Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

25 April 2011

ANALISIS UNSUR MAKNA WACANA SURAT PEMBACA RUBRIK "METROPOLIS WATCH" HARIAN JAWA POS

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi atau alat penghubung antar anggota masyarakat, tanpa ada bahasa manusia tidak akan bisa berkomunikasi dengan demikian, setiap warga dituntut untuk terampil berbahasa. Komunikasi yang di maksud di sini adalah suatu proses penyampaian maksud pembicara kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. Komunikasi tersebut dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang peristiwa, dan lain-lain. Aspek-aspek kebahasaan yang disampaikan berupa kata, kalimat, paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan), ejaan, dan tanda baca dalam bahasa tulis, serta unsur-unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo) dalam bahasa lisan.
Bahasa memiliki kedudukan penting bagi manusia, sehingga banyak pakar bahasa memberi perhatian khusus pada bahasa. Penggunaan bahasa dianalisis dan dibahas secara keseluruhan dalam wadah teori yang bernama linguistik. Linguistik  secara formal diartikan sebagai ilmu yang menelaah bentuk bahasa melalui tata bahasa fonologi, morfologi, sintaksis, semantik. Dilihat dari segi pembelajaran bahasa telah kita ketahui bahwa, teori bahasa akan sangat mempengaruhi pendekatan, metode, media, dan teknik pembelajaran bahasa, maka atas dasar linguistik tersebut yang salah satunya membahas struktur bahasa yang formal atau baku, sedangkan struktur bahasa informal tidak pernah diajarkan bahkan dianggap suatu kesalahan. Hasil umum dari pendekatan ini, para siswa memang mampu memahami struktur bahasa dengan baik, tetapi kurang mampu menggunakan atau mengaplikasikan bahasa dalam dunia nyata sehingga mempelajari bahasa Indonesia menjadi kurang bermakna bagi siswa.
Untuk menjawab permasalahan di atas, maka lahirlah  disiplin ilmu baru tentang bahasa yakni analisis wacana (discourse analysis). Analisis wacana merupakan titik temu antara linguistik, psikologi sosisal, sosiologi, dan antropologi, kemudian ilmu sejarah, ilmu hukum, ilmu intelegensia, artisifisial, filsafat, ilmu komunikasi massa, ilmu politik, dan ilmu sosial lainnya (Purwo, 1993). Tugas analisis wacana adalah menelaah bentuk bahasa informal yang banyak terdapat di dalam masyarakat nyata, khususnya saat ini kita banyak menikmati kelimpahan informasi yang luar biasa dan hal ini tentunya berkaitan dengan makin beragamnya dan canggihnya industri media informasi dan komunikasi, mulai dari media cetak hingga elektronik.
Dalam analisis wacana yang diambil dari media cetak dan di dalamnya terpancang begitu banyak materi-materi berita yang ditawarkan, kita jelas bisa dibuat pusing dalam menganalisis satu-persatu permasalahan-peramasalahan yang ada berdasarkan prinsip-prinsip makna wacana meliputi; (1) inferensi, (2) interpretasi lokal, (3) prinsip analogi (4) Praanggapan (5) Referensi dan pentingnya koteks. Dengan demikian, kita bisa mencoba memahami lebih dalam atau lebih jauh tentang "bagaimana" dan "mengapa" berita-berita itu dihadirkan dan kita juga akan segera tahu bahwa terdapat motif-motif politik yang tersembunyi di balik teks-teks berita tersebut.
Menurut John Fiske, (dalam Eriyanto 2001 : 87) Makna tidak intrinsik ada dalam teks itu sendiri. Seseorang yang membaca suatu teks berita tidak begitu saja menemukan makna dalam teks, sebab yang dia temukan secara langsung hanyalah berupa pesan-pesan dalam teks, dan makna di dalamnya dapat kita ketahui berdasarkan proses aktif dan dinamis tentunya berdasarkan prinsip di atas, baik dari sisi pembuat maupun pembaca. Jadi dapat diambil kesimpulan oleh kita bahwa teks berita tersebut mengajak pembaca untuk masuk ke dalam permasalahan yang ada sehingga dalam memaknai wacana bisa lebih mudah.
Sebagaimana pendekatan struktur, teori analisis wacana juga berpengaruh terhadap pendekatan pembelajaran bahasa. Implikasi dari teori ini menjadi pemicu lahirnya pendekatan komunikatif sebagai jawaban dari ketidak puasan para ahli terhadap paham/ilmu yang dianut sebelumnya, yakni pendekatan struktural.
Kemahiran menggunakan bahasa dalam situasi komunikasi yang nyata sesungguhnya yang lebih urgen untuk dimiliki oleh para siswa dari pada pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa (Syafi'ie, 1997:44). Dari pandangan di atas maka, pendekatan yang dianggap tepat adalah pendekatan yang memberikan tekanan pada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Sehingga dalam hal ini, bahasa dapat dipandang sebagai sesuatu yang berkenaan dengan apa yang dapat  dilakukan (fungsi) atau berkenaan dengan makna apa yang dapat diungkapan (Nosi) melalui bahasa, dan bukannya berkenaan dengan butir-butir tata bahasa (struktur).
Ditinjau dari bahan pelajaran, pendekatan komunikatif sangat menyarankan bahan-bahan otentik. Bahan-bahan otentik yang di maksud meliputi (1) Tulisan-tulisan dari koran, majalah, dan brosur (berupa iklan atau berita), dan (2) Sumber bahasa lisan yang direkam atau didengar langsung dari radio atau televisi (Suardi, 1997). Dengan demikian menurut pendekatan ini, guru tidak boleh kaku hanya mengandalkan buku teks saja, tetapi harus lebih luas dalam memilih materi yang sesuai untuk siswa, salah satunya bisa berdasarkan pada bahan otentik tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik mengangkat permasalahan ini untuk menjadi bahan pembahasan dalam skripsi yang berjudul "Analisis Unsur-unsur Makna Wacana" "surat pembaca rubrik "Metroplis Wacth" Harian, Jawa Pos.

1.2    Permasalahan
1.2.1    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam bentuk kalimat tanya berikut ini, bagaimana makna surat pembaca rubrik "Metropolis Watch" Jawa Pos ditinjau dari sudut inferensi, interpretasi lokal dan praanggapan?
1.2.2    Penegasan Konsep Variabel
Untuk menghindari kesalahan apersepsi dan perbedaan konsep pemikiran dan memperjelas tentang istilah-istilah yang terdapat dalam judul maka perlu ada penegasan istilah dalam judul. Sebagai  batasan operasionalnya, dari satu variabel yakni unsur-unsur pemaknaan wacana rubrik "Metropolis Wacth" Harian, Jawa Pos.
Analisis tentang makna yang terdapat dalam surat pembaca adalah pemaknaan dari sudut; (1) Inferensi, (2) Prinsip lokal, (3) Prinsip Analogi, (4) Praanggapan, (5) Implikatur, (6) Referensi. Memaknai wacana tidak hanya diterangkan oleh kata-kata yang mendukung kalimat itu saja,  karena apabila hanya kata-kata yang mendukung kalimat itu saja yang dijadikan bahan untuk menentukan makna sebuah kalimat atau wacana maka, sudah jelas semua kalimat atau wacana tidak dapat ditentukan maknanya secara  utuh.
Analisis inferensi di sini adalah proses pemaknaan wacana yang disimpulkan oleh pembaca/pendengar terhadap suatu wacana/kalimat yang kurang terang/jelas, sedangkan prinsip interprestasi lokal mengharuskan pendengar/pembaca untuk melihat konteks yang terdekat pada saat itu.
Prinsip analogi juga termasuk pada  unsur-unsur pemaknaan wacana, pada prinsip analogi ini melibatkan pengalaman manusia. Selanjutnya adalah praanggapan, praanggapan di sini mementingkan kedekatan pendengar/pembaca dengan penulis/pembicara, semakin dekat berarti akan semakin mudah memaknai apa yang menjadi bahan tulisan atau tuturan.
Pengertian referensi secara tradisional berarti hubungan antara kata dengan benda (Lubis, 1994 : 28), tetapi lebih luas lagi referensi di katakan sebagai hubungan bahasa dengan dunia. Kata buku mempunyai referensi (rujukan) pada sekumpulan kertas yang terjilid untuk dibaca dan ditulis.
1.2.3    Deskripsi Masalah
Bahasa erat sekali hubungan dengan pemakai bahasa. Bahasa tanpa pemakai adalah bahasa yang mati, dan bahasa yang tidak di gunakan dalam komunikasi tidak akan pernah berkembang. Bahasa akan hidup apabila ada pemakainya, dan pemakai ini menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi baik langsung maupun tidak langsung baik secara lisan maupun tulisan. Dalam berkomunikasi tentunya diharapkan terjalinnya komunikasi dengan baik dan demi terjalinnya komunikasi yang baik tentu ada faktor. Faktor dasar yang meliputi (1) Pemakai  bahasa: (a) Penulis dan pembaca, (b) Pembicara dan pendengar, (2) Topik pembicaraan, (3) Latar pembicaraan, (4) Media yang digunakan.
Interpretasi tentang teks biasanya berdasarkan struktur sintaksis dan kosa kata  yang digunakan di dalam teks, namun hal ini bukanlah satu-satunya cara, karena banyak teks yang tidak gramatikal dan juga tidak berisi kosa kata  yang diperlukan, misalnya surat pembaca. Struktur wacana "Surat Pembaca" tidak gramatikal karena tidak berisi kosa kata yang tepat, namun demikian kita tetap memahaminya dengan baik. Pada dasarnya pendengar atau pembaca memahami pesan pembicara atau penulis, tetapi kadang makna yang diinginkan  bukan yang tersurat atau tertulis, tetapi makna yang tersirat, dan untuk mencapai makna tersebut perlu digunakan pengetahuan tentang konteks. Konteks di sini adalah unsur yang berhubungan dengan pemikiran di luar wacana.
Istilah wacana sendiri mempunyai acuan yang lebih luas dari sekendar bacaan. Pada akhir-akhir ini, para ahli telah menyepakati bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang paling lengkap digunakan dalam komunikasi.
Dalam komunikasi tulis, proses komunikasi penyapa dan pesapa tidak berhadapan langsung. Penyapa menuangkan ide/gagasannya dalam kode-kode kebahasaan yang biasa berupa rangkaian kalimat, dan rangkaian kalimat tersebut yang maknanya akan ditafsirkan oleh pembaca (pesapa). Pembaca mencari makna berdasarkan untaian kata yang tercetak dalam teks. Dalam kondisi seperti itu wujud wacana adalah teks yang berupa rangkaian proposisi sebagai hasil pengungkapan ide/gagasan jadi, wacana dalam komunikasi tulis berupa teks yang dihasilkan oleh seorang penulis. Sementara itu, Van Djik (dalam Rani dkk, 2004 : 5). Menyatakan bahwa wacana itu sebenarnya adalah bangunan teoritis abstrak, dengan begitu wacana dapat dilihat sebagai perwujudan fisik bahasa. Menurut Holliday dan Hassan (dalam Rani dkk, 2005:5). Meskipun teks itu terdiri dari kata-kata dan kalimat, namun sebenarnya teks tersebut terdiri atas makna-makna karena teks sebenarnya adalah satuan makna atau bisa juga disebut sebagai lautan makna.
Adapun makna prinsip-prinsip yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk memaknai wacana surat pembaca rubrik "Metropolis wacth" adalah (1) Inferensi, (2) Infrestasi Lokal, (3) Prinsip Analogi, (4) Praanggapan, (5) Referensi, dan (6) Pentingnya konteks.
1.2.4    Pembatasan Masalah
Masalah yang telah dipaparkan dalam deskripsi masalah memiliki cakupan atau pembahasan yang luas, dengan demikian masalah perlu dibatasi agar pembahasan lebih teliti dan seksama. Batasan masalah ini juga didasarkan pada jenis wacana yang dianalisis, yakni analisis wacana tulis. Wacana yang dianalisis adalah wacana yang kontekstual dan wacana yang kotekstual dapat dilihat dari berbagai prinsip seperti berikut: inferensi, prinsip  interprestasi lokal, prinsip analogi, praanggapan, referensi,  pentingnya koteks. Namun penulis di sini hanya akan melakukan pembahasan dari sudut prinsip (1) Inferensi, (2)  prinsip  interprestasi lokal, (3) praanggapan, yang terdapat dalam wacana rubrik "Metropolis Wacht" harian Jawa Pos.
1.3    Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah untuk memperoleh deskripsi yang objektif tentang prinsip-prinsip pemaknaan wacana surat pembaca "Metropolis Wacht" harian, Jawa Pos yang meliputi (1) Deskriptif yang objektif tentang inferensi (2) Deskriptif yang objektif tentang interpretasi lokal (3) Deskriptif yang objektif tentang praanggapan.
1.4    Asumsi
Asumsi yang berkenaan dengan pembahasan ini dapat diungkapan sebagai berikut:
a.      Wacana surat pembaca rubrik "Metropolis Wacth" harian Jawa Pos. Wacana yang menyajikan berbagai macam perasaan seperti sedih, senang, gembira, kecewa terhadap pihak terkait di mana wacana tersebut kontekstual dan juga memiliki kriteria-kriteria yang menarik untuk dianalisis.
b.      Di dalam wacana surat pembaca banyak makna yang harus diungkapkan sehubungan makna tersirat dan makna tersurat.
1.5    Manfaat Penelitian
Pembahasan ini penting karena hasilnya berguna bagi pihak-pihak berikut ini:
1.5.1  Guru sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan keberhasilan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya dalam pemilihan materi yang berdasarkan bahan otentik (realita).
1.5.2  Mahasiswa FKIP jurusan bahasa dan seni sebagai bahan acuan dalam menganalisis wacana untuk penelitian selanjutnya.
1.5.3  Penulis sendiri dalam rangka mengembangkan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah, khususnya di bidang kebahasaan.
1.6    Alasan Pemilihan Judul

1.6.1  Alasan Objektif

1.      Analisis wacana menelaah bentuk bahasa yang formal ataupun yang tidak dan yang digunakan di dalam masyarakat secara lisan ataupun tertulis sehingga lebih lengkap dalam mengungkapkan semua permasalahan bahasa di banding linguistik formal.
2.      Materi yang berdasarkan bahan otentik (koran atau majalah) merupakan salah satu materi yang intruksional bahasa yang dikembangkan berdasarkan pendekatan komunitatif.

1.6.2  Alasan Subjektif

1.     Menurut penulis masih sedikit penelitian tentang kewacanaan, karena itu penulis merasa perlu untuk menganalisis wacana, khususnya wacana surat pembaca rubrik "Metropolis Watch" harian, Jawa Pos.
2.     Wacana surat pembaca rubrik "Metropolis Wacth" harian Jawa Pos merupakan wacana yang mengungkapkan rasa gelisah, sakit hati, kecewa dan komentar dari pembaca yang merupakan hal wajar di era reformasi ini sehingga penulis merasa tertarik untuk membahas tentang makna-makna yang terkandung di dalamnya.
1.7    Pengertian Istilah dalam Judul
Pengertian istilah dalam judul perlu ditegaskan agar tidak terjadi salah tafsir terhadap pokok-pokok masalah yang sedang dibahas.
Istilah-istilah penting yang terdapat di dalam judul sebagai berikut : 
1.       Analisis
Analisis adalah penyelidikan suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui apa sebab-sebabnya, bagaimana duduk perkaranya (kamus umum, 1985. 39)
2.        Unsur
Yang dimaksud unsur adalah bagian yang penting dalam suatu hal (poerwadarmita, 1999 : 1130). Dalam penelitian ini unsur yang dimkasud adalah makna wacana yang meliputi. (1) inferensi, (2) prinsip interprestasi lokal, (3) Praanggapan.
3.       Makna
Makna adalah arti dari sesuatu yang di maksud atau diacu (benda, kata, kalimat dan yang lainnya).
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog