”, yaitu selalu berjiwa patriot untuk tanah air dan mendahulukan kepentingan tanah air.
b.      Jiwa solidaritas atau kesetiakawanan semua lapisan masyarakat terhadap perjuangan kemerdekaan.
c.Jiwa toleransi atau tenggang rasa antar agama, suku, golongan, dan bangsa.
d.      Jiwa tanpa pamrih dan tanggung jawab.
e.      Jiwa kesatria, kebesaran jiwa yang tidak mengandung balas dendam, seperti sikap terhadap kaum koperator dan bekas gerombol;an bersenjata.
f.  Semangat menentang dominasi asing dalam segala bentuknya terutama penjajahan dari suatu bangsa terhadap bangsa lain.
g.      Semangat pengorbanan seperti pengorbanan harta benda dan jiwa raga.
h.Semangat derita dan tahan uji.
i.  Semangat kepahlawanan.
j.   Semangat persatuan dan kesatuan.
k.Percaya kepada diri sendiri.(TIM MGMP,1994:17). 
Nilai-nilai patriotismeyaitu pada nilai-nilai budi pekerti yang terdiri dari patriotik, tangguh, tegar, dan ulet yang berkaitan dengan pembatasan masalah dalam penelitian ini.
a.                  Patiotik
Bermakna selalu siap bersedia membela kepentingan negara, rela berkorban untuk kepentingan orang banyak dan menghindari sikap pengecut.
b.                  Tangguh
Berarti selalu bersikap dan bertindak lurus, serta menghindari sikap dan tindakan plin plan dan mencla mencle.
c.                  Tegar
Selalu berusaha mewujudkan cita-cita seoptimal mungkin, menghindari sikap dan tindakan putus asa (Abu Bakar, 1994:72).

2.3 SELAYANG PANDANG TENTANG NASKAH DRAMA “GEMPA” KARYA B. SOELARTO
Pada zaman dulu belum ada naskah drama, drama yang dimainkan tidak perlu memakai atau menghafal naskah. Naskah drama adalah bentuk tertulis dari cerita drama.
            Dalam naskah drama ”Gempa” karya B. Soelarto bersetting revolusi yang bersifat emansipasi, yakni pembelaan terhadap wanita yang menjabat komandan sektor di masa revolusi. Jabatan ini mula-mula direndahkan oleh rekan-rekan lelakinya, bahkan juga atasannya langsung. Namun ketika wanita ini mampu menumpas dan sekaligus menolong penghinanya dari jepitan kaum penderita, maka kekukuhan jabatannya dipulihkan. Drama ini seolah mau bicara bahwa dalam revolusi andil wanita cukup besar, bahkan juga dalam medan pertempuran sebagai pemimpin.
            Drama ini pertama kali disiarkan TVRI Jakarta untuk menyambut Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada bulan Oktober 1966, dilakonkan secara apik dan mendapat sambutan dari para pemirsa yang menontonnya.  


Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog