Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

29 April 2011

Korelasi Kemampuan Menghitung Bilangan Pecahan Dengan Prestasi Belajar Fisika Pada Pokok Bahasan Rangkaian Hambatan Listrik Siswa Kelas III MTS (BAB 2)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Hakikat Matematika
Matematika merupakan fungsi yang penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sains dan teknologi didasarkan juga pada matematika. Selain itu, dengan bantuan matematika alat yang efisien dan sangat diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan, dan tanpa bantuan matematika semua tidak akan mendapat kemajuan yang berarti.
Menurut Hudoyo (1979: 95) berpendapat bahwa:
Matematika sering dilukiskan sebagai suatu kumpulan sistem matematika, yang setiap dari sistem-sistem itu mempunyai struktur tersendiri yang sifatnya deduktif. Suatu sistem deduktif dimulai dengan memilih beberapa unsur yang tidak didefinisikan (undervined terms) yang disebut unsur-unsur primitif. Unsur-unsur tersebut diperlukan sebagai dasar komunikasi. Misalnya di dalam geometri, unsur ‘titik’ merupakan suatu unsur yang tidak didefinisikan untuk semua pernyataan yang melibatkan titik-titik.

Selanjutnya, Hudoyo (1979: 96) menyatakan bahwa “bertolak dari hal tersebut di atas, dapatlah dikatakan bahwa hakekat matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut aturan yang logis”.
Pendapat tentang hakekat matematika juga disampaikan oleh Karso dan Darmojo (1989:2) bahwa “matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran”.
Hudoyo (2002:1) menyatakan bahwa “sebenarnya sangat sulit mendefinisikan matematika sebab tidak akan mendapat persetujuan serempak di antara matematikawan”. Luckins (dalam Hudoyo, 2002:2) juga menyatakan bahwa “apakah matematika itu dapat dijawab secara berbeda tergantung pada bilamana pernyataan itu dijawab, dimana dijawabnya, siapa yang menjawabnya dan apa saja yang dipandang sebagai termasuk di dalam matematika”. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Hollands (1983:81) bahwa “masih ada banyak ketentuan (pengertian) yang mungkin (berbeda) dari matematika, tetapi tidak ada diantaranya dapat menerangkan (pengertian matematika) dengan tepat seperti suatu pokok yang kompleks. Misalnya: matematika adalah pelajaran pola dan hubungan-hubungan dan alat-alat yang mewakili dan yang menghubungkan mereka”.
Akan tetapi untuk memberikan gambaran tentang matematika, maka beberapa tokoh menyampaikan pendapatnya tentang matematika. Menurut Sumantri (1995:8) menyatakan bahwa “matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat ‘arti fisial’ yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati”. Saleh (dalam Zahroh, 1994:13) juga menyatakan bahwa “matematika ialah pengetahuan yang mengambil kesimpulan yang diperlukan dan juga permainan yang dimainkan menurut aturan yang sederhana, terutama dengan tanda-tanda dan matematika pada dasarnya ialah pengetahuan tentang sesuatu yang telah pasti”. Sedangkan Hollands (1983:81) berpendapat bahwa “matematika (matematics) adalah suatu sistem rumit tetapi tersusun sangat baik yang mempunyai banyak cabang”. James dan James (dalam Karso dan Darmodjo, 1989:2) juga berpendapat bahwa “matematika itu adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak.
Bertolak dari pernyataan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hakekat matematika merupakan alat bantu semua ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan ide-ide, struktur dan hubungan-hubungan yang diatur menurut urutan yang logis. Matematika yang berkaitan dengan konsep-konsep abstrak yang diberi simbol-simbol dibentuk dari unsur deduktif (Unsur deduktif yaitu matematika yang dimulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan yang biasanya disebut pengertian pangkat, misalnya pengertian titik). Jadi belajar matematika sebenarnya bisa mendapatkan suatu pengertian, hubungan pengertian yang satu dengan pengertian yang lain dan simbol-simbol yang kemudian diaplikasikan ke konsep-konsep yang dihasilkan ke situasi yang nyata.

B.      Bilangan Pecahan

1.      Pengertian Bilangan Pecahan
Sejarah ditemukan pecahan, ketika orang-orang menemukan suatu masalah perhitungan, yang tidak bisa dijawab dengan menggunakan bilangan bulat (Djumanta, 1998:36). Permasalahan itulah yang akhirnya mendorong untuk menemukan jawabannya, yaitu dengan menggunakan bilangan pecahan.
Dalam kenyataan, bayak permasalahan-permasalahan dalam kehidupan ini yang memerlukan perhitungan dengan bilangan pecahan. Sebagai contoh sederhana ada 4 orang anak hendak membagi 3 potong roti, masing-masing anak minta bagian yang sama. Dalam hal ini tentu saja hasilnya bukan merupakan bilangan bulat tetapi memerlukan bilangan yang disebut bilangan pecahan.
Berdasarkan uraian di atas maka pengertian pecahan adalah bilangan yang disajikan dalam bentuk  dengan a, b Î B (bilangan bulat) dan b ¹ 0 serta b bukan faktor dari a, selanjutnya a disebut pembilang dan b disebut penyebut.
2.      Jenis-Jenis Bilangan Pecahan
a.      Pecahan biasa
Pecahan biasa yaitu pecahan yang berbentuk , a, b Î B (bilangan bulat) dan b ¹ 0 serta b bukan faktor dari a.
Pecahan biasa terdiri dari dua jenis pecahan, yaitu pecahan sejati dan pecahan tidak sejati.
Pecahan sejati yaitu pecahan yang berbentuk dengan b > a.
Contoh :
Pecahan sejati =
Pecahan tidak sejati yaitu pecahan berbentuk dengan a > b.
Contoh:
Pecahan tidak sejati:
b.      Pecahan campuran
Pecahan campuran yaitu penyederhanaan dari pecahan yang pembilangnya lebih besar dari pada penyebutnya atau pecahan yang memuat bilangan bulat dan bilangan pecahan. Menurut Karso (1992:140) bahwa pecahan campuran adalah pecahan berbentuk , dengan a > b atau pecahan yang memuat bilangan bulat dan bilangan pecahan.
Contoh:
 adalah pecahan campuran
c.      Pecahan desimal
Jenis-jenis pecahan desimal:
§         Pecahan desimal terbatas, misalnya: 0,25; 0,50; 0,10.
§         Pecahan desimal tak terbatas, terdiri dari pecahan desimal tak terbatas berulang dan pecahan tak terbatas tak berulang.
Pecahan desimal tak terbatas berulang, contohnya:
0,333333 …. biasa disingkat 0,.
0,232323 …. biasa disingkat 0,.
Pecahan desimal tak terbatas tak berulang, contohnya:
0,114113576891………..
3,142857142 ………..
Suatu pecahan biasa dengan mudah kita dapat mengubahnya ke dalam bentuk pecahan desimal dengan cara pembagian ke bawah. Sebaliknya setiap pecahan desimal berulang dan pecahan desimal terbatas dapat diubah ke dalam bentuk pecahan biasa. Tetapi pecahan desimal tak terbatas tak berulang tidak bisa dinyatakan dalam bentuk pecahan biasa, jadi tidak rasional (Karso, 1992:141).
3.      Operasi Hitung Bilangan Pecahan
Menghitung adalah keterampilan siswa menggunakan cara tertentu untuk mendapatkan jawaban yang benar dan juga pemahaman konsep yang digunakan (Joko Hartono, 1998:19). Pecahan itu sendiri adalah bilangan yang dinyatakan sebagai  dengan a dan b adalah bilangan bulat, b 0 serta b bukan faktor dari a. Selanjutnya a disebut pembilang dan b disebut penyebut.
Kemampuan atau skill menghitung dalam matematika adalah operasi atau prosedur yang diharapkan mampu mengarahkan siswa atau pengguna matematika di dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam matematika.
Bertolak dari beberapa pengertian di atas, maka kemampuan menghitung bilangan pecahan adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal bentuk bilangan pecahan (yang dapat dinyatakan dalam bentuk ) dengan pemahaman konsep yang digunakan secara benar.
Sedangkan yang termasuk operasi dalam matematika adalah operasi penjumlahan, operasi perkalian, operasi pembagian, akar, perpangkatan dan sebagainya.
a.      Penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
Penjumlahan dan pengurangan dari dua pecahan mudah dihitung jika penyebutnya sama. Apabila menemui pecahan yang penyebutnya tidak sama, harus disamakan penyebutnya dahulu dengan cara menggunakan KPK dari penyebut-penyebut bilangan pecahan yang akan dijumlahkan atau dikurangkan..
Contoh 1:
Selesaikanlah:
Penyelesaian:
Karena kedua penyebut bilangan pecahan sama, maka kita langsung menjumlahkan kedua pembilang bilangan pecahan tersebut.
Jadi, penyelesaian dari .
Contoh 2:
Selesaikanlah:
Penyelesaian:
Karena kedua penyebut bilangan pecahan itu tidak sama, maka kita harus menyamakan kedua penyebut bilangan pecahan terlebih dahulu dengan mencari KPKnya, kemudian menjumlahkan kedua pembilang bilangan pecahan tersebut.
(KPK dari penyebut 4 dan 3 adalah 12).
Jadi penyelesaian dari .
Contoh 3:
Selesaikanlah:
Penyelesaian:
Karena kedua penyebut bilangan pecahan sama, maka kita langsung mengurangkan kedua pembilang bilangan pecahan tersebut.
Jadi, penyelesaian dari .
Contoh 4:
Selesaikanlah:
Penyelesaian:
Karena kedua penyebut bilangan pecahan itu tidak sama, maka kita harus menyamakan kedua penyebut bilangan pecahan terlebih dahulu dengan mencari KPKnya, kemudian mengurangkan kedua pembilang bilangan pecahan tersebut.
 (KPK dari penyebut 3 dan 5 adalah 15).
Jadi, penyelesaian dari
Contoh 5:
Selesaikanlah:
Penyelesaian:
Karena kedua penyebutnya tidak sama, maka kita harus menyamakan penyebutnya terlebih dahulu dengan cara mencari KPKnya.
Jadi, penyelesaian dari
Contoh 6:
Selesaikanlah:
Penyelesaian:
Karena kedua penyebut pecahan tersebut sudah sama, maka kita langsung mengurangkan kedua pecahan tersebut.
Jadi, penyelesaian dari
b.      Perkalian dan pembagian bilangan pecahan
Ø      Perkalian bilangan pecahan
Perkalian bilangan pecahan dapat dilakukan dengan mengalikan pembilang dengan pembilang dan mengalikan penyebut dengan penyebut.
Contoh 1:
Contoh 2:
Ø      Pembagian bilangan pecahan
Pembagian bilangan pecahan dapat dilakukan dengan cara mengalikan pecahan pertama dengan pecahan kedua, setelah pecahan kedua diubah kedudukannya. Maksud dari diubah kedudukannya adalah posisi penyebut diubah menjadi pembilang dan posisi pembilang diubah menjadi penyebut.
Contoh 1:
Contoh 2:

C.      Hakekat Fisika

IPA merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep tentang alam sekitarnya yang diperoleh melalui serangkaian proses ilmiah. Mata pelajaran IPA diberikan untuk menambah dan mengembangkan sikap ilmiah siswa, kemampuan bernalar dan sebagainya. Fisika sebagai salah satu disiplin ilmu, merupakan bagian dari IPA atau sains.
Han J. W. Packrik seperti yang dikutip fatah (2001:7) mengungkapkan bahwa fisika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang pada dasarnya bertujuan untuk mempelajari dan memberi penalaran kuantitatif terhadap berbagai gejala atau proses alam dan sifat zat serta penerapannya.
Hakekat yang dimiliki sains merupakan pengetahuan yang berdasarkan pada fakta, hasil pemikiran para ahli maupun hasil-hasil eksperimen yang dilakukan oleh para ahli.
Soekarno dalam Abu Ahmadi (1978:20) menyatakan bahwa fisika merupakan ilmu yang lahir dan dikembangkan lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis lewat eksperimen, penarikan kesimpulan dan penemuan teori dan konsep.
Mata pelajaran fisika SMP yang mempelajari sifat zat, gerak dan fenomena lain yang ada hubungannya dengan energi. Selain itu juga mempelajari keterkaitan konsep-konsep fisika dengan kehidupan nyata dan pengembangan sikap dan kesadaran terhadap perkembangan IPA dan teknologi beserta dampaknya (GBPP 1995:1).
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa fisika merupakan gejala alam yang diwujudkan dalam suatu kesimpulan, konsep-konsep, hukum-hukum serta teori-teori.
Belajar membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga berbentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat dan sebagainya yang merupakan segala aspek-aspek organisme atau pribadi seseorang. Perubahan-perubahan itu merupakan suatu pengalaman tingkah laku siswa dari status kecakapan ke status kecakapan yang lebih tinggi. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang edukatif, artinya pengalaman yang tertuju pada suatu hasil yang akan dicapai siswa dalam proses menuntut pelajarannya di sekolah.
Hasil belajar merupakan prestasi belajar di dalam proses belajarnya di kelas. Seorang siswa mempunyai prestasi belajar yang baik apabila ia mampu mengorganisasikan semua proses yang dihadapi sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah digariskan, artinya apabila dia di dalam suatu ulangan fisika misalnya, dia mampu menjawab semua pertanyaan yang diberikan dengan benar maka ia merupakan siswa yang mempunyai prestasi belajar yang baik. Demikian juga sebaliknya apabila dia tidak mampu menjawab semua atau sebagian soal yang diberikan maka dia merupakan siswa yang mempunyai prestasi belajar yang buruk atau kurang.
Untuk mengajarkan materi pelajaran fisika faktor dari siswa itu sendiri yang penting yang akan mempengaruhi prestasi belajarnya dalam bidang fisika. Misalnya, faktor sikap dari siswa juga dapat menunjang hasil prestasi belajar. Sikap siswa terhadap fisika adalah kecenderungan tindakan yang konsisten terhadap fisika sebagai objek, yang didasarkan pada kepercayaan atau pengetahuan dan perasaan siswa terhadap fisika.
Sebagai hasil belajar, sikap dapat diubah atau dikembalikan seperti semula, walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Karena sikap dipandang sebagai hasil belajar, maka dengan penciptaan suasana tertentu, sikap siswa terhadap fisika dapat diubah. Jika semula siswa menolak atau tidak senang terhadap fisika dengan penciptaan suasana tertentu, sikap siswa dapat diubah menjadi senang terhadap fisika atau sikapnya menjadi positif. Menurut Arief Alimufi (1989:45), mengatakan bahwa “Dengan sikap positif terhadap fisika maka prestasi belajar belajar fisika dapat ditingkatkan”.

D.      Rangkaian Hambatan Listrik

Komponen listrik yang khusus dibuat untuk menghasilkan hambatan listrik pada suatu rangkaian dinamakan penghambat atau resistor. Di dalam rangkaian yang rumit, misalnya radio, penghambat digunakan untuk menjaga kuat arus dan beda potensial atau tegangan pada harga tertentu agar komponen-komponen listrik lainnya dapat berfungsi dengan baik. Ada dua cara pengukuran untuk menentukan nilai hambatan suatu penghambat, yaitu dengan mengukur nilai tegangan dan kuat arusnya dengan menggunakan voltmeter dan amperemeter dan dengan mengukur langsung dengan ohmmeter, yang biasanya ada pada avometer atau multi meter (Prasodjo, 2002:21).
Di dalam pemakaian rangkaian listrik tertutup, hambatan-hambatan dapat disusun dalam dua macam, yaitu secara seri dan pararel.
1.      Rangkaian hambatan listrik susunan seri
Susunan seri ialah suatu rangkaian penghambat yang disusun secara berurutan; penghambat yang satu berada di belakang yang lain. Lihat gambar!
                                                  R1              R2



Misalkan dua buah penghambat R1 dan R2 dirangkaikan seri. Ternyata kuat arus listrik (I) yang melalui penghambat R1 dan R2 sama besar. Tegangan pada ujung R1 dan R2 masing-masing adalah Vab = I.R1 dan Vac = I.R2. Tegangan antara titik a dan c adalah
Vac = Vab + Vbc = I.R1 + I.R2 = I.(R1 + R2)
Jika kita ganti kedua hambatan yang dirangkaikan seri ini dengan sebuah hambatan pengganti Rs maka Vac = I.Rs. Dengan menyamakan ruas kanan kedua persamaan di atas maka kita dapatkan persamaan di bawah ini.
I.Rs = I(R1 + R2)
Rs = R1 + R2
Jadi, secara umum hambatan pengganti rangkaian seri adalah
Rs = R1 + R2 + R3 + …
Hambatan-hambatan yang dirangkai seri akan menghasilkan hambatan pengganti yang besar (Prasodjo, 2002:30).
2.      Rangkaian hambatan listrik susunan pararel
Susunan pararel ialah suatu rangkaian penghambat yang disusun secara berdampingan. lihat gambar!
                                                                  R1



Dua buah penghambat dengan hambatan listrik R1 dan R2 dirangkai pararel. Di dalam rangkaian pararel, tegangan pada ujung-ujung setiap penghambat sama besar.
Kuat arus yang melalui R1 adalah I1 dan kuat arus yang melalui R2 adalah I2, sedangkan kuat arus listrik yang diberikan oleh baterai adalah I. Pada titik cabang a, kuat arus yang masuk adalah I dan kuat arus yang keluar adalah I1 dan I2. Berdasarkan hokum Ohm,  persamaan di atas dapat diubah menjadi .
Jika kedua penghambat yang dirangkai pararel ini dapat diganti dengan sebuah hambatan pengganti pararel Rp, maka kuat arus yang diberikan oleh baterai pada rangkaian ini adalah
Dengan menyamakan ruas kanan kedua persamaan di atas diperoleh persamaan sebagai berikut:
Secara umum, hambatan pengganti pararel dirumuskan sebagai berikut:
Beberapa penghambat yang dirangkaikan pararel akan membutuhkan hambatan pengganti rangkaian menjadi lebih kecil (Prasodjo, 2002:31).
Contoh:
Tentukan hambatan pengganti dari rangkaian hambatan berikut ini!
                            R2 = 6W
    R1= 2W                                      R4 = 3W
                            R3 = 3W

Penyelesaian:
Hambatan R­2 = 6 W dan R3 = 4W yang dirangkai pararel dapat diganti dengan sebuah hambatan pengganti pararel, sebagai berikut:
sehingga gambar rangkaian menjadi:
              R1 = 2W        Rp = 2W    R4 = 3W

Hambatan R1 = 2W, Rp = 2W dan R4 = 3W dirangkai secara seri. Ketiganya dapat kita ganti dengan sebuah hambatan pengganti seri, Rs = R1 + Rp + R4 = 2W + 2W + 3W = 7W.
Jadi hambatan pengganti dari rangkaian di atas adalah 7W.

E.     Hubungan Materi Bilangan Pecahan Dengan Rangkaian Hambatan Listrik Dalam Pelajaran Fisika

Setiap teori matematika harus memperhitungkan kekuatan matematika, yaitu aplikasinya ke dalam ilmu lain, sains (ilmu pengatahuan alam) yang utama dan keindahan matematika. Terlihat di sini, matematika bukanlah ilmu yang hanya untuk keperluan dirinya sendiri, tetapi ilmu yang bermanfaat untuk sebagian amat besar ilmu-ilmu lain. Dengan perkataan lain, matematika mempunyai peranan yang sangat esensial untuk ilmu lain, yang utama sains dan teknologi.
Aturan-aturan dalam sains yang menjadi landasan teknologi sejauh ini hanya dapat diungkapkan dalam bahasa matematika. Menurut Hudojo (1990:62) bahwa bahasa matematika yang pada umumnya menggunakan simbol-simbol merupakan bahasa universal. Karena itu pemahaman terhadap simbol-simbol tersebut merupakan persyaratan utama untuk dapat memahami bahasa matematika.
Usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika di dalamnya ada masalah yang patut dipecahkan. Masalah itu banyak jumlahnya, tetapi masalah yang menyangkut sikap acuh tak acuh, atau sikap negatif terhadap pelajaran matematika sebagian besar berkaitan dengan cara guru mengajar dengan beberapa alat kontrolnya. Sebab sikap siswa terhadap pelajaran matematika dapat dikembangkan antara lain melalui proses belajar mengajar.
Selain itu, masalah-masalah lain yang banyak dihadapi adalah:
1.      Matematika adalah salah satu pelajaran yang sulit dipelajari para siswa, yang dicerminkan oleh nilai rapornya yang rata-rata kurang baik.
2.      Sebagian besar siswa kurang tertarik pada pelajaran matematika.
Hubungan matematika dalam fisika dalam hal perhitungan matematika yang ada pada materi fisika. Operasi hitung dalam matematika sangat diperlukan dalam pelajaran fisika. Pada sub pokok bahasan rangkaian hambatan listrik tersebut konsep-konsep yang diterapkan pada rangkaian berbentuk seri dan pararel. Sebab pada rangkaian pararel tersebut berbentuk hitungan pecahan yang juga berkaitan dengan matematika. Misalnya pada rangkaian pararel yang mempunyai rumus:
Ini merupakan hitungan-hitungan pecahan pada pelajaran fisika.
Hubungan antara pelajaran hambatan dengan matematika dalam hal ini, misalnya kita ambil contoh pada sub pokok bahasan rangkaian hambatan listrik. Di sini rangkaian hambatan listrik mempelajari nilai hambatan pengganti sebuah hambatan pada suatu rangkaian baik itu seri maupun pararel. Dalam mencari nilai hambatan pengganti suatu hambatan listrik, matematika sangat dibutuhkan. Matematika berkaitan erat dengan dengan penyelesaian soal-soal pada sub pokok bahasan rangkaian hambatan listrik tersebut. Sebab di sini matematika dibutuhkan untuk menyelesaikan hitungan-hitungan berbentuk bilangan pecahan. Jadi, sangat jelas bahwa ada hubungan antara matematika dengan pelajaran fisika khususnya pada sub pokok bahasan rangkaian hambatan listrik.
Contoh:
Dua buah hambatan masing-masing 2 ohm dihubungkan pararel. Kemudian dirangkaikan seri dengan hambatan sebesar 4 ohm. Tentukan hambatan pengganti dari rangkaian tersebut!
Penyelesaian:
Diket:        R1 = 2 ohm, R2 = 2 ohm (pararel).
R3 = 4 ohm (seri dengan R1 dan R2).
Ditanya: hambatan pengganti…?
Jawab: R1 dan R2 pararel, sehingga
     
      R3 seri dengan R1 dan R2 (Rp), sehingga
      Rs = R3 + Rp = 4 + 1 = 5 ohm.
Jadi, hambatan pengganti dari rangkaian tersebut adalah 5 ohm.
Jadi penyelesaian soal-soal fisika berbentuk pecahan berhubungan erat dengan matematika, terutama hitungan pada bentuk pecahan. Bahwa makin jelas dalam pokok bahasan hukum Ohm dan hambatan pada sub pokok bahasan rangkaian hambatan listrik di dalam menyelesaikan soal-soal pada rangkaian hambatan listrik secara pararel berhubungan dengan hitungan matematika berbentuk pecahan.
Dalam menyelesaikan soal-soal fisika berbentuk pecahan tersebut, membutuhkan kemampuan matematika yang baik, yaitu yang berhubungan dengan hitungan bilangan pecahan.
SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog