Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

05 Mei 2011

UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN PADA SISWA KELAS VI MELALUI MODEL JARING LABA-LABA (BAB I)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Bagi kebanyakan siswa Indonesia, baik yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai B1 maupun yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai B2, belajar menulis merupakan sesuatu yang sulit selama ini. Sedangkan dalam dunia pendidikan, kita sering melihat bahwa tidak semua siswa pandai untuk menulis, baik itu karangan fiksi maupun nonfiksi. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan. Ini dimungkinkan karena mereka menganggap bahwa kemampuan menulis tidak begitu “berharga” dalam kehidupan nyata. Atau arti kasarnya, mereka tidak bisa dapat uang dari menulis. Sehingga dengan seperti itu tuntutan untuk memperdalam kemampuan itu hanya sebatas memenuhi nilai akademis saja (I Made Sutama, 1998: 1).
Pada dasarnya, apabila kita melihat lebih jauh, kemahiran dalam menulis sangat diperlukan dalam kehidupan nyata. Misalnya untuk menulis surat, menulis iklan, mengekspresikan diri dalam bentuk puisi, lirik lagu, atau menulis surat lamaran kerja. Selain masih banyak aktivitas dalam kehidupan nyata yang mengharuskan kita untuk menguasai kemampuan menulis.
Adapun kesulitan-kesulitan yang menjadi kendala bagi seorang siswa dalam menulis sebuah karangan, antara lain: pertama, penjelasan teoritis guru. Sementara ini, guru pada umumnya mengawali pembelajaran menulis dengan penjelasan teoritis tentang tulisan yang baik. Penjelasan itu biasanya penuh dengan istilah-istilah teknis, baik yang berkaitan dengan jenis-jenis wacana, seperti naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif, maupun yang berkaitan dengan organisasi wacana, seperti ide pokok, ide penunjang, kesatuan, kepaduan. Cara ini ternyata tidak mampu memberikan pemahaman yang memadai kepada siswa tentang tulisan yang baik. Disamping itu, cara ini juga menciptakan ketakutan tersendiri pada diri siswa ketika mereka menulis. Mereka takut kalau tulisan yang mereka hasilkan tidak sesuai dengan yang diidealkan dalam penjelasan guru. Akibatnya, mereka menjadi sangat hati-hati dalam menulis, sehingga produktivitas berbahasanya menjadi rendah.
Kedua, cara guru memberikan topik tulisan. Guru biasanya menempuh salah satu dari cara-cara berikut ini dalam memberikan topik tulisan kepada siswa, yaitu: (a) menetapkan satu topik untuk ditulis oleh semua siswa, (b) menetapkan beberapa topik untuk dipilih salah satu untuk dikembangkan oleh siswa, dan (c) membebaskan siswa memilih topik apa saja untuk dikembangkan. Cara (a), terutama, dan cara (b) memiliki resiko sebagian kecil atau sebagian besar, bahkan semua siswa tidak mempuanyai pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan topik yang disediakan. Cara (c) terkesan memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan topik yang paling mereka kuasai. Akan tetapi, karena dalam penerapannya tidak disertai waktu dan strategi khusus untuk menggali pengetahuan yang berkaitan dengan topik itu dari dalam pikiran siswa, dengan cara (c) itu pun ada resikonya, yakni siswa tidak dapat secara optimal menuangkan sesuatu yang sesungguhnya telah ada dalam benaknya (I Made Sutama, 1998: 1).
Agar mereka tidak frustasi dalam belajar menulis, perlu dipikirkan cara yang dapat memudahkan mereka menghasilkan tulisan. Untuk dapat menghasilkan sebuah tulisan, tiga hal utama diperlukan, yaitu: penguasaan topik yang akan ditulis, penguasaan struktur tulisan, dan penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, cerpen, makalah, dan sebagainya. Oleh karena itu, ketiganya perlu ditumbuhkan dalam pikiran siswa sebelum mereka mulai menulis (pramenulis). Penumbuhannya dapat dilakukan melalui pemetaan konsep/topik (model jaring laba-laba/webbed).
Seorang siswa/siswi tidak akan mungkin terampil menulis sebuah karangan hanya menguasai satu atau dua komponen saja di antara ketiga komponen tersebut. Betapa banyak siswa yang pandai berbahasa Indonesia secara tertulis tidak dapat menghasilkan tulisan/karangan karena tidak tahu apa yang akan ditulis dan bagaimana menuliskannya. Betapa banyak pula siswa yang mengetahui banyak hal untuk ditulis dan tahu pula menggunakan bahasa tulis tetapi tidak dapat menulis karena tidak tahu caranya.
Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seorang terampil dalam bidang tulis-menulis sebuah karangan
Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk memulai menulis. Artinya, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi yang bagaimana pun seorang siswa yang belajar bahasa Indonesia pun dapat melakukannya. Ketakutan akan kegagalan bukanlah penyebab yang harus dipertahankan. Itulah salah satu kiat, teknik, dan strategi yang ditawarkan oleh David Nunan (1991: 86—90) dalam bukunya Language Teaching Methodology. Dia menawarkan suatu konsep pengembangan keterampilan menulis yang meliputi: (1) perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan, (2) menulis sebagai suatu proses dan menulis sebagai suatu produk, (3) struktur generik wacana tulis, (4) perbedaan antara penulis terampil dan penulis yang tidak terampil, dan (5) penerapan keterampilan menulis dalam proses pembelajaran.
Pertama, perbedaan antara  bahasa lisan dan bahasa tulisan tampak pada fungsi dan karakteristik yang dimiliki oleh keduanya. Namun demikian, yang patut diperhatikan adalah keduanya harus memiliki fungsi komunikasi. Dari sudut pandang inilah dapat diketahui sejauh mana hubungan antara bahasa lisan dan bahasa tulis, sehingga dapat diaplikasikan dalam kegiatan komunikasi.
Dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa tadi, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh dan lebih mendalam. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa Indonesia, orang Indonesia kadang-kadang tidak terampil menggunakan bahasanya sendiri terutama dalam bidang tulis-menulis. Hal ini merupakan suatu kelemahan yang tidak kita sadari.
Kedua, pandangan bahwa keterampilan menulis sebagai suatu proses dan menulis sebagai suatu produk. Pendekatan yang berorientasi pada proses lebih memfokuskan pada aktivitas belajar (proses menulis); sedangkan pendekatan yang berorientasi pada produk lebih memfokuskan pada hasil belajar menulis yaitu wujud tulisan.
Ketiga, struktur generik wacana dari masing-masing jenis karangan (tulisan) tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Hanya saja pada  jenis karangan narasi menunjukkan struktur yang lengkap, meliputi orientasi, komplikasi, dan resolusi. Hal ini menjadi ciri khas jenis karangan/tulisan ini.
Keempat, untuk menambah wawasan tentang keterampilan menulis, setiap penulis perlu mengetahui penulis yang terampil dan penulis yang tidak terampil. Tujuannya adalah agar dapat mengikuti jalan pikiran (penalaran) dari keduanya. Kita dapat mengetahui kesulitan yang dialami penulis yang tidak terampil (baca: pemula, awal). Salah satu kesulitan yang dihadapinya adalah ia kurang mampu mengantisipasi masalah yang ada pada pembaca. Adapun penulis terampil, ia mampu mengatakan masalah tersebut atau masalah lainnya, yaitu masalah yang berkenaan dengan proses menulis itu sendiri.
Kelima, sekurang-kurangnya ada tiga proses menulis yang ditawarkan oleh David Nunan, yakni: (1) tahap prapenulisan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap perbaikan. Untuk menerapkan ketiga tahap menulis tersebut diperlukan keterampilan memadukan antara proses dan produk menulis.
Menulis pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para siswa yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat (McCrimmon, 1967: 122).
Sehubungan dengan hal itu, penelitian ini berupaya untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI .dengan menggunakan model jaring laba-laba (webbed). Adapun alasan yang melatarbelakangi penentuannya. Pertama, seperti yang telah diungkapkan di depan bahwa kegiatan menulis sangat diperlukan di dalam kehidupan nyata. Kedua, kemampuan menulis di dalam KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) bahasa dan sastra Indonesia mendapat “kapling” yang cukup banyak dibandingkan dengan kompeternsi yang lain. Ketiga, dalam kegiatan pembelajaran menulis kebanyakan guru hanya memberikan pemahaman secara teknis dan teoritis. Keempat, kurangnya kepaduan isi dalam menulis karangan.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian serius dari pembelajaran keterampilan menulis karangan ini adalah pengukuran kemampuan menulis yang pada saat ini di sekolah dasar mulai dikembangkan. Hal ini terbukti dengan dilaksanakannya tes menulis berbagai macam karangan dalam bahasa dan sastra Indonesia sebagai salah satu output dari kegiatan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Lebih lanjut menurut guru  .pengukuran kemampuan menulis, terlebih menulis karangan yang terpadu jarang dilakukan.
Berdasarkan hal itu, perlulah dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu kepada pembelajaran keterampilan menulis karangan, di samping itu tentu saja kemampuan menulis karangan secara terpadu pada siswa. Dalam penelitian ini implikasinya dilakukan di kelas VI .dengan menggunakan model jaring laba-laba (webbed).
Pokok bahasan masalah  yang dijadikan sebagai bahan penelitian ini adalah aktivitas menulis yang diawali dengan tahap pramenulis yakni proses tanya jawab. Pemetaan konsep/topik dengan menggunakan model jaring laba-laba dari hasil tanya jawab/interaksi antara guru dengan siswa, keseriusan siswa dalam menulis karangan dan hasil akhir (output) yang ditulis oleh siswa.
Prosedur kerja dari masalah keterampilan menulis ini tidak terlepas dari alur kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan pada setiap siklus sebagai reaksi dari refleksi dan tindakan. Untuk itu, upaya yang harus dilakukan dalam peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa adalah dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

1.2  Rumusan Masalah
Karena maksud utama penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan menulis karangan pada siswa kelas VI .yang realisasinya melalui siswa, masalah umum penelitian ini mengenai peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI .melalui model jaring laba-laba (webbed).
Berkaitan dengan hal itu, masalah khusus penelitian ini sebagai berikut.
1)      Bagaimanakah aktivitas (sikap dan perilaku) siswa dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI .melalui model jaring laba-laba?
2)      Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI .dalam pembelajaran menulis karangan melalui model jaring laba-laba?

1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI .melalui model jaring laba-laba. Adapun tujuan khusus penelitian ini sebagai berikut.

1)      Mendeskripsikan aktivitas (perubahan sikap dan perilaku) siswa kelas VI .dalam proses pembelajaran keterampilan menulis karangan dengan model jaring laba-laba.
2)      Mendeskripsikan upaya peningkatan keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI .dengan model jaring laba-laba.

1.4  Kontribusi Penelitian
Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) yang merupakan refleksi diri dan tindakan dalam pembelajaran diharapkan akan memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi berbagai pihak, baik yang berkaitan langsung dengan institusi pendidikan maupun dengan institusi lain secara tidak langsung. Manfaat yang diharapkan tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
1)      Bagi siswa. Hasil penelitian akan menarik minat belajar bahasa “belajar menulis karangan” yang lebih efektif dan terpadu sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam bidang tulis-menulis dan yang akan menjadi bekal kelak jika ingin menjadi penulis yang terampil dan profesional.
2)      Bagi guru. Dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) guru dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja sistem pembelajaran menulis karangan di kelas dengan menggunakan model jaring laba-laba yang merupakan salah satu bentuk pembelajaran terpadu. Akhirnya, permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru pada umumnya dapat diminimalisasi serta guru terdorong untuk selalu inovatif dan kreatif dengan metode/model tertentu yang relevan dengan kurikulum atau metode pembaharuan yang dikembangkan di kelas, sehingga pembelajaran berlangsung lebih variatif dan fleksibel sesuai dengan perkembangan karakteristik anak didik.
3)      Bagi sekolah. Hasil penelitian dapat memberikan masukan yang sangat berharga dalam rangka semakin meningkatkan kinerja sekolah dengan segala kebijakan pelaksanaan pembelajaran yang relevan dengan pembaharuan kurikulum. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan penentu kebijakan dalam menentukan sekolah yang efektif dan efisien menuju pelaksanaan manajemen pendidikan berbasis sekolah.
4)      Bagi pemerintah. Penelitian ini dapat dijadikan kajian yang mampu memberikan sumbangan pemikiran terhadap usaha penyempurnaan kurikulum sekolah. Akhirnya, kurikulum sekolah benar-benar berfungsi sebagai laboratorium yang sanggup menciptakan siswa-siswa yang kreatif dan inovatif.

1.5  Definisi Operasional
Penelitian ini menetapkan judul “Upaya Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Pada Siswa Kelas VI .Melalui Model Jaring Laba-laba (Webbed).” Dalam hal ini, terdapat istilah kunci dalam judul penelitian tersebut yang perlu didefinisikan secara operasional. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya penafsiran yang berlainan sebagaimana yang diharapkan dalam penelitian ini. Adapun istilah kunci yang dimaksudkan sebagaimana terungkap dalam pembahasan berikut ini.
1.      Peningkatan
Istilah ini mengacu kepada upaya melakukan perubahan sikap, sifat, dan tingkah laku dalam pembelajaran, terutama pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990:951) disebutkan istilah peningkatan adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan).

2.      Keterampilan Menulis
Istilah keterampilan mengacu kepada kecakapan untuk menyelesaikan tugas (Depdikbud, 1987:935). Dalam hal ini keterampilan menulis menurut Rusyana (1988:191) menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan. Menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca (Tarigan, 1986:21).
Dalam hal ini The Liang Gie (2002: 3) mengemukakan bahwa:
1)      Mengarang adalah segenap perwujudan kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami.
2)      Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca.
3)      Pengarang adalah seseorang yang karena kegemarannya atau berdasarkan bidang kerjanya melakukan kegiatan mengarang.
4)      Karang-mengarang adalah kegiatan atau pekerjaan mengarang.

3.      Model Jaring Laba-laba (Webbed)
Model jaring laba-laba (webbed) merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu, kemudian mengembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. Dan sub-sub tema tersebut dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa (Tim BP3GSD, 1996: 14).
SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog