Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

09 Mei 2011

Analisis Tema Kultural Roman Jangir Bali Karya Nur Sutan Iskandar (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB  II
KAJIAN  PUSTAKA

A.          Hakikat Roman Sebagai Karya Sastra
1.     Pengertian Roman
Dalam kesastraan Indonesia dikenal istilah roman. Istilah ini juga banyak dijumpai dalam berbagai kesastraan di Eropa. Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1994: 15) dalam sastra (bahasa) Jerman misalnya, ada istilah bildungs Roman dan erziehungs Roman yang masing-masing berarti ‘novel of information’ dan ‘novel of education’. Sedangkan roman menurut Frye sebagaimana dikutip Nurgiyantoro adalah lebih tua dari novel, roman tidak berusaha menggambarkan tokoh secara nyata, secara lebih realistis. Ia lebih merupakan gambaran angan, dengan tokoh yang lebih bersifat introvert dan subjektif.
Sedangkan Jassin dalam Nurgiyantoro (1994: 15) mengatakan, roman yang masuk ke Indonesia kabur pengertiannya dengan novel. Roman mula-mula berarti cerita yang ditulis dalam bahasa Roman, yaitu bahasa rakyat Prancis di abad pertengahan, dan masuk ke Indonesia lewat kesastraan Belanda. Dalam pengertian modern, roman berarti cerita prosa yang melukiskan pengalaman-pengalaman batin dari beberapa orang yang berhubungan satu dengan yang lain dalam suatu keadaan. Pengertian itu mungkin ditambah lagi dengan “menceritakan tokoh sejak dari ayunan sampai ke kubur” dan “lebih banyak melukiskan sekitar tempat hidup”.
Istilah roman, novel, cerpen, dan fiksi memang bukan asli Indonesia, sehingga tidak ada pengertian yang khas Indonesia. Untuk mempermudah persoalan, di samping pertimbangan bahwa pada kesastraan Inggris dan Amerika. (Sumber Utama Literatur Kesastraan Indonesia), cenderung menyamakan istilah roman dan novel, dalam penulisan ini romanpun dianggap sama dengan novel (Nurgiyantoro, 1994: 16).
Sedangkan Aminuddin tidak secara tegas memberikan perbedaan antara bentuk novel, roman, atau cerpen. Menurut Aminuddin, perbedaaan itu hanya terletak pada panjang atau pendeknya isi cerita serta kompleksitas masalah yang diangkat di dalamnya. Dijelaskan bahwa pada dasarnya bentuk-bentuk karya tersebut tetap mengandung elemen yang sama. Walaupun dalam unsur-unsur tertentu juga mengandung perbedaan. Kendati tidak secara tegas memberikan perbedaan terhadap bentuk novel, roman, dan yang lain, namun Aminuddin secara tegas memberikan penekanan bahwa pada hakikatnya bentuk-bentuk tersebut tergolong ke dalam prosa fiksi. Menurutnya, yang dimaksud prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. (Aminuddin, 1987: 66).
Dalam bagian lain Tarigan mengutip pengertian novel [roman]   “The Amerivan College Dictionary” menyatakan bahwa novel [roman] adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur yang agak kompleks. (Tarigan, 1986: 164).
Lebih lanjut Aminuddin menyatakan bahwa unsur prosa fiksi tersebut terdiri dari (1) pengarang atau narator, (2) isi penciptaan, (3) media penyampai isi berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsur intrinsik yang membangun karya fiksi sehingga menjadi suatu wacana yang utuh. Hal itu sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro (1994: 23) yang menegaskan bahwa suatu novel [roman] akan terwujud apabila terdapat kepaduan antar berbagai unsur intriksik yang turut secara langsung membangun cerita. Unsur-unsur yang dimaksud adalah peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan dan bahasa atau gaya bahasa.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan roman adalah salah satu bentuk karya sastra yang tergolong ke dalam prosa fiksi serta terdiri dari unsur-unsur pembangun yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.


2.     Tema
Nurgiyantoro (1994: 66) menyatakan, setiap karya fiksi tentulah mengandung atau menawarkan tema, namun apa isi tema itu sendiri tak mudah ditunjukkan. Ia haruslah dipahami dan ditafsirkan melalui cerita dan data-data yang lain, dan itu merupakan kegiatan yang sering tidak mudah dilakukan. Kesulitan itu sejalan dengan kesulitan yang sering kita hadapi jika kita diminta untuk mendefinisikan tema. Pandangan senada tentang tema di dalam prosa fiksi dinyatakan oleh Scharbach dalam Aminuddin (1987: 91) tema adalah kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa fiksi oleh pengarangnya, maka untuk memahami tema, pembaca terlebih dahulu harus memahami unsur-unsur signifikan yang membangun suatu cerita, menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkan dengan tujuan penciptaan pengarangnya.
Menurut Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro (1994: 67) tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita [roman] itu, maka masalahnya adalah : makna khusus yang mana yang dapat dinyatakan sebagai tema itu, sub tema atau tema-tema tambahan, maka yang manakah dan bagaimanakah yang dapat dianggap sebagai makna pokok sekaligus tema pokok novel [roman] yang bersangkutan. Sedangkan pendapat Hartoko dan Rahmanto dalam Nurgiyantoro (1994: 68), untuk menentukan makna pokok sebuah novel [roman], kita perlu memiliki kejelasan pengertian tentang makna pokok, atau tema itu sendiri. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat “mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa-konflik-situasi tertentu, termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain, karena hal-hal tersebut haruslah bersifat mendukung kejelasan tema yang ingin disampaikan. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka iapun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas, dan abstrak (Nurgiyantoro, 1994: 68).
Dalam mengapresiasi tema sebuah cerita rekaan, menurut Brooks (dalam Aminuddin, 1995: 91-92), apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanitas, karena tema sebenarnya merupakan pendalaman dan hasil kontemplasi pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan serta masalah lain yang bersifat universal.
Dengan demikian, untuk menemukan tema sebuah karya fiksi, ia haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, walaupun sulit ditentukan secara pasti, bukanlah makna yang “disembunyikan”, walau belum tentu juga dilukiskan secara eksplisit. Tema sebagai makna pokok sebuah karya fiksi tidak (secara sengaja) disembunyikan karena justru hal inilah yang ditawarkan kepada pembaca. Namun, tema merupakan makna keseluruhan yang didukung cerita, dengan sendirinya ia akan “tersembunyi” di balik cerita yang mendukungnya (Nurgiyantoro, 1994: 68).
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kehadiran tema sebagai salah satu unsur roman merupakan unsur yang potensial karena melalui tema itulah karya sebuah roman bisa dipahami dan ditafsirkan oleh pembaca. Di sisi lain dalam tema tersebut terdapat sub-sub tema atau tema-tema tambahan, karena banyak makna yang ditawarkan oleh cerita yang terdapat dalam roman.

B.          Hakikat Dan Kompleksitas Kultural Serta Implementasinya Dalam Roman
1.     Pengertian Kultural
Pengertian budaya atau kultur menurut Koentjaraningrat (!990: 179) terbatas pada hal-hal yang indah seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, kesusasteraan dan filsafat. Menurut ilmu antropologi, “Kebudayaan atau kultur adalah : keselurahan sistem gagasan, tindakan atau hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kata “kebudayaan” dan “culture”. Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sanskerta Buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan : “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya yang sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti “daya dari budi”. Karena itu mereka membedakan “budaya” dari “ kebudayaan”. Demikianlah “budaya” adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa itu. (Koentjara Ningrat, 1990: 181).
Sedangkan kebudayaan atau kultural menurut Taylor dalam Soelaeman (1987: 10) adalah mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat.
Adapun kata culture, yang merupakan kata asing yang sama artinya dengan “kebudayaan” berasal dari kata Latin colere yang berarti “mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai “segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam”. (Koentjaraningrat, 1990:182).
Mengacu kepada pendapat Koentjaraningrat dan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, kultural adalah pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks berupa keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang berupa cipta, karsa dan rasa.
2.     Unsur-unsur Kultural
Budaya (kultural) menurut Djojodiguno dalam Widagdho (2003: 20) adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa.

Cipta


Karsa




Rasa
:


:




:
Kerinduan manusia untuk mengetahui rahasia segala hal yang ada dalam pengalamannya, yang meliputi pengalaman lahir dan batin. Hasil cipta berupa berbagai ilmu pengetahuan.
Kerinduan manusia untuk menginsyafi tentang hal “sangkan paran”, dari mana manusia sebelum lahir(=sangkan), dan kemana manusia sesudah mati(=paran). Hasilnya berupa norma-norma keagamaan/kepercayaan. Timbullah bermacam=macam agama, kerena kesimpulan manusiapun bermacam-macam pula.
Kerinduan manusia akan keindahan, sehingga menimbulkan dorongan untuk menikmati keindahan. Manusia merindukan keindahan dan menolak keburukan/kejelekan. Buah perkembangan rasa ini terjelma dalam bentuk berbagai norma keindahan yang kemudian menghasilkan macam-macam kesenian.
Berkaitan dengan pokok permasalahan dalam penelitian ini, berikut akan diuraikan tentang aspek kultural yang dinyatakan Djojodiguno tersebut sehingga dapat dijadikan pijakan dalam menganalisis permasalahan yang sudah ditentukan sebelumnya.
(1)      Cipta (Ilmu Pengetahuan)
Sebagai pedoman untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia membutuhkan pendidikan, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Yang dimaksud dengan pendidikan di sini adalah sekolah. Sekolah merupakan sarana enkulturasi dan sosialisasi yang paling mendasar sesudah pendidikan keluarga. Dikatakan paling mendasar kerena di sekolah terjadi proses pembelajaran yang sistematis terhadap seorang individu.
Di sekolah seseorang belajar hidup berdisiplin untuk mengikuti berbagai aturan dan tata tertib, berfikir secara sistematis, rasional atau ilmiah, serta mendapatkan keterampilan dan ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup di masyarakat. (Dhomiri dkk, 2000: 164).
(2)      Karsa (Norma Agama)
Salah satu syarat dalam kehidupan manusia yang teramat penting adalah keyakinan, yang oleh sebagian orang dianggap menjelma sebagai agama. Agama ini bertujuan untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Dan untuk mencapai kedamaian ini harus diikuti dengan syarat yaitu percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa. Yang menciptakan dan memelihara semua yang ada di dunia ini. (Mustopo, 1989: 59).
Setiap manusia yang percaya akan kebesaran Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, meraka akan selalu menuju atas rahmat-Nya. Setiap daerah, setiap Agama dan setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri untuk mendekatkan diri dan memuja kepada Tuhan. Misalnya, seperti di Bali, sebagian penduduk memeluk agama Hindu Dharma. Mereka mempunyai cara tersendiri di dalam melakukan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyanga Widi Wasa). Meraka memuja Tuhan dengan memakai sesajen yang berisi berbagai macam buah-buahan dan kembang yang berwarna-warni, yang semuanya ditujukan untuk memuja Tuhan (Mustopo, 1989: 63). Di dalam keagamaannya, orang beragama Hindu percaya akan adanya Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti. Keesaan Trimurti ini mempunyai tiga wujud atau manifestasi diantaranya : (a) wujud Brahma yang artinya menciptakan, (b) wujud Wisnu yang artinya melindungi serta memelihara, dan (c) wujud Siwa yang artinya melebur segala yang ada. Orang Bali juga percaya kepada pelbagai dewa dan roh yang lebih rendah dari Trimurti dan yang mereka hormati dalam perbagai upacara bersaji. Agama Hindu juga menganggap penting konsepsi mengenai roh abadi (aturan), adanya buah dari setiap perbuatan (karma pala), kelahiran kembali dari jiwa (punarbawa), dan kebebasan jiwa dari lingkaran kelahiran kembali (moksa). Semua ajaran-ajaran itu termaktub dalam kumpulan kitab-kitab suci yang bernama Weda. (Dhomiri dkk, 2000: 164).
Di dalam agama Islam terdapat dua serangkai yang tidak mungkin dipisahkan yang satu dengan yang lainnya, yaitu Iman dan Islam. Iman adalah mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati, mengucapkan (berikrar) dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota akan segala yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sedangkan orang yang telah mengaku dirinya beriman (Mu’min) haruslah benar-benar meyakini pokok-pokok keimanan (yang biasa disebut dengan rukun iman) yang enam. Seseorang yang telah menyatakan dirinya muslim (beragama Islam) agar menjadi muslim sejati, haruslah mengerti dan menjalani pokok-pokok ke-Islaman (biasa disebut dengan rukun Islam) yang lima. (Rifa’i, 1982: 9).
(3)      Rasa (Kesenian)
Dipandang dari sudut cara kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar, yaitu : (1) seni rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan (2) seni suara, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan telinga. Dalam lapangan seni rupa ada seni patung, seni relief (termasuk seni ukir), seni lukis serta gambar, dan seni rias. Seni musik ada yang vocal (menyanyi) dan ada yang instrumental (dengan alat bunyi-bunyian). Suatu lapangan kesenian yang meliputi kedua bagian tersebut di atas adalah seni gerak atau seni tari, karena kesenian ini dapat dinikmati dengan mata maupun telinga (Koentjaraningrat, 1990: 381). Sedangkan Herbert Read dalam Prasetya (2004: 94) langsung menunjuk hasil karya dalam membuat batasan ini yaitu karya seni : (1) fisual, (2) plastis, (3) musik dan (4) sastra.
Salah satu genre sastra yaitu puisi. Menurut Aminuddin      (1987: 134) puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan lukisannya. Rumusan pengertian puisi di atas, sementara ini dapatlah kita terima karena kita sering kali diajak oleh suatu ilusi tentang keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca suatu puisi.
SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog