Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

25 April 2011

Pengembangan Kajian Pustaka: NILAI-NILAI BUDI PEKERTI TOKOH DALAM NOVEL DARAH-DARAH KARYA ACHYAR NR

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKAN

A.     Tinjauan Novel Darah-Darah Karya Achyar NR
1.      Pengertian Novel
Dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas (Sumardjo, 1997:29). Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula. Berbeda dengan cerpen yang biasanya hanya terdiri dari satu alur, dan pendeknya sutau cerita.
Istilah novel yang dipakai di Indonesia menurut Abrams sebagaimana dikutip Nurgiyantoro (1998 : 23) berasal dari bahasa Italia ‘’novella’’ yang secara harfiah memiliki arti cerita pendek dalam bentuk prosa. Namun menurut Tarigan, kata ‘’novel’’ berasal dari kata Latin ‘’novellus’’ yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti ‘’baru’’. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra yang lain seperti puisi, drama dan lain-lain, jenis novel tersebut muncul kemudian (Tarigan, 1986 : 164). Dalam bagian lain Tarigan menguitp pengertian novel dari ‘’The American College Dictionary’’ yang menyatakan bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur yang agak kompleks.
Istilah novel sama dengan istilah roman. Kata novel berasal dari bahasa Italia yang kemudian berkembang di Inggris dan Amerika Serikat. Sedang istilah roman berasal dari genre romance dari Abad Pertengahan yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan (Sumardjo, 1997:29).
Sedangkan Aminuddin tidak secara tegas memberikan perbedaan antara bentuk novel, roman, nevelet, atau cerpen. Menurut Aminuddin, perbedaan itu hanya terletak pada panjang atau pendeknya isi cerita serta kompleksitas masalah yang diangkat di dalamnya. Dijelaskan bahwa pada dasarnya bentuk-bentuk karya tersebut tetap mengandung elemen yang sama walaupun dalam unsur-unsur tertentu juga tetap mengandung perbedaan. Kendati tidak secara tegas memberikan perbedaan terhadap bentuk novel, roman, dan yang lain, namun Aminuddin secara tegas memberikan penekanan bahwa  pada hakikatnya bentuk-bentuk tersebut tergolong ke dalam prosa fiksi. Menurutnya, yang dimaksud prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (1995 : 66).
Lebih lanjut Aminuddin menyatakan bahwa unsur prosa fiksi tersebut terdiri dari (1) pengarang atau narator, (2) isi penciptaan, (3) media penyampai isi berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsur intrinsik yang membangun karya fiksi sehingga menjadi suatu wacana yang utuh. Hal itu sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro (1998 : 23) yang menegaskan bahwa sebuah novel akan berwujud apabila terdapat kepaduan antar berbagai unsur intrinsik yang turut secara langsung membangun cerita. Unsur-unsur yang dimaksud adalah tema, plot atau alur, setting atau latar, penokohan, sudut pandang atau point of view, bahasa dan gaya bahasa atau style.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang tergolong ke dalam prosa fiksi serta terdiri dari unsur-unsur pembangun yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.
Seperti halnya karya fiksi yang lain unsur pembangun roman terbagi dalam dua bagian, yakni:  (1) unsur ekstrinsik yaitu unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi          bangun cerita sebuah karya sastra,  (2) unsur instrinsik  yaitu                                 unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra.
a.      Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya (Nurgiyantoro, 1998:23). Faktor yang mempengaruhi karya sastra adalah sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan idiologi pengarang (Wellek, 1995:111).
b.     Unsur Intrinsik
Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur intrinsik sebuah roman adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur inilah yang membuat sebuah roman berwujud atau sebaliknya. Unsur yang dimaksud adalah peristiwa cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lain-lain.
2.      Tokoh Cerita
Tokoh Cerita adalah pemegang peran dalam prosa fiksi. Mutu sebuah cerita banyak ditentukan oleh kepandaian si penulis dalam menghidupkan watak tokoh-tokohnya. Kalau karakter tokoh lemah, maka menjadi lemahlah seluruh cerita. Tiap tokoh semestinya mempunyai kepribadian sendiri-sendiri dan mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang
Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang paling penting dalam karya naratif, jika menghadapi sebuah cerita tentunya kita akan bertanya siapa yang diceritakan itu? Siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu itu? Ini cerita tentang apa?. Pelaku ini yang biasa disebut tokoh cerita. Adapun yang dimaksud dengan tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.
Tokoh pada umumnya berwujud manusia tetapi juga dapat berwujud binatang atau benda yang diinsankan dalam artian tokoh binatang, benda itu bertingkan laku seperti manusia dapat berfikir dan dapat berbicara seperti manusia.
Tokoh cerita, menurut Abrams dalam Nurgiyantoro, adalah orang              (-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (1998:165).
Dilihat dari segi peranan dalam pengembangan plot atau tingkat pen-tingnya tokoh dalam suatu cerita  tokoh dibagi dalam dua bagian (1) tokoh utama atau tokoh inti, (2) tokoh tambahan atau tokoh pembantu (Nurgiyantoro, 1998:176).
a.      Tokoh Utama atau Tokoh Inti
Tokoh utama atau tokoh inti yaitu tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita dan ditampilkan terus-menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita, tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain (Nurgiyantoro, 1998:176).
Aminuddin menjelaskan, untuk menentukan siapa tokoh utama atau siapa tokoh tambahan dalam cerita, pembaca dapat menentukan dengan jalan melihat keseringan permunculannya dalam suatu cerita. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya (1995:80).
Karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkemba-ngan plot secara keseluruhan. Tokoh utama selalu hadir sebagai pelaku, atau yang dikenai kejadian konflik, yang mempengaruhi perkembangan plot. Tokoh Utama dalam sebuah cerita mungkin saja lebih dari satu orang, walau kadar keutamaannya tak (selalu) sama.
b.     Tokoh Tambahan atau Tokoh Pembantu
Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tokoh tambahan atau tokoh pembantu, yaitu tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dan itupun mungkin dalam porsi penceritaan yang relatif pendek (1998:176). Definisi lain dijelaskan bahwa tokoh tambahan atau tokoh pembantu adalah tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama (Aminuddin, 1995:80).
Jika dibandingkan dengan tokoh utama pemunculan tokoh-tokoh tambahan atau tokoh pembantu dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tidak langsung.
Perbedaan antara tokoh utama dengan tokoh tambahan tak dapat dilakukan secara eksak, perbedaaan ini lebih bersifat gradasi, kadar keutama-an tokoh-tokoh itu bertingkat: tokoh utama (yang) utama, utama tambahan, tokoh tambahan utama, tambahan (yang memang) tambahan (Nurgiyantoro, 1998:178). Keutamaan mereka ditentukan oleh dominasi, banyaknya penceritaan, dan pengaruhnya terhadap perkembangan plot secara keseluruhan.
Selain dari hal tersebut di atas tokoh cerita dalam karya sastra dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan ke dalam protagonis dan tokoh antagonis. Dilihat berdasarkan perwatakannya dibedakan ke dalam tokoh sederhana dan tokoh  kompleks atau tokoh bulat. Dilihat berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dapat di-bedakan ke dalam tokoh statis/tak berkembang dan tokoh berkembang. Dilihat berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap (sekelompok) manusia dari kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan ke da-lam tokoh tipikal dan tokoh netral (Nurgiyantoro, 1998:176-190).
Dalam karya sastra khususnya roman yang merupakan sebuah cerita yang panjang, tokoh utama atau tokoh inti biasanya merupakan tokoh protagonis, memiliki watak kompleks,  termasuk kreteria tokoh yang berkembang, dengan pencerminan tokoh netral.
a.       Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis
Altenbernd & Lewis dalam Nurgiyantoro menjelaskan bahwa yang disebut tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satunya secara populer disebut hero, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita (1998:178).  Menurut Aminuddin tokoh protagonis yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca (1995:80).
Sedangkan tokoh antagonis merupakan kebalikan dari tokoh protagonis, yaitu tokoh  penyebab terjadinya konflik dan ketegangan yang dialami oleh protagonis. Tokoh protagonis barangkali dapat disebut, beroposisi dengan tokoh protagonis, secara langsung ataupun tak langsung, bersifat fisik maupun batin (Nurgiyantoro, 1998:179). Menurut Aminuddin tokoh antagonis yaitu pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan pembaca (1995:80).
b.      Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat
Tokoh sederhana, dalam bentuknya yang asli adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja (Nurgiyantoro, 1998:181-182). Pembaca akan lebih mudah memahami watak dan tingkah laku tokoh sederhana, mudah dikenal dan dipahami, lebih familiar. Aminuddin mendefinisikan tokoh sederhana (simple character) yaitu pelaku yang tidak banyak menimbulkan adanya kompleksitas masalah, pemunculannya hanya dihadapkan pada satu permasalahan tertentu yang tidak menimbulkan adanya obsesi-obsesi batin yang kompleks (1995:82)
Sedangkan tokoh bulat/kompleks, yaitu tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Abrams dalam Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tokoh bulat lebih menyerupai kahidupan manusia sesungguhnya, karena disamping memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan (1998:183). Aminuddin menjelaskan bahwa tokoh bulat (complex character) yaitu pelaku yang pemunculannya banyak dibebani permasalahan, yang memiliki obsesi batin yang cukup kompleks sehingga kehadirannya banyak memberikan gambaran perwatakan yang kompleks pula (1995:82).
c.      Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang
Alternbernd & Lewis dalam Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan dan atau perkembangan perwatakan  sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (1998:188). Aminuddin mendefinsikan tokoh statis adalah pelaku yang tidak menunjukkan adanya perubahan atau perkembangan sejak pelaku itu muncul sampai cerita berakhir (1995:83).
Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami peruba-han dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan (dan perubahan) peristiwa dan plot  yang dikisahkan. Ia secara aktif berinteraksi dalam lingkungannya, baik lingkungan sosial, alam, maupun yang lain, yang kesemuanya itu akan mempengaruhi sikap, watak, dan tingkah lakunya (Nurgiyantoro, 1998:188). Aminuddin berendapat bahwa tokoh berkembang (dinamis) adalah pelaku yang memiliki perubahan dan perkembangan batin dalam keseluruhan penampilannya (1995:83).
d.     Tokoh Tipikal dan Tokoh Netral
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog