Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

05 Mei 2011

REALITAS KEHIDUPAN RUMAH TANGGA DALAM NOVEL “DOSA KITA SEMUA” KARYA MOTINGGO BUSYE (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

A.    Tinjauan tentang Novel Dosa Kita Semua Karya Motinggo Busye
1.    Pengertian Novel
Dalam arti luas, novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, karakter, tema, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula (Sumardjo, 1997:29).
Istilah novel yang dipakai di Indonesia menurut Abrams sebagaimana dikutip Nurgiyantoro (1998 : 9) berasal dari bahasa Italia ‘’novella’’ yang secara harfiah memiliki arti cerita pendek dalam bentuk prosa. Namun menurut Tarigan, kata ‘’novel’’ berasal dari kata Latin ‘’novellus’’ yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti ‘’baru’’. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra yang lain seperti puisi, drama dan lain-lain, jenis novel tersebut muncul kemudian (Tarigan, 1986 : 164). Dalam bagian lain Tarigan mengutip pengertian novel dari ‘’The American College Dictionary’’ yang menyatakan bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur yang agak kompleks.
Istilah novel sama dengan istilah roman. Kata novel berasal dari bahasa Italia yang kemudian berkembang di Inggris dan Amerika Serikat. Sedang istilah roman berasal dari genre romance dari Abad Pertengahan yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan (Sumardjo, 1997:29).
Sedangkan Aminuddin tidak secara tegas memberikan perbedaan antara bentuk novel, roman, novelet, atau cerpen. Menurut Aminuddin, perbedaan itu hanya terletak pada panjang atau pendeknya isi cerita serta kompleksitas masalah yang diangkat di dalamnya. Dijelaskan bahwa pada dasarnya bentuk-bentuk karya tersebut tetap mengandung elemen yang sama walaupun dalam unsur-unsur tertentu juga tetap mengandung perbedaan. Kendati tidak secara tegas memberikan perbedaan terhadap bentuk novel, roman, dan yang lain, namun Aminuddin secara tegas memberikan penekanan bahwa  pada hakikatnya bentuk-bentuk tersebut tergolong ke dalam prosa fiksi. Menurut Aminuddin, yang dimaksud prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1987 : 66).
Lebih lanjut Aminuddin menyatakan bahwa unsur prosa fiksi tersebut terdiri dari (1) pengarang atau narator, (2) isi penciptaan, (3) media penyampai isi berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsur intrinsik yang membangun karya fiksi sehingga menjadi suatu wacana yang utuh. Hal itu sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro (1998 : 10) yang menegaskan bahwa novel dan cerpen sebagai karya fiksi mempunyai persamaan, keduanya dibangun oleh unsur-unsur pembangun yang sama, keduanya dibangun dari dua unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur-unsur yang dimaksud adalah tema, plot atau alur, setting atau latar, penokohan, sudut pandang atau point of view, bahasa dan gaya bahasa atau style.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang tergolong ke dalam prosa fiksi serta terdiri dari unsur-unsur pembangun yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu wacana yang utuh. Seperti halnya karya fiksi yang lain unsur pembangun novel terbagi dalam dua bagian, yakni:  (1) unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra,  (2) unsur instrinsik  yaitu unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra.
a.     Unsur Intrinsik
Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur inilah yang membuat sebuah novel berwujud atau sebaliknya. Unsur yang dimaksud adalah: tema, tokoh dan penokohan, alur, setting, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lain-lain.
1)    Tema
Tema adalah ide sebuah cerita. Dalam cerpen biasanya hanya berisi satu tema. Hal ini berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku terbatas. Sebaliknya, novel dapat menawarkan lebih dari satu tema, yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan (Nurgiyantoro, 1998:13).
2)    Tokoh dan Penokohan
Tokoh cerita (karakter) disebut juga penokohan. Jumlah tokoh cerita yang terlibat dalam novel dan cerpen terbatas, apalagi yang berstatus tokoh utama. Dibanding dengan novel, tokoh cerita cerpen lebih lagi terbatas, baik yang menyangkut jumlah maupun data-data jati diri tokoh, khususnya yang berkaitan dengan perwatakan, sehingga pembaca harus merekonstruksi sendiri gambaran  yang lebih lengkap tentang tokoh itu (Nurgiyantoro, 1998:13).
Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang paling penting dalam karya naratif, jika menghadapi sebuah cerita tentunya kita akan bertanya siapa yang diceritakan itu? Siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu itu? Ini cerita tentang apa? Pelaku ini yang biasa disebut tokoh cerita. Adapun yang dimaksud dengan tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan..
Tokoh pada umumnya berwujud manusia tetapi juga dapat berwujud binatang atau benda yang diinsankan dalam artian tokoh binatang, benda itu bertingkah laku seperti manusia dapat berpikir dan dapat berbicara seperti manusia.
Berdasarkan peran tokoh-tokoh dalam perkembangan plot dapat dibedakan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan, sedangkan dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan dalam tokoh antagonis dan protagonis. Menurut Nurgiyantoro (1998:178) tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan.
Kriteria yang digunakan dalam menentukan tokoh utama dalam cerita adalah intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita dan hubungannya dengan tokoh lain.
Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculannya dalam keseluruhan ceritanya lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada kaitannya dengan tokoh utama baik langsung ataupun tidak langsung (Nurgiyantoro, 1998:177).
3)    Alur
Alur dengan jalan cerita memang tak terpisahkan, tetapi harus dibedakan. Orang-orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jalan cerita memuat kejadian. Tetapi suatu kejadian ada karena sebabnya, ada alasannya. Yang menggerakkan kejadian cerita tersebut adalah alur yang sering disebut juga dengan plot, yaitu segi rohaniah dari kejadian (Sumardjo, 1997:49).
4)    Setting
Latar cerita (setting) sering juag disebut latar. Pelukisan tokoh cerita untuk novel dan cerpen dilihat secara kualitatif terdapat perbedaan yang menonjol. Cerpen tidak memerlukan detil-detil khusus tentang keadaan latar, misalnya yang menyangkut keadaan tempat dan sosial. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besarnya saja, atau bahkan hanya secara implisit, asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan. Novel, sebaliknya, dapat saja melukiskan keadaan latar secara rinci sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkrit, dan pasti (Nurgiyantoro, 1998:13).
5)    Sudut Pandang
Sudut Pandang pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini, harus dibedakan dengan pandangan pengarang sebagai pribadi, sebab sebuah cerita sebenarnya adalah pandangan pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang akan masuk ke dalam karyanya, dan ini lazim disebut dengan point of view (Sumardjo, 1997:82).
6)    Gaya Bahasa
Gaya (style) pengarang adalah cara khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita (Sumardjo, 1997:92).
b.     Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya (Nurgiyantoro, 1998:23). Faktor yang mempengaruhi karya sastra adalah sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan idiologi pengarang (Wellek, 1995:111).
2.    Novel Dosa Kita Semua Karya Motinggo Busye
Novel “Dosa Kita Semua” ini merupakan salah satu novel karya Motinggo Busye yang  diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka Jakarta dengan cetakan pertama pada Maret  1986. Novel ”Dosa Kita Semua” ini terdiri dari sembilan puluh delapan halaman yang terbagi dalam empat episode dengan sebelas bagian.
Novel Dosa Kita Semua karya Motinggo Busye ini bertemakan keluarga. Novel ini mengisahkan kehancuran sebuah rumah tangga. Gaya Motinggo Busye memang lain, Ia menyiasati segala sesuatu denga tajam dan mengisahkan dengan kata-kata yang mengandung sinisme dan sindiran mengenai kehidupan kita di dunia ini (Busye, 1986:3).
3.    Riwayat Singkat Motinggo Busye
Motinggo Busye, lahir tanggal 21 Nopember 1937 di Kupangkota, Lampung. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum, Univeritas Gadjah Mada, tapi tidak tamat, karena lebih aktif melibatkan diri dengan para sastrawan di Yogyakarta dan mengikuti kegiatan teater bernama Kirdjomuljo, Nasjah Djamin, Subagio Sastrowardojo dan Rendra.
Motinggo Busye mulai dikenal tahun 1958 karena memenangkan  hadiah pertama dengan dramanya “Malam Jahanam” dalam sayembara drama Indonesia. Motinggo Busye juga dikenal sebagai penulis naskah drama, pelukis, penyair, penulis cerpen dan novel, aktor, sutradara film.
Cerpennya “Nasihat untuk Anakku”, mendapat hadiah sastra 1962. cerpen-cerpennya diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Perancis, Jerman dan Jepang. Motinggo Busye banyak menulis novel pop, karenanya ia banyak menerima kecaman dari masyarakat.
Ayah Motinggo Busye, Djalid Radja Alam adalah putra Kepala Negeri Matur yang bernama Idris Datuk Sakti, yang terkenal di Minangkabau sebagai menantu Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, tokoh terkenal dalam perang Dipanegara.
B.    Tinjauan tentang Rumah Tangga
1.    Pengertian
Rumah tangga adalah sesuatu yang berkenaan dengan urusan kehidupan di rumah (seperti hal belanja rumah dan sebagainya) (Depdikbud, 1994: 851). Pengertian rumah tangga ada yang berpendapat adalah bangunan rumah dengan segala perabotnya, ada pengertian yang lebih dari itu, yakni adanya suasana yang mengikat angota-anggota keluarga dengan ikatan batin yang halus dan kuat, atau dikatakan pula bahwa rumah tangga ‘house hold’ kelompok sosial yang biasanya berpusat pada suatu keluarga batin, ditambah dengan  beberapa warga lain, yang tinggal dan hidup bersama dalam satu rumah, sehingga merupakan kesatuan ke dalam dan ke luar (Solih, 1994:11).
Sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat, rumah tangga berperan besar dalam menentukan kesejahteraan masyarakat. Rumah tangga sangat besar pengaruhnya terhadap suasana psikis pada anggotanya, apakah sebagai kepala rumah tangga, ibu rumah tangga atau sebagai anak.
Sebuah rumah tangga dapat dikatakan sejahtera dan bahagia apabila rumah tangga tersebut telah mencapai kesuksesan dalam hidupnya, baik material maupun spiritual. Nilai-nilai kesuksesan tersebut tercermin dalam situasi penuh kebahagiaan dan ketentraman hidup bersama para anggota keluarga. Tampak pula di dalamnya keselarasan, keserasian dan keseimbangan hidup, sehingga dapat menjadi cermin bagi masyarakat sekelilingnya.
Di dalam rumah tangga terdapat keluarga. Pengertian keluarga dapat diartikan sebagai suatu kelompok pertalian nasab keluarga yang dapat dijadikan tempat untuk membimbing anak-anak, dan untuk pemenuhan kebutuhan hidup lainnya (Solih, 1994:11).
Keluarga pada umumnya terdiri dari orang tua dan anak atau anak-anak (keluarga inti), sekalipun masih banyak keluarga yang anggota keluarganya terdiri dari orang tua, paman, bibi, kemenakan, cucu yang disebut dengan keluarga besar (Gunarsa, 2001:210).
Paul B. Horton (dalam Solih 1994:12) menjelaskan lebih jauh, apabila kita berbicara tentang keluarga, maka kita berpikir tentang suami isteri, anak-anaknya, dan kadang-kadang kerabatnya yang berada di luar keluarga tersebut yang disebut “conjugal family” sepanjang berpusat kepada sepasang suami isteri (perkawinan), atau kadang-kadang disebut juga keluarga kecil “nuclear family”. Sedangkan keluarga besar “consanguine family” tidak didasarkan kepada hubungan dua orang, tetapi didasarkan kepada hubungan darah dan sejumlah orang yang cukup besar. Keluarga besar semacam ini terwujud dari adanya hubungan darah atau terdiri dari orang-orang yang mempunyai hubungan darah bersama-sama dengan saudara-saudaranya dan anak-anaknya. Keluarga ini kadang-kadang disebut “joint family” atau extended family”.
M.I Soelaeman (dalam Solih 1994:13) juga menjelaskan suatu keluarga dapat dikatakan “keluarga lengkap”, apabila keluarga itu terdiri atas ayah ibu dan anak (anak-anak). Apabila salah satu anggota ini tidak terdapat, maka keluarga itu disebut “keluarga tidak lengkap”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka suatu keluarga yang hanya terdiri dari suami isteri (tidak mempunyai anak), juga disebut keluarga tidak lengkap. Dalam keadaan demikian, kita temukan suami isteri yang tidak dianugerahi anak, mengambil anak orang lain dan dijadikan anak angkat. Dengan demikian diharapkan mereka merupakan keluarga lengkap.
Dalam keluarga yang semula dikatakan lengkap, mungkin saja salah seorang di antara ayah dan ibu itu bercerai atau meninggal dunia. Apabila yang tidak ada itu ayah atau ibu, karena meninggal dunia atau bercerai, maka keluarga itu disebut “keluarga pecah” atau “broken home”. Dalam keadaan demikian anak (anak-anak) terutama yang masih dibawah umur, biasanya kurang mendapat bimbingan orang tua, meskipun sudah ada penggantinya yaitu ayah baru  atau ibu baru (Solih 1994:13).
Lepas dari bentuk dan jenis manapun tinjauan tentang keluarga, namun semua anggota keluarga menghendaki terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan hidup semua anggota keluarganya. Kebahagiaan itu lebih menggambarkan suatu keadaan yang mengandung nilai-nilai psychologis di dalam suatu kehidupan, sehingga dalam situasi tersebut individu dapat memperoleh kepuasan fisik maupun psikis. Situasi psikologis ini memberikan rasa aman kepada individu dalam memuaskan kebutuhannya. Sedangkan kesejahteraan menggambarkan kemajuan di dalam hidup baik secara material, mental spiritual, dan sosial secara seimbang, sehingga menimbulkan ketentraman dan ketenangan hidup yang akhirnya menyongsong kehidupan mendatang dengan gembira dan optimal (Gunarsa, 2001:246).
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bawah hidup sejahtera adalah kehidupan yang mendapatkan limpahan nikmat Allah yang bersifat material, sehingga terpenuhinya kebutuhan jasmani, sedangkan hidup bahagia adalah kehidupan yang mendapat limpahan rahmat Allah sehingga timbullah ketenteraman dan ketenangan jiwa.
Jadi, yang dimaksud dengan rumah tangga sejahtera dan bahagia ialah keluarga yang dapat mencapai kesuksesan di dalam hidupnya, baik material maupun mental spiritual, yang memberikan nilai-nilai kepuasan yang mendalam kepada para anggota keluarga dalam situasi penuh kebahagiaan dan ketenteraman hidup bersama. Tampak pula di dalamnya keselarasan, keserasian dan keseimbangan hidup, sehingga dapat menjadi cermin bagi masyarakat sekelilingnya.
2.    Syarat-syarat Pembinaan Rumah Tangga
Rumah tangga bahagia adalah rumah tangga yang berkualitas dan mendapatkan rahmat Allah SWT, dalam Islam ada lima aspek pokok kehidupan yang harus dipenuhi, yaitu: (1) terwujudnya suasana kehidupan yang Islami, (2) Terlaksananya pendidikan dalam keluarga, (3) terwujudnya kesehatan keluarga, (4) terwujudnya ekonomi keluarga yang sehat, dan (5) terwujudnya hubungan keluarga yang selaras, serasi, seimbang (BP-4 Prop. Jatim: 1993:13).
Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh HR. Dailami bersabda yang artinya sebagai berikut:
“Apabila Allah menghendaki rumah tangga bahagia, maka diberikan kecenderungan mempelajari ilmu agama, yang muda menghormati yang tua, serasi (harmonis) dalam kehidupan, hemat dan hidup sederhana, melihat (mengawasi) catat (kekurangan) mereka, dan kemudian melakukan taubat/ minta maaf. Dan jika Allah menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkannya mereka dalam kesesatan”. (BP-4 Prop. Jatim: 1993:15).

“Bahwa kebahagiaan keluarga dapat tercapai apabila terpenuhi empat perkara: yaitu keserasian antara suami istri, mempunyai anak yang terdidik, bergaul dengan orang soleh, dan memiliki keterampilan yang dapat menambah penghasilan.” (BP-4 Prop. Jatim: 1993:16).
a.     Terwujudnya Suasana Kehidupan yang Islami
1)    Membiasakan membaca, menulis Al-Quran dan memahami isinya secara rutin.
2)    Membudayakan sholat berjamaah dalam keluarga.
3)    Melaksakan amalan ubudiyah yaumiyah (ibadah harian) dalam keluarga, misalnya doa-doa, ucapan basamalah setiap mulai pekerjaaun dan ucapan hamdalah setiap selsai pekerjaan serta mengucapkan salam.
b.     Terlaksananya Pendidikan dalam Keluarga
1)    Pendidikan ke-Esaan Tuhan (Tauhid).
2)    Pendidikan pengetahuan dan keilmuan.
3)    Pendidikan akhlak.
4)    Pendidikan keterampilan.
5)    Pendidikan kemandirian.
c.      Terwujudnya Kesehatan Keluarga
Terwujudnya kesehatan keluarga dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)    Kebersihan rumah dan lingkungan.
2)    Olahraga keluarga yang rutin.
3)    Kebersihan, kesehatan dan gizi keluarga (empat sehat lima sempurna).
d.     Terwujudnya Ekonomi Keluarga keluarga yang Sehat
1)    Mengusahakan memiliki yang halal dan baik.
2)    Mengendalikan keuangan keluarga, hemat dan tidak kikir.
3)    Membiasakan menabung.
4)    Memanfaatkan pekarangan dan atau home industri (industri rumah tangga) untuk menunjang ekonomi keluarga.
e.     Terwujudnya Hubungan Keluarga yang Selaras, Serasi,  dan Seimbang
1)    Membina sopan santun, etika dan akhlak sesuai dengan kedudukan masing-masing keluarga.
2)    Menciptakan suasana  keakraban antara anggota keluarga, seperti waktu-waktu solat berjemaah, waktu makan bersama dan waktu rekreasi.
3)    Menciptakan suasana keterbukaan, rasa saling memiliki dan rasa tanggung jawab satu sama lain diantara anggota keluarga.
4)    Menumbuhkan rasa saling menghargai, saling menghormati, saling memaafkan kesalahan satu sama lain diantara anggota keluarga.
5)    Melaksanakan kehidupan bertetangga, berteman dan bermasyarakat, sesuai dengan ajaran agama.
Di dalam kehidupan sehari-hari kebutuhan manusia itu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antrara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandangan atau falsafah hidup cita-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.
Ursula Lehr (dalam Monk 1992:333-334) telah  mempelajari kemungkinan konflik yang timbul pada berbagai kelompok usia dewasa. Ursula Lehr membedakan situasi yang dapat menimbulkan konflik adalah:
a.     Konflik dengan orang tua sendiri, situasi akibat hidup bersama-sama dengan orang tua. Pengharapan orang tua atau kewajiban terhadap mereka yang sukar dikombinasi dengan kepentingan sendiri.
b.     Konflik dengan anak-anak sendiri; misalnya mengetahui tingkah laku anak yang tercekam dan mengakibatkan reaksi yang hebat dari pihak orang tua sehingga anak lari dari rumah orang tua.
c.      Konflik dengan sanak keluarga; dalam masa anak-anak dan masa remaja dapat timbul konflik terutama dengan kakek, nenek, paman atau bibi yang ikut dalam pendidikan anak, pada masa-masa kemudian sering timbul konflik dengan mertua dan keluarga suami atau isteri yang dipandang terlalu ikut campur, atau dengan saudara sendiri misalnya pertentangan mengenai warisan.
d.     Konflik dengan orang lain (konflik sosial) timbul dalam hubungan sosial dengan tetangga, teman sekerja dan orang-orang lain. Konflik dapat timbul karena perbedaan pendirian atau pendapat mengenai hal sesuatu.
e.     Konflik dengan suami isteri; kesukaran dalam perkawinan, pertengkaran-pertengkaran kecil, mengenai persoalan sehari-hari atau perselisihan yang mendalam misalnya mengenai persoalan hidup atau tujuan hidup.
f.       Konflik di sekolah; tidak mengikuti pelajaran, tidak lulus, persoalan hubungan guru dan murid, persoalan kedudukan di antara teman-teman sebaya dalam kelas.
g.     Konflik pribadi, timbul misalnya karena minat yang berlawanan, tidak ada keuletan atau tidak ada kemampuan untuk meneruskan untuk mengembangkan diri dan meluaskan kesempatan untuk hidup).
Dalam suatu keluarga tidak ada yang tidak menghadapi masalah, terlepas dari siapa yang tidak melaksanakan kewajiban di antara suami isteri, namun seringkali terjadi ketidakpuasan diantara kedua belah pihak atau kedua-duanya merasa tidak puas, hal ini yang disebut dengan konflik.
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, memerlukan organisasi tersendiri karena itu perlu ada kepala keluarga sebagai tokoh penting (key person, do\minant figure) yang mengemudikan perjalanan hidup keluarga  yang diasuh dan dibinanya. Karena keluarga terdiri dari beberapa orang maka terjadi interaksi antara pribadi dan ini berpengaruh terhadap keadaan bahagia (harmonis) atau tak bahagia (disharmonis) pada anggota keluarga yang selanjutnya berpengaruh pula terhadap pribadi-pribadi lain dalam keluarga. Kalau dalam keluarga ada seorang anggota bermasalah yang mempengaruhi pribadinya, maka seluruh interaksi akan terpengaruh dan kebahagian dalam keluarga juga mengalami hambatan (Gunarsa, 2001:210).

SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog