Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

22 Mei 2011

Analisis BAHASA SURAT DALAM NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK KARYA HAMKA (BAB II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Pengertian Gaya Bahasa
Sebelum kita mengambil suatu kesimpulan pengertian gaya bahasa maka terlebih dahulu kita mencari pengertian dari masing-masing kata yaitu kata gaya dan bahasa. Gaya dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia Praktis diartikan kekuatan dan kesanggupan untuk melakukan sesuatu (Abdullah,1944:161). Aliran Platonis (platonisme) mendefinisikan gaya sebagai suatu kecakapan tertentu yang tidak berwujud (immaterial), (Parkamin,1982:27). Ia menyebutkan bahwa pengertian yang tepat sangatlah sulit dicari dan disimpulkan secara tepat. Bahkan Charles F. Hocket mengatakan kesulitan itu karena penelitian tentang gaya dalam sastra sangatlah erat hubungannya dengan statistika yakni cabang ilmu bahasa yang menyelidiki jiwa yang terpendam dalam setiap kita. Sedangkan bahasa adalah kumpulan aturan-aturan, kumpulan pola-pola, kumpulan kaidah-kaidah atau dengan singkat merupakan suatu sistem. Singkatnya bahasa adalah sistem unsur-unsur dan kaidah-kaidah (Samsuri,1987:10). Jadi gaya bahasa merupakan kekuatan/ tenaga untuk menarik perhatian pembaca sehingga karangannya hidup, segar, dan digemari orang (Suwandi,1991:77).
Mukhsin Ahmadi mengatakan bahwa sebenarnya berbicara tentang gaya bahasa adalah berbicara tentang keindahan pemakaian bahasa yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Tetapi efektif dan membangun pelukisan (deskripsi) sesuatu secara konkrit dalam imjinasi. Keindahan disini adalah keseimbangan, propesional, dan menyatu. Sementara kemudahan bahasa dicapai oleh susunan arti dan rasa kata yang tepat (1991:77).
Istilah gaya bahasa dikenal dengan bahasa kias. Abrams menyebutnya sebagai figures tough (figuras gagasan (1981:63). Nilai keindahan yang terdapat dalam bahasa kias bukan ditentukan oleh gejala yang ada dalam bahasa kias itu sendiri, melainkan hadir bersama totalitas teksnya (Aminuddin,1989:27).
Dalam buku Apresiasi Puisi dan Sastra dikatakan bahwa bahasa kita itu adalah sesuatu yang mempunyai makna lebih luas dari makna sebenarnya (……..’….… 84-85).
2.      Sendi Gaya Bahasa
Syarat-syarat manakah yang diperlukan untuk membedakan  suatu gaya bahasa yang baik dari gaya bahasa yang buruk ? sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut : Kejujuran, sopan santun dan menarik.
a.       Kejujuran
Hidup manusia hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi sesamanya, kalau hidup itu dilandaskan pada sendi-sendi kejujuran. Kejujuran dalam bahasa berarti : Kita mengikuti kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. (Keraf, 2001 : 113)
b.  Sopan Santun
Yang dimaksud sopan santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat dimanisfestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan Keraf (2001 : 114). Kejelasan dengan demikian akan diukur dalam beberapa butir kaidah berikut, yaitu :
(1).       Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat.
(2).       Kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat tadi.
(3).       Kejelasan dalam pengurutan ide secara logis.
(4).       Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan perbandingan.
Kesingkatan sering jauh lebih efektif daripada jalanan yang berliku-liku. Diantaranya kejelasan dan kesingkatan sebagai ukuran sopan santun, syarat kejelasan masih lebih penting daripada kesingkatan.
c.       Menarik
Sebuah gaya bahasa harus pula menarik. Sebuah gaya yang menarik dapat diukur melalui beberapa komponen berikut : variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajenasi). Untuk itu, seorang penulis perlu memiliki kekayaan dalam kosakata, memiliki kemauan untuk mengubah panjag pendeknya kalimat dan struktur morfologis.
Dari semua definisi yang dikemukakan oleh para tokoh di atas dapat penulis simpulkan bahwa gaya bahasa adalah sesuatu yang mempunyai makna, kekuatan, kiasan, keindahan sehingga pembaca tertarik dan senang untuk membacanya pada kata-kata atau kalimat yang terdapat pada bahasa itu sendiri.


3.  Macam-macam Gaya Bahasa
Macam-macam gaya bahasa menurut Amron Parkamin dan Nor Bari (1982:29-27) antara lain :
ü      Gaya bahasa Eufinisme
ü      Gaya bahasa Paralelisme
ü      Gaya bahasa Sarkasme
ü      Gaya bahasa Klimak
ü      Gaya bahasa Ironi
ü      Gaya bahasa Pleonasme
ü      Gaya bahasa Sinisme
ü      Gaya bahasa Antitesis
ü      Gaya bahasa Repitisi
ü      Gaya bahasa Asidenton
ü      Gaya bahasa Sinekdok
ü        Gaya bahasa Allegori
ü        Gaya bahasa Taufologi
ü        Gaya bahasa Polisendenton
ü        Gaya bahasa Hiperbola
ü        Gaya bahasa Metafora
ü        Gaya bahasa Retorik
ü        Gaya bahasa Litotes
ü        Gaya bahasa Personifikasi
ü        Gaya bahasa Paradoks
ü        Gaya bahasa Anti Klimak
ü        Gaya bahasa Simbolik
Sebagaimana yang terdapat pada batasan-batasan masalah, maka penulis hanya membahas sebagian dari gaya bahasa di atas antara lain :
1).    Gaya Bahasa Hiperbola
Keraf (2002:127) menyebutkan bahwa Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesarkan-besarkan suatu hal. Sejalan dengan itu, Tarigan (1986:55) menegaskan bahwa Hiperbola adalah :
“Gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya”.
Misalnya : Udara pegunungan menyegarkan badan, melegakan pernafasan, menyejukkan hati dan fikiran.
Pada contoh kalimat di atas mewujudkan situasi dari keadaan yang berlebih-lebihan, yaitu menyejukkan hati dan fikiran yang memiliki makna bahwa udara pegunungan dapat menenangkan perasaan.
2).    Gaya Bahasa Litotes
Gaya bahasa Litotes menurut Keraf adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu yang dinyatakan kurang dari keadaan yang sebenarnya atau sesuatu pikiran yang dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya. (2002:132).
ü      Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.
ü      Saya tidak akan merasa bahagia bila mendapat warisan satu milyar rupiah.
ü      Apa yang kami hadiahkan ini sebenarnya tidak ada artinya sama sekali bagimu.
ü      Rumah yang buruk inilah yang merupakan hasil usaha kami bertahun-tahun lamanya.
3).    Gaya Bahasa Personifikasi
Gaya bahasa personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora mengiaskan benda mati bertindak, berbuat berbicara seperti manusia (keraf, 2002:140).
Sejalan dengan pendapat ini Pradopo (2000:75) menjelaskan bahwa kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir dan sebagainya seperti manusia, misalnya : pepohonan tersenyum ria.
Pada contoh kalimat di atas kata pepohonan merupakan benda mati, tetapi digambarkan seperti manusia yang bisa tersenyum riang. Ditambahkan oleh Tarigan (1986:17) bahwa sifat-sifat kemanusiaan atau insani itu tidak hanya diletakkan pada benda mati, tetapi juga pada ide yang abstrak, misalnya : pengalamannya mengajak kita tahan menderita.
Pada contoh di atas, kata pengalamannya merupakan ide yang abstrak tetapi digambarkan seperti manusia yang bisa mengajak kita. Personifikasi bisa membuat hidup lukisan, disamping itu memberi kejelasan pikiran, memberikan angan yang konkret, mempersamakan benda dengan manusia dan sebagainya.
4).    Gaya Bahasa Simile
Keraf (2002:138) berpendapat Simile atau perumpamaan adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, yang dimaksud adalah bahwa ia langsung mengatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata seperti : sama, sebagai, bagaikan, laksana, bak dan sebagainya.
Menurut Tarigan (1986:9 – 10) perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan yang sengaja dianggap sama. Gaya bahasa perumpamaan disebut juga Simile, berasal dari bahasa latin yang bermakna seperti : itulah, sebabnya, sering pula kata perumpamaan disamakan dengan persamaan.
Contoh :
(1).       Bagaikan anjing dengan kucing.
(2).       Seperti air dengan minyak.
(3).       Bagaikan air didaun talas.
(4).       Laksana bulan purnama raya.
Pada contoh kalimat pertama terdapat perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan yaitu anjing dengan kucing yang dianggap sama. Begitu pula dengan kalimat kedua, dua hal yang pada hakekatnya berlainan dianggap sama yaitu air dengan minyak. Lain halnya pada contoh kalimat ketiga dan keempat tersebut, diperoleh persamaan tanpa menyebut objek pertama yang mau dibandingkan.
5).    Gaya Bahasa Paradok
Paradok adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradok dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya Keraf (2002: 136).
Contoh :
(1).       Musuh sering merupakan kawan yang akrab.
(2).       Ia mati kelaparan ditengah-tengah kekayaannya yang melimpah.
6).    Gaya Bahasa Eufimisme
Gaya bahasa Eufimisme  adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau dengan ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan Keraf (2002 : 132)
Gaya bahasa Eufimisme merupakan suatu kiasan kesopanan untuk menghaluskan rasa bahasa yang dirasakan kasar, tak sopan atau tak sedap didengar atau mungkindapat menyinggung perasaan pendengar atau pembaca
(1).       Ayahnya sudah tak ada ditengah-tengah mereka (= mati)
(2).       Pikiran sehatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini (= gila)
(3).       Anak saudara memang tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya (= bodoh).
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog