Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

22 Mei 2011

Contoh Skripsi Sastra Kajian Pustaka

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan kajian teoritis yang diolah dari berbagai konsep dalam berbagai rujukan yang berhubungan dengan uraian fikiran gagasan dan pandangan yang dianggap mendukung dan relevan dengan penelitian ini. Hal ini dilakukan agar hasil penelitian yang akan diuraiakan dalam bab IV diperoleh hasil yang memadai dari data yang dikaji. Bab ini akan menyajikan uraian dan bahasan mengenai; 1). Pengertian puisi, 2). Unsur-unsur pembangun puisi, 3). Kumpulan puisi Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah, dan 4). Biografi pengarang.

2.1  Pengertian Puisi

Karya sastra terdiri dari tiga jenis, yaitu prosa, puisi dan drama. Prosa sering didefinisikan sebagai karangan yang bebas, sedangkan puisi merupakan karangan yang terikat, yaitu terikat oleh rima, ritma, bait, baris dalam bait, dll. Sedangkan drama merupakan bentuk seni yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan menusia melalui gerak atau action dan percakapan atau dialog.
Definisi puisi sulit diberikan. Untuk memahami puisi biasanya diberikan ciri-iri  karakteristik puisi dan unsur-unsur yang membedakan puisi dengan karya sastra yang lainnya.  Bentuk fisiknya saja, puisi sudah menunjukkan perbedaan dari prosa dan drama, dan dari batinnya pun puisi juga berbeda dengan prosa dan drama.
Tentu kita sudah sering mendengar kata puisi, bahkan lebih dari itu tentu kita sudah pernah membaca dan mempelajari puisi, tetapi kadang-kadang kita menemukan kesulitan ketika kita diminta untuk menjelaskan pengertian puisi, hal ini disebabkan karena puisi banyak ragamnya. Aminuddun (1995: 134-135) menyebutkan, puisi dibedakan menjadi 10 ragam, yaitu; 1). puisi epik, 2). Puisi naratif, 3). Puisi lirik, 4). Puisi dramatik, 5). Puisi didaktik, 6). Puisi satirik, 7). Romance, 8). Elegi, 9). Ode, dan 10). Himne.
Ketika kita merumuskan pengertian puisi, kadang-kadang cocok dengan salah satu ragam puisi di atas tetapi sekaligus berseberangan dengan ragam yang lain. Namun hal itu bukanlah suatu persoalan atau masalah yang perlu diangkat ke permukaan untuk dijadikan perdebatan hangat, yang terpenting yaitu bagaimana kita mampu memahami dan menghayati puisi yang kita baca, sehingga puisi tidak dipandang sebagai bahasa yang indah semata. Sebagai pengenalan kepada pembaca, di bawah ini disajikan beberapa definisi puisi secara umum yang diungkapkan oleh beberapa orang pakar, maksudnya pengertian tersebut tidak mengarah pada spisifikasi sebuah puisi.
Secara etimologis, Tjahjono (1988: 50) menjabarkan pengertian puisi sebagai berikut:
“…… kata puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berati membuat, poeisis yang berarti pembuatan, atau poeites yang berarti pembuat, pembagun, atau pembentuk. Di Inggris puisi itu disebut poem atau poetry, yang artinya tidak jauh beda dengan to make atau to create, sehingga pernah lama sekali di Inggris puisi disebut maker”.

Berdasarkan makna harfiah ini, setiap sesuatu yang masuk katagori proses penciptaan dapat disebut puisi, tetapi tidak demikian dengan puisi yang sudah kita kenal, pengertian puisi sudah dipersempit lagi ruang lingkupnya menjadi “karya sastra yang disusun berdasarkan struktur-struktur pembagunnya. Jadi secara etimologis di atas, puisi diartikan sebagai pembangun, pembentuk, pembuat, karena memang pada dasarnya dengan mencipta sebuah puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat, atau membentuk sebuah dunia baru (puisi), baik secara lahir maupun batin.
Mengenai puisi ini dalam Ensiklopedi Indonesia (dalam Tarigan, 1984: 4) dinyatakan, kata puisi berasal dari Bahasa Yunani poiesis yang berarti penciptaan, tetapi arti yang semula ini lama kelamaan makin dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan.
Dalam Bahasa Inggris padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat hubungannya dengan –poet dan kata –poem. Mengenai poet ini Coulter (dalam Tarigan, 1984: 4) memberi penjelasan sebagai berikut:
“Kata poet berasal dari bahasa Yunani yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang-orang yang hampir menyerupai dewa, atau orang yang sangat suka akan dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembuyi”.

Keterangan di atas mengarah pada pengertian secara etimologis belaka, untuk memahaminya secara komprehensif perlu penjelasan-penjelasan pakar lain sebagai penunjang pendapat tersebut.
Aminuddin (1995: 134) menyatakan; “… Puisi diartikan ‘membuat’ dan pembuatan’ karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batin”. Aminuddin memberikan penjelasan sebagai berikut:
“Dengan mengutip pendapat McCaulay, Hudson mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Rumusan pengertian puisi di atas sementara ini dapatlah kita terima karena kita seringkali diajuk oleh suatu ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca suatu puisi (1995: 134).

Pradopo agak berbeda dengan para pakar yang lain. Dia dengan gamblang memberikan perbedaan yang tipis antara prosa dan puisi, yaitu dari kadar kepadatan atau tidaknya suatu sastra. Jika sastra itu padat, maka sastra itu disebut puisi dan bila tidak disebut prosa. Pendapat ini bukan tanpa alasan yang kuat, Pradopo memandang secara kenyataan,  puisi, khususnya puisi modern hampir tidak ada bedanya dengan prosa, kecuali hal yang disebutkan tadi, sebaliknya prosa bersifat menguraikan. Jadi sesungguhnya perbedaan antara prosa dan puisi tidak terletak pada perbedaan bahasanya, melainkan aktivitas kejiwaannya (Pradopo, 2000: 11-12).
Waluyo (1987: 29) menyatakan, puisi adalah salah satu bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan batinnya. Dari pernyataan ini, Waluyo menyimpulkan bahwa pembagian unsur-unsur pembangun puisi ke dalam dua bentuk, yaitu bentuk/ struktur fisik dan struktur batin atau dengan istilah lain disebut dengan metode dan hakikat puisi.
Puisi adalah sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan dan memperhatikan aspek-aspek bunyi di dalamya serta pengungkapan pengalaman, imajinasi, emosi dan intelaktual penyair yang timbul dari kehidupan individual dan sosialnya, diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu sehingga mampu membangkitkan pengalaman tertentu dalam diri penikmatnya (Sayuti, 2002: 3-4). Tirtawirya (dalam Djojosuroto, 2005: 11) menyatakan bahwa puisi dapat didefinisikan sebagai suatu pengungkapan secara implisit, dengan makna yang tersirat serta kata-kata yang cenderung pada arti konotatif.
Begitu banyak pendapat tentang puisi yang dilontarkan para pakar, namun sesungguhnya ragam pendapat tersebut tidaklah begitu penting, yang terpenting sebenarnya ialah; mampukah kita memahami dan menikmati puisi itu, sehingga dengan menikmati puisi kita mendapat pengatahuan dan pengalaman baru pada diri kita, artinya kita menyerap pesan-pesan puisi tersebut dan memberi berbagai respon yang timbul dari dalam diri kita.
Watts-Dunton (dalam Tarigan, 1984: 7) mendefinisikan puisi sebagai pengekspresian yang konkrit dan yang bersifat artistik pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama, sedangkan Lescelles Abercrumbie (dalam Tarigan, 1984: 7) menyatakan “puisi adalah ekspresi pengalaman yang bersifat imajinatif  yang hanya bernilai sastra berlaku dalam ucapan yang diutarakan dengan bahasa dan memanfaatkan setiap rencana dengan matang dan tepat guna. Dari pendapat kedua tokoh tersebut dapat ditarik benang merah bahwa sarana ekspresi dalam puisi adalah “Bahasa emosional, bahasa berirama yang matang dan tepat guna".
Peneliti menyimpulkan pengertian puisi dari beberapa pendapat tersebut yaitu; puisi adalah sejenis karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun berdasarkan struktur pembangunnya dengan menggunakan bahasa yang padat sebagai sarana pengungkapan makna secara implisit.

2.2  Unsur-Unsur Puisi

Menurut Tarigan (1984: 9-42) dan IA. Richard (dalam Waluyo, 1987: 27) unsur pembangun puisi ada dua yaitu metode dan hakikat puisi. Sedangkan Boulton (dalam Waluyo, 1987: 27) menyebutnya unsur fisik dan unsur mental puisi.
Menurut Morris, et al (dalam Tarigan, 1984: 28) metode puisi terdiri dari; 1). diksi (diction), 2). imaji (imajery), 3). kata nyata, 4). majas (figurative language), 5). ritma dan rima (rhytme and rime). Sedangkan dalam Waluyo disebutkan, metode puisi terdiri dari; 1). diksi, 2). pengimajian, 3). kata konkrit, 4). bahasa figuratif, 5). versifikasi, dan 6). tatawajah (tipografi). Sedangkan hakikat puisi menurut IA. Richard (dalam Tarigan, 1984: 9 dan dalam Waluyo, 1987: 106) terdiri dari; 1). tema; makna (sense), 2). rasa (feeling), 3). nada (tone), dan 4). amanat; tujuan; maksud (intention).
2.2.1       METODE PUISI
2.2.1.1  Diksi
Diksi (diktion) berarti pilihan kata. Kalau dipandang sepintas kata-kata yang dipergunakan dalam puisi pada umumnya sama saja dengan kata-kata yang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Secara harfiah kata-kata dalam puisi mewakili makna yang sama dengan kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Tarigan, 1984: 29). Namun yang perlu diperhatikan yaitu cara penyair menempatkan dan menggunakan kata tersebut dalam puisi sangat cermat dan teliti, atau dengan istilah lain tidak sembarangan. Kesalahan penempatan satu kata dalam puisi akan berakibat kurang estetisnya puisi tersebut.
Diksi berarti pemilihan dan penyusunan kata yang dilakukan penyair untuk mengetengahkan perasaan-perasaan yang bergejolak dalam dirinya ke dalam sebuah puisi. Kata-kata yang dipilih penyair dalam puisi selain memegang peranan penting, juga mempertimbangkan bunyi kata yang dipilihnya, sehingga kata-kata yang dipilih oleh penyair bersifat absolut dan tidak dapat digantikan dengan padanan katanya, sekalipun maknanya sama (Waluyo, 1987: 73).
Kata-kata yang dipergunakan dalam persajakan tidak seluruhnya mengacu pada makna denotatif, tetapi lebih cenderung pada makna konotatif. Konotasi atau nilai kata menurut Tarigan inilah yang justru lebih banyak memberi efek kepada para penikmatnya (Tarigan, 1984: 29). Pemilihan kata konotatif semacam ini artinya kata tersebut memiliki makna lebih dari satu, sehingga pemilihan kata secara cermat atau penyair akan menimbulkan daya sugesti yang cermat pula bagi pembaca dan pendengarnya, sehigga aspek estetis dari puisi tersebut akan terpenuhi.
2.2.1.2  Pengimajian
Menurut Tarigan (1984: 30), pengimajian merupakan upaya penyair untuk membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga mereka menganggap bahwa mereka sendirilah yang benar-benar mengalami peristiwa perasaan jasmaniah tersebut. Penyair berupaya sekuat daya agar penikmat dapat melihat, merasakan, mendengar dan menyentuh bahkan mengalami segala sesuatu yang terdapat dalam sajaknya, dengan cara itulah penyair dapat meyakinkan  penikmat sastra terhadap realitas dari segala sesuatu yang sedang didengar atau dibacanya.
Pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian: kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan (Waluyo, 1987: 78). Ungkapan persaan dijelmakan ke dalam gambaran nyata tertentu, jika penyair menginginkan imaji pendengaran, maka ketika kita menghayati puisi tersebut seolah-olah mendengarkan sesuatu dan begitu juga ketika penyair menginginkan imaji penglihatan dan persaan, maka kita akan terbawa pada imaji yang diinginkan penyair tersebut.
Penyair menggunakan gambaran-gambaran angan pada puisinya untuk memberi gambaran yang jelas untuk meninmbulkan suasana yang khusus untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran dan pengindraan dan juga untuk menarik perhatian. Gambaran angan tersebut disebut imaji (imagery) (Pradopo, 2000: 79). Coombes (dalam Pradopo, 2000: 80) menyatakan bahwa imaji itu bisa hidup dan segar, berada dalam puncak keindahannya untuk mengidentifikasikan, menjernihkan, dan memperkaya yaitu ketika imaji tersebut berada dalam tangan penyair yang bagus. Imanji tersebut dapat menolong orang merasakan pengalaman penulis terhadap objek dan situasi yang dialaminya.
Sayuti (2002: 169) memberikan gambaran mengenai imaji sebagai berikut: “…..Pengalaman keindraan itu dapat juga disebut sebagai kesan yang terbentuk dalam rongga imajinasi yang disebabkan oleh sebuah kata atau rangkaian kata yang mampu mengubah pengalaman keindraan itu, dalam puisi disebut citraan”
2.2.1.3  Kata Konkrit
Upaya penyair untuk membangkitkan daya bayang atau imajinasi para penikmat suatu sajak menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata konkrit yang dapat menyarankan suatu pengertian yang menyeluruh. Jika penyair mahir mengkonkritkan kata-kata maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang di dilukiskan penyair, dengan demikaian pembaca terlibat penuh ke dalam puisi (Tarigan, 1984: 32).
Jika imaji pembaca merupakan akibat dari pengimajian penyair, maka kata konkrit itu merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian itu, dengan kata konkrit, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair.
Setiap penyair berusaha mengkonkritkan hal-hal yang ingin dikemuka-kan agar pembaca membayangkan dengan lebih hidup apa yag dimaksudkan. Cara yang dilakukan penyair yang satu berbeda dengan yang digunakan oleh penyair yang lain (Waluyo, 1987: 83).
2.2.1.4  Majas atau Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif merupakan bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak  langsung mengungkapkan makna. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif ini menyebabkan sebuah puisi menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesan hidup dan memperjelas gambaran angan.
Sayuti (2002: 195) memberi penjelasan mengenai fungsi bahasa figiratif, yaitu sebagai sarana pengedepanan sesuatu yang berdimensi jamak dalam bentuk yang sesingkat-singkatnya sehingga dapat membangkitkan tanggapan pembaca.
Perrine (dalam Waluyo, 1987: 83) memberikan alasan-alasan mengapa bahasa figratif digunakan dalam puisi, antara lain: 1). Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, 2). Bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak dapat menjadi konkrit, 3). Sebagai cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, dan 4). Sebagai cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang kompleks dengan menggunakan bahasa yang singkat.
Adapun bahasa figuratif yang sering digunakan dalam puisi yaitu; a). perbandingan, b). metafora, c). perumpamaan epos, d). personifikasi, e). metonomi, f). sinekdoki, dan g). allegori (Pradopo, 2000: 62). Waluyo (1987: 71) menjabarkan bahwa bahasa figurative antara lain; a). metafora, b). penyamaan (perbandinagn), d). personifikasi, e). hiperbola, f). sinekdoki, dan g). ironi.
Adapun pengertian dari dari berbagai bahasa figuratif tersebut, sebagaimana tersaji berikut ini:
         Perbandingan atau simele adalah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata pembanding; bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, penaka, dan lain-lain.
         Metafora adalah bahasa figuratif yang sama dengan dengan perbandingan tetapi tidak menggunakan kata pembanding: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, penaka, dan lain-lain.
         Perumpamaan epos adalah perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut.
         Allegori adalah cerita kiasan atau dapat didefinisikan dengan metafora yang dilanjutkan.
         Personifikasi adalah mempersamakan benda mati dengan manusia, benda-benda mati tersebut dijadikan dapat berbuat, berpikir, berbicara seperti manusia. Personifikasi dengan bahasa singkat dapat diartikan penginsanan.
         Metonomia sering disebut kiasan pengganti nama.
         Sinekdoki adalah bahasa kiasan untuk menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda untuk benda atau hal itu sendiri.
2.2.1.5  Versifikasi (Rima, Ritma, dan Metrum)
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk mosikalisasi atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi tersebut, puisi menjadi merdu jika dibaca. Untuk mengulang bunyi ini penyair juga mempertimbangkan lambag bunyi, dengan cara pemilihan bunyi-bunyi mendukung perasaan dan suasana puisi. Dalam kepustakaan Indonesia (dalam Tarigan, 1984: 34), ritma atau irama adalah turun naiknya suara seacara teratur, sedangkan rima atau sajak adalah persamaan bunyi.
Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frase, dan kalimat. Ritma berasal dari bahasa Yunani Rheo yang berarti gerakan-gerakan air yang teratur, terus-menerus dan tidak putus-putus dan mengalir terus. Sedangkan metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetat atau sifatnya statis (Waluyo, 1987: 94). Slametmuljana (dalam Waluyo, 1987: 94) menyatakan bahwa ritma merupaka pertentangan bunyi: tinggi/ rendah, panjang/ pendek, keras/ lemah, dll. yang mengalun dengan teratur  dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan.
2.2.1.6  Tatawajah (Tipografi)
Menurut Waluyo (1987:3), “Perbedaan pokok antara  puisi dan prosa adalah dalam hal tipografi dan struktur tematiknya (maknanya). Tipografi dalam puisi baris-baris putus yang tidak berbentuk satu-kesatuan sintaksis yang utuh seperti yang terdapat dalam prosa. Hartoko (dalam Waluyo: 1987: 3) menyatakan “dalam puisi terjadi kesenyapan antara baris yag satu dengan baris yang lain karena konsentrasi bahasa yag begitu kuat. Dalam prosa kesenyapan semacam ini kita jumpai di akhir paragraf.
Selanjutnya mengenai peran tipografi dalam puisi, Waluyo (1987, 1987: 97) memaparkan sebagai berikut:
“Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi tidak membangun periodisitet yang disebut paragraf, namun berbentuk bait. Baris puisi tidak bermula dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan baris. Tepi kiri atau kanan dari halaman yang memuat puisi belum tentu terpenuhi tulisan, hal mana tidak berlaku bagi tulisan yang berbentuk prosa. Ciri yang demikian menunjukan eksistensi sebuah puisi”.

Lukisan bentuk dalam puisi, termasuk dalam hal pemakaian huruf besar dan tanda baca disebut tipografi. Tipografi disamping bertujuan untuk menciptakan keindahan visual, juga dimaksudkan sebagai upaya untuk mengintensifkan makna, rasa, dan suasana sebuah puisi.

2.2.2        HAKIKAT PUISI
2.2.2.1  Tema
Tema menurut Sudjiman (1988: 50) adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra. Sedangkan Eddy (1991: 209) mendefinisikan tema sebagai masalah pokok yang menjadi dasar sebuah karya sastra.
Tema merupakan suatu hal apa yang ingin penyair sampaikan kepada para penikmatnya mengenai beberapa kejadian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, sang penyair ingin mengemukakan pengalaman-pengalamannya kepada para pembaca. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Tarigan (1984: 10) berikut ini;
“Jelaslah bahwa dengan puisinya sang penyair ingin mengemukakan sesuatu bagi para penikmatnya, sehingga penyair melihat atau mengalami beberapa kejadian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan caranya sendiri, atau dengan perkataan lain, sang penyair ingin mengemukakan pengalaman-pengalamanya kepada para penikmat, sebab dalam pembicaraan di muka telah kita kemukakan bahwa “the poet in a sense is a maker of experience”.

Waluyo (1987: 106) mendefinisikan tema sebagai gagasan pokok atau subjek-matter yang dikemukakan penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika pandangan utama dalam penciptaan suatu puisi berupa hubungan pengarang dengan tuhannya, maka temanya adalah ketuhanan dan jika desakan yang kuat berupa desakan belas kasih kemanusiaan, maka puisi tersebut bertema kemanusiaan, dan lain-lain.
Tema bersinonim dengan ide utama (centra idea) atau tujuan utama (centra purpose). Jadi tema dapat dipandang sebagai unsur puisi dan gagasan dasar umum sebuah puisi.
Dari beberapa uraian tentang tema di atas, sangatlah jelas bahwa tema merupakan inti pokok (makna) yang terkandung dalam sebuah puisi. Jadi ketika pembaca berusaha mengetahui makna dari sebuah puisi, sebenarnya dia sedang mencari tema yang terkandung dalam puisi tersebut.
Para penafsir puisi akan menghasilkan tema yang sama ketika penyair tersebut dilatari oleh pengetahuan yang sama, sebab tema bersifat lugas, objektif, dan khusus. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh sebab itu tema bersifat khusus (penyair), tetapi bersifat objektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat).
Waluyo (1987: 106-118) memaparkan macam-macam puisi, yaitu; tema ketuhanan, tema kemanusiaan, tema patriotisme, tema kedaulatan rakyat, dan tema keadilan sosial dan dibawah ini diberikan penjelasan dari beberapa macam tema tersebut, yaitu:
2.2.2.1.1        Tema Ketuhanan
Tema ketuhanan bisanya menunjukkan pengalaman religi penyairnya didasarkan atas tingkat kedalaman pengalaman ketuhanan seseorang dan dapat juga dijelaskan sebagai tingkat kedalaman seseorang terhadap agama atau kepada Tuhanya.
Tema ketuhanan yang tinggi bukan berarti harus bercirikan suatu agama atau kepercayaan tertentu, misalnya Islam, Kristen, Konghucu, Animisme, Dinamisme, dan lain-lain, melainkan mengandung religi secara umum. Dalam hal ini penyair berdiri sebagai wakil semua manusia yang multi agama, kultur, dan ras. Sehingga dengan cara ini penyair mampu menembus semua ruang kehidupan masyakarat.
Pengalaman religi seperti yang disebutkan di atas, didasarkan atas pengalaman penyair secara konkrit. Penyair yang mempunyai pengalaman religi yang mendalam dapat diharapkan ia mampu menciptakan sebuah puisi yang tingkat religinya mendalam, dan sebaliknya seorang penyair yang mempunyai pengalaman religi yang kurang mendalam, maka sangat sulit diharapkan akan menghasilkan puisi yang bertemakan ketuhanan yang mendalam. Lebih dari itu penyair yang mempunyai pengalaman yang sanksi terhadap agama (Tuhan)  atau bahkan atheis, ia akan mempermainkan Tuhan dalam sajaknya secara tidak wajar atau akan menghina Tuhan itu sendiri.
2.2.2.1.2        Tema Kamanusiaan
Tema kemanusiaa berisikan hubungan timbal balik antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Hubungan itu dapat berupa interaksi sesama dalam menjalankan segala aktivitas kehidupan bersosial.
Tema kemanusiaan bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembaca, sebenarnya manusia mempunyai harkat dan martabat yang sama (egaliter). Perbedaan harkat dan martabat tidak boleh menjadi sebab bedanya perlakuan kemanusaan terhadap manusia.
2.2.2.1.3        Tema Patriotisme
Tema patriotisme dapat meningkatkan perasaan cinta atas bangsa dan tanah air dan biasanya berisikan tentang perjuangan-perjuangan para pahlawan. Banyak sajak yang melukiskan perjuangan pahlawan dalam meghadapi penjajah, diantaranya sajak Chairil Anwar yang berjudul “Pangeran Diponegoro”, (Waluyo, 1987:  115).
2.2.2.2  Nada
Nada dalam dunia perpuisian adalah sikap penyair terhadap pembacanya, atau dengan perkataan lain, sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya (Tarigan, 1984: 18). Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca. Apakah dia ingin bersikap menggurui, menasehati, mengejek, menyindir atau hanya bermaksud bercerita kepada para pembaca. Sikap tersebut disebut nada puisi.
Terkadang seorang penyair dengan puisinya berusaha membela masyarakat yang sedang kelaparan, tertindas, dihimpit kesulitan-kesulitan dan didzalimi pemerintah atau penguasa. Dengan ini berarti nada puisi tersebut merupakan protes terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah atau penguasa tersebut.
2.2.2.3  Perasaan
Perasaan yaitu sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya (Tarigan, 1984: 11). Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai dua orang atau lebih menghadapi keadaan yang sama tetapi justru dengan sikap yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh kematangan jiwa, pengetahuan, dan pengalaman orang tersebut.
Dalam mencipta sebuah puisi, perasaan penyair ikut hidup (diekspresikan) dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan berbeda akan menghasilkan puisi yang berbeda dengan penyair-penyair lainnya, sehingga puisi yang dihasilkannya berbeda pula.

2.2.2.4  Amanat
Amanat atau tujuan yaitu suatu hal yang mendorong seseorag untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini tujuanlah yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat berada tersirat di balik kata-kata yang disusun dan juga berada di balik tema yang diungkapkan.
Penyair mempunyai tujuan dengan sajak-sajak ciptannya, apakah tujuan itu pertama kali untuk memenuhi kebutuhan pribadinya atau lainnya, bergantung kepada pandangan hidup sang penyair. Ajip Rosidi (dalam Tarigan, 1984: 21) mengemukakan pendapat yang tegas, bahwa tujuan pertama kali penciptaan sebuah sajak yaitu untuk memuaskan diri sendiri, sesudah itu baru orang lain.
Setiap puisi dapat dipastikan mengandung amanat yang ingin disampaikan penyair kepada para penikmatnya, penikmat tersebut  dapat menafsirkan amanat puisi secara individual/ subjektif, dengan demikian penikmat yag satu akan menghasilkan amanat yang berbeda dengan penikmat yang lain terhadap sebuah puisi. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan masing-masing individu yang bersangkutan (Djojosuroto, 2005: 27)

2.3  Kumpulan Puisi Nyanyi Sunyi Karya Amir Hamzah

Nyanyi Sunyi merupakan kumulan puisi Amir Hamzah yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1937 oleh penerbit Dian Rakyat Jakarta dan mengalami cetak ulang yang ke-13 yaitu pada tahun 2001. Menurut Teeuw (1980: 126), sajak-sajak yang terdapat dalam kumpulan puisi Nyanyi Sunyi hampir kesemuanya dihasilkan pada tahun 1936-1937.
Teeuw memaparkan, Nyanyi Sunyi merupakan saksi betapa hebatnya konflik dalam kehidupannya, yaitu konflik antara adat dengan kebebasan individu, antara masyarakat dengan pribadi, antara yang lama dengan yang baru, pendeknya antara melayu dan Indonesia. Menurut Teeuw Amir Hamzahlah satu-satunya penyair sebelum perang di Indonesia yang telah mencapai taraf internasional. Hal ini tertulis dalam bukunya yang berjudul Sastra Indonesia Baru (1980: 123) sebagai berikut;
“Satu-satunya sumbagan yang unggul terhadap kesusastraan sebelum perang ialah penciptaan beberapa puluh sanjak; sanjak-sanjak yang sedemikian hebat tenaga pembayangannya sehingga wajarlah pengarang menerima gelar ‘Raja Penyair Pujangga Baru’ yang diberikan kepadanya oleh HB. Jassin sebagai judul tambahan dalam bukunya yang khusus membicarakan penyair ini. Menurut pendapat saya, Amir Hamzahlah satu-satunya penyair sebelum perang di Indonesia yang telah mencapai taraf internasional dan mempunyai nilai kesusastraan yang abadi”

Jassin (1996: 9) dengan bersandar pada kata konon, Nyanyi Sunyi dicipta oleh Amir Hamzah karena digerakkan oleh kejadian yang sangat mengguncangkan pikiran dan jiwanya. Dia diharuskan kawin dengan anak Sultan Langkat yang selama ini membiayainya, sedangkan dia sudah mempunyai seorang kekasih. Jelaslah bahwa perkawinan dengan anak Sultan langkat yang bernama Tengku Puteri Kamaliah merupakan hal yang bertentangan dengan rasa cintanya yang amat mendalam pada seorang gadis Jawa (Solo) yang bernama Ilik Sundari.
Sumatera –termasuk Sumatra Utara– merupakan daerah yang sangat teguh memegang adat kedaerahan, walaupun adat tersebut sama sekali tidak sesuai dengan hati nurani masyarakat masa kini, bahkan sangat bertentangan dengan ajaran Islam (sebagai agama mayoritas masyarakat Sumatra), sehingga disemboyankan tak lekang di panas dan tak lapuk di hujan. Adanya adat semacam ini sangat menggoncangkan hati Amir Hamzah sebagai seorang pemuda yang ingin lepas dari kungkungan adat tersebut, sehingga terjadilah konflik antara adat dan kebebasan individu.
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) memaparkan dalam bukunya yang berjudul Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman (1993: 13) sebagai berikut:
“Sepulangnya dari Medan Amir Hamzah kira-kira sebulan lamanya menutup diri di kamarnya di jalan Sabang, tak bertemu dengan  seorang pun dari kawan-kawannya. Ketika ia keluar sesudah itu, ia datang ke rumah saya di jalan kesehatan VII no. 3 yang ketika itu menjadi pusat Pujangga Baru dan diserahkannya kepada saya kumpulan sajak Nyanyi Sunyi untuk dicetak dalam Pujangga Baru.

Dari uraian di atas, sangatlah jelas, perkawinan dengan Tengku Puteri Kamaliah tersebut merupakan puncak krisinya. Cita-cita dan kebebasan pribadi, kebebasan dalam menentukan hidup sendiri dan demokratis yang diperolehnya selama dia sekolah atau bergaul dengan teman-temannya harus dilepaskan dan kekalahan itu terlambang dalam pelepasan cinta pribadinya untuk tunduk pada adat istiadat berhutang budi, kepatuhan yang muda pada yang tua, dan lain-lain.

2.4  Biografi Amir Hamzah

Amir Hamazah dilahirkan tanggal 28 Februari 1911 dari kalangan bangsawan di Tanjung Pura. Nama lengkapnya Tengku Amir Hamzah, ayahnya bernama Tengku Moh. Adil bergelar pengeran bendahara, kemudian kepadanya dikaruniai gelar Bendahara Paduka Raja.
Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Pamannya, Machmud, adalah Sultan Langkat yang berkedudukan di ibu kota Tanjung Pura, yang memerintah tahun 1927-1941. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil (yang tidak lain adalah saudara Sultan Machmud sendiri), menjadi wakil Sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur.
Amir Hamzah masuk sekolah Hollandsche Islandsche School di Tanjungpura tahun 1921 dan pada tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan dan kemudian di Jakarta. Setelah tamat MULO, ia asuk Algemeene Middlebare School (SMA bagian setara timur Solo). Sesudah itu dia masuk sekolah Hakim Tinggi di Jakarta sampai mendapat Kandidat atau sarjana muda hakim.
Amir Hamzah tidak dapat dipisahkan dari kesastraan Melayu. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam dirinya mengalir bakat kepenyairan yang kuat. Buah Rindu adalah kumpulan puisi pertamanya –diterbitkan setelah Nyanyi Snyi- yang menandai awal kariernya sebagai penyair. Puncak kematangannya sebagai penyair terlihat dalam kumpulan puisi Nyanyi Sunyi dan Setanggi Timur.
Pada tahun 1933 Amir bersama Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Achdiat K. Mihardja menerbitkan Majalah Pujangga Baru. Nyanyi Sunyi dimuat dalam Majalah Pujangga Baru tahun 1937. Kumpulan sajak-sajaknya dari Panji Pustaka, Timbul dan Pujangga Baru dikumpulkan dalam Buah Rindu yang terbit tahun 1941. Setanggi Timur merupakan nama kumpulan sajak-sajak terjemahan Amir Hamzah dari beberapa sajak Parsi, India, Tiongkok dan lain-lain, terbit tahun 1939.
Tahun 1938 Amir Hamzah dikawinkan dengan puteri kamaliah, anak Sultan mahmud yang tertua. Dari perkawinan ini lahir lima orang anak, empat diantaranya wafat, sehingga yang tinggal satu-satunya puteri Tahura.
Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para Sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepada rakyat, termasuk Amir Hamzah.
Amir Hazmah wafat pada tahun 1946 sebagai korban revolusi sosial di Sumatra, tepatnya pada tanggal 3 Maret malam dia diangkut oleh pemuda bersama para keluarga Sultan dan orang-orang besarnya, ia kemudian dipancung (?) tanpa pemeriksaan terlebih dahulu (Jassin, 1996: 2). Demikianlah penyair besar Indonesia mati sedemikian tragisnya akibat suatu pergolakan yang terjadi di daerahnya.
Berdasarkan keputusan Presiden RI No. 106/TK/Tahun 1975 tentang penetapan gelar pahlawan nasional, Amir Hamzah telah ditetapkan sebagai Pahlawan nasional. Ketetapan ini dikeluarkan tanggal 3 Nopember 1975 di Jakarta, dan ditandatangani oleh Presiden Soeharto, ketika itu belum pensiun sebagai Jendral TNI Angkatan Darat.
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog