Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

10 Mei 2011

STUDI PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA ANTARA YANG DIBERI LATIHAN SOAL SUBJEKTIF DENGAN LATIHAN SOAL OBJEKTIF (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Hakekat Matematika

Matematika dapat dipandang sebagai suatu bidang studi yang menekankan pada kreatifitas. Sedangkan untuk mengembangkan daya kreatifitas diperlukan beberapa aspek pemikiran diantaranya adalah penalaran, karena salah satu ciri utama matematika terletak pada penalarannya. Di lain pihak, matematika juga merupakan ilmu deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa simbol yang pada arti, sehingga para ahli matematika dapat mengembangkan sebuah sistem matematika. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Hudojo (1990:4) bahwa “matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan penalarannya deduktif”.
Dari dunia matematika yang merupakan sebuah sistem yang deduktif mampu mengembangkan model-model yang merupakan contoh dari sistem tersebut, seperti hubungan-hubungan yang ada dalam matematika, misalnya tentang kesamaan, lebih besar atau lebih kecil. Model-model matematika tersebut sebagai interpretasi dari sistem matematika ternyata dapat digunakan untuk mengatasi persoalan-persoalan dunia nyata. Analisis hubungan-hubungan teori yang berbentuk rumus (teorema, dalil) dalam matematika merupakan pembuktian di dalam matematika. Bukti secara deduktif atau penelaran deduktif merupakan salah satu keampuhan dalam matematika yang tidak dimiliki oleh ilmu-ilmu lainnya, sehingga dengan matematika dapat membentuk pola pikir orang yang mempelajarinya menjadi pola pikir matematis yang sistematis, logis, kritis dengan penuh kecermatan.

B.     Prestasi Belajar Matematika

1.      Pengertian Prestasi Belajar Matematika
Masalah pendidikan senantiasa menjadi topik perbincangan yang menarik, baik di kalangan masyarakat luas, lebih lagi bagi pakar pendidikan. Semua ini merupakan hal yang wajar karena setiap orang berkepentingan dan ikut terlibat dalam proses pendidikan. Terlebih lagi masalah pendidikan matematika selalu menjadi sorotan karena masih rendahnya prestasi belajar siswa pada bidang studi tersebut.
Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku itu merupakan proses belajar sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar. Dengan demikian belajar akan menyangkut proses belajar dan hasil belajar.
Menurut beberapa pendapat tentang prestasi belajar adalah sebagai berikut:
a.       Ahmadi (1991:120) menyatakan bahwa:
“Prestasi belajar adalah hasil yang diraih individu melalui proses dimana tingkah laku (dalam arti luas ditimbulkan) atau diubah melalui praktek atau tingkah laku”.
b.      Purwadarminta (1976:768) menyatakan bahwa:
“Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai”.
Sedangkan pengertian dari belajar menurut beberapa pendapat adalah sebagai berikut:
a.       Surya (2002:84) menyatakan bahwa:
Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

b.      Gagne (1984) dalam Winataputra (2002:23) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah prilakunya sebagai akibat dari pengalaman”.
Matematika sebagai ilmu mengenai struktur dan simbol-simbol amatlah penting untuk membantu memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbolisasi menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep baru terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya sehingga matematika itu konsep-konsepnya tersusun secara hirarkis. Simbolisasi itu akan berarti bila suatu simbol itu dilandasi suatu ide. Jadi kita harus memahami ide yang terkandung dalam simbol tersebut. Dengan kata lain, ide harus dipahami terlebih dahulu sebelum ide tersebut disimpulkan. Menurut Hudojo (1990:4) bahwa “matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan penalarannya deduktif”.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang telah diraih oleh setiap individu dalam memahami ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif yang mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku.
2.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Matematika
Hasil yang didapat setelah pelajaran selesai tentunya tidak semuanya sesuai dengan harapan yang diinginkan. Hal ini tentu saja ada penyebabnya. Menurut Suryabrata (1987:249) bahwa “yang mempengaruhi prestasi belajar pada dasarnya ada dua faktor yaitu internal dan eksternal”.
a.       Faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri siswa)
Faktor ini meliputi:
1)      Faktor fisiologis, yaitu faktor bawaan yang terdiri dari penglihatan, pendengaran dan struktur tubuh lainnya.
2)      Faktor psikologis, yaitu faktor bawaan dan faktor perolehan yang meliputi faktor intelektif yang berupa kecerdasan, bakat, kecakapan dan faktor non intelektif yang berupa sikap, kebiadaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri dan sebagainya.
b.      Faktor Eksternal (faktor yang berasal dari luar diri siswa).
Faktor ini meliputi:
1)      Faktor sosial seperti lingkungan keluarga, masyarakat, kelompok, lingkungan sekolah yang terdiri atas pendidik, metode yang digunakan guru, alat peraga, jenis evaluasi dan sebagainya.
2)      Faktor non sosial seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, fasilitas rumah, iklim dan sebagainya.
Keempat faktor yang telah disebutkan di atas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar seseorang. maka dari itu sewajarnyalah setiap proses belajar akan dilaksanakan, faktor di atas benar-benar mendapat perhatian khusus, baik dari guru maupun bagi siswa pada waktu kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan.

C.     Latihan Soal

1.      Pengertian Latihan Soal
Menurut Rustiyah (2001:125) bahwa “latihan adalah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.
Soal menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1990:851) diartikan sebagai berikut:
a.       Apa yang menuntut jawaban dan sebagainya (pertanyaan dalam hitungan).
b.      Hal yang harus dipecahkan, masalah.
c.       Hal, perkara, urusan.
Dari pendapat di atas,  dapat disimpulkan bahwa latihan soal adalah cara mengajar dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan dalammenjawab suatu permasalahan sebagai penerapan dari apa yang telah dipelajari.
2.      Fungsi Latihan Soal
Menurut teori empirisme, sebagian besar tingkah laku individu terbentuk melalui pengulangan (Surya, dkk, 2002:625). Sedangkan menurut teori drill, ikatan antara stimulus (soal) dan respon (jawab) itu bisa dicapai oleh siswa dengan latihan berupa pengulangan (drill) (Karso, dkk, 2003:123).
Apabila kita simak lebih jauh, hal ini menunjukkan bahwa untuk membentuk suatu kemampuan pada diri siswa, guru hendaknya memberikan latihan yang cukup dan tidak berlebihan kepada siswa. Misalnya apabila guru mengharapkan siswa mampu melakukan penjumlahan dengan tepat, maka guru hendaknya memberikan latihan yang cukup kepada siswa dengan memberikan soal-soal penjumlahan setelah konsep penjumlahan diberikan. Dengan pemberian latihan soal diharapkan peserta didik lebih mantap dalam memahami materi matematika yang telah dipelajari dan siap untuk mengaplikasikannya ke dalam situasi yang lain. Kesiapan mengaplikasikan ke situasi lain berarti kemampuan menyelesaikan masalah.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa latihan soal berfungsi untuk melatih keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan dalam matematika sebagai pengaplikasian dari materi matematika yang telah dipelajari.
3.      Jenis-Jenis Bentuk Latihan Soal
Seperti halnya penggolongan pada bentuk-bentuk tes, latihan soal juga dapat dibagi atas dua golongan besar yakni latihan soal standar dan latihan soal buatan guru. Baik latihan soal standar maupun latihan soal buatan guru dibedakan atas dua macam yakni latihan soal subjektif (uraian) dan latihan soal objektif (pilihan). Latihan soal subjektif dibedakan atas dua kelompok yaitu: latihan soal uraian objektif (uraian berstruktur) dan uraian non objektif, sedangkan soal objektif dibedakan atas benar–salah, pilihan ganda, menjodohkan dan isian singkat.
Dalam skripsi ini, penulis hanya membahas latihan soal subjektif uraian objektif (uraian berstruktur) dan latihan soal objektif (pilihan ganda).
a.       Latihan Soal Subjektif Uraian Berstruktur (uraian objektif)
Latihan soal subjektif pada umumnya berbentuk uraian yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Latihan soal uraian objektif (uraian berstruktur) adalah latihan soal yang pertanyaannya sudah distrukturkan sehingga batasan jawabannya sudah dapat ditetapkan terlebih dahulu pada waktu menyusun pertanyaan.
Contoh soal uraian objektif (uraian berstruktur):
Diketahui sistem persamaan linear x + y = 3 dan 4x + 3y = 5. Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan tersebut dengan menggunakan metode eliminasi.
Kelebihan dan kelemahan latihan soal subjektif adalah:
1)      Kelebihan-kelebihannya adalah:
a)      Dapat memotivasi daya pikir kreatif dan kritis karena dituntut untuk berpikir sistematis.
b)      Melatih keaktifan siswa dalam mengerjakan soal.
c)      Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi (untung-untungan) karena dalam menjawab soal siswa dituntut menjawabnya secara rinci (terurai).
d)      Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami suatu masalah.
e)      Dapat memotivasi kegiatan belajar siswa di sekolah dan di rumah.
f)        Mudah disiapkan dan disusun.
g)      Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus.
h)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri.
2)      Kelemahan-kelemahannya adalah:
a)      Ruang lingkup materi yang ditanyakan terbatas.
b)      Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur subjektifitas.
c)      Kadar validitas dan reliabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai.
d)      Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja (terbatas).
e)      Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai.
f)        Waktu untuk mengoreksi relatif lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.
b.      Latihan soal objektif
Latihan soal objektif adalah latihan soal yang jawaban pertanyaannya dipilih dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Latihan soal pilihan ganda (multiple choice) adalah latihan soal yang pertanyaannya diikuti oleh empat atau lima kemungkinan jawabannya dan dari kemungkinan-kemungkinan tersebut hanya ada satu jawaban yang paling benar.
Contoh soal pilihan ganda:
Diketahui suatu sistem persamaan linear x + y = 12 dan . Himpunan penyelesaian dari sistem persamaan tersebut adalah …….
a. {(2,5)}                                                   c. {(5,7)}
b. {(7,2)}                                                   d. {(2,7)}
Kelebihan dan kelemahan latihan soal objektif (pilihan ganda) adalah:
1)      Kelebihan-kelebihannya adalah:
a)      Ruang lingkup materi yang ditanyakan lebih luas.
b)      Dalam pemeriksaannya tidak ada unsur uraian objektifitas yang mempengaruhi
c)      Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena menggunakan kunci jawaban, bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.
d)      Pemeriksaannya dapat diserahkan pada orang lain.
2)      Kelemahan-kelemahannya adalah:
a)      Soal-soalnya cenderung untuk mengungkap ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang lebih tinggi.
b)      Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
c)      Kerja sama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
d)      Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit dari pada tes subjektif karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain.
4.      Pelaksanaan Pemberian Latihan Soal
Pembelajaran matematika yang kental dengan pola-pola konsep, kaidah serta simbol-simbol memerlukan teknik pembelajaran yang sangat khusus. Banyak angka kegagalan yang dialami siswa dalam pembelajaran matematika yang salah satu faktor penyebabnya yaitu: kurang mempunya siswa dalam mengaplikasikan konsep yang diterimanya dalam upaya pemecahan masalah. Upaya seorang guru mengantisipasi kendala di atas dapat dilakukan melalui salah satu metode pengajaran yaitu pemberian latihan soal sebagaimana yang diungkapkan oleh Sudjana (1988:33) bahwa:
Salah satu cara yang penting dalam mengerjakan matematika adalah pemberian latihan berulang kali. Dengan cara ini pengertian tentang materi terdahulu diperkuat. Sementara materi yang baru dapat berkembang dengan mengerjakan soal-soal (latihan) yang ada kaitannya dengan bahan terdahulu.

Pemberian latihan soal ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan kognitif, afektif dan psikomotorik. Pelaksanaan pemberian latihan soal kepada siswa dilakukan setelah konsep materi selesai diajarkan yaitu pada kegiatan akhir proses pembelajaran. Latihan soal subjektif (uraian berstruktur) dan latihan soal objektif (pilihan ganda) diberikan kepada kedua kelompok siswa yang dilakukan secara bertahap (bukan satu kali) untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah matematika pada materi pokok sistem persamaan linear dua peubah. Tujuan instruksional pada item-item pada latihan soal subjektif dan latihan soal objektif harus sama dan jumlah soal yang diberikan pada kedua kelompok siswa juga harus sama.
Dengan pemberian latihan soal diharapkan peserta didik lebih mantap dalam memahami materi matematika yang telah dipelajari dan siap untuk mengaplikasikannya ke dalam situasi yang lain. Dengan demikian, bahwa pelaksanaan pemberian latihan soal ini dapat dijadikanlangkah-langkah untuk membandingkan pencapaian prestasi belajar siswa pada materi pokok sistem persamaan linear dua peubah antara siswa yang diberi latihan soal subjektif (uraian berstruktur) dengan latihan soal objektif (pilihan ganda).

D.    Sistem Persamaan Linear dengan Dua Peubah

1.      Persamaan Linear dengan Satu Peubah.
Persamaan linear dengan satu peubah adalah kalimat matematika yang mengandung satu peubah yang dihubungkan oleh relasi sama dengan (Hudojo, dkk, 1991:148).
Contoh:
a.       2x + 4 = 10
b.      8 – 3x = 2
Bentuk umum persamaan linear dengan satu peubah adalah ax + b = c, dengan a, b dan c bilangan real a ¹ 0 (Hudojo, dkk, 1991:148).
2.      Persamaan Linear dengan Dua Peubah
Persamaan linear dua peubah adalah kalimat matematika yang mengandung dua peubah yang dihubungkan oleh relasi sama dengan. Bentuk umum persamaan linear dengan dua peubah adalah ax + by = c dengan a,b dan c bilangan real (a ¹ 0 atau b ¹ 0), x dan y adalah peubah (Hudojo, dkk, 1991:155).
Contoh: x + y = 4 dengan x Î {0,1,2,3,4,5} dan y Î bulat. Tentukan himpunan penyelesaiannya!
Menentukan himpunan penyelesaian persamaan itu berarti menentukan pasangan-pasangan pengganti x dan y yang mengubah x + y = 4 menjadi kalimat yang benar. Dengan memilih penganti x kemudian menentukan nilai y, dapat diperoleh pasangan koordinat pengganti x dan y sebagai berikut:
Jika x = 0, maka 0 + y = 4,  sehingga y = 4 Þ (0,4).
Jika x = 1, maka 1 + y = 4,  sehingga y = 3 Þ (1,3).
Jika x = 2, maka 2 + y = 4,  sehingga y = 2 Þ (2,2).
Jika x = 3, maka 3 + y = 4,  sehingga y = 1 Þ (3,1).
Jika x = 4, maka 4 + y = 4,  sehingga y = 0 Þ (4,0).
Jika x = 5, maka 5 + y = 4,  sehingga y = -1 Þ (5,-1), (tidak memenuhi).
Himpunan penyelesaian dari x + y = 4 dengan x Î {0, 1, 2, 3, 4, 5} dan          y Î bulat adalah {(0,4), (1,3), (2,2), (3,1), (4,0)}.
Bila himpunan penyelesaian tersebut dinyatakan sebagai pasangan berurutan dalam koordinat Cartesius dapat digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut:




                                       Y
                    4  ·  (0,4)
                    3  ·          ·  (1,3)
                    2  ·                      ·  (2,2)
                    1  ·                                  ·  (3,1)
                                    ·          ·          ·       ·                         X
                                    1          2          3       4

3.      Sistem Persamaan Linear dengan Dua Peubah
Menurut Kanginan (2003:62) bahwa “gabungan dari persamaan-persamaan linear disebut sistem persamaan linear. Sistem persamaan linear yaitu sistem persamaan yang mengandung paling sedikit sepasang (dua buah) persamaan linear”. Selain itu Kusrini, dkk (2003:179) juga menyatakan bahwa “sistem persamaan linear adalah dua persamaan atau lebih yang menggunakan variabel-variabel yang sama. Penyelesaian sistem persamaan linear adalah pasangan terurut bilangan yang memenuhi semua persamaan dalam sistem tersebut”.
4.      Cara menyelesaikan sistem persamaan linear dengan dua peubah
Menurut Sugiono (1999:117) bahwa “persamaan linear dengan dua peubah dapat ditentukan dengan 3 cara, yaitu:
a.       Metode Grafik
b.      Metode Eliminasi
c.       Metode Substitusi
Berikut ini yang akan dibahas adalah metode eliminasi, metode substitusi dan metode eliminasi-substitusi.
a.       Metode Eliminasi
Eliminasi artinya “menghilangkan” (Kusrini, dkk, 2003:185) dengan kata lain menghilangkan salah satu peubah yang ada dalam persamaan linear, dengan terlebih dahulu menyamakan koefisien salah satu peubah persamaan tersebut (jika belum sama).
Langkah-langkah penyelesaian sistem persamaan linear dua peubah dengan cara eliminasi adalah sebagai berikut:
1)      Menghilangkan peubah yang pertama (misalnya x) dengan cara menyamakan koefisiennya.
2)      Menghilangkan peubah yang kedua (misalnya y) dengan cara menyamakan koefisiennya.
Contoh:
Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan linear di bawah ini dengan menggunakan metode eliminasi.
x + y = 6
x – y = 2
Penyelesaian:
Mengeliminasi peubah x:
x + y = 6
x – y = 2  –
   2y = 4
    y =
    y = 2
Mengeliminasi peubah y:
x + y = 6
x – y = 2  +
   2x = 8
    x =
   x = 4
Jadi, himpunan penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah {(4, 2)}.


b.      Metode Substitusi
Substitusi artinya “mengganti” (Kusrini, dkk, 2003:187) adalah menyelesaikan sistem persamaan linear dengan cara mengganti suatu peubah dengan peubah yang lain.
Langkah-langkah penyelesaian sistem persamaan linear dua peubah dengan cara substitusi adalah sebagai berikut:
1)      Nyatakan salah satu persamaan linear dua peubah (persamaan 1) dalam x atau dalam y.
2)      Persamaan linear (persamaan 1) yang sudah dinyatakan dalam x atau dalam y disubstitusikan ke persamaan linear yang belum diubah (persamaan 2).
Contoh:
Dengan metode substitusi tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan linear di bawah ini!
2x + 3y = 12
4x – 7y = -2
Penyelesaian:
2x + 3y = 12 …………..  (1)
4x – 7y = -2 ………..       (2)
Ubahlah persamaan (1) sebagai berikut:
2x + 3y = 12
       2x = 12 – 3y
         x =
   x = 6 - y        ……… (3)
Selanjutnya masukkan persamaan (3) ke dalam persamaan (2)
4 (6 - y) – 7y = -2
24 – 6y – 7y = -2
24 – 13y = -2
         -13y = -2 – 24
         -13y = -26
            y  =     
           y  = 2
substitusikan nilai y = 2 ke persamaan (1) sehingga diperoleh:
2x + 3y = 12
2x + 3(2) = 12
2x + 6 = 12
2x = 12 – 6
2x = 6
x =
x = 3
Jadi, himpunan penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah {(3,2)}.
c.       Metode gabungan eliminasi dan substitusi
Metode gabungan eliminasi substitusi biasanya lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua peubah. Kita dapat mengeliminasi salah satu dari peubah itu kemudian nilai salah satu peubah yang diperoleh disubstitusikan ke dalam salah satu persamaan itu dan kita peroleh nilai peubah yang lain (Tampomas, 2003:48).
Contoh:
Keliling persegi panjang adalah 44 cm. Selisih panjang dan lebarnya adalah 6 cm. Berapa panjang dan lebar persegi panjang tersebut?
Penyelesaian:
Misalkan:    Panjang persegi panjang = p cm
Lebar persegi panjang = l cm
Sehingga diperoleh persamaan linear sebagai berikut:
Karena kelilingnya 44 cm, berarti diperoleh persamaan: 2p + 2l = 44
Sedangkan selisih panjang dan lebarnya 6 cm, sehingga diperoleh persamaan p – l = 6.
Dengan demikian diperoleh sistem persamaan linear sebagai berikut:
2p + 2l = 44 …………… (1)
  p  –  l  = 6  ……………..(2)
Kemudian:
Eliminasi:
                                       4l = 32
   l   =
                                        l = 8
Substitusi:
Selanjutnya disubstitusikan l = 8 ke dalam persamaan (1) sehingga diperoleh
2p + 2l = 44
2p + 2 (8) = 44
2p + 16 = 44
        2p = 44 – 16
        2p = 28
         p  =
         p  = 14
Jadi, penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah p = 14 dan l = 8 berarti, panjang persegi panjang = 14 cm, lebar persegi panjang = 8 cm.

E.     Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Antara Siswa yang Diberi Latihan Soal Subjektif (uraian berstruktur) dengan Latihan soal Objektif (pilihan ganda) Pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linear Dua Peubah

Pada hakekatnya matematika merupakan ilmu yang kental dengan ide-ide (gagasan), simbol-simbol, kaidah dan struktur-struktur dalam hubungan-hubungannya yang diatur secara logik, berkaitan dengan konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan kebenarannya dikembangkan berdasarkan atas alasan yang logik dengan menggunakan pembuktian deduktif.
Hal yang demikian ini tentu saja membawa akibat kepada bagaimana terjadinya proses belajar matematika itu. Karena itu belajar haruslah aktif tidak sekedar pasif saja menerima apa yang diberikan. Siswa diharapkan aktif melibatkan dirinya di dalam kegiatan proses pembelajaran, sehingga mengerti dan memahami konsep-konsep matemtika yang sudah diajarkan. Oleh karena itu, belajar matematika memerlukan perhatian yang cukup tinggi dan latihan berulang-ulang sehingga konsep matematika yang sudah dipelajari tidak mudah dilupakan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah dengan memberikan tugas-tugas belajar yang berupa latihan soal. Dengan pemberian latihan soal dapat merangsang siswa untuk berperan aktif dalam mencari pengalaman belajar matematika yang menyenagkan, sehingga mempermudah siswa dalam menguasai konsep matematika. Sebagaimana yang telah dikemukakan Hudojo (1988:3) bahwa:
Mempelajari konsep B yang mendasarkan kepada konsep A, seseorang perlu memahami lebih dulu konsep A, tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti, mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang lalu.

Latihan soal yang diberikan oleh guru dapat berbentuk latihan soal subjektif dan latihan soal objektif. Latihan soal tersebut diberikan kepada dua kelompok siswa setelah materi selesai diajarkan yaitu pada akhir kegiatan proses pembelajaran. Dengan demikian dapat dilihat perbandingan kedua latihan soal tersebut terhadap prestasi belajar matematika siswa.
Dari analisa yang dilakukan oleh penulis, dengan mengkaji uraian-uraian yang telah tersaji pada bab ini, maka dapat penulis disimpulkan bahwa:
1.      Ditinjau dari aspek pola berpikir siswa yang dapat ditimbulkan.
Latihan soal subjektif lebih banyak memberikan pembentukan dan pengembangan pola pikir siswa dari pada latihan soal objektif seperti:
a.       Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus.
b.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri.
c.       Dapat menimbulkan daya kreatifitas dan aktifitas positif siswa, karena dituntut untuk berpikir sistematis serta dapat mengaitkan fakta-fakta yang relevan.
Sedangkan pada latihan soal objektif tidak banyak memberikan pembentukan dan pengembangan pola pikir siswa karena latihan soal objektif (pilihan ganda) hanya menuntut siswa untuk memilih satu jawaban saja, meskipun sebelum menjawab soal siswa melakukan penghitungan di lembaran lain (bagi siswa yang bisa menjawab).
2.      Ditinjau dari proses menjawab latihan soal.
Terkait dengan alasan no. 1, dimana latihan soal subjektif (uraian berstruktur) tidak bisa dijawab dengan spekulasi (untung-untungan) karena siswa dituntut untuk mengurai jawabannya. Sedangkan pada latihan soal objektif (pilihan ganda) banyak kemungkinan adaya spekulasi (untung-untungan) dalam menjawab soal.
Selain itu dari hasil observasi yang dilakukan penulis terhadap kegiatan proses belajar mengajar bidang studi matematika dengan memberikan latihan soal subjektif (uraian berstruktur) dan latihan soal objektif (pilihan ganda), diperoleh beeberapa kelebihan dan kelemahan kedua latihan soal tersebut yang terangkum sebagai berikut.
Item kelebihan dan kekurangan latihan soal subjektif (uraian berstruktur) dan latihan soal objektif (pilihan ganda) bagi siswa:
1.      Memotivasi daya pikir kreatif dan kritis.
2.      Melatih keaktifan siswa dalam mengerjakan soal.
3.      Kesempatan untuk berspekulasi (untung-untungan).
4.      Kemungkinan siswa untuk mencontek atau bekerja sama dalam menjawab soal.
5.      Untuk mengetahui kemampuan siswa mendalami suatu masalah.
6.      Memotivasi kegiatan belajar siswa di sekolah dan di rumah.
7.      Ruang lingkup materi yang ditanyakan sangat luas.
8.      Pengaruh unsur uraian objektifitas dalam pemeriksaan.


Berikut ini adalah hasil observasi proses belajar mengajar bidang studi matematika dibandingkan menurut teori:
Item
Menurut teori
Observasi kegiatan belajar mengajar
Latihan soal
Subjektif
Latihan soal Objektif
Latihan soal
Subjektif
Latihan soal Objektif
1
+
-
+
-
2
+
-
+
-
3
-
+
-
+
4
-
+
-
+
5
+
-
+
-
6
+
-
+
-
7
-
+
+
-
8
+
-
+
-

Keterangan:
      + = Jika lebih baik
      -  =  Jika kurang baik

Dari hasil analisa yang diberikan oleh penulis dengan cara mengkaji uraian-uraian pada bab ini, sehingga diperoleh beberapa kesimpulan seperti yang sudah dipaparkan, kemudian didukung oleh hasil observasi terhadap guru bidang studi matematika yang dibandingkan dengan hasil teori dari buku literature, dapat penulis sampaikan bahwa prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear dua peubah pada siswa yang diberi latihan soal subjektif (uraian berstruktur) lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear dua peubah pada siswa yang diberi latihan soal objektif (pilihan ganda).

Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog