Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

22 Mei 2011

analisis kasih sayang dalam novel robert anak surapati karya abdul moeis (bab ii)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

A.     Tinjauan tentang Novel Robert Anak Surapati Karya Abdoel Moeis
Novel merupakan karya sastra yang sekaligus disebut prosa fiksi. Bahkan dalam perkembangannya yang kemudian, novel dianggap bersinonim dengan fiksi (Nurgiyantoro, 1998:9). Dengan demikian pengertian fiksi juga berlaku untuk novel. Sebutan Novel dalam bahasa Inggris yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari bahasa Itali “novella” (yang dalam bahasan Jerman novelle). Secara harfiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’ (Abram dalam Nurgiyantoro, 1998:9). Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris:novellete), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu  panjang, namun juga tidak terlalu pendek.

12
Seperti halnya karya fiksi yang lain unsur pembangun novel terbagi dalam dua bagian (1) unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempenga-ruhi bangun cerita sebuah karya sastra, unsur-unsur yang dimaksud an-tara lain adalah biografi pengarang, psikologi (baik pengarang, pembaca maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya), pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya, (2) unsur instrinsik  yaitu unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur yang dimaksud diantaranya  adalah peristiwa (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, layar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), serta gaya (style) pengarangnya.
Plot dengan jalan cerita memang tak terpisahkan, tetapi harus dibedakan. Orang-orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jalan cerita memuat kejadian. Tetapi suatu kejadian ada karena sebabnya, ada alasannya. Yang menggerakkan kejadian cerita tersebut adalah plot, yaitu segi rohaniah dari kejadian (Sumardjo, 1997:49).
Tokoh cerita (karakter) disebut juga penokohan. Jumlah tokoh cerita yang terlibat dalam novel dan cerpen terbatas, apalagi yang berstatus tokoh utama. Dibanding dengan novel, tokoh cerita cerpen lebih lagi terbatas, baik yang menyangkut jumlah maupun data-data jati diri tokoh, khususnya yang berkaitan dengan perwatakan, sehingga pembaca harus merekonstruksi sendiri gambaran  yang lebih lengkap tentang tokoh itu (Nurgiyantoro, 1998:13).
Tema adalah ide sebuah cerita. Ceritanya yang pendek, cerpen hanya berisi satu tema. Hal ini berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku terbatas. Sebaliknya, novel dapat menawarkan lebih dari satu tema, yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan (Nurgiyantoro, 1998:13).
Layar cerita (setting) sering juag disebut latar. Pelukisan tokoh cerita untuk novel dan cerpen dilihat secara kualitatif terdapat perbedaan yang menonjol. Cerpen tidak memerlukan detil-detil khusus tentang keadaan latar, misalnya yang menyangkut keadaan tempat dan sosial. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besarnya saja, atau bahkan hanya secara implisit, asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan. Novel, sebaliknya, dapat saja melukiskan keadaan latar secara rinci sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkrit, dan pasti (Nurgiyantoro, 1998:13).
Point of view pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini, harus dibedakan denga pandangan pengarang sebagai pribadi, sebab sebuah cerita sebenarnya adalah pandangan pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang akan masuk ke dalam karyanya, dan ini lazim disebut dengan gaya pengarang (Sumardjo, 1997:82).
Gaya (style) pengarang adalah cara khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita (Sumardjo, 1997:92).
Novel merupakan salah satu dari prosa fiksi yang disebut juga karya fiksi yaitu kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1987:66)
Novel “Robert Anak Surapati” ini merupakan salah satu novel karya Abdoel Moeis yang  diterbitkan Balai Pustaka dengan cetakan pertama tahun 1953.
Abdoel Moeis adalah seorang pengarang zaman Balai Pustaka yang berasal dari daerah Minangkabau. Ayahnya orang Minang dan ibunya orang Sunda. Ia adalah seorang pejuang kebangsaan Indonesia yang sezaman dengan H.O.S Cokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara. Abdoel Moeis lebih terkenal dengan beberapa karyanya yang lain berupa roman adalah Surapati, Salah Asuhan, dan Pertemuan Jodoh.
Dalam novel Robert Anak Surapati, Abdoel Moeis menggambarkan kehidupan anak yang ditinggal mati oleh ibunya di atas kapal dalam perjalanan pulang ke negeri Belanda yang kemudian dititipkan untuk diasuh kepada saudagar kaya asal Belanda. Dalam novel ini banyak disinggung tentang kasih sayang dan kebimbangan          jiwa kebangsaan Robert. Robert dituntut dengan tugasnya sebagai prajurit Belanda sementara itu juga Robert diminta oleh Surapati untuk melanjutkan perjuangannya melawan Belanda.
B.     Tinjauan tentang Kasih Sayang
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Ada berbagai macam bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan situasi dan kondisi penyayang dan yang yang disayangi (dalam Widagdho, 1991:46).
Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka hilanglah semuanya. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran akan terancamlah kebahagiaannya.
Sedangkan kasih sayang diartikan sebagai cinta, kasih atau suka akan (kepada). Dengan demikian, maka  sayang memperkuat rasa kasih seseorang yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata, dan semuanya bersumber dari rasa cinta (Supartono, 1992:57).
Erich Fromm dalam Supartono (1992:57) menjelaskan bahwa kasih sayang adalah sikap, suatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan menuju satu objek cinta, yaitu meliputi: (1) kasih sayang persaudaraan, (2) kasih sayang orang tua, (3) kasih sayang erotis, (4) kasih sayang diri sendiri, (5) kasih sayang terhadap Allah.
1.      Kasih Sayang  Persaudaraan
Kasih sayang persaudaraan diwujudkan manusia dalam tingkah atau perbuatannya. Kasih sayang persaudaraan tidak mengenal adanya batas-batas manusia yang berdasarkan suku bangsa, bangsa, ataupun agama. Dalam kasih sayang ini semua manusia sama, yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah. Atas dasar cinta yang demikian, seseorang tidak mempunyai rasa pamrih untuk berbuat baik kepada sesamanya.
“Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu,” demikianlah hendaknya perwujudan dari kasih sayang persaudaraan. Ada kalanya karena terlalu cintanya seseorang kepada sesama manusia, kepentingan dirinya sendiri terabaikan. Contoh seorang  tokoh yang menunjukkan kasih sayang kepada sesama manusia ialah Jean Henry Dunant (1882-1910), seorang bankir dan penulis berkebangsaan Swiss yang atas suka relanya menolong setiap orang yang menderita luka-luka dalam pertempuran di Solferino (1859), kemudian mendirikan Palang Merah Internasional (1863), ikut serta menandatangani Konvensi Jenewa (1864), dan akhirnya memperoleh hadiah Nobel untuk perdamaian (1910). Contoh lain ialah Suster Teresa dari Calcutta (1910-1998) sejak umur 18 tahun ia meninggalkan Eropa menuju India untuk menjadi guru pada sekolah anak-anak wanita. Karena dilihatnya banyak anak-anak maupun orang tua yang menderita sakit lepra, kelaparan ataupun sebagai gelandangan, hatinya tersentuh lalu ia terjun dalam bidang sosial untuk membantu meringankan beban mereka. Banyak penghargaan telah diperolehnya, yang tertinggi adalah hadiah Nobel untuk perdamaian (1980).
2.      Kasih Sayang Orang Tua
Kasih sayang orang tua khususnya yang bersumber pada cinta keibuan, yang paling asli adalah yang terdapat pada diri seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Seorang ibu yang memperoleh benih anak dari suaminya yang tercinta akan memelihara anaknya secara berhati-hati dan penuh kasih sayang demi keselamatan turunannya. Setelah anak lahir melalui penderitaan ibu yang hebat, dirawat dan diasuhlah sang mutiara hatinya itu dengan penuh kasih sayang. Disusukan anaknya dengan penuh kasih sayang sambil dibelai rambutnya, diajaknya tersenyum tanda hubungan dekat, diberikan pakaian penghangat, digantinya popok yang basah atau kotor tanpa ada rasa sebal, dimandikannya agar permata hatinya kian segar. Seolah-olah, bagi seorang ibu tidak ada harta yang lebih berharga daripada bayinya yang selalu ditimang-timang dengan penuh kasih sayang.
Selain ibu, guru taman kanak-kanak atau perawat di rumah sakit juga merupakan orang-orang yang menggantikan fungsi seorang ibu, mereka mengajar anak-anak atau memelihara orang sakit dengan penuh kasih sayang. Sebagian besar memang mereka adalah wanita yang memiliki naluri alami seperti halnya seorang ibu. Selain wanita ada juga pria yang memiliki naluri rasa kasih sayang seperti kaum wanita.

3.      Kasih  Sayang Erotis
Kasih sayang yang bersumber dari cinta erotis (sifat membirahikan)  memang merupakan suatu yang sifatnya ekslusif (khusus) sehingga sering memperdayakan cinta yang sebenarnya. Hal ini disebabkan antara cinta dan nafsu letaknya tidak berbeda jauh. Padahal kedua hal itu sangat bertolak belakang sifatnya. Kasih sayang dalam cinta erotis merupakan kontak seksual yang asli dan yang ideal adalah yang bersumber pada cinta. Oleh karena itu, dalam kehidupan berumah tangga yang telah diikat oleh tali perkawinan apabila seorang suami tidak mampu menafkahi isterinya secara rohaniah, dalam dirinya seakan timbul beban mental. Ia akan merasa berdosa atas kekurangannya, begitu juga sebaliknya, berdosalah seorang isteri apabila tidak mau melayani kehendak seksual suaminya. Oleh karena itu pula, timbul rasa ketidakpuasan antara suami isteri dalam hubungan seksual dan ini akan memudahkan merenggangnya hubungan mereka yang dapat berakhir dengan penceraian. Jadi, kasih sayang mereka sebagai perwujudan cinta erotis dapat menjadi pengikat erat dalam hubungan suami isteri, lebih-lebih apabila telah dikaruniai anak. Namun, orang yang melakukan hubungan seksual atas dasar erotis yang tidak didasari cinta, seperti yang terjadi di tempat pelacuran, di dalamnya sama sekali tidak mungkin timbul rasa kasih sayang karena yang ada hanya hubungan badan dengan pelicinnya uang.
4.      Kasih Sayang  Diri Sendiri
Ada juga kasih sayang yang bersumber pada cinta diri sendiri (self love). Telah dikemukakan bahwa di samping mencintai sesama manusia, seseorang perlu juga memiliki cinta kepada diri sendiri. Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada diri sendiri diidentikkan dengan egoistis. Apabila maksudnya memang demikian, cinta diri sendiri ini mempunyai nilai negatif. Namun, apabila diartikan bahwa cinta diri sendiri adalah mengurus dirinya sendiri sehingga kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar, cinta diri sendiri bernilai positif, karena kita adalah orang pertama yang wajib mengurus diri sendiri. Contoh cinta diri sendiri yang mengandung nilai negatif, seperti pernyataan berikut ini. Seorang ibu tidak mau hamil karena tidak ingin tubuhnya yang cantik itu rusak akibat kehamilannya. Seorang pria tidak ingin kawin karena menurutnya perkawinan hanya akan mengganggu dirinya sendiri. Ekses yang mudah terjadi pada kalangan seperti mereka adalah timbulnya penyakit kejiwaan yang disebut lesbianisme pada wanita atau homoseksual pada pria, karena sebagai manusia biasa, mereka sulit menghindarkan diri dari nafsu  seks.
5.      Kasih Sayang terhadap Tuhan
Pemujaan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya (Widagdho, 1991:51).
Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintah-Nya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi dalam hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Jelaslah bagi kita, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri.
Manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan  dalam bentuk pemujaan atau sembahyang.
Manusia-manusia yang bagaimanakah yang dapat memberikan kasih sayang? Apabila ditinjau dari segi perasaan, maka manusia yang dapat memberikan hal seperti itu hanyalah manusia yang tingkat perasaannya luhur, khususnya yang memiliki perasaan simpatik dan sosial. Mereka yang memiliki perasaan simpati adalah orang-orang yang memiliki perasaan senang atau respek kepada orang lain. Sedangkan mereka yang memiliki perasaan sosial adalah orang-orang yang memiliki perasaan bahwa dirinya merupakan bagian dari masyarakat, sehingga mau berbuat sesuatu yang baik dan berguna untuk orang lain. Orang yang bertipe sekunder, menurut Heymans, juga termasuk orang yang mudah memberikan kasih sayang, karena mereka ini adalah orang yang setia kepada persahabatan.
Dari cinta kasih, manusia dapat menciptakan karya seni, baik berupa pujaan maupun ratapan. Manusia yang memiliki hati nurani yang memiliki cinta kasih dapat mencurahkan rasa hatinya melalui karya-karya seni yang indah (Widyosiswoyo,1992:60) .
Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog