Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

05 Mei 2011

ANALISIS STRATA NORMA DALAM KUMPULAN PUISI “UPS!” KARYA RIEKE DIAH PITALOKA (BAB I)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?


BAB I
PENDAHULUAN

1.1           . Latar Belakang Masalah
Genre atau jenis sastra ada tiga; puisi, prosa dan drama. Puisi sebagai salah satu jenis sastra adalah inti pernyataan sastra. Di dalam puisi terhimpun dan mengental segala unsur yang menentukan hakikat kesusastraan. Menurut sejarahnya, pernyataan sastra pada semua bangsa dimulai dari puisi, bahkan pada permulaannya, satu-satunya pernyataan sastra yang dianggap kesusastraan adalah puisi.
Puisi itu karya seni, dan sebagai karya seni puisi itu puitis. Seorang penyair mempergunakan banyak cara untuk mencapai kepuitisan tersebut. Untuk mencapai kepuitisan itu penyair menggunakan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa; dan orkestrasi: dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, dan sebagainya. ”Untuk mendapat jaringan puitis yang sebanyak-banyaknya tak jarang seorang penyair menggunakan berbagai sarana kepuitisan secara bersamaan.” (Altenberd dalam Pradopo : 2002:13)
Memahami puisi tidaklah mudah. Jenis sastra puisi lain dari jenis prosa. Prosa tampaknya lebih mudah dipahami daripada puisi. Hal ini disebabkan karena bahasa prosa menggunakan tata bahasa normatif, sedangkan puisi biasanya menyimpang dari struktur bahasa normatif. Di dalam puisi ada konsentrasi unsur pembentuk sastra yang tidak sepenuhnya dapat dicapai oleh prosa. Oleh karena itu, sulit bagi kita untuk memahami puisi secara sepenuhnya bila tidak kita ketahui dan kita sadari bahwa puisi adalah karya estetik yang bermakna.
Sajak-sajak Rieke dalam kumpulan puisi ”Ups!” sudah sering dibaca di sana-sini, dan pembacaan oleh penyair sendiri seperti Rieke rata-rata sukses besar sebab sang penyair dapat secara pandai menghidupkan kata-kata dalam puisi yang diciptanya. Tetapi kalau puisi itu tercetak dan dipersilakan ”jalan sendiri” pada pembaca, yang terjadi bisa sangat berbeda. Penyair dituntut memberi jiwa pada kata dan huruf yang ditulisnya agar hidup dan merambah berbagai sudut dunia sastra. Sebagai teks, setiap puisi dituntut bisa menembus latar belakang bahasa, budaya, sejarah, dan menawarkan nilai-nilainya sendiri.
Sebagaimana dikemukakan Tinjanov dalam Djojosuroto (2005:12-13) bahwa puisi adalah konstruksi bahasa yang dinamis. Pengertian dinamis menunjukkan puisi itu bukan sesuatu yang terisolasi atau fakta yang statis, melainkan bagian dari tradisi dan proses komunikasi. Komunikasi yang dilakukan dalam puisi tidak dilakukan secara langsung. Hal ini disebabkan penyair meyampaikan pikiran-pikirannya lewat sebuah teks bernama puisi dengan estetikanya dan pembaca sebagai pemberi makna.
Bahasa puisi bersifat konotatif. Konotasi yang dihasilkan bahasa puisi lebih banyak kemungkinannya daripada konotasi yang dihasilkan bahasa prosa dan drama. Oleh sebab itu, puisi sulit ditafsirkan maknanya secara tepat tanpa memahami konteks yang dihadirkan dalam puisi. Puisi diciptakan  penyair dalam suasana perasaan, pemikiran, dan cita rasa yang khas sehingga bersifat khas pula.
Menurut Riffatere dalam Pradopo (2002:12) bahwa puisi itu menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Ketidaklangsungan ucapan ini disebabkan oleh tiga hal: penggantian arti (displacing), penyimpangan arti (distorting), dan penciptaan arti (creating of meaning).
Karena puisi merupakan struktur yang kompleks, tersusun dari bemacam-macam unsur dan sarana kepuitisan, maka untuk memahaminya secara penuh perlu dianalisis. Ada berbagai cara dalam menganalisis puisi. Ada analisis dari segi bentuk dan ada pula analisis dari segi isinya. Namun demikian, ”analisis yang bersifat dikotomis, yaitu pembagian antara bentuk dan isi belumlah memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan” (Wellek dan Warren dalam Pradopo, 2002:14).
”Untuk menganalisis puisi setepat-tepatnya perlu diketahui apakah sesungguhnya puisi itu. Puisi (sajak) sesungguhnya harus dipahami sebagai srtuktur norma-norma. Karya sastra itu tidak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya” (Pradopo, 2002 : 14).  Dengan analisis berdasarkan strata norma dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Atas dasar itulah penulis tertarik untuk menganalisis puisi berdasarkan strata norma dengan judul ”Analisis Strata Norma Dalam Kumpulan Puisi ”Ups!” Karya Rieke Diah Pitaloka”.

1.2           . Permasalahan

1.2.1.                        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dikaji adalah :
(1)   Bagaimanakah lapis bunyi (sound stratum) dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka?
(2)   Bagaimanakah lapis arti (units of meaning) dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka?
(3)   Bagaimanakah lapis ketiga dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka?
(4)   Bagaimanakah lapis keempat dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka?
(5)   Bagaimanakah lapis kelima dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka?

1.2.2.                        Penegasan Konsep Variabel
Untuk menghindari kesalahan persepsi dan perbedaan konsep variabel yang terdapat dalam judul penelitian ini, maka perlu adanya penegasan konsep variabel sebagai batasan operasional. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel yakni strata norma kumpulan puisi ”Ups!” Karya Rieke Diah Pitaloka.
Yang dimaksud dengan strata norma kumpulan puisi ”Ups!” Karya Rieke Diah Pitaloka adalah penyelidikan puisi dalam kumpulan puisi”Ups!” Karya Rieke Diah Pitaloka berdasarkan strata norma. Pengertian norma-norma ini jangan dikacaukan dengan norma-norma klasik, etika, ataupun politik. Norma karya sastra harus dipahami sebagai norma implisit yang harus ditarik dari pengalaman individu karya sastra dan bersama-sama merupakan karya sastra murni sebagai keseluruhan. Strata norma tersebut meliputi : lapis bunyi (sound stratum), lapis arti (units of meaning), lapis ketiga, lapis keempat, dan lapis kelima.

1.2.3.                        Deskripsi Masalah
Berdasarkan masalah di atas, maka penulis mendeskripsikan masalah sebagai berikut : Puisi merupakan sastra yang paling inti. Segala unsur seni kesusastaraan mengental dalam puisi. Puisi mempunyai sifat, struktur, dan konvensi-konvensi sendiri yang khusus. Puisi diciptakan penyair dengan menggunakan berbagai sarana untuk mendapatkan kepuitisan seefektif dan seintensif mungkin. Untuk mengetahui puisi lebih lanjut, perlulah terlebih dahulu diketahui unsur-unsur pembentuk puisi supaya pengetahuan tentang puisi dapat lebih mendalam.
Memahami puisi secara sepenuhnya tidaklah mudah. Untuk memahami sepenuhnya perlu dianalisis, hal ini mengingat bahwa puisi merupakan struktur yang kompleks. Analisis puisi berdasarkan strata norma merupakan analisis berdasarkan fenomena yang ada. Dengan analisis demikian itu, akan dapat diketahui semua unsur dan sarana puisi yang ada. Rene Wellek dalam Pradopo (2002:14) mengemukakan analisis Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia menganalisis norma-norma sebagai berikut:
(1)            Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Lapis bunyi dalam sajak itu ialah semua satuan bunyi yang berdsarkan konvensi bahasa tertentu, di sini bahasa Indonesia. Dengan adanya satuan-satuan bunyi itu orang menangkap artinya. Maka, lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua, lapis arti.
(2)            Lapis arti (units of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semua itu merupakan satuan-satuan arti.
(3)            Lapis ketiga adalah lapis yang ditimbulkan oleh lapis arti. Lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.
(4)            Lapis keempat adalah lapis ”dunia” yang tak usah dinyatakan, tetapi sudah implisit.
(5)            Lapis kelima adalah lapis metafisis yang mrnyebabkan pembaca berkontemplasi.

1.2.4.                        Pembatasan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dibatasi pada:
(1)   Lapis bunyi (sound stratum) dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(2)   Lapis arti (units of meaning) dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(3)   Lapis ketiga dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(4)   Lapis keempat dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(5)   Lapis kelima dalam Kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.



1.3           . Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah untuk memperoleh deskripsi yang objektif tentang :
(1) Lapis bunyi (sound stratum) pada kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(2) Lapis arti (units of meaning) pada kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(3) Lapis ketiga pada kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(4) Lapis keempat pada kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(5) Lapis kelima pada kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.

1.4           . Asumsi
Penelitian ini dilandasi oleh sejumlah asumsi sebagai berikut :
(1)            Untuk memahami sebuah puisi pembaca harus mempunyai gambaran yang cukup. Hal ini karena bahasa yang dipergunakan dalam puisi bersifat konotatif.
(2)            Sifat konsentrif merupakan ciri khas puisi, sehingga dalam penyampaiannya cukup dengan sedikit kata namun kaya makna.
(3)            Puisi  sebagai salah satu bentuk karya sastra tercipta melalui proses kreatif dan imajinatif pengarang sehingga dipengaruhi oleh faktor lain yang berasal dari luar diri pengarang, baik secara psikologi maupun sosiologi.
(4)            Seseorang pengarang mempunyai kecenderungan tertentu yang terdapat dalam karyanya dan merupakan ciri khasnya.

1.5           . Manfaat Penelitian
Penelitian ini penting karena menghasilkan manfaat sebagai berikut :
(1) Memberikan wawasan yang objektif terhadap pengkajian puisi, khususnya dalam menentukan dan menganaisis strata norma yang terdapat dalam puisi.
(2) Dapat dijadikan pegangan sebagai referensi bagi kegiatan apresiasi sastra Indonesia, khususnya cara memahami puisi.
(3) Sebagai wadah peneliti sendiri dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari bangku kuliah khususnya di bidang sastra Indonesia.

1.6           . Alasan Pemilihan Judul
1.6.1. Alasan Objektif
(1)            Karya sastra (puisi) selalu berkembang sesuai dengan kemajuan jaman. Karena itu, pengkajian terhadap karya sastra (puisi) sangat penting dilakukan.
(2)            Analisis puisi berdasarkan strata norma merupakan bentuk analisis yang tidak bersifat dekhotomis sehingga dapat memberikan gambaran secara nyata terhadap sebuah puisi.
(3)            Pembelajaran puisi merupakan bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan dari tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi.

1.6.2. Alasan Subjektif
(1)            Menurut peneliti masalah ini belum diteliti, sehingga pneliti merasa tertarik untuk meneliti strata norma dalam kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.
(2)            Peneliti merasa simpatik kepada Rieke Diah Pitaloka. Karena itu, peneliti ingin mengetahui lebih dekat lewat karya-karyanya.
(3)            Peneliti ingin mengembangkan pikiran dan pengalaman mengenai masalah-masalah pemahaman sebuah karya sastra khususnya puisi.

1.7           . Batasan Istilah Dalam Judul
Untuk menghindari kesalahpahaman istilah dalam judul yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu ditegaskan batasan istilah dalam judul itu sebagai berikut:
a. Analisis
Analisis adalah penyelidikan terhadap sebuah peristiwa (karangan, perbuatan) untuk mengetahui keadaan sebenarnya (sebab-sebab dan duduk perkaranya) (Moeliono, 1990 : 32). Dalam pembahasan ini analisis diartikan penyelidikan terhadap kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka berdasarkan strata norma.
b. Strata Norma
Strata adalah lapisan (Moeliono, 1990 : 859 ), sedangkan norma adalah aturan, ukuran, atau kaidah yang dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai atau membandingkan sesuatu (Moeliono, 1990 : 617 ). Dalam pembahasan ini Strata norma diartikan lapis-lapis kaidah yang dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai atau membandingkan karya sastra (puisi). Lapis-lapis norma yang dimaksud meliputi: lapis bunyi, lapis arti, lapis ketiga, lapis keempat, dan lapis kelima.
c. Ups!
Yang dimaksud dengan Ups! adalah kumpulan puisi karya Rieke Diah Pitaloka cetakan pertama tahun 2005 yang  diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama sebanyak vi+111 halaman dan terdiri dari 40 puisi.

1.8           . Ruang lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah analisis berdasarkan lapis-lapis norma yang meliputi : lapis bunyi (sound stratum), lapis arti (units of meaning), lapis ketiga, lapis keempat, dan lapis kelima dengan objek analisis kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka yang  diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama dan terdiri dari 40 puisi, yakni : (1) Tulang  Rusuk, (2) Bagimu Negeri Kami Berbagi,  (3) Enam Manusia Ciptaan Tuhan, (4) Depan Rumah Jalan Gandaria, (5) Hari kesepuluh, (6) Alun-alun Kota, (7) ...di Beranda Baiturrahman, (8) Londo Ireng, (9) Pancasila!, (10) Adam Dan Hawa Tak Mungkin Bersama, (11) Marasmus, (12) Di Antara Berkas Pembebasan, (13) Kupu Kecil Itu, (14) Note 2, (15) Note 3, (16) Kematian Dua Lelaki, (17) Kado Cinta, (18) Aku- Ramadhan-Ibu, (19) Janji Seorang Pekerja,  (20) Interogasi Tahanan Terakhir, (21) Doa Dari Palestina, (22) Hio Merah, (23) Hari Itu, (24) Sisa Indah Bulan Purnama, (25) Fatamorgana, (26) Seragam, (27) Santet Kuntet, (28) Puisi di Awal Hari, (29) Perempuan Berkerudung, (30) Surat Untuk Pekerja, (31) Penjaga Tiang Gantung, (32) Pada Pesta Perayaan Kemenagan, (33) Meulaboh, (34) Situs, (35) Menu Pengantar Tidur,  (36) Toko di Jalan Buncit, (37) Teror, (38) Tentang Aku dan Ayahmu, (39) Surat Wasiat, (40) Ups!

1.9           . Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh pembahasan yang sistematis, komposisi skripsi ini ditulis menjadi lima bab :
BAB I PENDAHULUAN memuat latar belakang masalah, permasalahan yang terdiri dari : (1) rumusan masalah, (2) penegasan konsep variabel, dan (3) deskripsi masalah, pembatasan masalah, tujuaan penelitian, asumsi, manfaat penelitian, pengertian istilah dalam judul, dan sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN berfungsi sebagai landasan teori dalam usaha mendeskripsikan tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk mengkaji tentang : (1) pengertian puisi, (2) Struktur puisi, (3) strata norma puisi, dan (4) biografi penyair Rieke Diah Pitaloka.
BAB III METODE PENELITIAN digunakan untuk mengurai teknik penentuan subjek penelitian yang terdiri dari : pendekatan penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Penggunaan metode ini untuk menemukan strata norma dalam kumpulan puisi “Ups!” karya Rike Diah Pitaloka.
Bab IV ANALISIS DATA disajikan hasil penelitian secara deskriptif kualitatif sehingga pembaca memperoleh gambaran tentang hasil penelitian ini.
BAB V PENUTUP yang berisi kesimpulan dan saran sebagai hasil dan manfaat yang diperoleh dari keseluruhan penelitian.

Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog