Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

22 Mei 2011

Analisis Konflik keluarga dalam novel trauma masa lalu karya mira w. (BAB I)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

A.     Tinjauan Tentang Novel Trauma Masa Lalu karya Mira W.
1.      Pengertian Novel
Dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas (Sumardjo, 1997:29). Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula.

11
Istilah novel yang dipakai di Indonesia menurut Abrams sebagaimana dikutip Nurgiyantoro (1998 : 23) berasal dari bahasa Italia ‘’novella’’ yang secara harfiah memiliki arti cerita pendek dalam bentuk prosa. Namun menurut Tarigan, kata ‘’novel’’ berasal dari kata Latin ‘’novellus’’ yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti ‘’baru’’. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra yang lain seperti puisi, drama dan lain-lain, jenis novel tersebut muncul kemudian (Tarigan, 1986 : 164). Dalam bagian lain Tarigan menguitp pengertian novel dari ‘’The American College Dictionary’’ yang menyatakan bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur yang agak kompleks.
Istilah novel sama dengan istilah roman. Kata novel berasal dari bahasa Italia yang kemudian berkembang di Inggris dan Amerika Serikat. Sedang istilah roman berasal dari genre romance dari Abad Pertengahan yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan (Sumardjo, 1997:29).
Sedangkan Aminuddin tidak secara tegas memberikan perbedaan antara bentuk novel, roman, nevelet, atau cerpen. Menurut Aminuddin, perbedaan itu hanya terletak pada panjang atau pendeknya isi cerita serta kompleksitas masalah yang diangkat di dalamnya. Dijelaskan bahwa pada dasarnya bentuk-bentuk karya tersebut tetap mengandung elemen yang sama walaupun dalam unsur-unsur tertentu juga tetap mengandung perbedaan. Kendati tidak secara tegas memberikan perbedaan terhadap bentuk novel, roman, dan yang lain, namun Aminuddin secara tegas memberikan penekanan bahwa  pada hakikatnya bentuk-bentuk tersebut tergolong ke dalam prosa fiksi. Menurutnya, yang dimaksud prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1987 : 66).
Lebih lanjut Aminuddin menyatakan bahwa unsur prosa fiksi tersebut terdiri dari (1) pengarang atau narator, (2) isi penciptaan, (3) media penyampai isi berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsur intrinsik yang membangun karya fiksi sehingga menjadi suatu wacana yang utuh. Hal itu sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro (1998 : 23) yang menegaskan bahwa sebuah novel akan berwujud apabila terdapat kepaduan antar berbagai unsur intrinsik yang turut secara langsung membangun cerita. Unsur-unsur yang dimaksud adalah tema, plot atau alur, setting atau latar, penokohan, sudut pandang atau point of view, bahasa dan gaya bahasa atau style.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang tergolong ke dalam prosa fiksi serta terdiri dari unsur-unsur pembangun yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu wacana yang utuh. Seperti halnya karya fiksi yang lain unsur pembangun roman terbagi dalam dua bagian, yakni:  (1) unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra,  (2) unsur instrinsik  yaitu unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra.
a.      Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya (Nurgiyantoro, 2000:23). Faktor yang mempengaruhi karya sastra adalah sosiologi pengerang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan idiologi pengarang (Wellek, 1995:111).
b.      Unsur Intrinsik
Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur intrinsik sebuah roman adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur inilah yang membuat sebuah roman berwujud atau sebaliknya. Unsur yang dimaksud adalah peristiwa cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lain-lain.
Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang paling penting dalam karya naratif, jika menghadapi sebuah cerita tentunya kita akan bertanya siapa yang diceritakan itu? Siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu itu? Ini cerita tentang apa?. Pelaku ini yang biasa disebut tokoh cerita. Adapun yang dimaksud dengan tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan..
Tokoh pada umumnya berwujud manusia tetapi juga dapat berwujud binatang atau benda yang diinsankan dalam artian tokoh binatang, benda itu bertingkan laku seperti manusia dapat berfikir dan dapat berbicara seperti manusia.
Berdasarkan peran tokoh-tokoh dalam perkembangan plot dapat dibedakan adanya tokoh utama dan tokoh tambahan, sedangkan dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan dalam tokoh antagonis dan protagonis. Menurut Nurgiyantoro (1998:178) tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan.
Kriteria yang digunakan dalam menentukan tokoh utama dalam ceita adalah intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita dan hubungannya dengan tokoh lain.
Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculannya dalam keseluruhan ceritanya lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada kaitannya dengan tokoh utama baik langsung ataupun tidak langsung (Nurgiyantoro, 1998:177).
2.      Novel Trauma Masa Lalu karya Mira W.
Novel “Trauma Masa Lalu” ini merupakan salah satu novel karya Mira W yang  diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI Jalan Palmerah Selatan No. 24-26 Jakarta dengan cetakan pertama pada Maret  1995, cetakan kedua pada Agustus 1995 serta cetakan ketiga pada Mei 2002. Disamping itu kisah ini pernah juga diterbitkan oleh Penrbit Alam Budaya.
Novel Trauma Masa Lalu karya Mira W. ini bertemakan keluarga. Novel ini menceritakan tentang ketidakharmonisan keluarga dengan berbagai konflik yang timbul. Prasidi sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan pengarang sebagai seorang dokter dan kesibukannya yang lebih mementingkan tugasnya daripada memperhatikan isterinya. Sita digambarkan pengarang sebagai isteri Prasidi yang menuntut kasih sayang penuh suaminya. Berbagai permasalahan timbul, mulai dari permasalahan yang ditimbulkan oleh Prasidi hingga dengan diadopsinya Marisa menjadi bagian dalam keluarganya.
B.     Konflik Keluarga
1.      Pengertian
Konflik adalah sesuatu yang tak menyenangkan (konotasi yang negatif). Itulah sebabnya orang lebih suka memilih menghindari konflik dan menghendaki kehidupan yang tenang. Merdith Don Fitzgerad (dalam Burhan Nurgiyantoro 1998:122) mendifinisikan konflik menyaran pada sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami oleh tokoh-tokh cerita, mereka tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya.
Menurut Grotoswki (1998:17) sebenarnya dalam hidup ini, kita memainkan peranan rangkap: alam akal dan alam naluri; pikiran dan perasaan. Kita mencoba membela diri kita ke dalam “badan” dan “jiwa” . Kalu kita mencoba membela diri kita dari masalah tersebut, maka kita akan berteriak dan berontak, terguncang-guncang seperti irama musik keras.
Sedangkan Wellek dan Werren (dalam Nurgiyantoro, 1998:122) menyatakan konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi balasan.
Pengertian keluarga dapat diartikan sebagai suatu kelompok pertalian nasab keluarga yang dapat dijadikan tempat untuk membimbing anak-anak, dan untuk pemenuhan kebutuhan hidup lainnya (Solih, 1994:11).
Keluarga pada umumnya terdiri dari orang tua dan anak atau anak-anak (keluarga inti), sekalipun masih banyak keluarga yang anggota keluarganya terdiri dari orang tua, paman, bibi, kemenakan, cucu yang disebut dengan keluarga besar (Gunarsa, 2001:210).
Paul B. Horton (dalam Solih 1994:12) menjelaskan lebih jauh, apabila kita berbicara tentang keluarga, maka kita berfikir tentang suami isteri, anak-anaknya, dan kadang-kadang kerabatnya yang berada diluar keluarga tersebut yang disebut “conjugal family” sepanjang berpusat kepada sepasang suami isteri (perkawinan), atau kadang-kadang disebut juga keluarga kecil “nuclear family”. Sedangkan keluarga besar “consanguine family” tidak didasarkan kepada hubungan dua orang, tetapi didasarkan kepada hubungan darah dan sejumlah orang yang cukup besar. Keluarga besar semacam ini terwujud dari adanya hubungan darah atau terdiri dari orang-orang yang mempunyai hubungan darah bersama-sama dengan saudara-saudaranya dan anak-anaknya. Keluarga ini kadang-kadang disebut “joint family” atau extended family”.
M.I Soelaeman (dalam Solih 1994:13) juga menjelaskan suatu keluarga dapat dikatakan “keluarga lengkap”, apabila keluarga itu terdiri atas ayah ibu dan anak (anak-anak). Apabila salah satu anggota ini tidak terdapat, maka meka keluarga itu disebut “keluarga tidak lengkap”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka suatu keluarga yang hanya terdiri dari suami isteri (tidak mempunyai anak), juga disebut keluarga tidak lengkap. Dalam keadaan demikian kita temukan suami isteri yang tidak dianugerahi anak, mengambil anak orang lain dan dijadikan anak angkat. Dengan demikian diharapkan mereka adalah merupakan keluarga lengkap.
Dalam keluarga yang semula dikatakan lengkap, mungkin saja salah seorang di antara ayah dan ibu itu bercerai atau meninggal dunia. Apabila yang tidak ada itu ayah atau ibu, karena meninggal dunia atau bercerai, maka keluarga itu disebut “keluarga pecah” atau “broken home”. Dalam keadaan demikian anak (anak-anak) terutama yang masih dibawah umur, biasanya kurang mendapat bimbingan orang tua, meskipun sudah ada penggantinya yaitu ayah baru  atau ibu baru (Solih 1994:13).
Lepas dari bentuk dan jenis manapun tinjauan tentang keluarga, namun semua anggota keluarga menghendaki terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan hidup semua anggota keluarganya. Kebahagiaan itu lebih menggambarkan suatu keadaan yang mengandung nilai-nilai psychologis di dalam suatu kehidupan, sehingga dalam situasi tersebut individu dapat memperoleh kepuasan fisik maupun psikis. Situasi psikologis ini memberikan rasa aman kepada individu dalam memuaskan kebutuhannya. Sedangkan kesejahteraan menggambarkan kemajuan di dalam hidup baik secara materiil, mental spirituil, dan sosial secara seimbang, sehingga menimbulkan ketentraman dan ketenangan hidup yang akhirnya menyongsong kehidupan mendatang dengan gembira dan optimal (Gunarsa, 2001:246).
Dengan demikian dapatlah dikatakan bawah hidup sejahtera adalah kehidupan yang mendapatkan limpahan nikmat Allah yang bersifat materiil, sehingga terpenuhinya kebutuhan jasmani, sedangkan hidup bahagia adalah kehidupan yang mendapat limpahan rahmat Allah sehingga timbullah ketenteraman dan ketenangan jiwa.
Jadi yang dimaksud dengan keluarga sejahtera dan bahagia ialah keluarga yang dapat mencapai kesuksesan di dalam hidupnya, baik materiil maupun mental spiritual, yang memberikan nilai-nilai kepuasan yang mendalam kepada para anggota keluarga dalam situasi penuh kebahagiaan dan ketenteraman hidup bersama. Nampak pula di dalamnya keselarasan, keserasian dan keseimbangan hidup, sehingga dapat menjadi cermin bagi masyarakat sekelilingnya.
2.      Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Konflik
 Di dalam kehidupan sehari-hari kebutuhan manusia itu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antrara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandangan atau falsafah hidup cita-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.
Ursula Lehr (dalam Monk 1992:333-334) telah  mempelajari kemungkinan konflik yang timbul pada berbagai kelompok usia dewasa. Dia membedakan situasi yang dapat menimbulkan konflik sebagai berikut:
a.       Konflik dengan orang tua sendiri, situasi akibat hidup bersama-sama denga orang tua. Pengharapan orang tua atau kewajiban terhadap mereka yang sukar dikombinasi dengan kepentingan sendiri.
b.      Konflik dengan anak-anak sendiri; misalnya mengetahui tingkah laku anak yang tercekam dan mengakibatkan reaksi yang hebat dari pihak orang tua sehingga anak lari dari rumah orang tua.
c.       Konflik dengan sanak keluarga; dalam masa anak-anak dan masa remaja dapat timbul konflik terutama dengan kakek, nenek, paman atau bibi yang ikut dalam pendidikan anak, pada masa-masa kemudian sering timbul konflik dengan mertua dan keluarga suami atau isteri yang dipandang terlalu ikut campur, atau dengan saudara sendiri misalnya pertentangan mengenai warisan.
d.      Konflik dengan orang lain (konflik sosial) timbul dalam hubungan sosial dengan tetangga, teman sekerja dan orang-orang lain. Konflik dapat timbul karena perbedaan pendirian atau pendapat mengenai hal sesuatu.
e.       Konflik dengan suami isteri; kesukaran dalam perkawinan, pertengkaran-pertengkaran kecil, mengenai persoalan sehari-hari atau perselisihan yang mendalam misalnya mengenai persoalan hidup atau tujuan hidup.
f.        Konflik di sekolah; tidak mengikuti pelajaran, tidak lulus, persoalan hubungan guru dan murid, persoalan kedudukan di antara teman-teman sebaya dalam kelas.
g.       Konflik pribadi, timbul misalnya karena minat yang berlawanan, tidak ada keuletan atau tidak ada kemampuan untuk meneruskan untuk mengembangkan diri dan meluaskan kesempatan untuk hidup).
Dalam suatu keluarga tidak ada yang tidak menghadapi masalah, terlepas dari siapa yang tidak melaksanakan kewajiban di antara suami isteri, namun seringkali terjadi ketidakpuasan di antara kedua belah pihak atau kedua-duanya merasa tidak puas, hal ini yang disebut dengan konflik.
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, memerlukan organisasi tersendiri dan karena itu perlu ada kepala keluarga sebagai tokoh penting (key person, do\minant figure) yang mengemudikan perjalanan hidup keluarga  yang diasuh dan dibinanya. Karena keluarga terdiri dari beberapa orang maka terjadi interaksi antara pribadi dan ini berpengaruh terhadap keadaan bahagia (harmonis) atau tak bahagia (disharmonis) pada anggota keluarga yang selanjutnya berpengaruh pula terhadap pribadi-pribadi lain dalam keluarga. Kalau dalam keluarga ada seorang anggota bermasalah yang mempengaruhi pribadinya, maka seluruh interaksi akan terpengaruh dan kebahagian dalam keluarga juga mengalami hambatan (Gunarsa, 2001:210).
Faktor-faktor timbulnya konflik dalam keluarga yang mengakibatkan timbulnya kegoncangan kemungkinan bersumber dari: (1) Suami isteri itu sendiri, (2) pengaruh negatif dari orang tua, (3) pengaruh dari anggota keluarga, dan (4) pengaruh dari luar (Solih, 1994:20).
a.      Suami Isteri
Timbulnya kegoncangan yang bersumber dari suami isteri antara lain (Solih, 1994:21):
a.       Kurang adanya saling pengertian diantara suami isteri.
b.      Saling mencurigai di antara mereka.
c.       Adanya masalah yang tersembunyi di antara suami isteri.
d.      Suami tidak mampu memenuhi kebutuhan jasmani/rohani keluarganya.
e.       Ketidakmampuan suami memimpin isterinya.
f.        Ketidakpuasan suami terhadap pelayanan isterinya.
g.       Ketidakpercayaan suami terhadap kemampuan isterinya
h.       Ketidakpuasan isteri terhadap pelayanan suaminya.
i.         Ketidaktaatan isteri terhadap suaminya.
j.        Isteri tidak mampu mengelola rumah tangganya.
Apabila masalah-masalah tersebut tidak teratasi, seringkali rumah tangga menjadi arena pertarungan sebagai pasar yang gaduh tidak hentin-hentinya adu tawar antara suami isterinya atau diantara anggota keluarga lainnya. Mungkin juga terjadi sebaliknya, yaitu karena mereka ingin menghindarkan perdebatan, beralihlah rumah tangga seperti kuburan. Senyum, gelak tawa, dan riang gembira hilang lenyap, hanya suara alat-alat rumah tangga yang terdengar.
Hubungan suami isteri yang baik,  dalam arti penuh pengertian, keterbukaan dan terhindar dari ketegangan dan perbedaan pendapat yang terus menerus. Tidak jarang terjadi ketegangan hubungan suami isteri yang menimbulkan penceraian kedua belah pihak dan membutuhkan penanganan khusus untuk mengatasinya. Konflik peran (role onflict), multi status, ambisi pribadi, penyelewengan, ketidakmatangan kepribadian, acap kali menjadi sumber timbulnya pertikaian dalam hubungan suami isteri dan tentunya mempengaruhi ketenangan dan produktifitas kerja (Gunarsa, 2001:260)
b.      Pengaruh Anggota Keluarga
Konflik yang timbul karena masalah anggota keluarga, acapkali menuntut perhatian khusus. Merasa putus asa dan tidak sanggup lagi mendidik anak acapkali menjadi keluhan yang sering dikemukakan orang tua.
Hubungan dengan pribadi-pribadi dalam keluarga, yang saling pengaruh-mempengaruhi akan ikut menentukan suasana psikis dalam keluarga, bilamana ada salah seorang anggota keluarga yang memperlihatkan kesukaran kepribadian dan dianggap bermasalah, seluruh konteks hubungan dalam keluarga acapkali menjadi terganggu, maka perlu diatasi, atau setidaknya diubah pola sikap dari anggota keluarga lainnya, sehingga tidak berifat menekan atau menimbulkan keguncangan dan ketegangan (Solih, 1991:25).

c.       Pengaruh dari Luar
Konflik keluarga yang ditimbulkan dari pengaruh luar, pada umumnya dari faktor lingkungan sosial/masyarakat, yang dimaksudkan adalah karena pengaruh pihak ketiga atau lingkungan  luar keluarga, baik itu tetangga, teman, dan masyarakat (BP-4, tt:29). Tidak sedikit keretakan keluarga yang ditimbulkan dari pengaruh ini misalnya perselingkuhan, isu tetangga/masyarakat dan lain sebagainya. Untuk terwujudnya hubungan keluarga yang selaras, serasi, dan seimbang diantaranya dengan jalan melaksanakan kehidupan bertetangga, berteman, dan bermasyarakat yang baik.
Di samping hal tersebut di atas, dalam hubungannya dengan suasana psikis yang harmonis yang didambakan oleh setiap keluarga, faktor lingkungan sangat perlu diperhatikan. Kehidupan di kota besar dengan kondisi rumah yang sering tidak memenuhi syarat bagi dari segi kesehatan maupun kesejahteraan, maka berakibat timbulnya banyak kesulitan dan persoalan yang dihadapi. Belum lagi lingkungan sekitar yang kadang-kadang menimbulkan kejengkelan karena keadaanya sangat buruk serta lingkungan sosial dengan pola hidup yang sangat berbeda dengan pola hidup keluarganya.
Dalam usaha memperbaiki lingkungan keluarga dengan pribadi-pribadinya dan lingkungan sosial, perlu memperhatikan lingkungan hidup secara lebih luas dan menyeluruh dengan semua faktor yang mempengaruhinya. Berbagai perubahan sesuai dengan dinamika kehidupan hendaknya tidak terlalu banyak menimbulkan kegoncangan, kepincangan, kesenjangan yang mudah sekali mempengaruhi kondisi psikis pribadi maupun kelompok.
Lingkungan hidup yang menekan akan menyebabkan disharmoni baik dalam diri pribadi maupun dengan lingkungannya sehingga menjadi ladang yang subur untuk tumbuhnya penyimpangan-penyimpangan perilaku. Pendekatan terpadu antara berbagai pihak yang menangani masalah ini sangat diperlukan (Gunarsa, 2001:191-192).
Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog