Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

25 April 2011

PENGGUNAAN METODE METAFORA DALAM LAKON PAK KANJENG

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Bahasa dan sastra adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa sebagai medium karya satra tidak dapat diabaikan. Sudjiman (1993 : 1 – 2) mengatakan karya sastra pada dasarnya adalah periastiwa bahasa. Dengan menggunakan tanda atau lambang yang dapat didengar (bunyi bahasa) atau dilihat (huruf), pencerita menyampaikan apa yang dipikirkan atau dirasakannya dengan ragam bahasa yang khas, yaitu ragam bahasa sastra.
            Hutomo (1992 : ii) menyatakan bahwa sastra adalah dunia dalam kata. Maksudnya adalah sastra merupakan ekspresi pikiran dan perasaan manusia, baik lisan maupun tulisan, dengan menggunakan bahasa yang indah menurut konteknya. Bahasa yang digunakan pengarang yang satu berbeda dengan bahasa yang digunakan pengarang yang lain karena sastra merupakan ekspresi individu.
            Pencipta karya sastra bebas mempermainkan bahasa menjadi sebuah tatanan yang indah dan berbeda dengan bahasa yang dipakai dalam tuturan biasa atau bahasa ilmiah. Jadi, sebenarnya antara bahasa dan sastra mempuntai hubungan timbal balik.
            Pengarang harus memilih bagian tertentu suatu bahasa untuk menyusun karya yang indah dan mempunyai nilai lebih. Wellek dan Warren (1990 : 217) mengatakan bahasa adalah bahan mentah sastrawan. Dapat dikatakan bahwa setiap karya sastra hanyalah seleksi beberapa bagian dari suatu bahasa tertentu, seperti halnya patung yang dianggap sebagai sebongkah marmer yang dikikis sedikit bagian-bagiannya.
            Bahasa dalam karya sastra tidak lepas dari gaya dan corak tertentu untuk menciptakan efek estetis. Bahasa yang digunakan sastrawan dalam puisi berbeda dengan bahasa dalam prose, dan berbeda pula bahasa dalam drama.
            Tidak jarang kita harus lama-lama dihadapan sebuah puisi yang penuh dengan perlambangan atau simbol, atau sebuah novel yang penuh dengan idiom-idiom dan gaya bahasa untuk mendapatkan suatu pemahaman.
            Dengan gaya bahasa tersebut kita menjadi berpikir dua kali tentang sebuah karya sastra. Terlebih lagi bila gaya tersebut sarat dengan simbol dan perbandingan yang rumit.
            Sebuah karya sastra akan menjadi karya yang khas karena gaya bahasa yang dipakai pengarangnya. Sastrawan-sastrawan masa lampau suka sekali menggunakan perbandingan. Menggambarkan seorang gadis dengan benda-benda di alam yang memiliki keindahan. Wajahnya bagaikan rembulan, matanya seperti bintang timur, hidungnya seperti dasun tunggal, bibirnya laksana delima merekah, rambutnya laksana mayang mengurai, pipinya bagaikan pauh dilayang, demikian seterusnya sehingga setiap unit dari anatominya dibandingkan dengan sesuatu yang dianggap baik.
            Oka (1974 : 97) menyatakan bahwa Marah Rusli dengan “Siti Nurbaya” nya menggambarkan kehidupan wanita dari masanya tak ubahnya seperti burung dalam sangkar emas. Sutan Takdir Alisyahbana, sastrawan yang gandrung kepada kedinamisan itu menggambarkan kehidupan ini seperti laut yang penuh dengan ombak dan gelombangnya.
            Di dunia ini tidak akan ada dua hal yang sama persis. Untuk membandingkan dua hal, manusia terbiasa megelompokkan atau menyamakan. Akhirnya muncul penggunaan ungkapan bahasa yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut yang disebut metafora.
            Bila kita membaca “Aku” milik Chairil Anwar, kita akan menjumpai simbol-simbol dan metafora yang tidak mudah kita pahami. “ Aku ini binatang jalang”, bisa berarti Chairil memang tipe orang yang beringas seperti binatang liar, atau bisa berarti semangat Chairil yang membara bagaikan kuda liar, atau orang boleh mengartikannya sebagai pemberontakan jiwa Chairil terhadap konfensi yang mengungkungnya.
            Pada “Siti Nurbaya” juga banyak kita jumpai metafora. Pelukisan fisik Siti Nurbaya yang dibandingkan dengan keindahan alam merupakan suatu bentuk gaya bahasa yang khas. Dalam “Taman”, sebuah naskah lakon karya Iwan Simatupang, terdapat penjual balon yang menangisi balon-balonnya yang diterbangkan angin. Apakah balon yang dimaksud pengarang adalah balon-balon seperti mainan anak-anak umumnya, ataukah ada balon yang lain ?
            Dari beberapa contoh di atas tampak bahwa gaya bahasa maupun simbol tidak hanya terdapat dalam karya sastra bentuk puisi dan prosa, tetapi juga dalam karya drama. Naskah drama yang banyak digunakan gaya bahasa dan perlambangan dapat dijumpai pada karya-karya Putu Wijaya, Arifin C. Noor, WS. Rendra, Nano Riantiarno, dan Emha Ainun Najib.
            Berbicara masalah naskah lakon (meminjam istilah Oemarjati). Sumarjo Jacob dan Saini (1986 : 31) mengatakan bahwa drama yang sebenarnya adalah kalau naskah sastra tadi telah dibebaskan. Oleh sebab itulah banyak dijumpai surat kabar dan majalah-majalah yang membahas drama dari segi pementasannya, tetapi justru sedikit sekali yang membahas drama dari segi teksnya.
            Bertolak dari kenyataan tersebut, penelitian-penelitian ini bermaksud menelaah sebuah karya sastra yang berupa naskah lakon dari segi teksnya.
            Naskah lakon Pak Kanjeng (untuk selanjutnya dalam penelitian ini disebut “PK”) karya Emha Ainun Nadjib yang sudah beberapa kali dipentaskan diberbagai kota memiliki kemenarikan dari beberapa sudut untuk ditelaah. Yang paling menonjol adalah bahasa yang digunakan Nadjib untuk menuangkan ekspresi pikiran dan perasaannya.
            Buah pikir Nadjib yang diwakili oleh dialog-dialog para tokoh dalam “PK” dituangkan dalam bahasa yang penuh dengan perlambangan, perbandingan, dan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh orang lain menjadi sangat tajam dan mengigit.
            Dalam hal itu, Nadjib sebagai seorang sastrawan menggunakan gaya bahasa dalam konteks penciptaan karya yang berbentuk naskah lakon. Gaya bahasa yang digunakan tidak terbatas pada pengertian majas seperti yang telah kita ketahui. Seperti dikatakan Sudjiman (1993 : 13 – 14), gaya bahasa mencankup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas atau citraan, pola rima, matra yang digunakan oleh seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra.
            Setiap pengarang mempunyai gaya (Style) dalam ciptaan dalam sebuah karya sastra, baik ide maupun bahasa yang digunakan. Metafota yang digunakan oleh seorang pengarang tidak sama dengan yang dipakai oleh pengarang lain. Metafora banyak kita jumpai dalam karya puisi. Wahab (1991 : 74) mentakan bahwa didalam puisi ada campuran antara dunia nyata dan dunia kias. Dengan demikian diharapkan puisi itu kaya akan metafora.
            Seperti dalam puisi, metafora dipakai penyair secara beragam jenisnya atau variatif. Metafora tidak hanya mementingkan benda mati dengan prilaku manusia, tetapi banyak ragam metafora yang dipakai sehingga sebuah karya sastra yang mengandung metafora menarik untuk dibaca dan dipahami maksudnya.
            Tidak menutup kemungkinan metafora juga dipakai dalam karya sastra bentuk drama. Metafora yang terdapat dalam “PK” karya Emha Ainun Nadjib disajikan secara hampir menyeluruh pada dialog-dialog para tokohnya mulai awal hingga akhir. Tentunya Nadjib tidak sekedar bermaksud untuk memperindah karya lakonnya, tetapi justru dengan metafora itu dia ingin menonjolkan kritik yang disampaikannya. Hutomo (1992 : 46) mengatakan penggunaan gaya bahasa perbandingan bukan sekedar sebagai penambah keindahan, tetapi juga mendukung nilai humor dan kritik.
            Dikatakan lebih lanjut oleh Hutomo (1992 : 46), hal-hal yang digunakan sebagai perbandingan menunjukkan kepada pembaca bahwa pengarang kaya pengalaman dan tajam pengamatannya terhadap lingkungannya dan bahan bacaaan.
            Oka (1974 : 108) menyebut metafora adalah salah satu bentuk ucapan bahasa yang dalam kesatuannya dengan keseluruhan bahasa dalam pemakainnya akan mempengaruhi pola pikir dan pola tingkah laku dari masyarakat pemakainya.
            Selain dapat menimbulkan pengaruh terhadap pembaca karya sastra, gaya bahasa khususnya metafora berfungsi untuk mempertajam maksud jiwa. Dengan metafora, pengarang berusaha agar ide yang disampaikan melalui karya sastranya lebih mengenang di hati masyarakat pembacanya.
            Sekarang kita mencoba melihat gaya bahasa yang digunakan oleh Emha Ainun Nadjib dalam “PK” nya. Betapa Nadjib menggunakan metafora dalam dialog-dialog para tokohnya secara menggelitik demi tercapainya tujuan, yaitu pelontaran kritik-kritik sosial yang sangat mengganggu benaknya. Untuk itu kita melihat seberapa variatifnya metafora yang digunakan pada naskah lakonnya yang berjudul Pak Kanjeng. Apakah metafora dalam “PK” yang cukup mengigit itu digunakan dalam kalimat secara bervariasi ?
1.2. Permasalahan
1.2.1. Rumusan Masalah
            Dari rumusan masalah secara umum, bagaimana penggunaan metafora pada naskah lakon Pak kanjeng karya Emha Ainun Nadjib ? sedangkan secara rinci masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagaimana penggunaan metafora nominatif pada naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
2.      Bagaimana penggunaan metafora komplementatif pada masalah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
3.      Bagaimana penggunaan metafora predikatif naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
4.      Bagaimana penggunaan metafora kalimatif pada naskah lakon “PK” karya pada Emha Ainun Nadjib ?
5.      Bagaimana metafora secara utuh mendukung kekuatan naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
Namun karena terbatasnya waktu dan materi, maka peneliti hanya membahas tiga point saja yaitu 1, 2 dan 3 serta kemampuan penulis yang terbatas.
1.      Bagaimana penggunaan metafora nominatif pada naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
2.      Bagaimana penggunaan metafora komplementatif pada naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
3.      Bagaimana penggunaan metafora predikatif pada naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
1.2.2. Batasan Masalah
            Begitu luas masalah yang timbul dalam bidang kajian gaya bahasa ini sehingga dalam penelitian ini membatasi masalah agar pembahasannya lebih terarah dan mendalam.
            Gaya bahasa yang akan ditelaah adalah gaya bahasa perbandingan khusnya metafora. Alasannya adalah metafora dalam naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib sangat menonjol. Sebagian besar dialog-dialog tokoh dalam “PK” dibungkus dalam metafora.
            Maksud penggunaan metafora ada yang memperluas dan ada yang mempertajam hasrat jiwa sang pengarang terhadap ide yang dituangkan. Metafora yang terdapat dalam “PK” sebagian besar bermaksud mempertajam ide yang disampaikan oleh pengarang, sehingga pembahasan lebih ditekankan pada jenis metafora tersebut.
            Metafora penelitian ini juga dimaksudkan untuk personifikasi, dipersonifikasi dan perumpamaan karena ketiganya bersifat membandingkan. Untuk mempermudah pembahasan, semuanya dirangkum dan disebut metafora.         
            Penelitian ini melihat metafora dari segi sintaksis. Wahab (1991 : 72) menyatakan, dilihat dari segi sintaksis metafora dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu (1) metafora nominatif, (2) metafora predikatif, (3) metafora kalimatif. Metafora nominatif dibagi lagi menjadi dua, metafora nominatif subjektif (yang lakon disebut metafora nominatif) dan metafora nominatif objektif (yang lebih lazim di sebut metafora komplementatif).
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
            Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh diskripsi penggunaan metafora pada naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib ?
1.3.2. Tujuan Khusus
            Sesuai dengan rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1.      Memperoleh diskripsi penggunaan metafora nominatif pada naskah lakon “PK”  karya Emha Ainun Nadjib.
2.      Memperoleh diskripsi penggunaan metafora komplementatatif pada naskah lakok “PK” karya Emha Ainun Nadjib.
3.      Memperoleh diskripsi penggunaan metafora predikatif pada naskah lakon “PK” karya Emha Ainun Nadjib.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Teoritis
            Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi pengembangan bahasa dan ilmu sastra Indonesia khususnya bidang gaya bahasa.
1.4.2. Manfaat Praktis
            Secara Praktis, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan sebagai berikut :
1.      Melalui gurunya, siswa memperoleh tambahan pengetahuan tentang gaya bahasa khususnya metafora.
2.      Bagi peneliti sastra khususnya bidang drama, penelitian ini sebagai bahan perbandingan dalam penelitian yang sama.
3.      Bagi pekerja teater, penelitian ini untuk memudahkan pemahaman terhadap naskah dalam rangka pementasan.
1.5. Definisi atau Batasan Istilah
            Penelitian ini berjudul penggunaan metafora pada naskah lakon “Pak kanjeng” karya Emha Ainun Nadjib. Untuk memudahkan langkah selanjutnya dalam penelitian ini, perlu dijelaskan secara operasional  pengertian istilah yang terdapat dalam judul tersebut. Batasan istilah itu sebagai berikut :
-         Metafora : majas yang mengandung perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna diantaranya.
-         Metafora Nominatif : metafora yang lambang kiasnya terdapat pada subjek kalimat.
-         Metafora Komplementatif : metafora yang lambang kiasnya terdapat pada objek kalimat.
-          Metafora Predikatif : metafora yang lambang kiasnya terdapat pada predikat kalimat lakon : cerita yang dimainkan dalam sandiwara.
-         Naskah Lakon : teks sastra atau karangan yang berupa cerita drama (berupa percakapan).
1.6. Sistematika Penulisan
            Untuk memperoleh pembahasan yang sistematis komposisi ini ditulis lima bab.
Bab I yang memuat latar belakang masalah yang terdiri dari permasalahan, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta definisi atau batasan istilah dan sistematika penulisan.
Bab II kajian kepustakaan yang berfungsi sebagai landasan teori dalam usaha mendeskripsikan tujuan yang hendak dicapai oleh karena itu dipandang perlu untuk menkaji tentang drama sebagai karya sastra, stilistika dan gaya, metafora dan penelitian-penelitian metafora, biografi pengarang dan karyanya.
Bab III yang berisi metode penelitian yang terdari dari teknik pengumpulan data, teknik analisis data, prosedur penelitian.
Bab IV hasil penelitian yang berisi penggunaan metafora nominatif, penggunaan metafora komplementatif dan metafora pradikatif. Deskripsi struktur, fungsi ketiga metafora tersebut dan perubahan makna ketiga metafora tersebut.
Bab V penutup yang berisikan sinopsis, kesimpulan dan saran sebagai hasil dan manfaat yang diperoleh dari keseluruhan penelitian.      
Download Selengkapnya
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog