Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

09 Mei 2011

Analisis Nilai-Nilai Sosiologis dalam Cerita Kenangan Sekayu Karya NH. Dini (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

A.   Tinjauan tentang Cerita Kenangan “Sekayu” Karya NH. Dini
1.    Pengantar
Cerita kenangan Cerita adalah karangan yang menuturkan perbuatan pengalaman atau penderitaan orang, kejadian, dsb (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka) (Depdikbud, 1994:186). Kenangan adalah sesuau yang membekas diingatan, kesan (Depdikbud, 1994:477). Dengan demikian dapat disimpulkan cerita kenangan adalah karangan yang menuturkan perbuatan  pengalaman seseorang yang membekas diingatan. Cerita kenangan hampir sama dengan biografi, biografi adalah kisah yang menyajikan pengalaman dan kehidupan seseorang berdasarkan riwayat hidup yang ditulis oleh orang lain (Eneste, 1994:20), sedangkan cerita kenangan sebaliknya.
Cerita kenangan merupakan salah satu prosa fiksi yang disebut juga karya fiksi, yaitu kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, tahapan, dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya. Sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1987:66)
Seperti halnya karya fiksi yang lain, unsur pembangun novel disamping struktur luar (ekstrinsik) adalah struktur dalam (instrinsik) yaitu peristiwa (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, latar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), serta gaya (style) pengarangnya.
a.    Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra itu sendiri, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya (Nurgiyantoro, 2000:23). Faktor yang mempengaruhi karya sastra adalah sosiologi pengerang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan idiologi pengarang (Wellek, 1995:111).
b.    Unsur Intrinsik
Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sebuah roman adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur inilah yang membuat sebuah roman berwujud atau sebaliknya. Unsur yang dimaksud adalah peristiwa cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lain-lain.
Plot dengan jalan cerita memang tak terpisahkan, tetapi harus dibedakan. Orang-orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jalan cerita memuat kejadian. Tetapi suatu kejadian ada karena sebabnya, ada alasannya. Yang menggerakkan kejadian cerita tersebut adalah plot, yaitu segi rohaniah dari kejadian (Sumardjo, 1997:49).
Tokoh cerita (karakter) disebut juga penokohan. Jumlah tokoh cerita yang terlibat dalam novel dan cerpen terbatas, apalagi yang berstatus tokoh utama. Dibanding dengan novel, tokoh cerita cerpen lebih lagi terbatas, baik yang menyangkut jumlah maupun data-data jati diri tokoh, khususnya yang berkaitan dengan perwatakan, sehingga pembaca harus merekonstruksi sendiri gambaran  yang lebih lengkap tentang tokoh itu (Nurgiyantoro, 1998:13).
Tema adalah ide sebuah cerita. Ceritanya yang pendek, cerpen hanya berisi satu tema. Hal ini berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku terbatas. Sebaliknya, novel dapat menawarkan lebih dari satu tema, yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan (Nurgiyantoro, 1998:13).
Latar cerita (setting) sering juga disebut latar. Pelukisan tokoh cerita untuk novel dan cerpen dilihat secara kualitatif terdapat perbedaan yang menonjol. Cerpen tidak memerlukan detil-detil khusus tentang keadaan latar, misalnya yang menyangkut keadaan tempat dan sosial. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besarnya saja, atau bahkan hanya secara implisit, asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan. Novel, sebaliknya, dapat saja melukiskan keadaan latar secara rinci sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkrit, dan pasti (Nurgiyantoro, 1998:13).
Point of view pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini, harus dibedakan denga pandangan pengarang sebagai pribadi, sebab sebuah cerita sebenarnya adalah pandangan pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang akan masuk ke dalam karyanya, dan ini lazim disebut dengan gaya pengarang (Sumardjo, 1997:82).
Gaya (style) pengarang adalah cara khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita (Sumardjo, 1997:92).
2.    Cerita Kenangan “Sekayu” Karya NH. Dini
Karya-karya Nh. Dini yang berbentuk cerita kenangan diantaranya adalah: (1) Sebuah Lorong di Kotaku, (2) Padang Ilalang di Belakang Rumah, (3) Langit dan Bumi Sahabat Kami, (4) Sekayu, dan (5) Kuncup Berseri, (6) Dari Parnyakik ke Kampuchea  (Prihatmi, 1999:61).
Drai cerita kenangan Nh. Dini yang pertama sampai dengan kelima, kita akan dapat merunut perjalanan seorang Dini dari kecil hingg remaja. Cerita kenangan yang pertama ”Sebuah Lorong di Kotaku” menceritakan bahwa di lorong itulah sebuah rumah yang teduh karena penuh pepohonan terletak, dna di sanalah akar seorang pengarang terkenal ”Nh. Dini” menancap dengan kokoh. Ia dibesarkan di tengah-tengah saudara dua pria dan dua wanita, dan kasih sayang ibu dan ayahnya (Prihatmi, 1999:61)..
Cerita kenangan yang kedua ” Padang Ilalang di Belakang Rumah” . Mengapa padang ilalang itu tampak begitu penting? Karena dari sanalah lima serdadu Jepang muncul, memotong ilalang di padang yang membatasi kebun rumah Dini dengan sungai. Sebuah judul yang simbolik! Sebab sebagian besar kenangan yang diceritakan dalam buku tersebut adalah keadaan pada zaman Jepang (Prihatmi, 1999:64)..
Cerita kenangan ketiga ”Langit dan Bumi Sahabat Kami” menggambarkan betapa kesengsaraan diderita oleh rakyat. Beruntung bahwa keluarga Dini meskipun hanya makan nasi menir, remah jagung, kacang hijau atau gaplek hitam, yang semua itu selalu penuh ulat, tidak pernah kelaparan. Sebagai sayur adalah bayam tanah, kremah, kerokot, atau bonggol pisang. Oleh karena itu, ketika pertama kali mereka dapat memakan hasil bumi yang dibawa para petani dari desa, mereka mengunyah perlahan seolah hendak menemukan kembali kenikmatan yang telah mereka lupakan (Prihatmi, 1999:64-65)..
 “Sekayu”  merupakan cerita kenangan yang keempat, menunjuk nama kampung tempat Dini dibesarkan. Keakraban Dini dengan lingkungan yang sudah nampak sejak dalam cerita kenangan sebelumnya, semakin baik. Dari situlah antara lain sumber karya-karya Dini, misalnya cerpen “Penemuan” dan “Perempuan Warung” dalam Dua Dunia (1956) (Prihatmi, 1999:67).
Cerita kenangan “Sekayu” adalah sebuah karya NH. Dini yang menceritakan kisah kenangan yang keempat dari lima seri cerita yang diterbitkan berisi 184 halaman terdiri dari 12 bagian.
”Kuncup Berseri” cerita kenangan kelima berisi kisah Dini ketika duduk dibangku SMA hingga lulus. Ia memilih bagian A atau sastra. Sekolah itu terletak di Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda; dan SMA tersebut sekarang menjadi SMA 3) (Prihatmi, 1999:68).
3.    Biografi Singkat NH Dini
Nh. Dini kependekan dari Nurhayati Srihardini, lahir 29 Februari 1936 di Semarang dari Pasangan Salyowijoyo dan Aminah, adalah satu di antara sedikit pengarang Indonesia yang setia kepada profesinya (Prihatmi, 1999:vii). Setamat SMA bagian Sastra (1956), mengikuti Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956), dan terakhir mengikuti Kursus B-1 Jurusan Sejarah (1957). Tahun 1957-1960 bekerja di GIA Kemayoran, Jakarta. Setelah menikah dengan Yves Coffin, berturut-turut ia bermukim di Jepang, Perancis, Amerika Serikat, dan sejak 1980 menetap di Jakarta dan Semarang.
Karya-karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1973, 1985), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977, 1986), Keberangkatan (1977, 1986), Sebuah Lorong di Kotaku (1978, 1986), Padang Ilalang di belakang Rumah (1979, 1987), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu(1981), Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Berseri (1982), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-orang Tran (1984), dan Pertemuan Dua Hati (1986). Terjemahannya: Sampar (karya Albert Camus, LA Peste, 1985).
Tahun 1987 Dini memenangkan hadiah pertama (untuk peserta Indonesia) lomba mengarang “meilleure de langue francaise” yang diselenggarakan  oleh Le Monde dan Radio France Internasionale.
B.   Nilai-Nilai Sosiologis
1.    Pengantar
Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa (Wellek, 1995:109). Lebih jelas Wellek menjelaskan, bahwa teknik-teknik sastra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagi pula sastra “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Penyair/pengarang adalah warga masyarakat yang memiliki status khusus, mereka mendapat pengakuan dan penghargaan masyarakat dan mempunyai massa walaupun hanya secara teoritis. Sastra sering memiliki kaitan dengan institusi tertentu.
Hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat adalah hubungan yang bersifat deskriptif (bukan normatif) yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Pertama adalah sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan disini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Yang kedua adalah isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Ketiga adalah permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra. Seberapa jauh sastra ditentukan atau bergantung kepada latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial, adalah pertanyaan yang termasuk dalam ketiga jenis permasalahan di atas: sosiologi pengarang, isi karya sastra yang bersifat sosial, dan dampak sastra terhadap masyarakat (Wellek, 1995:111).
Sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial dengan gejala non-sosial (misalnya gejala geografis, biologis, dan sebagainya) (Abdulsyani, 2002:5). Berdasarkan pada pengertian tersebut objek materi sosiologi adalah gejala dan proses kehidupan manusia dalam kelompoknya, proses pembentuk, perkembangan dan bentuk sistem hidup manusia dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses kehidupan antar manusia.
Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi (dalam Abdulsyani, 2002:6) mengatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan nilai sosial termasuk perubahan-perubahan sosial.
Struktur sosial adalah jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial.
Proses sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok dan atar kelompok dengan kelompok, berdasarkan potensi atau kekuatan masing-masing. Dalam hal ini proses sosial dapat terjadi dalam berbagai bentuk yaitu: kerjasama (cooperation), persaingan (competition), pertikaian atau pertentangan (conflict), dan akomodasi (acomodation).
Nilai sosial adalah sesuatu yang dianggap baik dan terpelihara oleh manusia dalam masyarakat. Nilai atau dalam bahasa Inggis disebut Value merupakan sesuatu yang abstrak dan bersifat ideal tetapi melekat pada diri individu dan memperngaruhi jiwa seluruh anggota masyarakat (Depag, 2004:31).
Robert M.Z. Lawang, menyatakan bahwa nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga, dan mempengaruhi perilaku sosial orang yang memiliki nilia itu (dalam Depag, 2004:35).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang dianggap baik oleh seluruh anggota masyarakat dan merupakan keinginan ideal dan merupakan sumber kaidah atau pedoman hidup, acuan, sumber motivasi, sebagai pegangan dan sebagai tolok ukur dalam upaya mewujudkan cita-cita bersama dalam kehidupan masyarakat secara nyata.    

2.    Macam-macam Nilai
Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa nilai sosial adalah sesuatu yang dianggap baik dan terpelihara oleh manusia dalam masyarakat. Nilai atau dalam bahasa Inggis disebut Value merupakan sesuatu yang abstrak dan bersifat ideal tetapi melekat pada diri individu dan memperngaruhi jiwa seluruh anggota masyarakat (Depag, 2004:31).
Prof. Dr. Notonegoro membagi nilai berdasarkan wujudnya menjadi tiga macam nilai yakni: (1) nilai fisik atau nilai materiil, (2) nilai aktivitas atau nilai vital, dan (3) nilai non fisik atau nilai spiritual (Depag, 2004:34).
a.    Nilai Fisik atau Nilai Materiil
Nilai fisik atau nilai materiil adalah segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia. Artinya sesuatu objek dikatakan mempunyai nilai materiil apabila memiliki daya guna, berguna, memiliki asas guna bagi jasmani manusia. Misalnya makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dan sebagainya.
b.    Nilai Aktivitas atau Nilai Vital
Nilai aktivitas atau nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melakukan kegiatan (aktivitas). Artinya sesuatu objek dikatakan mempunyai nilai vital apabila objek tersebut dapat mengakibatkan manusia memiliki aktivitas. Misalnya buku dan alat tulis bagi pelajar dan mahasiswa, kalkulator bagi auditor, transportasi, transaksi jual beli, dan sebagainya.
Kedua nilai tersebut bisa dimasukkan sebagai nilai subjektif. Young menjelaskan bahwa nilai-nilai sosial sebagai asumsi-asumsi yang abstrak dan benar dan pentingnya seringkali tidak disadari. Green menyatakan bahwa nilai sosial sebagai kesadaran yang secara relatif  berlangsung disertai emosi terhadap objek dan gagasan orang perorangan. Simajuntak menyatakan bahwa nilai merupakan gagasan-gaasan masyarakat tentang sesuatu yang baik (dalam Depag, 2004:35).
c.     Nilai Non Fisik atau Nilai Spiritual
Nilai spiritual atau nilai rohani yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur rohani apabila memiliki daya guna, berguna, memiliki asas guna bagi rohani manusia. Nilai spiritual dibagi menjadi empat, yaitu (1) nilai kebenaran, (2) nilai keindahan, (3) nilai kebaikan, dan (4) nilai relegius.
Nilai kebenaran, yaitu nilai yang bersumber dari unsur akal manusia (rasio, budi, dan cipta). Nilai keindahan, yaitu nilai yang bersumber dari unsur manusia (perasaan, estetika, dan intuisi). Nilai kebaikan/moral, yaitu nilai yang bersumber dari unsur kehendak atau kemauan (karsa, etika). Nilai relegius, merupakan nilai ketuhanan yang tertinggi dan mutlak yang bersumber dari keyakinan/kepercayaan manusia. Nilai relegius berfungsi sebagai sumber  oral yang dipersepsi sebagai rahmat dan ridho Tuhan.
Nilai spiritual ini termasuk nilai objektif yang bersifat ideal dan universal. Woods, menjelaskan bahwa nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kluckhohn, berpendapat bahwa nilai bukanlah keinginan, tetapi apa yang diinginkan. Artinya, nilai itu bukan hanya diharapkan tetapi diusahakan sebagai sesuatu yang pantas dan benar bagi diri sendiri dan orang lain (dalam Depag, 2004:35).
Menurut Kluckhohn, semua nilai dalam setiap kebudayaan pada hakikatnya mengandung lima hal sebagai berikut:
a.    Nilai mengenai hakikat hidup manusia.
Contoh:
Tentang hakikat hidup orang Islam berpijak pada ajaran bahwa hidup itu untuk mengabdi pada Tuhan, karena hidup ini milik Tuhan merupakan sebaik-baiknya tujuan hidup.
b.    Nilai mengenai hakikat karya manusia.
Contoh:
-         Orang Hindu menjelaskan tentang Dharma
-         Orang Islam tentang konsep amal saleh
c.     Nilai mengenai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu.
Contoh:
-         Orang Islam mengikuti ajaran bahwa, “hidup itu membawa amanat atau bertugas sebagai khalifah/wakil di bumi.”
-         Sedangkan filsafat Jawa mengatakan bahwa, “urip ngono mungsak dermo nglakoni (hidup itu hanya sekedar menjalankan semua kehendak-Nya)”
Bila diperhatikan, semua contoh tersebut mengandung makna kepasrahan hidup manusia sebagai hamba Tuhannya. Bukankah Islam itu artinya selamat atau berserah diri pada Allah.
d.    Nilai mengenai hakikat hubungan manusia dengan sesamanya.
Contoh:
-         Nilai kemanusian.
-         Nilai gotong royong dan sebagainya
e.    Nilai mengenai hakikat hubungan dengan alam
Contoh:
-         Nilai keselarasan dengan alam
-         Nilai tugas menguasai alam untuk kebajikan hidup dna sebagainya (Depag, 2004: 35)

Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog