Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

05 Mei 2011

ANALISIS STRATA NORMA DALAM KUMPULAN PUISI “UPS!” KARYA RIEKE DIAH PITALOKA (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1.        Pengertian Puisi
Kita sering kali menjumpai kesulitan untuk merumuskan pengertian puisi karena begitu banyaknya ragam puisi. Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya sehingga sampai sekarang belum terdapat definisi yang tepat apakah puisi itu. Tetapi, untuk memahami puisi kita harus mengetahui batasan-batasan tentang puisi sebagai pangkal tolak pembahasan.
Wirdjosoedarmo dalam Pradopo (2002:5) mendefinisikan puisi sebagai karangan yang terikat oleh : (1) banyaknya baris dalam tiap bait (kuplet/strofa, suku karangan); (2) banyak kata dalam tiap baris; (3) banyak suku kata dalam tiap baris; (4) rima; dan (5) irama. Definisi yang diungkap oleh Wirdjosoedarmo hanya cocok untuk puisi lama dan sudah tidak cocok lagi dengan puisi jaman sekarang.
John Dreyden menghubungkan puisi dengan musik. Poetry is articulate music (puisi adalah musik yang tersusun rapi). Poetry not to speak but to sing. Jadi bukan berbicara tapi berdendang (kepada peminatnya). Samuel Johnson mengatakan bahwa puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan penuh daya; dia bercikal bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian. Matthew Arnold memberikan definisi bahwa puisi merupakan bentuk organisasi tertinggi dari kegiatan intelek manusia. Senada dengan itu, Bradley mengatakan puisi adalah semangat. Dia bukan pembantu kita, tetapi pemimpin kita. Rapl Waldo Emerson mengatakan bahwa ”puisi merupakan upaya untuk mengekspresikan jiwa sesuatu, untuk menggerakkan tubuh yang kasar, mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkan ada”. (Djojosuroto, 2005:10).
Hudson dalam Aminuddin (1987 : 134) mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.
Pendapat-pendapat lain dari para sastrawan dunia tentang puisi adalah sebagai berikut:
(1)   Samuel Taylor Coleridge : puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara unsur yang satu dengan unsur yang lain sangat erat hubungannya.
(2)   Carlyle: puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal.  Penyair dalam menciptakan puisi itu memikirkan bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya. Kata-kata disusun begitu rupa sehingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan menggunakan orkestrasi bunyi.
(3)   Dunton: puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkrit dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya dengan kiasan citra-citra, dan disusun artistik (selaras, simetris, pemilihan katanya tepat, dan sebagainya), bahasanya penuh perasaan, dan berirama seperti musik (pergantian bunyi iramanya berturut-turut secara teratur).
(4)   Shelley mengemukakan  bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat, seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya itu merupakan detik- detik yang paling indah untuk direkam.
(5)   Shanon Ahmad mengemukakan  bila unsur-unsur dari pendapat itu dipadukan, maka akan didapat garis-garis besar tentang pengertian puisi yang sebenarnya. unsur-unsur tersebut berupa: emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada , irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. Di situ dapat disimpulkan ada tiga unsur pokok. Pertama, hal yang meliputi pemikiran, ide atau emosi; kedua, bentuknya; dan yang ketiga adalah kesannya. Semua itu itu terungkap dengan media bahasa. (Pradopo, 2002:6-7)
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat didefinisikan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberikan kesan puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.
2.2.        Struktur Puisi
Dalam pembahasan struktur puisi ini akan dibahas bunyi, irama, diksi, tema, perasaan, dan amanat. Hal ini disebabkan karena struktur-struktur tersebut sangat berkaitan dengan masalah-masalah yang akan dibahas serta dapat dijadikan dasar untuk menganalisis strata norma kumpulan puisi “Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka.

2.2.1. Bunyi
Boulton dalam Djojosuroto (2005:22) mengemukakan bahwa “peranan bunyi mendapat perhatian penting dalam menentukan makna yang dihasilkan puisi, jika puisi dibaca. Pembahasan bunyi dalam puisi menyangkut masalah rima, ritma, dan metrum. Rima berarti persamaan atau pengulangan bunyi, sedangkan ritma berarti pertentangan bunyi yang berulang secara teratur yang membentuk gelombang antar baris puisi. Metrum adalah variasi tekanan kata atau suku kata.”
Bunyi dalam puisi bersifat estetik dan merupakan unsur puisi yang dapat menimbulkan keindahan dan tenaga ekspresif. Dalam puisi bunyi digunakan sebagai orkestrasi. Orkestrasi ialah menimbulkan bunyi musik. Bunyi konsonan dan vokal disusun begitu rupa sehingga menimbulkan bunyi yang merdu dan berirama seperti bunyi musik. Dari bunyi musik murni inilah dapat menimbulkan perasaan, imaji-imaji dalam pikiran atau pengalaman-pengalaman jiwa pendengarnya (pembacanya).
Kombinasi-kombinasi bunyi yang merdu disebut efoni (euphony), bunyi yang indah. Orkestrasi bunyi merdu ini biasanya untuk menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang atau cinta, serta hal-hal yang menggembirakan. Bunyi-bunyi efoni itu ditimbulkan oleh kombinasi bunyi-bunyi vokal (asonansi) : a,e,u,e,o, bunyi-bunyi konsonan bersuara (voiced) : b,d,g,j, bunyi-bunyi liquida : r,l, dan bunyi sengau : m,n,ng,ny.
Sebaliknya, kombinasi bunyi-bunyi yang tidak merdu, parau disebut kakofoni (cacophony). Bunyi kakofoni ini ditimbulkan oleh bunyi k,p,t,s. bunyi kakofoni cocok untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau balau, serba tidak teratur, bahkan memuakkan (Pradopo, 2002: 29).

2.2.2. Irama
Irama dalam puisi adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Secara umum  dapat disimpulkan bahwa irama itu adalah pergantian berturut-turut secara teratur.
Irama dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu metrum dan ritme. Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya tetap menurut pola tetentu. Ritme adalah irama yang disebabkan oleh pergantian atau pertentangan bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya (Pradopo, 2002: 40).
Dalam puisi timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi. Begitu juga karena adnya paralelisme-paralelisme, ulangan-ulangan kata, dan ulangan-ulangan bait. Juga disebabkan tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemah, disebabkan oleh sifat-sifat konsonan dan vokalnya atau panjang pendek kata, juga disebabkan oleh kelompok-kelompok sintaksis: gatra atau kelompok kata.
Dengan adanya irama itu, selain puisi terdengar merdu, mudah dibaca, hal ini juga menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan imajinasi yang jelas dan hidup. Hal ini menimbulkan juga adanya pesona atau daya magis hingga membuat pembaca atau pendengar ke dalam keadaan extase (bersatu diri dengan objeknya) dan menyebabkan berkontemplasi pada sajak itu (Pradopo, 2002:45).

2.2.3. Diksi
Boulton dalam Djojosuroto (2005:16) mengemukakan bahwa diksi merupakan esensi penulisan puisi. Ada pula yang menyebut diksi sebagai dasar bangunan puisi. Kata-kata yang dipilih penyair sesuai dengan perasaan dan nada puisi. Nada dan perasaan penyair menentukan pemilihan kata. Jika dihubungkan dengan lambang, maka sebuah kata mungkin melambangkan sesuatu, efek yang dihasilkan oleh kata tertentu akan mempunyai makna tertentu pula. Di dalam menentukan kata, penyair juga mempertimbangkan aspek makna primer dan makna skunder, atau biasa disebut dengan makna denotasi dan makna konotasi yang menimbulkan asosiasi.


2.2.4. Tema
Tema adalah ide dasar suatu puisi yang menjadi inti keseluruhan makna dari suatu puisi. Tema berbeda dengan pandangan moral atau message meski tema itu berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah. Disebut tidak sama dengan pandangan moral atau message karena tema hanya dapat diambil dengan jalur menyimpulkan inti dasar yang terdapat di dalam totalitas makna puisi, sedangkan pandangan moral atau message dapat saja berada di luar butir-butir pokok pikiran yang ditampilkannya. Dengan kata lain, bidang cakupan tema lebih luas dari pandangan moral atau message (Djojosuroto, 2005: 24)

2.2.5. Perasaan
Dalam puisi diungkapkan perasaan penyair. Puisi dapat mengungkapkan perasaan gembira, sedih, terharu, takut, gelisah, rindu, penasaran, benci, cinta, dendam, dan sebagainya. Perasaan yang diungkapkan penyair bersifat total, artinya tidak setengah-setengah. Jika yang diungkapkan adalah perasaan sedih, maka kesedihan itu tidak setengah-setengah, tetapi kesedihan yang bersifat total. Oleh karena itu penyair mengerahkan segenap kekuatan bahasa untuk memperkuat ekspresi perasaan yang bersifat total itu. (Tarigan dalam Djojosuroto,2005:26)

2.2.6. Amanat
Puisi mengandung amanat atau pesan atau himbauan yang disampaikan penyair kepada pembaca. Amanat dapat dibandingkan denga kesimpulan tentang nilai atau kegunaan puisi itu bagi pembaca. Setiap pembaca dapat menafsirkan amanat puisi secara individual. Tafsiran pembaca mengenai amanat sebuah puisi tergantung dari sikap pembaca itu terhadap tema yang dikemukakan penyair (Djojosuroto:2005:27).

2.3.        Strata Norma Puisi
Pengertian strata norma puisi ini jangan dikacaukan dengan norma-norma klasik, etika, ataupun politik. Norma karya sastra harus dipahami sebagai norma implisit yang harus ditarik dari pengalaman individu karya sastra dan bersama-sama merupakan karya sastra yang murni sebagai keseluruhan. Strata norma tersebut meliputi : lapis bunyi  (sound stratum), lapis arti (units of meaning), lapis ketiga, lapis keempat, dan lapis kelima.
Untuk lebih menjelaskan analisis strata norma tersebut diambil contoh sajak Chairil Anwar sebagai berikut :
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar

Angin membantu, laut terang, tapi terasa
Aku tidak ’kan sampai padanya.
Di air yang terang, di angin mendayu,
Di perasaan penghabisan segala melaju

Ajal bertakhta, sambil berkata :
”tujukan perahu ke pangkuanku saja”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ’kan merapuh!

Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum dapat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau
Kalau ’ku mati, dia mati iseng sendiri
(Chairil, 1959:44)

2.3.1.                        Lapis Suara (sound stratum)
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi. Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Tetapi suara itu bukan hanya suara yang tak berarti. Suara itu sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti (Pradopo, 2003:66).
Sajak tersebut berupa satuan-satuan suara: suara suku kata, kata, dan barangkali merupakan seluruh bunyi (suara) sajak itu: suara frase, dan suara kalimat. Jadi, lapis bunyi dalam sajak itu adalah semua satuan bunyi yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu, di sini bahasa Indonesia. Hanya saja dalam puisi pembicaraan lapis bunyi haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat ”istimewa” atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapat efek puitis atau nilai seni, terutama di sini bunyi-bunyi yang mengandung ekspresi kuat, yang adanya memang disengaja oleh penyair untuk mengekspresikan pengalaman jiwanya.
Pada bait pertama baris pertama sajak ”Cintaku jauh di pulau” ada asonansi a dan u, di baris kedua ada aliterasi s yang berturut-turut : gadis manis, sekarang iseng sendiri. Begitu juga dalam bait kedua ada asonansi a : melancar-memancar-si pacar-terasa-padanya. Aliterasi l dan r : perahu melancar. Bulan memancar, laut terang tapi terasa. Pola sajak akhir bait ke-2, 3, 4 : aa-bb yang saling dipertentangkan. Memncar-si pacar dipertentangkan dengan terasa-padanya; kutempuh-merapuh dipertentangkan dengan dulu-cintaku. Pada umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vokal bersuara berat a dan u, seperti kelihatan dalam bait ketiga dan keempat yang dipergunakan sebagai lambang rasa (klanksymboliek) (pradopo, 2002:17).

2.3.2.                        Lapis Arti (units of meaning)
Lapis arti berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Akan tetapi, dalam karya sastra yang merupakan satuan minimum arti adalah kata. Kata dirangkai menjadi kelompok kata dan kalimat. Kalimat-kalimat berangkai menjadi alinea, bab, dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak (Pradopo, 2003:67).
Dalam bait pertama, ” Cintaku jauh di pulau” berarti : kekasiku berada di pulau yang jauh. ’Gadis manis, sekarang iseng sendiri’, kekasih si aku masih gadis dan manis. Karena si aku tidak ada, ia berbuat iseng menghabiskan waktu sendirian. Dapat juga berarti bahwa si gadis sangat menatikan si aku.
Dalam bait kedua; untuk menuju kekasihnya itu si aku naik perahu dengan lancar pada waktu terang bulan, tidak berkabut. Meskipun demikian, si aku merasa tidak akan sampai pada pacarnya.
Bait ketiga : di air laut yang terang dan di angin yang bertiup kencang itu menurut perasaan sepenuhnya (di perasaan penghabisan) semuanya serba cepat, laju tanpa halangan, namun ajal (kematian) telah memberi isyarat akan mengakhiri hidup si aku.
Bait kelima : karena itu, si aku yang berada di pulau yang jauh itu, akan sia-sia menanti si aku dan mati menghabiskan waktu sendiri.
Sesungguhnya sajak itu berupa kiasan. Pacar si aku, gadis manis itu, adalah cita-cita si aku yang menarik, tetapi sukar dicapai, harus melalui laut yang melambangkan perjuangan yang penuh rintangan, bahkan menentang maut. Karena itu, sebelum si aku mencapai cita-citanya ia telah meninggal (Pradopo, 2002:18).

2.3.3.                        Lapis Ketiga
Rangkaian satuan-satuan arti itu menimbulkan lapis yang ketiga, yaitu objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan semuanya itu berangkai menjadi dunia pengarang berupa cerita, lukisan, ataupun pernyataan.
objek-objek yang dikemukakan : cintaku, gadis manis, laut, pulau, perahu, angin, air laut dan ajal.
Pelaku atau tokoh : si aku. Latar waktu : waktu malam terang bulan. Latar tempat : laut yang terang (tidak berkabut).
Dunia pengarang adalah ceritanya, yang merupakan dunia yang diciptakan oleh pengarang. Ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur ceritanya (alur); seperti berikut :
Gadis manis, kekasih si aku berada sendirian di sebuah pulau yang jauh. Si aku ingin menemaninya, ia naik perahu dengan laju pada waktu malam terang bulan. Laut tak berkabut, angin meniup kencang. Akan tetapi dalam keadaan serba lancar itu, si aku merasa ia tidak akan sampai pada kekasihnya karena maut yang lebih dulu menghalang. Bahkan setelah bertahun-tahun berlayar, hingga perahu yang dinaiki akan merapuh (rusak). Kaena itu, kalau si aku tidak akan sampai ke tempat kekasihnya, maka gadis itu akan sia-sia menghabiskan waktu sendirian (pradopo, 2002:17).

2.3.4.                        Lapis Keempat
Lapis norma keempat adalah lapis ”dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan secara eksplisit karena sudah terkandung di dalamnya (implisit). Sebuah peristiwa dapat dikemukakan atau dinyatakan ”terdengar” atau ”terlihat”, bahkan peristiwa yang sama, misalnya jederan pintu, dapat menyiratkan atau memperlihatkan aspek watak ”luar” atau ”dalam”. Misalnya, pintu membuka bersuara halus dapat memberi sugesti yang membuka atau yang menutup seorang wanita atau orang yang berwatak hati-hati. Keadaan yang telihat dapat memberikan sugesti atau menyiratkan orang yang ada di dalamnya.
Di pandang dari sudut pandang tertentu kekasih si aku itu menarik, kelihatan dari kata-kata : gadis manis. Bait kedua menyatakan sesuatu yang menyenangkan dan si aku penuh kegembiraan berlayar di laut yang terang. Bait keempat menyatakan kegelisahan si aku yang merasa bahwa usahanya sia-sia.
Bait ketiga menyatakan segalanya berjalan dengan baik, perahunya berlayar dengan laju dan baris ke-3,4 menyatakan si aku telah dihadang kematiannya.
Bait keempat dan kelima menyatakan kegagalan si aku untuk mencapai gadisnya (cita-citanya) meskipun segala daya upaya telah dilakukan. Sebelum mencapai cita-citanya si aku mati (Pradopo, 2002:19).

2.3.5.                        Lapis Kelima
Lapis norma kelima adalah lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisik (yang sublim, yang tragis, mengerikan  atau menakutkan, dan yang suci). Dengan sifat-sifat ini karya sastra dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca.
Dalam sajak ini lapis itu berupa ketragisan hidup manusia : yaitu meskipun segala usaha telah dilakukan, disertai sarana yang cukup, bahkan segalanya berjalan dengan lancar, tetapi sering kali manusia tidak dapat mencapai apa yang diidam-idamkan (yang dicita-citakannya) karena maut telah lebih dulu menghadang. Dengan demikian, cita-cita yang hebat, menggairahkan, akan sia-sia saja (pradopo, 2002:19).




2.4.        Biografi Penyair Rieke Diah Pitaloka
Rieke Diah Pitaloka lahir pada 9 Januari 1974 di Garut, Daerah Yang paling rendah indeks pembangunan manusianya di Jawa Barat. Ia telah memperluas panggung perpuisian Indonesia lebih dari sekedar dunia sastra. Dengan puisi ia mengunjungi Lembaga Permasyrakatan Perempuan di Tanggerang. Dengan puisi pula ia bergaul di kalangan diplomatik, misalnya dalam kesempatan hari puisi yang disponsori oleh pemerintah Perancis. Ia membaca sajak Museum Kampus di berbagai pertemuan dan peringatan.
Keke (begitu ia sering dipanggil) bukan hanya seorang penyair. Keke mempunyai dunia yang kaya dan beragam. Mulai dari menghayati peran sebagai orang yang paling bodoh tapi cantik jelita dalam perannya sebagai Si Oneng, seorang isteri yang polos dan sengaja dungu, di serial televisi Bajaj Bajuri; sampai sebagai cendikiawan, seorang magister ilmu filsafat. Di antara kedua panggung (sandiwara di satu sisi dan kesungguhan hati di sisi lain) itulah Keke menunjukkan kiprahnya dalam produk karya sastra.
Keke adalah manusia yang mempunyai banyak wajah. Wajahnya sebagai penyair belum tentu lebih cantik ketimbang sebagai pelawak, bintang sinetron. Rieke Diah Pitaloka sukses besar dalam kinerjanya bersandiwara, atau berpura-pura. Belum dalam bersungguh-sunguh.
Selain menjadi presenter, bermain sineteron Bajaj Bajuri, bekerja sebagai asisten dosen filsafat Universitas Indonesia, Rieke Diah Pitaloka juga menulis puisi. Kumpulan puisi Ups! Adalah kumpulan puisi ketiganya. sebelumnya Rieke Diah Pitaloka telah menerbitkan Renungan Kloset (Melibas, 2001), diperbaharui menjadi Renungan Kloset, dari Cengkeh Sampai Utrecht  (GPU, 2003) yang saat ini telah mengalami cetak ulang. Buku lainnya berjudul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat (Galang Press, 2005)
Menulis puisi dilakukan Rieke Diah Pitaloka di tengah-tengah aktivitasnya yang padat. Rieke Diah Pitaloka juga sering tampil membacakan puisi dan memusikalisasinya. Puisi-puisi Rieke Diah Pitaloka terilhami dari pengalaman terjun langsung dalam kancah pro-demokrasi di Indonesia dan empatinya yang besar tehadap penderitaan sesama manusia (Pitaloka, 2005:111).

2.5.        Pendekatan
Pendekatan yang digunakan untuk menemukan strata norma dalam kumpulan puisi ”Ups!” karya Rieke Diah Pitaloka adalah pendekatan formal (struktural) dan pendekatan analitis.
Pendekatan formal (struktural), digunakan dengan landasan bahwa karya sastra merupakan suatu struktur yang unsur-unsur atau bagian-bagiannya saling berjalin erat. Dalam struktur itu unsur-unsur tidak mempunyai makna yang berdiri sendiri, tetapi ditentukan oleh hubungan seluruh unsur sebagai totalitas. Unsur-unsur karya sastra itu dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas pemahaman tempat dan fungsi itu dalam keseluruhan karya sastra. Seorang pembaca harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra (puisi) yang akan diinterpretasikannya, karena tanpa pemahaman karya sastra sebagai artefak tidak mempunyai makna.
Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha untuk memahami suatu gagasan, cara pengarang menampilkan suatu gagasan, atau mengimajikan ide-idenya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu, sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas makna (Aminuddin, 1987:44). Dalam pendekatan ini diharapkan pembaca pada umumnya menyadari bahwa cipta sastra pada dasarnya diwujudkan melalui kegiatan yang serius dan terencana sehingga tertanam rasa penghargaan atau sikap yang baik terhadap karya sastra.

SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

1 komentar:

Misran d'lahoya mengatakan...

mkasih atas blognya..........

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog