Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

05 Mei 2011

UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN PADA SISWA KELAS VI MELALUI MODEL JARING LABA-LABA (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Hakikat Menulis
Menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan (Rusyana, 1988:191). Menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca (Tarigan, 1986:21).
Dari kedua pendapat tersebut sama-sama mengacu kepada menulis sebagai proses melambangkan bunyi-bunyi ujaran berdasarkan aturan tertentu. Artinya segala ide, pikiran, dan gagasan yang ada pada penulis disampaikan dengan cara menggunakan lambang-lambang bahasa yang terpola. Melalui lambang tersebutlah pembaca dapat memahami apa yang dikomunikasikan oleh penulis.
Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir. Keduanya saling melengkapi. Sehubungan dengan itu, Costa (1985:103) mengemukakan bahwa menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersamaan dan berulang-ulang. Tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Dan, melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis.
Mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. Di samping  dituntut kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya. Misalnya penguasaan materi tulisan, pengetahuan bahasa tulis, motivasi yang kuat, dan lain-lain. Sehubungan dengan hal itu, paling tidak menurut Harris (1977:68) seorang penulis harus menguasai lima komponen tulisan, yaitu: isi (materi) tulisan, organisasi tulisan, kebahasaan (kaidah bahasa tulis), gaya penulisan, dan  mekanisme tulisan. Kegagalan dalam salah satu komponen dapat mengakibatkan gangguan dalam menuangkan ide secara tertulis.
Mengacu kepada pemikiran di atas, jelaslah bahwa menulis bukan hanya sekedar menuliskan apa yang diucapkan (membahasatuliskan bahasa lisan), tetapi merupakan suatu kegiatan yang terorganisir sedemikian rupa sehingga terjadi suatu tindak komunikasi (antara penulis dengan pembaca). Bila apa yang dimaksudkan oleh penulis sama dengan yang dimaksudkan oleh pembaca, maka seseorang dapat dikatakan telah terampil menulis.
Berkaitan dengan tahap-tahap proses menulis, Tompkins (1990: 73) menyajikan lima tahap, yaitu: (1) pramenulis, (2) pembuatan draft, (3) merevisi, (4) menyunting, dan (5) berbagi (sharing). Tompkins juga menekankan bahwa tahap-tahap menulis ini tidak merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinier, artinya merupakan putaran berulang. Misalnya, setelah selesai menyunting tulisannya, penulis mungkin ingin meninjau kembali kesesuaiannya dengan kerangka tulisan atau draft awalnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap itu dapat dirinci lagi. Dengan demikian, tergambar secara menyeluruh proses menulis, mulai awal sampai akhir menulis seperti berikut.


1.Tahap Pramenulis
            Pada tahap pramenulis, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut:
  1. Menulis topik berdasarkan pengalaman sendiri
  2. Melakukan kegiatan-kegiatan latihan sebelum menulis
  3. Mengidentifikasi pembaca tulisan yang akan mereka tulis
  4. Mengidentifikasi tujuan kegiatan menulis
  5. Memilih bentuk tulisan yang tepat berdasarkan pembaca dan tujuan yang telah mereka tentukan

2. Tahap Membuat Draft
Kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada tahap ini adalah sebagai berikut:
  1. Membuat draft kasar
  2. Lebih menekankan isi daripada tata tulis

3. Tahap Merevisi
            Yang perlu dilakukan oleh siswa pada tahap merevisi tulisan adalah sebagai berikut:
  1. Berbagi tulisan dengan teman-teman (kelompok)
  2. Berpartisipasi secara konstruktif dalam diskusi tentang tulisan teman-teman sekelompok atau sekelas
  3. Mengubah tulisan mereka dengan memperhatikan reaksi dan komentar baik dari pengajar maupun teman
  4. Membuat perubahan yang substantif pada draft pertama dan draft berikutnya, sehingga menghasilkan draft akhir

4. Tahap Menyunting
            Pada tahap menyunting, hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Membetulkan kesalahan bahasa tulisan mereka sendiri
  2. Guru/penyunting membantu membetulkan kesalahan bahasa dan tata tulis tulisan mereka sekelas/sekelompok
  3. Mengoreksi kembali kesalahan-kesalahan tata bahasa mereka sendiri

Dalam kegiatan penyuntingan ini, sekurang-kurangnya ada dua tahap yang harus dilakukan. Pertama, penyuntingan tulisan untuk kejelasan penyajian. Kedua, penyuntingan bahasa dalam tulisan agar sesuai dengan sasarannya (Rifai, 1997: 105—106). Penyuntingan tahap pertama akan berkaitan dengan masalah komunikasi. Tulisan diolah agar isinya dapat dengan jelas diterima oleh pembaca. Pada tahap ini, sering kali penyunting (guru) harus mereorganisasi tulisan karena penyajiannya dianggap kurang efektif. Ada kalanya, penyunting terpaksa membuang beberapa paragraf atau sebaliknya, harus menambahkan beberapa kalimat, bahkan beberapa paragraf untuk memperlancar hubungan gagasan.
Dalam melakukan penyuntingan pada tahap ini, penyunting sebaiknya berkomunikasi dengan penulis. Pada tahap ini, penyunting harus luwes dan pandai-pandai menjelaskan perubahan yang disarankannya kepada penulis karena hal ini sangat peka. Hal-hal yang berkaitan dengan penyuntingan tahap ini adalah kerangka tulisan, pengembangan tulisan, penyusunan paragraf, dan kalimat.
Kerangka tulisan merupakan ringkasan sebuah tulisan. Melalui kerangka tulisan, penyunting (guru) dapat melihat gagasan, tujuan, wujud, dan sudut pandang penulis. Dalam bentuknya yang ringkas itulah, tulisan dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyeluruh, dan tidak secara lepas-lepas (Keraf, 1989: 134). Penyunting dapat memperoleh keutuhan sebuah tulisan dengan cara mengkaji daftar isi tulisan dan bagian pendahuluan. Jika ada, misalnya dalam tulisan ilmiah atau ilmiah populer, sebaiknya bagian simpulan pun dibaca. Dengan demikian, penyunting akan memperoleh gambaran awal mengenai sebuah tulisan dan tujuannya. Gambaran itu kemudian diperkuat dengan membaca secara keseluruhan isi tulisan. Jika tulisan merupakan karya fiksi, misalnya, penyunting langsung membaca keseluruhan karya tersebut. Pada saat itulah, biasanya penyunting sudah dapat menandai bagian-bagian yang perlu disesuaikan.
            Berdasarkan kerangka tulisan tersebut dapat diketahui tujuan penulis. Selanjutnya, berdasarkan pengetahuan atas tujuan penulis, dapat diketahui bentuk tulisan dari sebuah naskah (tulisan). Pada umumnya, tulisan dapat dikelompokkan atas empat macam bentuk, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi.
            Bentuk tulisan narasi dipilih jika penulis ingin bercerita kepada pembaca. Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Akan tetapi, narasi dapat juga ditulis berdasarkan pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa.
            Bentuk tulisan deskripsi dipilih jika penulis ingin menggambarkan bentuk, sifat, rasa, corak dari hal yang diamatinya. Deskripsi juga dilakukan untuk melukiskan perasaan, seperti bahagia, takut, sepi, sedih, dan sebagainya. Penggambaran itu mengandalkan pancaindera dalam proses penguraiannya. Deskripsi yang baik harus didasarkan pada pengamatan yang cermat dan penyusunan yang tepat. Tujuan deskripsi adalah membentuk, melalui ungkapan bahasa, imajinasi pembaca agar dapat membayangkan suasana, orang, peristiwa, dan agar mereka dapat memahami suatu sensasi atau emosi. Pada umumnya, deskripsi jarang berdiri sendiri. Bentuk tulisan tersebut selalu menjadi bagian dalam bentuk tulisan lainnya.
            Bentuk tulisan eksposisi dipilih jika penulis ingin memberikan informasi, penjelasan, keterangan atau pemahaman. Berita merupakan bentuk tulisan eksposisi karena memberikan informasi. Tulisan dalam majalah juga merupakan eksposisi. Buku teks merupakan bentuk eksposisi. Pada dasarnya, eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau tabel, mengulas sesuatu.Tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Laras yang termasuk dalam bentuk tulisan eksposisi adalah buku resep, buku-buku pelajaran, buku teks, dan majalah.
            Tulisan berbentuk argumentasi bertujuan meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian pribadi, atau membujuk pembaca agar pendapat pribadi penulis dapat diterima. Bentuk tulisan tersebut erat kaitannya dengan eksposisi dan ditunjang oleh deskripsi. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-fakta yang tepat sebagai alasan untuk menunjang kalimat topik. Kalimat topik, biasanya merupakan sebuah pernyataan untuk meyakinkan atau membujuk pembaca. Dalam sebuah majalah atau surat kabar, misalnya, argumentasi ditemui dalam kolom opini/wacana/gagasan/pendapat.
            Kendatipun keempat bentuk tulisan tersebut memiliki ciri masing-masing, mereka tidak secara ketat terpisah satu sama lain. Dalam sebuah kolom, misalnya, dapat ditemukan berbagai bentuk tulisan tersebut tersebar di dalam paragraf yang membangun kerangka tersebut. Oleh karena itu, penyunting berfungsi untuk mempertajam dan memperkuat pembagian paragraf. Pembagian paragraf terdiri atas paragraf pembuka, paragraf penghubung atau isi, dan paragraf penutup sering kali tidak diketahui oleh penulis. Masih sering ditemukan tulisan yang sulit dipahami karena pemisahan bagian-bagian atau pokok-pokoknya tidak jelas.
            Pemeriksaan atas kalimat merupakan penyuntingan tahap pertama juga. Pada tahap ini pun, sebaiknya penyunting berkomunikasi dengan penulis. Penyunting harus memiliki pengetahuan bahasa yang memadai. Dengan demikian, penyunting dapat menjelaskan dengan baik kesalahan kalimat yang dilakukan oleh penulis. Untuk itu, penyunting harus menguasai persyaratan yang tercakup dalam kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif adalah kalimat yang secara jitu atau tepat mewakili gagasan atau perasaan penulis. Untuk dapat membuat kalimat yang efektif, ada tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu kesatuan gagasan, kepaduan, penalaran, kehematan atau ekonomisasi bahasa, penekanan, kesejajaran, dan variasi.
            Penyuntingan tahap kedua berkaitan dengan masalah yang lebih terperinci, lebih khusus. Dalam hal ini, penyunting berhubungan dengan masalah kaidah bahasa, yang mencakup perbaikan dalam kalimat, pilihan kata (diksi), tanda baca, dan ejaan. Pada saat penyunting memperbaiki kalimat dan pilihan kata dalam tulisan, ia dapat berkomunikasi dengan penulis atau langsung memperbaikinya. Hal ini bergantung pada keluasan permasalahan yang harus diperbaiki. Sebaliknya, masalah perbaikan dalam tanda baca dan ejaan dapat langsung dikerjakan oleh penyunting tanpa memberitahukan penulis. Perbaikan dalam tahap ini bersifat kecil, namun sangat mendasar.

5. Tahap Berbagi
            Tahap terakhir dalam proses menulis adalah berbagi (sharing) atau publikasi. Pada tahap berbagi ini, siswa:
  1. Mempublikasikan (memajang) tulisan mereka dalam suatu bentuk tulisan yang sesuai, atau
  2. Berbagi tulisan yang dihasilkan dengan pembaca yang telah mereka tentukan.

2.2. Konsep Pembelajaran Terpadu Model Jaring Laba-laba (Webbed)
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada anak didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami (Tim BP3GSD, 1996: 5).
Kecenderungan pembelajaran terpadu diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice). Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak driil sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Para Gestalist adalah tokoh-tokoh yang dirujuk berkenaan dengan pembelajaran yang harus bermakna, di samping juga teori Piaget dan para Kognitivis lain yang menekankan pentingnya program pembelajaran yang berorientasi DAP (Tim BP3GSD, 1996: 5).
Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, pembelajaran terpadu tampaknya lebih menekankan keterlibatan anak dalam belajar; membuat anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. Pendekatan ini lebih mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan oleh John Dewey dengan konsep Learning by Doing-nya (Tim BP3GSD, 1996: 5).
Pendekatan pembelajaran terpadu dapat dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tingkat dasar, terutama dalam rangka mengimbangi gejala penjejalan kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah (Tim BP3GSD, 1996: 6).
Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai berikut.
1.      Pembelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian (center of interest) yang digunakan untuk memahami gejala-gejala konsep lain, baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya.
2.      Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling dan dalam entang kemampuan dan perkembangan anak.
3.      Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
4.      Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

2.2.1 Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Sebagai proses, pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Berpusat pada anak (child centered)
2.      Memberikan pengalaman langsung pada anak
3.      Pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas
4.      Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran
5.      Bersifat luwes
6.      Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak (Tim BP3GSD, 1996: 7).
2.2.2 Kelebihan-kelebihan Pembelajaran Terpadu
Pendekatan pembelajaran terpadu memiliki kelebihan-kelebihan dari pendekatan konvensional, di antaranya:
1.      Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
2.      Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat dan kebutuhan anak.
3.      Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehinga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
4.      Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan anak.
5.      Menumbuhkembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain (Tim BP3GSD, 1996: 7).
Pelaksanaan pembelajaran terpadu juga memiliki keterbatasan, terutama terletak dalam aspek evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi tidak hanya terhadap hasil tapi juga terhadap proses. Tidak hanya evaluasi efek instruksional, tetapi juga dan mungkin lebih banyak efek iringan. Pembelajaran terpadu memang menghendaki teknik evaluasi yang lebih beragam dibanding dengan pembelajaran biasa.
Dalam implementasi pembelajaran terpadu terdapat bermacam-macam bentuk model pembelajaran terpadu, diantaranya: (1) model keterhubungan (connected); (2) model jaring laba-laba (webbed); dan (3) model keterpaduan (integrated) (Tim BP3GSD, 1996: 8).
Model Keterhubungan. Model keterhubungan adalah model pembelajaran terpadu yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas-tugas yang dilakukan dalam sehari-hari dengan tugas-tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang akan dipelajari pada semester berikutnya, di dalam satu bidang studi.
Model Jaring Laba-laba. Model ini merupakan model pembelajan terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu misalnya “transportasi”. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru dan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. Dari sub-sub tema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa.

Model Keterpaduan. Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi.


2.3 Proses Pembelajaran Terpadu
Pada dasarnya, ada tiga tahap yang dilalui dalam setiap pembelajaran terpadu, yaitu: (1) tahap persiapan; (2) tahap pelaksanaan; dan (3) tahap kulminasi (Tim BP3GSD, 1996: 15—19).
Untuk pembelajaran terpadu model keterhubungan, maka proses pembelajaran terpadunya dapat dilukiskan dalam matriks berikut:
Perencanaan
Pelaksanaan
Kulminasi
è    Peta konsep satu bidang studi
è    Konsep-konsep berhubungan
è    Rancangan aktivitas belajar
F     Pelaksanaan Tugas
F     Analisis hasil pelaksanaan tugas
F     Penyusunan laporan
Ä      Penyajian laporan
Ä      Evaluasi
        
Untuk pembelajaran terpadu model jaring laba-laba, maka proses pembelajaran terpadunya dapat dilukiskan dalam matriks berikut:
Perencanaan
Pelaksanaan
Kulminasi
è    Penjajagan Tema
è    Penetapan Tema
è    Pengembangan subtema
è    Penetapan kegiatan/kontrak belajar
F     Pengumpulan informasi
F     Pengolahan informasi
F     Penyusunan laporan
Ä      Penyajian informasi
Ä      Evaluasi

Untuk pembelajaran terpadu model keterpaduan, maka proses pembelajaran terpadunya dapat dilukiskan dalam matriks berikut:


Perencanaan
Pelaksanaan
Kulminasi
è    Peta konsep berbagai bidang studi
è    Konsep-konsep berhubungan
è    Rancangan aktivitas belajar
F     Pelaksanaan Tugas

F     Analisis hasil pelaksanaan tugas
F     Penyusunan laporan
Ä      Penyajian laporan

Ä      Evaluasi

Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu Model Jaring Laba-laba (Webbed).
Model jaring laba-laba (webbed) mempunyai beberapa kekuatan yang dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Adanya faktor motivasional yang dihasilkan dari menyeleksi tema yang sangat diminati.
2.      Model jaring laba-laba relatif mudah dilakukan bagi guru-guru yang belum berpengalaman.
3.      Model ini mempermudah perencanaan kerja tim sebagai tim antar bidang studi yang bekerja untuk mengembangkan suatu tema ke dalam semua bidang isi pelajaran.
4.      Pendekatan tematik memberikan suatu payung yang jelas, yang dapat memotivasi tampak dari siswa.
5.      Memudahkan siswa untuk melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.
Adapun kelemahan dari pembelajaran terpadu model jaring laba-laba (webbed) adalah:
1.      Langkah yang sulit dalam menerapkan model jaring laba-laba (webbed) adalah menyeleksi tema.
2.      Ada suatu kecenderungan untuk merumuskan tema yang dangkal, sehingga hal ini hanya berguna secara artifisial di dalam perencanaan kurikulum.
3.      Guru dapat menjaga misi kurikulum baku.
4.      Dalam pembelajaran, guru lebih fokus pada kegiatan-kegiatan daripada pengembangan konsep.
Bertumpu pada pemahaman konsep di atas, penulis merancang prosedur kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model jaring laba-laba sebagai berikut:
Tahap Pertama
Tahap ini merupakan tahapan kegiatan menulis karangan yang dilakukan secara perorangan dan tanpa menggunakan alat bantu/alat peraga.
1)      Guru mengadakan tes awal dengan menugasi siswa untuk membuat karangan bebas.
2)      Guru memilih siswa secara acak untuk membacakan hasil karangannya di depan kelas.
3)      Guru memberikan penjelasan dan umpan balik terhadap hasil karangan siswa.

Tahap Kedua
Tahap ini merupakan tahapan kegiatan menulis karangan yang dilakukan secara berkelompok dan dengan menggunakan alat bantu/alat peraga.
1)      Secara berkelompok, siswa membuat karangan dengan memperhatikan alat peraga yang ditampilkan, dalam waktu yang telah ditetapkan.
2)      Selanjutnya, guru menyuruh pada masing-masing kelompok untuk membacakan/menyampaikan hasil karangan yang telah dibuatnya secara bersama-sama yang diwakili oleh ketua atau salah satu anggotanya. 

Tahap Ketiga
Tahap ini merupakan tahap akhir dari kegiatan menulis karangan yang dilakukan secara perorangan dan dengan menggunakan alat bantu/alat peraga.
1)      Guru mengajak siswa untuk mengamati alat bantu yang berkaitan dengan tema yang akan dibahas.
2)      Selanjutnya, siswa diajak berdiskusi dan mengidentifikasi subtema dan sub-subtema.
3)      Secara perorangan, siswa disuruh menyatakan subtema dan sub-subtema yang telah didapatnya, kemudian guru menuliskan subtema dan sub-sub tema yang telah diidentifikasi oleh masing-masing siswa di papan tulis.
4)      Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengembangkan subtema dan sub-subtema menjadi kalimat, paragraf, sehingga menjadi sebuah karangan yang utuh dan terpadu.
5)      Guru melakukan penyuntingan hasil karangan dengan menyeleksi, mengevaluasi dengan memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai aspek dalam menulis karangan yang baik dan benar.

2.4 Hipotesis Tindakan
Atas dasar gambaran masalah-masalah yang berhubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis siswa kelas VI  , terkait pula dengan kerangka teoritik, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut:
“Melalui penggunaan model jaring laba-laba dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan menulis karangan pada siswa kelas VI .akan mengalami peningkatan”
SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog