Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

22 Mei 2011

Analisis religiusitas tokoh dalam kumpulan cerpen robohnya surau kami karya aa. navis (bab I)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Tinjauan tentang Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis

1. Pengertian Cerpen
Cerpen singkatan dari kata cerita pendek. Akan tetapi, tidak setiap cerita yang pendek disebut cerpen. Sketsa atau lukisan termasuk cerita pendek yang bukan cerpen karena dalam sketsa tidak terdapat pelaku utama yang diikuti perkembangan kehidupan jiwanya sejak awal sampai akhir cerita. Demikian juga fabel, parabel, dan cerita rakyat termasuk cerita yang pendek yang bukan cerpen (Jabrohim, 1994:165).
Jabrohim (1994:165) lebih jelas mendefinisikan cerita pendek dapat disebut cerpen apabila memiliki ciri-ciri pokok sebagai berikut.
a. Cerita fiksi.
b. Bentuk singkat dan padat.
c. Ceritanya terpusat pada suatu peristiwa/insiden/konflik pokok.
d. Jumlah dan pengembangan pelaku terbatas, dan
e. Keseluruhan cerita memberikan satu efek/kesan tunggal.
Dari ciri-ciri pokok di atas, dapat dirumuskan batasan cerpen, yaitu cerita fiksi berbentuk prosa yang singkat dan padat, yang unsur ceritanya terpusat pada satu peristiwa pokok sehingga jumlah dan pengembangan pelaku terbatas dan keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal.
1. Macam-macam Cerpen
a. Berdasarkan panjang pendeknya cerita/segi kualitas
1) Cerpen singkat : kurang dari 2.000 kata
2) Cerpen sedang/umum : terdiri 2.000 s.d 5.000 kata
3) Cerpen panjang : lebih dari 5.000 kata
(Jabrohim, 1994:166)
b. Berdasarkan nilai sastranya/segi kualitas
1) Cerpen hiburan, yaitu umumnya cerpen terdapat dalam majalah-majalah hiburan atau dalam surat kabar edisi Minggu. Cerpen hiburan umumnya bertemakan cinta kasih kaum remaja dengan menggunakan bahasa aktual. Peristiwa yang dilukiskan tampak seperti dibuat-buat, bersifat artifisial.
2) Cerpen sastra, yaitu umumnya cerpen terdapat dalam majalah sastra, majalah kebudayaan, atau dalam buku-buku kumpulan cerpen. Cerpen sastra cenderung menggunakan bahasa baku dan bertemakan kehidupan manusia dengan segala persoalannya.
c. Berdasarkan corak unsur struktur ceritanya
1) Cerpen konvensional, yaitu cerpen yang struktur ceritanya sesuai dengan konvensi yang ada.
2) Cerpen kontemporer, yaitu cerpen yang struktur ceritanya menyimpang atau bahkan bertentangan dengan konvensi yang ada (Jabrohim, 1994:165).
2. Unsur Pembangun Cerpen
Seperti halnya karya fiksi yang lain, unsur pembangun cerpen terbagi dalam dua bagian (1) unsur ekstrinsik, yaitu unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra. Unsur-unsur yang dimaksud antara lain adalah biografi pengarang, psikologi (baik pengarang, pembaca maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya), pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya, dan (2) unsur instrinsik, yaitu unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur yang dimaksud diantaranya adalah peristiwa (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, layar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), serta gaya (style) pengarangnya (Nurgiyantoro, 1998:23).
2. Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis
Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A.Navis pertama kali ditrerbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jalan Palmerah Selatan 24-26 Jakarta yang merupakan anggota IKAPI pada bulan November 1986.
Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A.Navis terdiri sepuluh cerpen, yaitu (1) Robonya Surau Kami, (2) Anak Kebanggaan, (3) Nasihat-nasihat, (4) Topi Helm, (5) Datangya dan Perginya, (6) Pada Pembotakan Terakhir, (7) Angin dari Gunung, (8) Menanti Kelahiran, (9) Penolong, dan (10) Dari Masa ke Masa.
3. Biografi A.A. Navis
A.A. Navis dilahirkan di Padangpanjang (Sumatera Barat), 17 November 1924. menamatkan pendidikan di Perguruan INS Kayutanam (1945), kemudian sejak tahun 1969 mejadi Ketua Ruang Pendidik INS Kayutanam.. Ia pun pernah menjadi Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat (1955-1957), pemimpin redaksi harian Semangat di Padang (1971-1972), dan anggota DPRD Sumatera Barat (1971-1982)
Karya-karyanya adalah Robohnya Surau Kami (1956), Bianglala (1963), Hujan Panas(1964), Saraswati Si Gadis dalam Sunyi (1970), Kemarau (1967), Di Lintasan Mendung(1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), dan Pasang Surut Pengusaha Pejuang (biografi Hasjim Ning, 1986).
Tahun 1988 Navis menerima Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
A.A. Navis merupakan sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama-agama di Indonesia dan manapun Juga.
B. Konflik Religiusitas
1. Konflik
Ditinjau dari istilah, konflik memiliki beberapa pengertian. Pertama, konflik adalah ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dsb) (KBBI, 1997:518).
Kedua, Konflik menyaran pada konotasi yang negatif, sesuatu yang tak menyenangkan. Itulah sebabnya orang lebih suka memilih menghindari konflik dan menghendaki kehidupan yang tenang.
Ketiga, Wellek dan Warren (dalam Nurgiyantoro, 1998:122) menjelaskan bahwa Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.
Konflik (conflict) adalah kejadian yang tergolong penting (jadi, ia akan berupa peristiwa fungsional, utama, atau kernel), merupakan unsur yang esensial dalam pengembangan plot (Nurgiyantoro, 1998:122). Peristiwa kehidupan baru menjadi cerita (plot) apabila memunculkan konflik, masalah yang sensasional, bersifat dramatik, dan karenanya menarik untuk diceritakan.
Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebakan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Ada peristiwa tertentu yang dapat menimbulkan terjadinya konflik. Sebaliknya, karena terjadinya konflik, peristiwa-peristiwa lain pun dapat bermunculan, misalnya yang sebagai akibatnya. Konflik demi konflik yang disusul oleh peristiwa demi peristiwa akan menyebabkan konflik menjadi semakin meningkat. Konflik yang telah sedemikian meruncing sampai pada titik puncak disebut klimaks.
Bentuk peristiwa dalam sebuah cerita sebagaimana telah dikemukakan, dapat berupa peristiwa fisik ataupun batin. Peristiwa fisik melibatkan aktivitas fisik, ada interaksi antara seorang tokoh cerita dengan sesuatu yang di luar dirinya: tokoh lain atau lingkungan. Peristiwa batin adalah sesuatu yang terjadi dalam batin atau hati seorang tokoh. Kedua bentuk peristiwa tersebut saling berkaitan dan saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain.
Bentuk konflik, sebagai bentuk kejadian, dapat pula dibedakan ke dalam dua kategori: konflik fisik dan konflik batin, konflik eksternal (external conflict), dan konflik intrenal (internal conflict) (Stanton dalam Nurgiyantoro, 1998:124).
a. Konflik Eksternal
Konflik Eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang di luar dirinya. Mungkin dengan lingkungan alam mungkin lingkungan manusia. Dengan demikian, konflik eksternal dapat dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu konflik fisik (physical conflict) dan konflik sosial (social conflict)
Konflik fisik atau disebut juga konflik elemental adalah konflik yang disebabkan adanya pembenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Misalnya, konflik dan atau permasalahan yang dialami seorang tokoh akibat adanya banjir besar, kemarau panjang, gunung meletus, dan sebagainya.
Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia, antara lain berwujud masalah perburuhan, penindasan, percekcokan, peperangan, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya (Nurgiyantoro, 1998:124).
b. Konflik Internal
Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati dan jiwa seorang tokoh cerita. Jadi, ia merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, ia lebih merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya (Nurgiyantoro, 1998:124).
2. Religiusitas
Menurut The World Book Dictionary (dalam Subiyantoro, 1989:123) kata religiousity berarti religious feeling or sentiment atau perasaan keagamaan. Penjelasan ini mungkin terlalu singkat. Agar tidak terlalu singkat maka kita kembali pada akar kata religion yang sering kita salin menjadi religi bukan agama.
Religi diartikan lebih luas dari agama. Konon kata religi menurut asal kata berarti ikatan atau pengikatan diri. Dari sini pengertiannya lebih daripada personalitas, hal yang pribadi. Oleh karena itu ia lebih dinamis karena lebih menonjolkan eksistensinya sebagai manusia (Subiyantoro, 1989:123).
Jika sesuatu ada ikatan atau pengikatan diri, kemudian kata bereligi berarti menyerahkan diri, tunduk, taat. Namun pengertiannya adalah positif. Karena penyerahan diri atau ketaatan dikaitkan dengan kebahagiaan seseorang. Kabahagiaan itu berupa diri seseorang yang melihat seakan-akan ia memasuki dunia baru yang penuh kemuliaan.
Sedang agama biasanya terbatas pada ajaran-ajaran, peraturan-peraturan. Agama lebih menunjuk pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan. Dalam aspeknya yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya. Religiusitas lebih melihat aspek yang di dalam lubuk hati, riak getaran hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak mesteri bagi orang lain, yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi), kedalaman si pribadi manusia (Mangunwijaya dalam Nurgiyantoro, 1998:12).
Religiusitas lebih bergerak dalam tata paguyuban yang dirinya lebih intim. Sesuatu lagu yang berkualitas religius, seperti lagu “Tuhan” ciptaan Trio Bimbo pada beberapa tahun yang lalu. juga sikap-sikap religiusitas seperti berdiri khidmat, konsentrasi mendengarkan ayat-ayat ilahi.
Maka sampai kita pada suatu hal tentang religiusitas yang manusiawi, utuh, yakni kesadaran untuk beramal, menolong orang lain dan teristimewa menolong mereka yang tertimpa penderitaan atau terjerembab dalam lembah-lembah nista. Yang mungkin dijalankan ialah kembali pada diri sendiri.
C. Tokoh Cerita
Tokoh Cerita adalah pemegang peran dalam prosa fiksi. Mutu sebuah cerita banyak ditentukan oleh kepandaian si penulis dalam menghidupkan watak tokoh-tokohnya. Kalau karakter tokoh lemah, maka menjadi lemahlah seluruh cerita. Tiap tokoh semestinya mempunyai kepribadian sendiri-sendiri dan mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang.
Tokoh cerita, menurut Abrams dalam Nurgiyantoro, adalah orang (-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan(1998:165).
Dilihat dari segi peranan dalam pengembangan plot atau tingkat pentingnya tokoh dalam suatu cerita tokoh dibagi dalam dua bagian (1) tokoh utama atau tokoh inti, (2) tokoh tambahan atau tokoh pembantu (Nurgiyan-toro, 1998:176).
1. Tokoh Utama atau Tokoh Inti
Tokoh utama atau tokoh inti yaitu tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita dan ditampilkan terus-menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita, tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain (Nurgiyantoro, 1998:176).
Aminuddin menjelaskan, untuk menentukan siapa tokoh utama atau siapa tokoh tambahan dalam cerita, pembaca dapat menentukan dengan jalan melihat keseringan permunculannya dalam suatu cerita. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya (1987:80).
Karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu ber-hubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkemba-ngan plot secara keseluruhan. Tokoh utama selalu hadir sebagai pelaku, atau yang dikenai kejadian konflik, yang mempengaruhi perkembangan plot. Tokoh Utama dalam sebuah cerita mungkin saja lebih dari satu orang, walau kadar keutamaannya tak (selalu) sama.
Mursal Esten (1981:93) menjelaskan bahwa untuk menentukan tokoh utama atau tokoh inti dalam sebuah cerita yaitu hampir sama dengan apa yang dilakukan sewaktu menentukan tema. Pertama dilihat masalahnya (tema), lalu dilihat tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan masalah tersebut. Kedua, tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Ketiga, tokoh mana yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.
2. Tokoh Tambahan atau Tokoh Pembantu
Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tokoh tambahan atau tokoh pembantu, yaitu tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dan itupun mungkin dalam porsi penceritaan yang re-latif pendek (1998:176). Definisi lain dijelaskan bahwa tokoh tambahan atau tokoh pembantu adalah tokoh yang memiliki peranan tidak pen-ting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama (Aminuddin, 1987:80).
Jika dibandingkan dengan tokoh utama pemunculan tokoh-tokoh tambahan atau tokoh pembantu dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tidak langsung.
Perbedaan antara tokoh utama dengan tokoh tambahan tak dapat dilakukan secara eksak, perbedaaan ini lebih bersifat gradasi, kadar keutamaan tokoh-tokoh itu bertingkat: tokoh utama (yang) utama, utama tambahan, tokoh tambahan utama, tambahan (yang memang) tambahan (Nurgiyantoro, 1998:178). Keutamaan mereka ditentukan oleh dominasi, banyaknya penceritaan, dan pengaruhnya terhadap perkembangan plot secara keseluruhan.
Selain dari hal tersebut di atas tokoh cerita dalam karya sastra dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan ke dalam protagonis dan tokoh antagonis. Dilihat berdasarkan perwatakannya dibedakan ke dalam tokoh sederhana dan tokoh kompleks atau tokoh bulat. Dilihat berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dapat di-bedakan ke dalam tokoh statis/tak berkembang dan tokoh berkembang. Dilihat berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap (sekelompok) manusia dari kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam tokoh tipikal dan tokoh netral (Nurgiyantoro, 1998176-190).
Dalam karya sastra khususnya roman yang merupakan sebuah cerita yang panjang, tokoh utama atau tokoh inti biasanya merupakan tokoh protagonis, memiliki watak kompleks, termasuk kreteria tokoh yang berkembang, dengan pencerminan tokoh netral.
1. Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis
Altenbernd & Lewis dalam Nurgiyantoro menjelaskan bahwa yang disebut tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satunya secara populer disebut hero, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita (1998:178). Menurut Aminuddin tokoh protagonis yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca (1987:80).
Sedangkan tokoh antagonis merupakan kebalikan dari tokoh protagonis, yaitu tokoh penyebab terjadinya konflik dan ketegangan yang dialami oleh protagonis. Tokoh protagonis barangkali dapat disebut, beroposisi dengan tokoh protagonis, secara langsung ataupun tak langsung, bersifat fisik maupun batin (Nurgiyantoro, 1998:179). Menurut Aminuddin tokoh antagonis yaitu pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan pembaca (1987:80).

2. Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat
Tokoh sederhana, dalam bentuknya yang asli adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja (Nurgiyantoro, 1998:181-182). Pembaca akan lebih mudah memahami watak dan tingkah laku tokoh sederhana, mudah dikenal dan dipahami, lebih familiar. Aminuddin mendefinisikan tokoh sederhana (simple character) yaitu pelaku yang tidak banyak menimbulkan adanya kompleksitas masalah, pemunculannya hanya dihadapkan pada satu per-masalahan tertentu yang tidak menimbulkan adanya obsesi-obsesi batin yang kompleks (1987:82)
Sedangkan tokoh bulat/kompleks, yaitu tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Abrams dalam Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tokoh bulat lebih menyerupai kahidupan manusia sesungguhnya, karena disam-ping memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan (1998:183). Aminuddin menjelaskan bahwa tokoh bulat (complex character) yaitu pelaku yang pemunculannya banyak dibebani permasalahan, yang memiliki obsesi batin yang cukup kompleks sehingga kehadirannya banyak memberikan gambaran perwatakan yang kompleks pula (1987:82).
3. Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang
Alternbernd & Lewis dalam Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan dan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (1998:188). Aminuddin mendefinsikan tokoh statis adalah pelaku yang tidak menunjukkan adanya perubahan atau perkembangan sejak pelaku itu muncul sampai cerita berakhir (1987:83).
Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan (dan perubahan) peristiwa dan plot yang dikisahkan. Ia secara aktif berinteraksi dalam lingkungannya, baik lingkungan sosial, alam, maupun yang lain, yang kesemuanya itu akan mempengaruhi sikap, watak, dan ting-kah lakunya (Nurgiyantoro, 1998:188). Aminuddin berendapat bahwa tokoh berkembang (dinamis) adalah pelaku yang memiliki perubahan dan perkembangan batin dalam keseluruhan penampilannya (1987:83).

4. Tokoh Tipikal dan Tokoh Netral
Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan ke-adaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerja-an atau kebangsaannya (Nurgiyantoro, 1998:190). Tokoh tipikal meru-pakan penggambaran, pencerminan, atau penunjukan terhadap orang, atau sekelompok orang yang terikat dalam sebuah lembaga, atau se-orang individu sebagai bagian dari suatu lembaga, yang ada di dunia nyata.
Tokoh netral adalah tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi. Nurgiyantoro menjelaskan bahwa Ia hadir (atau dihadirkan) semata-mata demi cerita, atau bahkan dialah sebenarnya yang empunya cerita, pelaku cerita, dan yang diceritakan (1998:191).
Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog