Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

29 April 2011

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DENGAN METODE INQUIRY PADA POKOK BAHASAN TRIGONOMETRI KELAS X SMA (BAB 2)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Belajar merupakan suatu hal yang sangat mendasar dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan semua orang. Sedangkan mengajar menunjukkan pada apa yang dilakukan guru sebagai pengajar. Dalam pembelajaran diperlukan adanya interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa. Belajar mengajar sebagai suatu proses perlu direncanakan secara sistematis oleh guru. Untuk merencanakan suatu proses belajar mengajar yang sesuai sehingga dapat merangsang minat siswa untuk belajar, maka seorang guru harus memiliki metode belajar mengajar yang tepat dalam mengajar.
Pembelajaran adalah upaya menciptakan kondisi siswa dapat belajar. Menurut Degeng Dalam Ratumanan (2002:3) pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa, dengan kata lain pembelajaran adalah kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil yang diinginkan.dengan demikian proses belajar mengajar bukan hanya berputar pada guru, melainkan siswa harus dilibatkan dalam proses belajar mengajar baik secara emosional maupun sosial. Dimana guru harus menjadi fasilitator yang profesional dalam usaha membelajarkan siswa.
Matematika merupakan salah satu pengetahuan dasar yang berhubungan dengan ide-ide (gagasan-gagasan) struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logis sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak (Hudoyo, 1990 : 5) matematika mempunyai ciri-ciri (1) memiliki objek yang abstrak dan (2) memiliki pola pikir deduktif dan konsisten, sudah tentu dalam proses pembelajaran diharapkan siswa dapat terlibat langsung, dalam arti siswa tidak hanya menerima stimulus dari guru saja, namun siswa diharapkan dapat menggunakan mental dan fisik dalam proses belajar mengajar secara optimal.
Salah satu faktor pendukung berhasilnya proses belajar mengajar matematika adalah menguasai teori belajar matematika yang dapat diterapkan oleh guru apabila sudah memiliki metode belajar mengajar yang tepat, sehingga pengajaran yang akan dicapai dapat disesuaikan dengan kemampuan siswa, sehubungan hal tersebut Wenstein dan Meyer dalam Nur (2004 : 4) mengemukakan bahwa pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana belajar, bagaimana mengajar, bagaimana berfikir, bagaimana memotifasi diri mereka sendiri.
Dari uraian diatas disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan kondisi belajar siswa yang memungkinkan siswa belajar matematika secara optimal, kondisi yang diciptakan oleh guru dalam pembelajaran diharapkan dapat meranggsang minat belajar siswa dalam mencari pengalaman belajar matematika yang menyenangkan, sehingga mempermudah siswa dalam memahami konsep matematika. Dengan demikian pengajaran metode belajar mengajar khusunya mengajar matematika sangatlah penting diajarkan pada siswa agar tujuan pengajaran dan hasil belajar siswa dapat tercapai secara optimal.
B.    Model Pembelajaran Dengan Metode Inquiry.
1.      Pengertian metode  Inquiry
Definisi tentang metode inquiry dikemukankan oleh para ahli antara lain menurut Sujana (2005 : 154) metode  inquiry adalah metode mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah :
Metode ini bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai subyek dan obyek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran harus dipandang sebagai stimulasi yang dapat menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Peranan guru lebih banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar, dengan demikian siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru.
Sedangkan menurut Hudoyo  (1990 : 124) metode  inquiry merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide atau gagasan lewat proses menemukan. Peserta didik menemukan sendiri pola-pola dan struktur matematika melalui serentetan pengalaman belajar yang lampau. Siswa memerlukan waktu dan bantuan untuk mengembangkan kemampuan memahami ide atau gagasan baru. Beberapa petunjuk atau instruksi perlu diberikan kepada peserta didik, apabila mereka belum menunjukkan kemampuan untuk menemukan ide atau gagasan yang dimaksud. Dengan demikian kegiatan belajar mengajar dengan metode inquiry ini, seutuhnya melibatkan siswa maupun guru. Diharapkan jika siswa terlibat dalam menemukan pola dan struktur matematika itu ia akan memahami konsep dan teorema lebih baik, ingat lebih lama dan mampu mengaplikasikan kesituasi yang lain.
2.      Tujuan Pembelajaran Dengan Metode Inquiry
 Bell dalam Ratumanan (2002 : 129) mengemukakan beberapa tujuan dari pembelajaran dengan  penemuan (inquiry), yakni :
a.      Dalam penemuan siswa memiliki kesepakatan untuk terlibat dalam pembelajaran.
b.      Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan dalam situasi kongkrit maupun abstrak.
c.      Siswa belajar menemukan strategi tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d.      Pembelajaran dengan penemuan dapat membantu siswa membentuk cara kerjasama yang efektif , saling membagi informasi serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
e.      Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keterampilan – keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
f.        Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar dalam beberapa kasus lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.
3.      Hal – Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Metode Inquiry
Menurut sujana (2005 : 154) mengemukakan bahwa metode inquiry dapat dilaksanakan apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.      Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa / problematik) dan sesuai dengan daya nalar siswa.

b.      Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan.

c.      Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup.

d.      Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya dan berdiskusi.

e.      Partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar.

f.        Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.

4.      Tahapan Dan Prosedur Pelaksanaan Metode Inquiry Sebagai Berikut :
 Menurut Syah (1995 : 244) mengemukakan bahwa adapun tahapan dan prosedur pelaksanaan metode inquiry sebagai berikut :
a.      Stimulation (Stimulisi / pemberian rangsangan) yakni melalui kegiatan PBM dengan mengajuka pertanyaan – pertanyaan, anjuran membaca buku sehingga mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
b.      Problem statement (pernyataan / identifikasi masalah) yakni memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda - agenda masalah  yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban semetara atas pernyataan masalah).
c.      Data collection (pengumpulan data ) yakni memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar salahnya hipotesis.
d.      Data processing (pengolahan data), yakni mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa.
e.      Verification yakni melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan.
f.        Generalization (generalisasi) yakni menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah  yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi.
5.      Ketuntasan Hasil Belajar
                 Hasil belajar adalah tingkat penguasaan hasil belajar atau ketuntasan siswa terhadap indikator pencapaian hasil belajar. Agar semua siswa memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis yang akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan berdasarkan teori belajar tuntas. Dalam penentuan analisis tes hasil belajar siswa , di gunakan penilaian acuan patokan (PAP) dengan menggunakan satu acuan ketuntasan pencapaian tujuan pembelajaran berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994, siswa secara individu dikatakan telah tuntas belajar apabila mempunyai prosentase ketercapaian  65% , sedangkan suatu kelas telah tuntas belajar apabila prosentase ketercapaian belajar secara klasikal  85%.

C.    Trigonometri

1.      Perbandingan  trigonometri
Apabila diketahui panjang dua sisi suatu segitiga siku-siku, maka panjang sisi yang ketiga dapat dihitung dengan teorema phytagoras :

                                    C

            A                      B

 Luas persegi pada hipotenusa sama dengan jumlah luas persegi pada kedua sisi siku-siku segitiga.
AC = AB  + BC 


Dari gambar disamping tentukan panjang x ?
Contoh :                                      C
                       
                                 x                    3











              A                 4                             B



Penyelesaian :
Berdasarkan teorema phytagoras  : AC = AB  + BC 
Diperoleh :     AC    = AB  + BC 
x        = 4  + 3 
x          =  
x          = 5.
                                                                            B
                       
           


           
     A                                             C
Segitiga ABC siku-siku di C dari gambar diatas, Jika besar sudut BAC=, Maka :
§   BC disebut sisi siku-siku didepan sudut
§   AC disebut sisi siku-siku disamping sudut
§   AB adalah hipotenusa yaitu sisi terpanjang dari ketiga sisi
segitiga siku-siku ABC.
Perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku ABC diketahui sebagi berikut :
Sin                        =
Cos                      =
Tan                        =
Cotangen             =
Secan                   =
Cosecan              =
Hubungan perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku OAB dengan koordinat ditunjukkan pada gambar di bawah ini.


Sin                =
Cos               =
Tan               =
Cot               =
Secan            =
Cosecan        =
           y



B (x,y)







A
                      x
0



Jadi, jika diketahui salah satusisi dan sudut lancip suatu seghitiga siku-siku, maka sisi – sisi yang lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan perbandingan trigonometri.
Contoh :
1.      Suatu menara tingginya 50 m dilihat dari suatu tepat dengan sudut elevansi 25 berapa jauh menara dengan orang yang melihat tersebut ?
Penyelesaian                      :
diketahui        : tinggi menara          = 50 m
Sudut elevansi        = 25
Ditanya           : jarak menara dengan orang yang melihat
                                    Jawab             :


Tan 25=
x          =
             =
x          = 107,3 m
Sudut elevansi adalah sudut antara pandang mata kearah atas dengan arah horizontal.
                                                                    

                                                                     50 m
     25    
                                                x
2.       Dari suatu puncak bukit seseorang melihat benda yang berada di kaki bukit dengan sudut depresi 20, apabila tinggi bukit 500 m, hitunglah jarak orang kebenda tersebut ?
Penyelesaian                      :
diketahui        : tinggi bukit               = 500 m
  Sudut depresi                      = 20
Ditanya           : jarak orang kebenda.
Jawab             :
Sudut Depresi adalah sudut antara pandang mata kearah bawah dengan arah horizontal.







Tan 20=
s           = 500 x tan 20
             = 500 (0, 364)
s           = 182 m





  t = 500 m





                              s

2.   Identitas Trigonometri
Perbandinmgan trigonometri segitiga siku-siku pada gambar dapat dilihat pada table dibawah ini.



Sin    =    Sin     =  
Cos   =   Cos  =
Tan  =     Tan    =
Cot   =    Cot    =




     y                          r



                            
                 x

Dari rumus diatas dapat diperoleh hal sebagai berikut :
a.      Jumlah sudut  +  = 90  = 90-, maka :
Sin         = Cos          =  atau Sin (90-)            = Cos
Cos       = Sin                        =  atau Cos (90-)= Sin
Tan        = Cot           =  atau Tan (90-)= Cot
Cot        = Tan           = atau Cot (90-)            = Tan
b.      Sin         =  atau y      = r sin
Cos        =  atau x      = r cos
Dari teorima phytagoras : x + y= r
r(Cos + sin )   = r
Cos+ sin         = 1
c.      Tan  =  
d.      Cos+ sin = 1
*,         syarat :
*     
*1 + tan = (sec)
*1 + tan = sec dan Cos + sin = 1
**
*Cot + 1 = Cosecan
Untuk membuktikan suatu persamaan merupakan identitas atau bukan, kita gunakan rumus-rumus yang sudah ada, dengan menggunakan salah satu cara berikut :
a.      Mengubah bentuk ruas kiri sehingga menjadi bentuk ruas kanan.
SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog