Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

22 Mei 2011

RAGAM BAHASA REMAJA DALAM NOVEL LUPUS KECIL “DIAM BELUM TENTU EMAS” (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

Pada bagian ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan fokus yang diangkat dalam penelitian ini. Uraian terdiri dari tiga bagian, yaitu ; (1) Uraian tentang variasi dan jenis bahasa dalam komunikasi yang meliputi; pengertian ragam atau variasi bahasa; faktor-faktor penentu variasi bahasa dilihat dari segi penutur; antara lain, (a) siapa yang menggunakan bahasa itu, (b) dimana tinggalnya (dialek geografi), (c) bagaimana kedudukannya dalam masyarakat, (d) apa jenis kelaminnya, dan (e) kapan bahasa itu digunakan; (2) dari pemakaiannya; (i) pemakaian secara khusus. Sedangkan ragam bahasa berdasarkan cirinya terdapat tiga; (a) ciri fonologi (b) ciri morfologi, dan (c) ciri kosa katanya. (3) Novel Lupus Kecil “Diam Belum Tentu Emas”.

2.1 Ragam Bahasa
Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan alat komunikasi yang disebut bahasa. Manusia mengadakan kerjasama, dan menjalin konteks sosial di masyarakat dengan bantuan bahasa. Bahasa dengan kehidupan manusia mempunyai hubungan yang erat, sehingga kehidupan manusia tidak terlepas dari bahasa. Semua kegiatan dan interaksi antar manusia mempunyai hubungan yang erat, sehingga kehidupan manusia tidak terlepas dari bahasa. Semua kegiatan dan interaksi antar manusia selalu melibatkan bahasa.
Manusia membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi. Keberadaan bahasa mutlat dibutuhkan manusia, karena dengan bantuan bahasa, manusia dapat berkomunikasi, kerjasama, dan menjalin kontak sosial di masyarakat. Keberadaan bahasa memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, memenuhi nalurinya selalu hidup bersama dengan manusia lain.
Bahasa sebagai alat komunikasi untuk anggota masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa hidup dalam masyarakat. Bahasa di dalam pertumbuhan dan perkembangannya, melahirkan variasi-variasi pemakaiannya di dalam masyarakat. Sama halnya dengan tidak adanya ma
Masyarakat yang seragam, demikian pula tidak ada bahasa yang seragam. Ketidakseragaman masyarakat menimbulkan adanya variasi-variasi bahasa. Dengan demikian, variasi bahasa merupakan cerminan adanya ketidakseragaman masyarakat pemakai bahasa serta adanya ketidakseragaman bahasa.
Timbulnya variasi bahasa selalu disebabkan oleh penutur yang tidak homogen, juga disebabkan oleh kebutuhan penuturnya dalam kegiatan interaksi sesuai dengan situasi dan fungsinya dalam konteks sosialnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Suwito (1983 : 29) yang menyatakan bahwa variasi bahasa adalah sejenis ragam bahasa yang pemakaiannya disesuaikan dengan fungsi dan situasinya.
Keragaman sosial ini lebih mengacu pada latar belakang penutur tersebut. Latar belakang penutur ini berkenaan dengan sifat-sifat khusus si penutur, misalnya status sosial, tingkat pendidikan, jenis kelamin, tingkat ekonomi, umur, dimana tinggalnya dan kapan bahasa itu digunakan. Sedangkan fungsi kegiatan lebih mengacu pada penggunaan variasi bahasa tersebut. Hal ini berarti, bahasa yang digunakan itu untuk apa dan keinginan apa yang hendak dicapai oleh penuturnya, dalam tuturannya, dalam bidang apa, apa jalur dan alat serta bagaimana situasi lingkungannya (Chaer dan Leonie A, 1995 : 82).
Bahasa selain sebagai alat komunikasi juga merupakan alat dan wujud kebudayaan Nababan (1984 : 38) menyatakan, seorang pelajar dan mengetahui kebudayaannya melalui bahasa, artinya manusia belajar hidup dalam masyarakat melalui bantuan bahasa. Kebudayaan merupakan keseluruhan kegiatan manusia. Samsuri (1991 : 5) berpendapat bahasa adalah alat kebudayaan tertentu, sehingga bahasa dapat mewakili kebudayaan tersebut. Kedua pendapat tersebut menunjukkan bahwa bahasa disamping sebagai alat komunikasi, juga sebagai alat kebudayaan yang menandai kehidupan sosial yang bersangkutan. Bahasa yang dimiliki dan dipahami oleh penutur membentuk masyarakat bahasa atau golongan sosial tertentu. Suwito (1983 : 3) mnyatakan bahasa tidak hanya sebagai gejala individu tetapi juga sebagai gejala sosial.
Variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan pemakai dan pemakaiannya.variasi menurut pemakai disebut dialek dan variasi bahasa menurut pemakaiannya disebut ragam.

2.1.1 Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur / Pemakai
Dalam pemakaian umum, istilah dialek biasanya dikaitkan dengan semacam bentuk isolek yang substandard dan bersetatus rendah. Konotasi negatif yang diberikan pada istilah dialek itu berkaitan dengan sudut pandang sosiolinguistik, yang menghitungkan penilaian penutur tentang keragaman isolek serta pemilihan sosial yang berkaitan dengan bahasa dan kelakuan berbahasa. Istilah tersebut sering dipertentangkan dengan istilah bahasa, yang merujuk pada isolek yang telah dibakukandan menjadi sumber rujukan penilaian isolek lain yang setingkat dengannya, tetapi belum dibakukan. Dengan kata lain dialek merupakan penilaian hasil perbandingan dengan salah satu isolek lainnya yang dianggap lebih unggul Steinhauer (dalam Effendy, 1991 : 4-5).
Di dalam suatu masyarakat bahasa, terdapat sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang berbeda dengan kelompok lainnya. Bahasa dari kelompok orang itu memperlihatkan keteraturan yang sistematis dan membentuk suatu dialek (Alwasilah, 1985 : 47). Dengan demikian, dapat dikatakan dialek merupakan variasi bahasa yang disebabkan latar belakang asal pemakai bahasa yang berbeda. Di dalam dialek itu terdapat variasi yaitu dialek, dan dialek sosial atau sosiolek.
Dialek adalah yang disebabkan oleh daerah asal yang berbeda. Setiap kelompok masyarakat dari daerah tertentu mempunyai ciri ujaran yang berbeda dengan daerah lain. Kelompok masyarakat dari daerah kota Metropolitan berbeda dengan kelompok masyarakat yang dari daerah kota lainnya dalam pemakaian bahasa itu, timbul dialek Jakarta.
Dialek sosial disebabkan oleh perbedaan latar belakang status sosial. Hal ini dapat dipandang dari berbagai sudut antara lain : berdasarkan usia, jenis kelamin, dan suku.
Ragam bahasa yang ditandai oleh keseluruhan ciri khas kedaerahan itu disebut dialek atau lebih lengkapnya dialek kedaerahan atau dialek geografi atau dialek horizontal (Marsoedi, 1983 : 77).
Dialek merupakan variasi bahasa, maka dialek adalah variasi bahasa dari kelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat wilayah, atau area tertentu. Dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional atau dialek geografis (Chaer dan Leoni, 1995 : 85).
Bentuk bahasa Jakarta yang dipergunakan oleh penutur asli daerah Jakarta dan sekitarnya, berbeda dengan bentuk bahasa Jakarta yang dipergunakan oleh penutur asli daerah Jakarta. Perbedaan itu tampak, misalnya pada pemakaian gejala bunyi tertentu, kata-kata tertentu, dan sebagainya.
Jadi dialek adalah ragam bahasa yang ditandai oleh keseluruhan ciri kedaerahan yang digunakan penuturnya dalam berkomunikasi dan berinteraksi sehari-hari.
Terjadinya dialek ditinjau secara kasar, dialek itu dapat dianggap sebagai “pecahan” suatu bahasa. Pengertian “pecah” di sini adalah bahwa terdapat perbedaan “bentuk” antara dialek dan bahasa “induk”. Proses “pecahan” itu secara teoritis dapat digambarkan sebagai berikut : mula-mula hanya ada satu bahasa (B), kemudian “pecah-pecah” misalnya menjadi D1, D2, D3, dst. Dan B itu sendiri sekarang menjadi DO. Sebab-sebab terjadi perpecahan itu diantaranya :
a. B merupakan bahasa yang dipakai oleh penduduk yang besar jumlahnya dan menempati daerah yang amat luas, sedangkan daerah-daerah itu terpecah oleh batas-batas alam yang sulit ditempuh, misalnya gunung, hutan, sungai, dll.
b. Daerah yang luas, tempat dipergunakan B itu, terpecah-pecah oleh kekuasaan negara yang berbeda, sehingga penduduknya tidak dapat saling berkomunikasi
c. Sebagai daerah tempat dipakainya B itu, berdekatan dengan daerah yang menggunakan bahasa yang berbeda, sehingga terjadi saling pengaruhi. Dengan demikian bagian B itu menjadi berbeda dari B.
d. Sebagian dari pemakai B berpindah ke daerah lain (Emigran dan Trasmuigrasi) sehingga di tempat baru itu bahasa mereka lambat laun berubah (Marsoedi, 1983 : 78).

2.1.2 Ragam Bahasa Berdasarkan Pemakaiannya
Bahasa dipakai sebagai alat komunikasi oleh anggota masyarakat. Pertumbuhan dan perkembagan bahasa melahirkan variasi-variasi bahasa. Variasi bahasa yang ada dalam masyarakat merupakan kenyataan yang wajar, karena sttatus sosial yang ada dalam masyarakat tidak sama. Oleh karena itu, timbullah variasi bahasa menunjukkan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat bahasa.
Variasi bahasa merupakan ragam bahasa, dan pemakaiannya bergantung pada situasi dan kondisi penutur. Suwito (1983 : 29) menyatakan bahwa variasi adalah sejenis ragam yang pemakaiannya disesuaikan dengan situasi dan fungsi bahasa, tanpa mengabaikan kaidah pokok yang berbeda dalam bahasa yang bersangkutan.
Pemakaian bahasa di dalam masyarakat tidak seragam. Ketidakseragaman pemakaian bahasa menimbulkan variasi bahasa. Berbagai variasi bahasa menunjukkan pemakaian bahasa yang beranekaragam. Suwito (1983 : 148) menyatakan bahwa ragam bahasa adalah istilah dipergunakan untuk menunjukkan salah satu dari berbagai macam variasi yang terdapat dalam pemakaiannya. Variasi bahasa yang ada dalam masyarakat bermacam-macam. Kridalaksana (1993 : 84) menyatakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut topik yang dibicarakan menurut hubungan pembicara, lawan bicara dan orang-orang yang dibicarakan, serta menurut medium pemakaian. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian penggunaan bahasa yang tepat yaitu penggunaan bahasa yang sesuai dengan fungsi dan situasi pembicara.
Berkaitan dengan macam ragam bahasa, Poerwadarmata (dalam Marsoedi, 1979 : 16) menyatakan macam-macam ragam bahasa secara kasar terdiri dari ragam bahasa umum dan ragam bahasa khusus. Ragam bahasa khusus dibedakan menjadi bahasa ringkas dan ragam bahasa sastra, sedangkan ragam bahasa ringkas terdiri atas ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa ilmiah dan ragam bahasa jabatan.
Ragam bahasa umum adalah ragam bahasa yang tidak memiliki sifat-sifat yang istimewa. Poerwadarmata (1979 : 18) menyatakan ragam bahasa umum dipakai dalam karang mengarang umum, cerita biasa (bukan kesusastraan), surat menyurat umum, berpidato (berceramah) yang bersifat umum.
Ragam bahasa khusus merupakan bahasa tertentu yang memiliki ciri-ciri tertentu dan ciri-ciri tersebut tidak terdapat dalam bahasa umum. Misalnya, bahasa dalam kitab UU hukum pidana, bahasa sajak yang menggunakan ragam bahasa khusus. Poerwadarmata (1979 : 16) menyatakan bahwa ciri-ciri ragam bahasa khusus ditandai dengan pemakaian kata-kata, cara-cara penuturan, dan ungkapan-ungkapan khusus. Ragam bahasa khusus dibedakan atas da macam, yaitu ragam bahasa sastra dan ragam bahasa ringkas.
Ragam bahasa sastra adalah ragam yang digunakan untuk menyampaikan emosi atau perasaan dan pikiran, fantasi dan lukisan angan-angan, penghayatan lahir batin dan peristiwa.
Ragam bahasa ringkas mempunyai sifat padat, berisi, obyektif,dan bersifat memberitahukan. Ragam bahasa ringkas dibedakan menjadi tiga macam ragam, yaitu ragam jurnalistik, ragam ilmiah, dan ragam jabatan.
Ragam jurnalistik ditujukan kepada umum, tidak dibedakan tingkat kedudukan, kecerdasan, pengetahuan. Bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata biasa yang bersifat umum danmudah dikenal.
Ragam bahasa adalah ragam bahasa ringkas yang digunakan dalam pembicaraan ilmiah dan keahlian yang semata-mata ditujukan kepada lingkungan tertentu atau peminat ilmiah. Dengan demikian ragam bahasa ilmiah merupakan cermin pikiran yang dipaparkan dengan menggunakan gaya formal atau gaya resmi (baku) yang mempunyai ciri-ciri tertib, benar, cermar, lengkap sehingga perananya lebih mantap dan berbobot.
Ragam jabatan merupakan ragam bahasa ringkas yang pemakaiannya disesuaikan dengan kegiata dalam urusan atau pekerjaan. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan instansi seperti pemerintah, perusahaan, perniagaan, perundang-undangan sesuai dengan lingkungan masing-masing, menghasilkan ragam bahasa jabatan. Setiap ragam bahasa jabatan memiliki keistimewaan sendiri-sendiri, misalnya ragam kemiliteran bersifat singkat, tegas dan kuat.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa bahasa mempunyai banyak variasi. Masing-masing variasi mempunyai ciri yang berbeda, sehingga dalam pemakaiannya, variasi yang satu tidak dapat menggantikan kedudukan variasi yang lain. Dengan demikian variasi bahasa adalah cermin ketidakseragaman bahasa.

2.2 Ciri Ragam Bahasa Remaja
Ragam bahasa remaja merupakan dialek sosial yang dipakai oleh sekelompok masyarakat yang disebut remaja. Ragam bahasa remaja juga termasuk ragam tidak resmi (non formal) karena pemakaian ragam tersebut biasanya dalam situasi tidak resmi dan santai. Ragam bahasa muncul sebagai akibat adanya suatu usaha dari remaja untuk mencari identitas dirinya.
Remaja adalah anggota masyarakat yang sedang mengalami masa transisi, yaitu masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini remaja tidak dapat dikatakan sebagai anak-anak lagi, tetapi di pihak lain mereka juga belum bisa dikatakan sebagai orang dewasa. Remaja dalam perkembangannya ditandai oleh mulai tercapainya kematangan jasmani dan mental atau kejiwaan. Dalam perkembangan mentalnya, berbagai perasaan dan hasrat timbul pada diri remaja yang disebabkan hal-hal baru yang berlainan dengan hal-hal yang pernah dialaminya. Dalam perkembangan sosialnya, remaja cenderung membentuk kelompok sendiri berdasarkan persamaan-persamaan yang dimiliki. Diantara para remaja dapat terjalin ikatan perasaan yang sangat kuat. Dalam jalinan yang sangat kuat itu terbentuk norma, nilai dan simbol tersendiri. Pada umumnya, para remaja dalam menentukan jati dirinya atau untuk membedakan dengan kelompok lain, mereka menciptakan istilah-istilah khusus atau bahasa yang khas yang bersifat rahasia (Mappiare, 1982 : 166).
Pei dan Gaynor (dalam Alwasilah, 1989 : 56) menyatakan suatu bentuk bahasa yang dibuat dengan adaptasi yang populer dan pengulasan makna dari kata baru tanpa memperhatikan standart skolatik dan kaidah-kaidah linguistik dalam pembentukan kata, pada umumnya terbatas pada kelompok-kelompok sosial atau kelompok usia tertentu.
Slang sebagai bahasa rahasi yang dipakai oleh sekelompok remaja tertentu, tetapi semakin populer dan tumbuh sebagai bahasa informal karena banyak remaja yang juga belajar bahasa rahasia ini. jadi fungsi slang tidak hanya sebagai bahasa rahasia, tetapi juga tumbuh sebagai identitas remaja, sebab disamping rahasia juga menimbulkan kesan aneh, sehingga orang-orang yang tidak menjadi anggota kelompok tersebut tidak mengerti. Contoh ; rokun yang mempunyai arti rumah (Rahardja, 1990 : 981) dan bokap yang mempunyai arti bapak (Rahardja, 1990 : 46).
Kosa kata pada bahasa remaja tidak dibentuk menurut kaidah bahasa Indonesia, melainkan afiks-afiks dialek tertentu. Afiksasi dengan awalan me- seringkali diubah hanya menggunakan sengaunya saja, misalnya nunggu, muncak, make, ngirim, dan nanya. Menurut ragam baku seharusnya menunggu, memuncak, memakai dan menanyakan (Chaer, 1993 : 108). Begitu pula dengan akhiran –kan dan akhiran –i yang dalam bahasa Indonesia baku banyak digunakan, maka dalam bahasa remaja kedua akhiran ini sangat jarang digunakan. Yang digunakan justru akhiran –in, yang memang bisa menampung makna akhiran –kan dan –in, dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ngantongin untuk mengantongi, didengerin untuk didengarkan, menginformasiin untuk menginformasikan, dan nangisin untuk menangisi (Chaer, 1993 : 109). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri umum bentuk kata pada bahasa remaja adalah cara pembentukan katanya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang berlaku.
Setiap variasi bahasa mempunyai ciri-ciri yang khas dalam pemakaiannya. Ciri-ciri yang khas diketahui melalui ciri fonologi, morfologi, ciri sematik, ciri kosa kata. Ciri fonologi menyangkut segi bahasa, baik ciri-cirinya maupun fungsinya dalam suatu bahasa. Ciri morfologi merupakan proses kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 1983 : 44). Ciri sematik adalah bagian kata bahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari suatu kata (keraf, 1969 : 129). Ciri leksikal adalah ciri yang bersangkutan dengan kata-kata yang berupa (1). Komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa (2). Kekayaan kata yang dimiliki sebagai pembicara, penulis, atau suatu bahasa ; kosa kata, pembendaharaan kata (3). Daftar kata yang disusun seperti kamus tetapi dapat penjelasan singkat dan praktis (Kridalaksana,1984 : 144). Adanya ciri-ciri khas tersebut pemakaian variasi bahasa yang satu tidak dapat menggantikan variasi bahasa yang lain. Dalam skripsi ini ragam bahasa remaja ditandai oleh ciri fonologi, ciri morfologi, dan ciri kosa katanya. Masing-masing diuraikan sebagai berikut :

2.2.1 Ciri Fonologi
2.2.1.1 Pengantar
Telaah aspek fonologi pada dasarnya telaah aspek bunyi bahasa seperti halnya orang berbicara, entah pidato atau bercakap-cakap, maka kita dengar runtutan bunyi bahasa yang terus menerus, kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang pula suara memanjang dan suara biasa. Namaun para penelaah aspek bunyi perwujudannya pada telaah huruf fonetik suku kata. Dalam tulisan fonetik, setiap bunyi, baik yang sekmental maupun yang supra sekmental, dilambangkan secara akurat, artinya setiap bunyi mempunyai lambangnya sendiri, meskipun perbedaanya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif saja, yakni yang membedakan makna, yang dipebedakan lambangnya. Bunyi-bunyi yang mirip tetapi tidak membedakan makna kata tidak diberdakan lambangnya. Selain tulisan fonetik dan tulisan fonemik, ada juga tulisan otografi. Tulisan otografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa. Pada telaah ini beracuan pada ciri fonologi yang bernama otografi yaitu sistem ejaan secara fonemis.
Fonologi merupakan salah satu cabang tata bahasa. Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Budiman, 1987 : 14). Disamping itu Verhar (1987 : 36) mengatakan bahwa fonologi adalah bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi dalam suatu bahasa tertentu, yang menurut fungsinya utuk membedakan makna kosa kata dalam bahasa tertentu. Salah satu aspek di dalamnya adalah masalah distribusi fonem.
Tidak dapat dipungkiri kebutuhan manusia untuk berkomunikasi, semakin kompleks seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia. Kenyataan demikian menempatkan bahasa sebagai alat komunikasi manusia pada posisi yang penting. Agar komunikasi itu terjadi dengan baik, kedua belah pihak memerlukan bahasa yang dipahami bersama. Dapat dikatakan bahwa bunyi bahasa itu sebagai alat pelaksana bahasa.
Pendapat lain menyatakan bahwa di dalam penyelidikan bunyi-bunyi bahasa itu banyak ragamnya. Bunyi-bunyi tersebut diklasifikasikan ke dalam klasifikasi tertentu. Ilmu yang mempelajari seluk beluk bunyi bahasa serta merumuskan secara teratur dan sistematis tersebut dinamakan fonologi. Fonologi dapat dipecah menjadi fhone yang berarti bunyi dan logos berarti ilmu (Yulianto, 1987 : 1).
Di dalam skripsi ini ciri fonologi menyangkut segi bunyi bahasa, baik ciri-cirinya maupun fungsinya dalam suatu bahasa. Ciri fonologi ragam bahasa remaja cenderung memiliki ciri fonologi dialek Jakarta. Dalam penelitian ini ciri tersebut ditandai dengan adanya pelemahan fonem, monoftongisasi, aferesis, dan sinkop, yang semuanya tidak menyebabkan perubahan arti kata.

2.2.1.1 Pelemahan Fonem
Pelemahan fonem dalam ucapan sering terdengar bunyi vokal tertentu dilemahkan (Yulianto, 1998:73). Vokal yang mengalami pelemahan antara lain :
a. Pelemahan Fonem /a/ menjadi /e/
Contoh : pinta menjadi pinter
Injak injek

2.2.1.2 Monoftongisasi
Monoftongisasi adalah proses perubahan dari sebuah difftong menjadi sebuah monoftong (Kridalaksana, 1984 : 127). Dalam pengucapan sering terdengar diftong /aw/ dan diftong /ay/. Monoftongisasi ini terdiri atas :
a. Diftong /ay/ menjadi /e/
Contoh : Santai menjadi sante
Damai dame
b. Diftong /aw/ menjadi /o/
Contoh : Persaudaraan menjadi persodaraan
Danau dano


2.2.1.3 Aferesis dan Sinkop
Bentuk kata aferesis banyak kita jumpai di dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Penggunaan kata aferesis dalam percakapan menunjukkan bahwa antara pembicara atau penutur dengan lawan bicara mempunyai hubungan akrab. Pengertian bentuk itu sendiri adalah penanggalan bunyi-bunyi tertentu dalam penngucapan, Jones (dalam Yulianto, 1989 : 72). Contoh kata hilang berubah menjadi ilang. Perubahan kata-kata tersebut tidak menyebabka perubahan arti melainkan untuk memberikan kesan akrab dan santai. Sinkop adalah proses penanggalan satu fonem atau lebih ditengah-tengah sebuah kata (Keraf, 1991 : 171). Contoh bohong menjadi boong. Perubahan kata-kata tersebut tidak menyebabkan perubahan arti melainkan untuk memberikan kesan akrab dan santai.
2.2.2 Ciri Morfologi
2.2.2.1 Pengertian
Morfologi adalah ilmu yang membicarakan morfem yaitu bagaimana kata dibentuk dari morfem-morfem. Jadi, morfologi berkaitan dengan struktur dalam kata. Sintaksis ialah ilmu yang membicarakan hubungan kata. Hubungan kata dapat menimbulkan frase atau kalimat. Apabila proses pembentukan masih terbatas pada kata. Maka proses itu belum keluar. Misal : putus diberi imbuhan me– dan –kan memutuskan. Baik unsur putus me- ataupun unsur –kan, semuanya disebut morfem. Morfem adalah bentuk bahasa yang terkecil yang tidak dapat lagi dibagi menjadi bagian-bagian terkecil misal : putus dibagi menjadi pu dan tus, bagian-bagian itu tidak lagi disebut morfem karena tidak mempunyai makna baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Demikian juga me- dan –kan tak dapat kita bagi menjadi bagian yang lebih kecil.
Ciri morfologi mencakup soal bentuk dan pembentukan kata. Menurut Ramlan, proses morfologi adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (1983 : 44). Proses morfologis menyangkut reduplikasi, pemajemukan dan afiksasi. Dalam skripsi ini, pembahasan ciri morfologis menyangkut afiksasi.

2.2.2.2 Afiksasi
Afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan membubuhkan imbuhan yang disebut afiks (Ramlan, 1983 : 45). Afiksasi ragam bahasa remaja cendrung memakai afiksasi dialek Jakarta, meliputi sebagai berikut :
A. Afiksasi prefiks nasal (N) pada sebuah kata yang direalisasikan dalam bentuk /m/n/ng/ serta /ny/ bergabung pada fonem awal yang dilekati. Prefiks nasal (N) sepadan dengan prefiks (me-) pada bahasa Indonesia.
Contoh : (N) tolak menjadi nolak
Ikut ngikut
Lihat ngelihat
B. Afiksasi sufiks (-in) pada sebuah kata. Sufiks (-in) berpadanan dengan sufiks (-i) dan (-kan) pada bahasa Indonesia
Contoh : denger + (-in) menjadi dengerin
Marah marahin
C. Afiksasi sufiks (-an) pada sebuah kata
Contoh : Males + (an) menjadi malasan
Gede gedean
Mahal mahalan
D. Afiksasi (di-in) pada sebuah kata. Afiks gabungan (di-in) berpadanan dengan afiks gabungan (di-kan) dan (di-in) pada bahasa Indonesia.
Contoh : (di-in) + kata menjadi katain
Bujuk bujukin

2.2.3 Kosa Kata
2.2.3.1 Pengertian Kosa Kata
Istilah kosa kata atau pembendaharaan kata Soedjito (1992 :1) dapat diartikan sebagai (1) semua kata yang terdapat dalam satu bahasa ; (2) kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara atau penulis ; (3) kata yang dipakai dalam suatu bidang ilmu pengetahuan ; dan (4) daftar kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan secara singkat dan praktis.
Lebih jauh dijelaskan bahwa kosa kata dapat dibedakan menjadi kosa kata aktif, yakni kosa kata yangsering dipakai dalam berbicara atau menulis dan kosa kata pasif yaitu kosa kata yang jarang atau tidak pernah dipakai (Soedjito, 1992 : 1), hanya saja sesuai dengan sifat bahasa yang dinamis, kosa kata suatu bahasa dapat selalu berubah.
Namun berbeda halnya dengan kosa kata dasar atau “basic” vocabulary menurut Tarigan adalah kata-kata yang tidak mudah berubah atau sedikit sekali kemungkinannya dipungut dari bahasa lain. Yang kosa kata dasar ini, antara lain :
(1) istilah kekerabatan; misalnya : ayah, ibu, anak, adik, kakak, dan sebagainya. (2) nama-nama bagian tubuh ; misalnya : kepala, tangan, kaki, dan sebagainya. (3) kata ganti (diri, penunjuk) ; saya, kamu, kami dan sebagainya. (4) kata bilangan pokok ; misalnya : satu, dua, tiga, dan sebagainya. (5) kata kerja pokok; misalnya : makan, minum, tidur dan sebagainya. (6) kata keadaan pokok ; misalnya : suka, duka, dan sebagainya. Dan (7) benda-benda universal; misalnya : tanah, air, api, dan sebagainya.
Oleh karena itu Tarigan (1985: 2) menyatakan bahwa kualitas keterampilan bahasa seseorang jelas tergantung kepada kuantitas dan kualitas kosa kata yang dimilikinya. Semakin kata kosa kata yang dimiliki seseorang, tentu akan semakin besar pula kemungkinan dirinya terampil berbahasa.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengertian kosa kata adalah segala pembendaharaan kata yang dimiliki suatu bahasa dan dikuasai oleh penutur bahasa dalam berkomunikasi. Dalam hal ini bahasa yang dimaksud adalah bahasa Indonesia.

2.2.3.2 Penggolongan Kata
Penggolongan kata dalam bahasa Indonesia terdiri dari bermacam-macam bergantung pada sudut pandang atau tinjauan yang berbeda dari masing-masing ahli. Soedjito (1992 : 34) menyatakan bahwa kaitannya dengan diksi atau pilihan kata, kosa kata bahasa Indonesia dapat digolongkan menjadi (1) kata abstrak dan kata kongkrit, (2) kata umum dan kata khusus, (3) kata baku dan kata non baku, (4) kata kajian dan kata popular, (5) kata asli dan kata sapaan.
Berikut ini akan diuraikan salah satu golongan kata sebagai landasan dalam pembahasan pada masalah yang sudah ditentukan sebelumnya. Dalam hal ini golongan kata yang akan diuraikan adalah kata asli dan kata serapan. Khususnya lagi diarahkan pada kata serapan.
1) Kata Serapan Bahasa Asing
Kata serapan adalah kata yang berasal (diserap) dari bahasa asing atau daerah Soedjito (1990 :47). Bahasa Indonesia banyak memungut unsur-unsur dari bahasa asing. Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup dan sistemnya pun menjadi terbuka, sehingga berubah-ubah menurut perkembangan jaman. Sebagai negara yang multilingual, dikatakan demikia keadaan kebahasaan di Indonesia menunjukkan, bahwa beratus-ratus bahasa dipakai sebagai alat komunikasi. Masyarakat Indonesia boleh dikatakan tidak hanya memakai sebuah bahasa saja, melainkan paling sedikit dua bahasa, yaitu bahasa ibu dan bahasa nasionalnya. Disamping itu, tidak mungkin kita sebagai bangsa Indonesia mudah mengisolasi diri sendiri terlebih-lebih letak geografis tanah air kita pada posisi silang, sehingga mau tidak mau kita akan menganut bahasa asing.
Melihat keadaan demikian, tampaklah bagi para pemakai bahasa di Indonesia bahwa bahasa Indonesia adalah tempat atau lokasi persentuhan, tidak hanya antara bahasa ibu dengan bahasa nasionalnya melainkan juga dengan bahasa asing. Maksudnya pemakai bahasa Indonesia disamping menguasai bahasa ibu, juga menguasai bahasa nasional dan bahasa asing, khususnya bagi mereka yang berpendidikan. Sesuai dengan pendapat Samsuri (1980 :55) yang menyatakan, pada umumnya pemakai bahasa di Indonesia telah menguasai bahasa ibu, sebelum mereka menguasai bahasa Indonesia. Ada juga pemakai bahasa Indonesia yang langsung menguasai bahasa Indonesia sejak kecil, tetapi jika diperhatikan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing, urutan terbaik adalah bahwa Indonesia dulu baru disusul dengan bahasa asing.
Pengertian bahasa asing menurut Giri Kartono (1980 : 119) semua bahasa kecuali bahasa Indonesia dan bahasa daerah, melainkan juga unsur bahasa asing, salah satu diantaranya adalah bahasa Inggris. Contoh ; shooting, show, leatflet, affair, insert tune in, you, background, game, thanks.
2) Bahasa Serapan Bahasa Daerah
Bahasa daerah merupakan bahasa yang digunakan olh masyarakat yang menempati suatu daerah tertentu. Pemakaian kosa kata bahasa daerah dalam suatu karya sastra dimaksudkan untuk menimbulkan kesan akrab dan menarik perhatian. Wilayah Jakarta sebagai Ibukota negara yang terdiri dari atas penduduk yang multietnik, yang memungkinkan dipakainya bermacam-macam bahasa daerah.
Kridalaksana (1993 : 22) menyatakan, bahasa daerah digunakan penduduk asli suatu daerah dalam wilayah multilingual. Wilayah multilingual yaitu suatu daerah atau wilayah yang memakai lebih dari satu bahasa. Nababan (1984 : 40) berpendapat bahwa bahasa daerah disebut juga bahasa kelompok yang lebih kecil dari suatu bangsa, misalnya sebagai lambang identitas dan alat pelaksanaan kebudayaan kelompok.
Bahasa daerah mempunyai fungsi yang sangat penting untuk mendudung perkembangan dan kelestarian kebudayaan, karena bahasa daerah merupakan bagian dari kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah merupakan unsur kebudayaa harus dipelihara dan dilestarikan. Pemakaian kosa kata atau kata-kata bahasa daerah dalam novel “Lupus”, terutama bahasa Jawa dimaksudkan untuk menciptakan suasana persahabatan yang akrab, menarik perhatian dan memberi kesan suasana santai atau non formal. Contoh : mumet yang mempunyai arti pusing (Prawiroatmojo, 1981 :384). Pemakaian kosa kata bahasa Jawa dimaksudkan untuk memberikan suasana akrab, santai, dan menarik perhatian.

2.3 Novel Lupus
2.3.1 Pengertian Novel
Novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa. Disamping istilah novel, di Indonesia dikenal pula istilah roman. Pengertian roman menurut Van Leeuwen (dalam Jasin, 1965 : 70) adalah cerita prosa yang melukiskan pengalaman-pengalaman batin dan lahir dari beberapa orang yang berhubungan satu sama lain dalam suatu keadaan. Sedangkan pengertian novel menurut Van Leeuwen merupakan suatu cerita bermain dalam dunia manusia dan benda yang ada di sekitar kita. Ia menambahkan bahwa roman lebih banyak hendak melukiskan seluruh hidup pelaku-pelaku, mendalami sifat-sifat watak mereka dan melukiskan sekalis tempat mereka hidup, sedan novel tidak mendalam, lebih banyak melukiskan satu saat dari kehidupan seseorang, lebih mengenai episode.”
Pengertian roman dan novel yang dikemukakan di atas, secara sepintas berbeda. Tetapi menurut Jasin (1965 : 72-73), dalam dua hal tersebut di atas batas-batas antara roman dan novel mungkin mengabur. Misalnya sifat “dari ayunan hingga ke kubur” tidak satu-satunya sifat bagi roman. Keterangan “tidak mendalam” bagi novel tidak boleh dianggap sebagai ukuran yang tidak bias ditawar lagi, karena novel dalam perkembangannya menemui pengarang-pengarang yang memberikan pendalaman analisa jiwa padanya. Berpegang pada sifat “episode” ada pula novel yang panjangnya beratus-ratus halaman, hingga orang lebih cendrung menyebutnya roman.
Kekaburan pengertian novel dan roman yang masuk ke Indonesia tersebut juga ditegaskan oleh Nurgiantoro (2000 : 15), sehingga cendrung menyamakan istilah novel dan roman. Menurut Nurgiantoro, istilah roman, novel, cerpen, dan fiksi memang bukan asli Indonesia, sehingga tidak ada pengetian yang khas Indonesia. Untuk mempermudah persoalan, disamping pertimbangan bahwa pada kesusastraan Inggris dan Amerika. (sumber utama literature kesusastraan Indonesia), cendrung menyamakan istilah novel dan roman (2000 : 16). Retnaningsih (1984 :14), mempertegaskan bahwa “pada waktu sekarang ini istilah “roman” dan “novel” dalam kesusastraan Indonesia sering dipersamakan saja”.
Di lihat dari asal bahasanya kedua istilah tersebut berbeda, tetapi menurut Sumarjo istilah roman dan novel itu sama saja, seperti kutipan berikut :
Istilah novel sama dengan istilah roman. Kata novel berasal dari bahasa Italia yang kemudian berkembang di Inggris dan Amerika. Sedangkan istilah roman berasal dari genre sastra romance dalam abad pertengahan yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan. Istilah roman berkembang di Jerman, Belanda, Perancis, dan bagian-bagian Eropa daratan lain. Berdasarkan asal usul istilah tadi memang ada sedikit perbedaan antara novel dan roman yakni bahwa novel lebih pendek dibanding dengan roman, tetapi ukuran luasnya unsur ceritanya hampir sama” (1986 : 26).
Dari pendapat di atas peneliti cendrung untuk tidak membedakan antara pengertian roman dengan novel, karena banyak pakar yang menyamakan atau tidak membedakan kedua pengertian tersebut. Dengan demikian dalam penelitian ini kedua istilah tersebut akan digunakan.

2.3.2 Novel Lupus
Novel Lupus diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (1986). Adapun novel seri Lupus ini terbagi 3 (tiga). Yaitu:
1) Seri Lupus
a) Tangkaplah Daku, kau kujitak (1986)
b) Cinta olimpiade, Mahluk manis dalam bis, Tragedy senemata (1987).
c) Topi-topi centil, Bangun dong, Lupus (1988)
d) Sandal jepit (1989)
e) Ih, syereeem!, Idiiih, udah gede! (1990)
f) Drakuli kuper (1992)
g) Lupus’n work (1994)
h) Interview with the nyamuk, Yang paling oke (1995)
i) Cowok matre (1996)
j) Mission: Muke tebel, Gone with the gossip (1997)
k) The lost boy: salah culik, Kutukan bintik mirah, krismon(1998),
l) Sereeem, Boys Don’t Cry (1999)
m) Bunga Untuk Popi, candlelight Dinner (2000)
n) Boneka di Taman Sekolah (2001)
o) Bete (Lupus Milenia 2), PDKT (Lupus Melenia 3), (2002)

2) Lupus Kecil

a) Lupus Kecil (1989)
b) Sunatan Masal (1990)
c) JJS: Jalan-Jalan Seram (1991)
d) Rumpi Kala Hujan (1992)
e) Sakit, lah, Dekh, Donk, Weew! (1993)
f) Duit Lebaran, Bolos (1994)
g) Terserang si Ehem, Guruku Manis Sekali (1998)
h) Kucing Asuh Bernama Mulan (1999)
i) Repot….Repot …Repot..! (2000)
j) Iiiih, Takuuut! (2001)
k) Diam Belum Tentu Emas (2003)

3) Lupus ABG

a) Lupus ABG, Jadi Lupa Sama Yang Lain, Cinta Lupus (1995)
b) Ringan Sama Dijinjing, Berat Sama Difficul (1996)
c) Bohong Itu Nyontek (1997)
d) Simalakama (1998)
e) Sur…Sur…Surprise, Telepon Umum & Kecoak Nungging (1999)
f) Cemburu Berdarah Dingin (2000)
g) Berantem Gaya Baru (2002)

Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog