Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

25 April 2011

Contoh Pengembangan Kajian Pustaka

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Tinjauan tentang Novel Kemarau Karya A.A. Navis
1.      Pengertian Novel
Dalam arti luas, novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas (Sumardjo, 1997:29). Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, suasana cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula.
Istilah novel sama dengan istilah roman. Kata novel berasal dari bahasa Italia yang kemudian berkembang di Inggris dan Amerika Serikat. Sedang istilah roman berasal dari genre romance dari Abad Pertengahan yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan (Sumardjo, 1997:29).
Novel merupakan salah satu prosa fiksi yang disebut juga karya fiksi, yaitu kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, tahapan, dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya. Sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1987:66)
Seperti halnya karya fiksi yang lain, unsur pembangun novel disamping struktur luar (ekstrinsik) adalah struktur dalam (instrinsik) yaitu peristiwa (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, latar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), serta gaya (style) pengarangnya.
a.      Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra itu sendiri, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya (Nurgiyantoro, 2000:23). Faktor yang mempengaruhi karya sastra adalah sosiologi pengerang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan idiologi pengarang (Wellek, 1995:111).
b.     Unsur Intrinsik
Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur intrinsik sebuah roman adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur inilah yang membuat sebuah roman berwujud atau sebaliknya. Unsur yang dimaksud adalah peristiwa cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lain-lain.
Plot dengan jalan cerita memang tak terpisahkan, tetapi harus dibedakan. Orang-orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jalan cerita memuat kejadian. Tetapi suatu kejadian ada karena sebabnya, ada alasannya. Yang menggerakkan kejadian cerita tersebut adalah plot, yaitu segi rohaniah dari kejadian (Sumardjo, 1997:49).
Tokoh cerita (karakter) disebut juga penokohan. Jumlah tokoh cerita yang terlibat dalam novel dan cerpen terbatas, apalagi yang berstatus tokoh utama. Dibanding dengan novel, tokoh cerita cerpen lebih lagi terbatas, baik yang menyangkut jumlah maupun data-data jati diri tokoh, khususnya yang berkaitan dengan perwatakan, sehingga pembaca harus merekonstruksi sendiri gambaran  yang lebih lengkap tentang tokoh itu (Nurgiyantoro, 1998:13).
Tema adalah ide sebuah cerita. Ceritanya yang pendek, cerpen hanya berisi satu tema. Hal ini berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku terbatas. Sebaliknya, novel dapat menawarkan lebih dari satu tema, yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan (Nurgiyantoro, 1998:13).
Latar cerita (setting) sering juag disebut latar. Pelukisan tokoh cerita untuk novel dan cerpen dilihat secara kualitatif terdapat perbedaan yang menonjol. Cerpen tidak memerlukan detil-detil khusus tentang keadaan latar, misalnya yang menyangkut keadaan tempat dan sosial. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besarnya saja, atau bahkan hanya secara implisit, asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan. Novel, sebaliknya, dapat saja melukiskan keadaan latar secara rinci sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, konkrit, dan pasti (Nurgiyantoro, 1998:13).
Point of view pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya sudut pandangan yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Dalam hal ini, harus dibedakan denga pandangan pengarang sebagai pribadi, sebab sebuah cerita sebenarnya adalah pandangan pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang akan masuk ke dalam karyanya, dan ini lazim disebut dengan gaya pengarang (Sumardjo, 1997:82).
Gaya (style) pengarang adalah cara khas pengungkapan seseorang. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita (Sumardjo, 1997:92).
2.      Novel Kemarau Karya A.A. Navis
Novel “Kemarau” ini merupakan salah satu novel karya A.A. Navis yang  diterbitkan pertama kali tahun 1957 oleh Penerbit Bukit Tinggi, cetakan kedua tahun 1977 oleh PT Dunia Pustaka Jaya, dan cetakan ketiga dan seterusnya oleh Penerbit Grasindo.
Dengan latar musim kemarau yang berkepanjangan, novel ini mengungkapkan usaha tokoh bernama Sutan Duano untuk meyakinkan penduduk kampung itu untuk bekerja keras melawan kekeringan. Ciri yang segera mengingatkan kita kepada Robohnya Surau Kami adalah sindirannya. Di awal novel ini digambarkan bagaimana penduduk kampung itu yang umumnya petani menghadapi musim kering yang telah merusak sawah mereka.
Dalam novel Kemarau ini, Navis menyindir segala usaha yang telah dilakukan manusia untuk mengubah keadaan. Dalam upaya manusia tersebut, tampaknya dukun, Tuhan, dan kartu domino menduduki posisi yang tak berbeda. Mereka semua merupakan tempat pelarian manusia dari rasa putus asa. Segala hal yang telah dilakukan itu menjadi tampak absurd, konyol, atau setidaknya mirip karikatur di mata. Berbagai tindakan manusia yang mungkin sekali dilakukan dengan tulus dan yakin itu seolah-olah menjadi sia-sia dan sedikit lucu.
Tampaknya dalam novel Kemarau ini Navis juga ingin menekankan pentingnya memeras keringat sebagai kegiatan sangat penting, terutama sekali di daerah yang tandus seperti yang digambarkannya itu. Ia menunjukkan kekonyolan usaha manusia melawan kemarau, yang tentunya merupakan lambang kesulitan hidup atau cobaan Allah.
Tokoh ciptaan A.A. Navis dalam novel Kemarau ini hampir sama dengan cerita Robin Hood, Superman yang muncul entah dari mana, di suatu tempat yang kacau untuk memberikan pertolongan kepada penduduk (Navis, 1992:iv).
3.      Biografi Singkat A.A. Navis
A.A. Navis lahir 17 November 1924 di Padang Panjang Sumatera Barat. Ia mendapat pendidikan di Perguruan Kayutanam. Pernah menjadi Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Provinsi Sumatera Tengah di Bukit Tinggi (1952-1955). Juga pernah menjadi pemimpin redaksi Harian Semangat di Padang (1971-1982), dan sejak 1969 menjadi Ketua Yayasan Ruang Pendidik INS Kayutanam.
Karya-karya A.A. Navis adalah Hujan Panas (1964), Kemarau (1967), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Bertanya Kerbau pada Pedati (2002), dan Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi (2002).
B.    Syariat Islam
1.      Pengertian
Muhammad Rasyid Ridla dalam Adlam menjelaskan, secara etimologis kata syariat berarti jalan ke tempat pangairan, atau tempat lalu air di sungai (1995:46). Bentuk kesamaan antara agama dan jalan air diungkap dengan syariat terletak pada segi umat Islam yang senantiasa melalui kehidupan di dunia. Barang siapa mengikuti syariat, ia akan mengalir dan bersih jiwanya. Ibarat air penyebab kehidupan nabati dan hewani, seperti itu pula syariat sebagai penyebab kehidupan jiwa insani.
Menurut Muhammad Ali Al-Thahanuwi (dalam Adlan, 1995:46)  menjelaskan bahwa syariat adalah hukum-hukum yang ditetapkan Allah bagi segenap hamba-Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi, baik yang berhubungan dengan cara bertindak yang disebut cabang-cabang amaliah dan untuknya dihimpun ilmu fiqih, atau yang berhubungan dengan cara berkeyakinan  yang disebut pokok-pokok aqidah dan untuknya dihimpun ilmu Kalam. Syari’ah itu disebut juga dengan Ad-dien dan Al-Millah.
Adapun beberapa penulis tentang ilmu keislaman membaurkan istilah syariat, fiqih, dan hukum Islam dengan memberikan pengertian sama atau identik. Istilah syariat jauh telah lama dikenal sebelum lahir kemudian sebuah fiqih maupun hukum Islam.
2.      Unsur-unsur Syariat Islam
Unsur-unsur syariat Islam mencakup bidang (a) aqidah, (b) fiqih, dan (c) akhlaq (Adlan, 1995:46).
a.      Aqidah
Menurut bahasa, aqidah berarti yang diyakini oleh hati (keyakinan). Menurut istilah, aqidah ialah segala keyakinan yang ditetapkan oleh Islam yang disertai dalil-dalil yang pasti. Hal-hal yang masuk dalam pembahasan aqidah Islam, ialah:
a.      Kepercayaan tentang Tuhan dengan segala seginya, seperti Allah itu Wujud, Esa dan seluruh sifat-sifat-Nya.
b.      Hal-hal yang bertalian dengan alam semesta, seperti terjadinya alam, pengutusan para Rasul, malaikat, penerimaan wahyu, Qada-qadar serta masalah terbesar yaitu keakheratan (Rifai, 1994:1).
Sedangkan Zaini (1983:66) menjelaskan pembahasan pokok aqidah Islam ialah rukun iman yang enam yaitu (1) percaya kepada Allah, (2) percaya kepada Malaikat, (3) percaya kepada Kitab, (4) percaya kepada Rasul, (5) percaya kepada Akhirat, dan (6) percaya kepada Takdir.
b.     Fiqih
Menurut bahasa Arab, arti kata fiqih adalah paham atau pengertian. Menurut istilah adalah ilmu untuk memahami hukum-hukum syara’ yang pada perbuatan anggauta, diambil dari dalil-dalilnya yang tafshili (terperinci) (Rasjid, 1976:28). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia fiqih adalah ilmu tentang hukum Islam (Depdikbud, 1991:276).
Pembahasan pokok fiqih mencakup seluruh perbuatan orang mukallaf  (orang yang memikul tanggung jawab terhadap beban tugas pelaksanaan hukum) seperti transaksi jual beli, sewa menyewa, gadai, wakalah, (kuasa hukum), shalat, puasa, zakat, haji, pembunuhan, tuduhan zina, pencurian, pengakuan (iqrar), waqaf, dan lain sebagainya (Adlan, 1995:52).
c.      Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “khuluq”, yang jamaknya “akhlaaq” yang artinya tingkah laku, perangai, tabiat, watak, moral etika, atau budi pekerti (Zainuddin: 1999:73).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akhlak adalah budi pekerti atau kelakuaan. Istilah lain yang identik dengan akhlak adalah moral, etika yang berarti watak kesusilaan atau adat/cara hidup (Zubair, 1995:13).
Imam Ghazali dalam Ihya Ullumiddin menyatakan bahwa akhlak ialah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. Jadi akhlak merupakan sikap yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan (Zainuddin: 1999:73).
Akhlak bertujuan hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna, dan membedakannyadari makhluk-makhluk yang lainnya. Akhlak hendak menjadikan manusia orang yang berkelakuan baik, bertindak baik terhadap manusia, terhadap sesama makhluk, dan terhadap Allah SWT. Yang hendak dikendalikan oleh akhlak  ialah tindakan lahir manusia tetapi karena tindakan lahir itu tidak akan terjadi jika tidak didahului oleh gerak gerik batin yaitu tindakan hati, maka tindakan batin dan gerak-gerik hati pun termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak juga (Rifai, 1994:42).
Jika tindakan spontan itu, baik menurut pandangan akal dan agama, maka tindakan tersebut dinamakan akhlak yang baik (akhlakul karimah/akhlakul mahmudah), sebaliknya jika tindakan spontan itu jelek, maka disebut akhlakul madzmumah.
Sumber lain menjelaskan bahwa akhlak adalah karakter. Akhlak wajib diatur sesuai pemahaman-pemahaman syara’. Karena itu akhlak yang dinyatakan baik oleh syara’, disebut akhlak yang baik; dan yang dinyatakan buruk oleh syara’ disebut akhlak yang buruk (Tahrir, 2004:251). Syara’ telah memerintahkan kita untuk berakhlak baik dan melarang berakhlak buruk. Setiap mukmin harus mensifati dirinya dengan akhlak yang baik hanya atas pertimbangan bahwa akhlak tersebut merupakan bagian dari perintah dan larangan Allah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kata akhlak ini lebih luas artinya dari moral atau etika yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia, akhlak berarti tabit, budi pekerti, watak, sebab akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku lahiriah dan batiniah seseorang.
Dasar hukum akhlak ialah Al-quran dan Al-Hadits yang merupakan dasar ajaran pokok Islam. Sedangkan dasar kedua ialah hadis Nabi atau Sunnah Rasul, yakni segala perbuatan, ucapan, dan penetapan (taqrir) Nabi yang merupakan cerminan akhlak yang harus diikuti dan diteladani (Zainuddin: 1999:74)
Berdasarkan objeknya, akhlak dibedakan menjadi (1) akhlak kepada Khalik, dan (2) akhlak kepada makhluk. Akhlak kepada makhluk meliputi (a) akhlak terhadap Rasulullah, (b) akhlak terhadap keluarga, (c) akhlak terhadap diri sendiri, (d) akhlak terhadap sesama/orang lain, dan (e) akhlak terhadap lingkungan alam (Zainuddin, 1998:78).
1)     Akhlak kepada Khalik
Di antara akhlak karimah kepada Allah adalah tawadhu’, rida, dan tawakkal serta ikhlas. Tawadhu’ adalah sikap merendahkan diri terhadap ketentuan-ketentuan Allah SWT. Sikap tawadhu’ juga hendaknya ditunjukkan kepada sesama manusia, yaitu dengan memelihara hubungan dan pergaulan sesama manusia tanpa merendahkan orang lain. Termasuk memberikan hak kepada setiap orang (Zainuddin, 1998:90). Sesuai dengan firman Allah yang artinya “… dan merendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman” (QS. Al-Hijr :88).
Rida artinya bersyukur jika memperoleh nikmat dari Allah dan sabar apabila menerima musibah. Sikap rida buka berarti tidak berikhtiar, melainkan mengembalikan keputusan atas usaha yang kita lakukan kepada Allah. Keputusan Allah yang diberikan itulah yang harus diterima manusia dengan sikap rida (Zainuddin, 1998:90).
Tawakal artinya menyerahkan segala persoalan kepada Allah setelah berusaha. Apabila kita telah berusaha sekuat tenaga dan masih saja mengalami kegagalan, maka hendaklah bersabar dan berdoa kepada Allah agar terbuka jalan keluarnya, kemudian mengembalikan segala persoalan kepada Allah (Zainuddin, 1998:91). Sesuai  berfiman Allah yang artinya “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dn di bumi, dan kepada-Nyalah segala urusan dikembalikan, oleh karena itu sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya” (QS. Hud:123).
Ikhlas artinya mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran karena Allah semata. Keikhlasan menentukan apakah pekerjaan yang kita lakukan akan mendapat pahala atau tidak. Untuk mewujudkan sikap ikhlas, setidaknya kita melakukan introspeksi diri terhadap semua perbuatan kita (Zainuddin, 1999: 91).
Rifai (1994:107-108) menjelaskan bahwa diantara akhlak terhadap Khalik ialah:
a)     Cinta kepada Allah, yaitu  orang yang senantiasa patuh kepada Alah dan menyerahkan sekujur jiwa raganya serta mengosongkan dirinya hanya untuk menaruh perhatiannya untuk mengabdi kepada Allah SWT.
b)     Takut kepada Allah, ialah suatu sikap hormat kepada Allah SWT karena Allah lah yang memberikan bermacam-macam karenuia kepada kita.
c)      Rajak (berharap kepada Allah), ialah harapan seseorang untuk menerima balasan yang layak karena perbuatannya, apabila orang berpengharapan tidak layak dinamakan Tamanik.
d)     Syukur, ialah melahirkan rasa terima kasih atas diberinya sesuatu keberuntungan dari yang memberinya , yaitu Allah SWT.
e)     Taubat dan Nadam,  taubat ialah rasa jera tidak mengulang perbuatan yang telah terlanjur salah dan dosa.
f)        Tawaduk kepada Allah, ialah merendahkan diri kepada Allah SWT yang tumbuh karena kesadaran adanya sikap yang merasa bahwa manusia itu tidak hidup sendiri dan kesemuanya tentu saling membutuhkan dan saling melengkapi, apalagi terhadap Allah SWT.
g)     Tawakkal kepada Allah, ialah menyerahkan diri tanpa pamrih sepenuhnya.
h)      Ikhlas, ialah melakukan amal perbuatan atauy ibadah semata-mata karena Allah, yakni karena mengharap rida Allah semata-mata.
i)        Rida kepada qada dan qadar ialah menerima kejadian yang menimpa dirinya dengan rasa tabah dan lapang dada tidak merasa kesal atau putus asa.
2)     Akhlak kepada Makhluk
a)     Akhlak terhadap Rasulullah
Akhlak karimah kepada Rasululah adalah taat dan cinta kepadanya. Mentaati Rasulullah berarti melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Ini semua telah dituangkan dalam hadis (sunnah) beliau yang berwujud ucapan, perbuatan, dan penetapannya.
Cara mentaati Rasulullah,adalah:
a.      Menyakini dengan sepenuh hati  bahwa perintah Rasul Allah adalah perintah Allah yang wajib ditaati.
b.      Melaksanakan dengan ikhlas segala perintahnya dan meninggalkan larangannya.
c.      Mematuhi hukum-hukum yang telah ditetapkan.
d.      Mencontoh prilaku Rasulullah dalam segala aspek.
e.      Mengerjakan segala perbuatan yang dianjurkan (sunnah) dan meninggalkan sesuatu yang dibenci (haram atau makruh) (Zainuddin, 1998:92).
Perintah untuk taat kepada Rasulullah ditegaskan dalam firman Allah yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kamu” (QS. An-Nisa’:59). Dan firman-Nya lagi yang artinya:  “Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya telah menaati Allah, dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS. An-Nisa’:80).
b)     Akhlak terhadap Keluarga
Dalam keluarga, peran penting pembinaan akhlak terletak pada orang tua, oleh karena itu muliakanlah dan berbaktilah kepadanya selama perintah mereka tidak melanggar ajaran Islam. Dalam al-quran disebutkan yang artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isra’:23).
Berbuat baik kepada orang tua ketika keduanya masih hidup, sedangkan berbuat baik dikala keduanya sudah meninggal ialah memohonkan rahmat dan ampunan bagi mereka, melaksanakan amanahnya, memuliakan sahabatnya, serta menghubungi (menyambungkan persaudaraan) keluarga.
Akhlak karimah kepada keluarga ialah dengan memeilihara silaturrahim yakni dengan saling mengunjungi, membantu, saling bermusyawarah, dan saling memahami (Zainuddin, 1998:95).
c)     Akhlak terhadap Diri Sendiri
Diri kita ialah satu-satunya yang terutama sekali harus kita selamatkan, sebelum yang lain-lainnya; biar pun di sana banyak kewajiban lain atas diri kita, tetapi apabila diri kita sendiri tidak terurus, maka semua kewajiban yang lain pun niscaya akan terkatung-katung pula. Diantara sekian banyak kewajiban terhadap diri kita ialah (1) Memenuhi kebutuhan, baik yang lahir maupun yang batin, (2) Memelihara, supaya tetap baik lahir dan batin (Rifai, 1994:47).
Akhlak karimah terhadap diri sendiri maksudnya berbuat baik terhadap dirinya, sehingga tidak mencelakan atau menjerumuskan dirinya ke dalam keburukan, lebih-lebih berpengaruh kepada orang lain. Akhlak ini meliputi jujur, disiplin, pemaaf, hidup sederhana, dan sebagainya (Zainuddin, 1998:95)..
Jujur artinya menyatakan sesuatu sesuai apa adanya. Kejujuran itu menuntut keseimbangan antara lidah dengan hati, antara lahir dan batin.
Disiplin artinya taat kepada tata tertib. Dalam kehidupan peribadi diperlukan tata tertib yang mengikat diri agar dapat memanfaatkan waktu yang ada. Dengan disiplin, akan terbentuk sikap tanggung jawab dan menghindari sikap malas. 
Pemaaf adalah sikap lapang dada terhadap segala persoalan, baik yang menimpa dirinya maupun orang lain. Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia mempunyai kesalahan dan kekhilafan, sehingga dalam diri setiap manusia perlu ditumbuhkan sikap saling memaafkan agar hubungan sesama manusia dapat terbina dengan baik. Sebagaimana firman Allah dalam Al-quran yang artinya: “Maka barang siapa yang suka memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah” (QS. Asy-Syura:40)
Sedangkan hidup sederhana atau hemat, ialah menggunakan nikmat Allah sesuai tempatnya. Artinya menggunakan kenikmatan dunia sebagaimana mestinya, sesuai pada tempatnya, tidak bermegah-megahan, dan sebagainya. Allah berfirman dalam Al-quran yang artinya “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhan-Nya” (QS. Al-Isra’:26-27).
d)     Akhlak terhadap Sesama/Orang Lain
Sungguh banyak sekali akhlak terpuji yang harus diterapkan manusia dalam kaitannya dengan sesama manusia. Apalagi manusia hidup di tengah-tengah masyarakat yang segala sesuatunya saling bergantung satu sama lainnya. Peranan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat ini sangat penting.
Akhlak karimah yang harus diterapkan, antara lain saling menghormati, saling menolong, menepati janji, berkata sopan, dan berlaku adil. Allah berfirman dalam Al-quran yang artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-melonong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah: 2).
e)     Akhlak terhadap Lingkungan Alam
Lingkungan alam dan isinya ini diciptakan oleh Allah untuk dimanfaatkan manusia. Akhlak karimah terhadap lingkungan berupa menjaga, melestarikan, memanfaatkan sesuai kepentingan sebagai ungkapan syukur atas pemberian-Nya. Jangan merusak lingkungan, alam, benda mati, seperti tanah dan air maupun benda hidup, seperti tumbuhan dan binatang (Zainuddin, 1999:99). Allah berfirman dalam Al-quran yang artinya “Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi, dan kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber penghidupan). Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al-A’raf:10). Dalam ayat lain disebutkan “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum:41).
Akhlak karimah terhadap lingkungan alam diantaranya adalah dengan melestarikan tumbuh-tumbuahn dan binatang yang merupakan sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT, sehingga mendatangkan manfaat, perbuatan merusak lingkungan hidup itu perbuatan orang yang munafik (Rifai, 1994:112).
SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog