Facebook Twitter Digg
Feed Contoh Skripsi

27 April 2011

ANALISIS DIKSI DALAM KUMPULAN PUISI TAK PERNAH PERGI KARYA DELAPAN PENYAIR HASIF AMINI (Bab II)

Bagikan ke Teman

Apakah Artikel ini bermanfaat?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.   Pengertian Puisi
Puisi berasal dari kata Yunani “Poisis” yang berarti perciptaan. Tetapi arti ini lama kelamaan semakin sempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra” yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat yang tertentu dengan menggunakan irama, sejak dan kadang-kadang kata-kata kiasan.
Dalam bahasa Inggris kata puisi ini adalah “poetry” yang erat berhubungan dengan kata. “Poet” dan “Poem”. Mengenai kata “Poel” ini Vercil C. Coulter memberi penjelasan bahwa Poet berasal dari kata Yunani yang berarti membuat, menciptakan, dalam bahasa Inggris Poet ini lama sekali disebut maker, dalam bahasa Yunani Poet ini berarti orang yang menciptakan melalui imajinasinya. (Coulter dalam Tarigan, 1993 : 4).
Ralph Waldo Emerson memberi penjelasan bahwa “Puisi merupakan upaya abadi untuk mengexpresikan jiwa (Blair dan Chandler dalam Tarigan, 1993 : 4). Selanjutnya pengarang terkenal Edgar Allan Poe membatasi puisi sebagai kreasi keindahan yang berirama, ada pula beberapa pengarang yang menghubungkan puisi dengan musik, John Dryden mengatakan bahwa “Poetry is arhculate music” dan Isaac Newton mengatakan bahwa puisi adalah nada yang penuh keaslian dan keselarasan, (Blair Chandler dalam Tarigan, 1993 : 5).
Samuel Johson berpendapat bahwa puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, dia bercikal dari emosi dan berpadu kembali dalam kedamaian Byron berpendapat bahwa puisi merupakan lava imajinasi yang letusannya mencegah timbulnya gempa bumi. Sedangkan Percy Byssche Shelle berpendapat bahwa puisi adalah rekaman dari soal-soal yang paling baik dan paling menyenangkan (Blair dan Chadler dalam Tarigan, 1993:5).
Kita lanjutkan kembali pembahasan tentang pengertian puisi Emily Dic Konson berpendapat yang berbunyi “Bila daku” membaca sebuah buku dan dia dapat membuat tubuhku begitu sejuk, tiada api tak dapat memanaskan tubuhku maka daku tahu bahwa itu adalah puisi di sini Emily Dic Kirson menilai dari sudut pandang perasaan.
Menurut Slamet Mulyana (dalam Waluyo, 1987 : 23) puisi merupakan bentuk kesusasteraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya. Sedangkan Wijosoedarmo mengatakan puisi adalah karangan yang terikat oleh banyaknya baris dalam tiap bait, banyaknya kata dalam tiap baris, banyaknya suku kata dalam tiap baris adanya rima dan irama.
Ditinjau dari bentuk bahasa puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan pertimbangan efek keindahan. Herbert Spencer (dalam Waluyo, 1987 : 23) dan H.B. Jassin (1965 : 40) mengatakan bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan dalam pikiran dan perasaan seolah bersayap, sehingga boleh dikatakan puisi merupakan kelakuan manusia seutuhnya.
Mc. Caulay, Hudson mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata berbagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan dasar bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, emosional dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya sehingga mampu membangkitkan pengalaman tertentu dalam diri pembaca atau pendengarnya.
Walaupun pernyataan-pernyataan di atas telah menjawab pertanyaan apakah yang dimaksud puisi dan sedikit memberi batasan-batasan akan puisi namun jelaslah bagi kita betapa sukarnya memberi batasan yang tepat terhadap kata puisi tersebut. Namun demikian bukanlah suatu alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa tidaklah mungkin kita mendekati puisi itu dengan baik, sebab kita masih dapat melukiskan sifat-sifat utamanya tersebut, maka lebih terbukalah jalan bagi kita untuk mengerti, menikmati bahkan juga menilai puisi itu sendiri.
1.A. Richards, (dalam Tarigan, 1984 : 9), seorang kritikus sastra yang terkenal telah menunjukkan kepada kita bahwa suatu puisi mengandung suatu makna keseluruhan yang merupakan perpaduan dari tema penyair (yaitu mengenai inti pokok puisi itu), perasaannya (yaitu sikap penyair terhadap bahan atau objeknya), nadanya (yaitu sikap penyair terhadap pembaca atau penikmatnya) dan amanat (yaitu maksud atau tujuan seorang penyair).
Di atas telah disinggung tentang hakikat puisi, dan rasanya kurang lengkap bila tidak mengurangi tentang metode puisi karena keduanya mempunyai hubungan yang erat sekali. Kalau diperhatikan benar-benar maka jelaslah bagi kita bahwa pada umumnya para penyair mengatakan lebih banyak memilih kata-kata yang banyak mengandung makna dari pada mengkombinasikan kata-kata. Dengan kata lain, dengan kata-kata yang sedikit mungkin penyair ingin melukiskan atau mengatakan sesuatu dengan jelas dan meluas mungkin untuk memenuhi maksud yang telah diutarakan itu, maka mau tidak mau diperlukan suatu metode yang baik beserta sarana-sarana yang diperlukan. Untuk itu yang terpenting di antaranya adalah : diksi, imajinasi, kata majas, ritme dan rima.
Diksi adalah pilihan kata yang dipakai oleh sang penyair. Diksi merupakan objek yang diteliti dalam riset ini. Imajinasi adalah usaha penyair untuk mempengaruhi para penikmatnya agar dapat melihat, merasakan, mendengarkan, menyentuh bahkan kalau perlu mengalami segala sesuatu yang terdapat dalam karyanya. Kata nyala adalah kata yang kongkrit dan khusus, bukan kata yang abstrak dan bersifat umum. Majas adalah bahasa kiasan atau gaya bahasa, sedangkan ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur, dan irama atau sajak adalah persamaan bunyi.
Demikianlah pembahasan tentang hakikat dan metode yang ada dalam puisi, dan sekarang peneliti akan mencoba mempresentasikan hubungan antara keduanya. Kalau kita teliti benar-benar maka jelaslah bahwa hakikat puisi dan metode puisi itu saling bergantung satu sama lain, yang satu tidak terpikirkan tanpa yang satunya lagi hubungan keduanya sama halnya dengan hubungan tubuh dan jiwa, hubungan jasmani dan rohani. Alton C. Morris (dalam Tarigan, 1984 : 41) mengatakan bahwa hakikat puisi dan metode puisi saling bergantung saling berhubungan satu sama lain, hubungannya itu bersifat organic bukan hanya hubungan yang bersifat mekanis.
Setelah dibahas tentang hakikat dan metode puisi, maka pembahasan berikutnya yaitu tentang “maksud dan tujuan”, agar ada gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang dimaksud. Terlebih dahulu akan kita dibicarakan perbedaan-perbedaan utama antara prosa dan puisi. Lucia B. Mirrielees (dalam Tarigan, 1984 : 42). Mengatakan bahwa perbedaan utama antara prosa dan puisi terletak dalam : (1). Maksud dan tujuan sang pengarang, (2). Bentuknya terutama sekali dalam ritme, rima dan pola-pola persajakan, (3). Hubungan dengan musik atau lagu, baik lagu kata maupun lagu kalimat, (4). Terpentingnya penjelasan yang terperinci terhadap pengertian setiap kata yang terdapat di dalamnya (5). Kuantitas majas, kata kias yang terdapat di dalamnya (6). Pemakaian refrensi, simbol serta implikasi-implikasi.
Demikianlah perbedaan-perbedaan yang terdapat antara prosa dan puisi, maka “maksud dan tujuan” puisi adalah : (1). Bukan untuk menyatakan makna, tetapi justru untuk menyarankan, (2). Bukan untuk menceritakan tetapi melukiskan, (3). Bukan untuk menerangkan atau menjelaskan tetapi mengajak atau mendorong para pembaca berkreasi, (4). Bukan untuk berbicara tetapi berdendang atau berlagu, (5). Bukan untuk berdendang atau berlagu melulu tetapi justru membangun atau menimbulkan dendang atau lagu pada para penikmatnya (Mirrielees dalam Tarigan, 1993 : 43).
Pembahasan berikutnya adalah lahirnya sebuah puisi atau lahirnya sebuah karya A.E. Housmann (dalam Tarigan, 1984 : 44) mengatakan bahwa sesungguhnya puisi bagi saya seakan-akan jauh lebih bersifat fisis ketimbang bersifat intelektual. Mr. Graves (dalam Tarigan, 1984 : 44) menyatakan bahwa puisi merupakan fusi dari ide-ide yang bertentangan. Sara Teasdale (dalam Tarigan, 1984 : 44) beranggapan bahwa puisi merupakan akibat atau review dari kegerakan atau ketegangan emosional sedangkan professor Prescott (dalam Tarigan, 1984 : 44) menganggap puisi itu sebagai penjelmaan dari suatu keadaan psikis yang hampir-hampir mendekati day-fream (yaitu pikiran-pikiran yang tidak-tidak terhadap hal-hal yang menyenangkan).
Mengenai penciptaan puisi ini Stephen Spender (dalam Tarigan, 1984 : 47) mengemukakan pendapat serta menceritakan pengalaman pribadinya dalam sebuah makalah yang berjudul “The Making Of Apoem” yang mula-mula dimuat dalam “Partisan Review” pada musim panas tahun 1946. Dari uraiannya dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam menciptakan sesuatu puisi diperlukan paling sedikit 5 hal yaitu : (1). Konsentrasi, (2). Inspirasi, (3). Karangan, (4). Keyakinan, (5). Lagu.

2.2.   Pengertian Diksi
Pilihan kata dan diksi tidak saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi soal perbendaharaan kata, urutan kata, dan daya sugesti. Adalah suatu kekeliruan yang besar untuk menganggap bahwa persoalan pilihan kata adalah persoalan yang sederhana, persoalan yang tidak perlu dibahas atau perlu dipelajari karena akan terjadi dengan sendirinya dengan wajar pada setiap manusia.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diksi adalah pilihan kata yang bermakna tepat dan selaras (cocok penggunaannya) untuk mengungkap gagasan dengan pokok bahasan, peristiwa dan khalayak pembaca atau pendengar (Moeliono, 1990 : 205). Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa diksi adalah kegiatan memilih kata setepat mungkin untuk mengungkapkan gagasan atau ide (dalam Hasanuddin W.S. 200 : 98).
Peranan diksi dalam puisi sangat penting karena kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi, bahkan untuk jenis puisi imajis, seperti dinyatakan oleh Sapardi Djoko Darono kata tidak sekedar berperan sebagai sarana yang menghubungkan pembaca dan gagasan penyair, seperti peran kata dalam bahasa sehari-hari dan proses umumnya, dalam puisi imajis kata-kata sekaligus sebagai pendukung dan penghubung pembaca dunia intuisi penyair. Begitu pentingnya pilihan kata dalam puisi sehingga ada yang menyatakan bahwa diksi merupakan esensi penulisan sebuah puisi bahkan ada pula yang menyebutkan sebagai dasar bangunan setiap puisi sehingga dikatakan pula bahwa diksi merupakan faktor penentu seberapa jauh seorang penyakit mempunyai daya cipta yang asli.
Kata-kata yang digunakan dalam dunia persajakan tidak seluruhnya bergantung pada makna denotative, tetapi lebih cenderung pada makna konotatif. Konotasi atau nilai kata inilah yang justru lebih banyak memberi efek bagi para penikmatanya. Uraian-uraian ilmiah biasanya lebih mementingkan denotasi, itulah sebabnya maka sering orang mengatakan bahwa bahasa ilmiah bersifat denotatif sedangkan bahasa sastra bersifat konotatif.
Dalam puisi penempatan kata-kata sangat penting artinya dalam rangka menumbuhkan suasana puitik yang akan membawa pembaca kepada pemikiran dan pemahaman yang menyeluruh dan total. Beberapa penyair sering mempergunakan kata-kata biasa, yakni kata-kata sederhana yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata semacam ini dengan cepat dan tidak terlalu sukar dimengerti oleh pembaca karena kata-kata tersebut menampilkan efek kejelasan yang bersifat langsung, seperti, urutan kata dan daya sugesti, oleh karena itu penulis akan mendiskripsikan tentang tiga aspek dalam diksi tersebut.

2.2.1.     Perbendaharaan Kata
Perbendaharaan kata penyair di samping sangat penting untuk kekuatan ekspresi juga menentukan ciri khas penyair, di samping penyair, memilih kata berdasarkan makna yang akan disampaikan dan tingkat perasaan serta nuansa batinnya, juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial budayanya. Suasana batin pengarang juga menentukan pilihan kata, artinya bila pengarang sedang marah maka dia akan menggunakan kata-kata yang keras (radikal), tetapi bila dia dalam keadaan bahagia akan memakai kata-kata yang cenderung puitis, intensitas perasaan penyair, kadar emosi, cinta, benci, haru dan sebagainya.
Karena puisi dalam pembahasan ini ini adalah puisi tertulis, maka kedudukan kata itu sendiri sangat menentukan pada makna. Dalam puisi lisan, makna kata juga ditentukan oleh lagu, tekanan dan suara pada saat kata-kata itu dilaksanakan. Penyair sering kali memilih kata-kata khas yang maknanya hanya dapat dipahami setelah menelaah latar belakang penyairnya.
Suradji Calzoum Bachri memilih kata-kata khas seperi : ngiauhuss, puss, sangsi, ngilu, anu, bajingan, pot, menka, sihka dan lain-lain. Kata yang dipilih Sutardji ini kurang pantas untuk puisi-puisi Indonesia karena dalam puisinya banyak kata-kata yang tidak bermakna diberi makna, kata-kata yang sudah bermakna diberi makna baru dan juga dipergunakan untuk mengungkapkan ungkapan yang bersifat estetis. Para Penyair religius kata-kata yang digunakan ditujukan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Tuhan. Sebaliknya bagi penyair atheis ungkapan itu menimbulkan nada yang tidak begitu simpatik.
Demikianlah pembahasan tentang perbendaharaan kata dalam puisi. Kata-kata dalam kehidupan sehari-hari dirasa masih kurang tepat untuk mewakili apa yang hendak dinyatakan, maka dicari perbendaharaan kata dalam bahasa ibu atau kata-kata dari bahasa kuno. Banyak pula yang menggunakan kata-kata asing seperti : solitude, intermezzo serta kata-kata asing lainnya.



2.2.2.     Urutan Kata
Urutan kata dalam puisi bersifat baku, artinya urutan itu tidak dapat dipindah-pindah tempatnya, meskipun maknanya tidak berubah oleh perpindahan tempat itu. Cara menyusun urutan kata itu bersifat khas karena penyair yang satu berbeda caranya dari penyair yang lainnya. Dapat pula dinyatakan bahwa ada perbedaan tehnik menyusun urutan kata, baik urutan dalam tiap baris maupun urutan dalam suatu bait puisi.
Sutardji Calzoum Bachri sangat gemar menyusun urutan kata-kata dalam puisinya, bahkan urutan kata itu ditempatkan begitu rapi sehingga membentuk gambar, maka puisinya sering disebut puisi grafis karena mementingkan efek visual dari penyusunan baris puisinya. Dalam puisi-puisi protesnya, Rendra menggunakan urutan kata yang dimulai dari nama orang, panggilan nama orang atau kata penghubung yang berfungsi mengikat seluruh bait puisi.
Demikianlah urutan kata-kata dalam puisi yang disusun secara cermat oleh penyair, jika urutannya diubah maka akan terganggu keharmonisan komposisi kata-kata juga mendukung perasaan dan nada yang diinginkan penyair, jika urutan katanya diubah maka perasaan dan nada yang ditimbulkan akan berubah pula.

2.2.3.     Daya Sugesti
Dalam memilih kata-kata penyair mempertimbangkan daya sugesti karena makna kata dipandang sangat mewakili perasaan penyair karena ketepatan pilihan kata dan ketepatan penampatannya. Kata-kata itu seolah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah dan sebagainya. Untuk mengesankan penghargaan yang tinggi pada kekasihnya, Rendra melukiskan kekasihnya itu seperti bait puisi berikut ini : engkau putri duyung / tawananku / putri duyung dengan suara merdu lembut / bagai angin laut / mendesahlah bagiku.
Untuk menyatakan persatuan yang erat antara dua keluarga, Amir Hamzah membuat perumpamaan dengan “bagai rusa di puncak Tursina”. Kata-kata Amir Hamzah ini dirasa lebih sugestif. Untuk mengungkapkan bahwa di malam lebaran itu penyair tidak merasa bahagia, maka Sitor Situmorang menulis : /malam lebaran / bulan di atas kuburan. Kata-kata pilihan penyair memiliki kekuatan mensugesti pembaca. Bahasa puisi lebih bersifat konotatif dari pada bahasa prosa, hal ini antara lain diusahakan untuk mendapatkan daya sugesti itu sendiri.

2.3.   Ragam Puisi Dilihat dari Bentuk dan Isinya
Ragam puisi jika dilihat dari bentuk dan isinya terdiri dari beberapa jenis antara lain :
1).   Puisi epic yakni suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan maupun sejarah.
2).   Puisi naratif yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita dengan pelaku, perwatakan, seting maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita.
3).   Puisi lirik yakni puisi yang berisi luapan bahwa individual penyair dengan segala macam endapan pengalaman, sikap maupun suasana batin yang melingkupnya.
4).   Puisi dramatic yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang baik lewat kelakuan, dialog, maupun menolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu.
5).   Puisi dedektif yakni puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya terlampir explicit.
6).   Puisi satirik yakni puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat.
7).   Romance yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih.
8).   Elegi yakni puisi yang berisi luapan rasa sedih seseorang
9).   Ode yakni puisi yang berisi pujian terhadap orang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan.
10).                   Himne yaitu puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa ataupun tanah air.



2.4.   Hubungan Kehidupan Pengarang dengan Gagasan dalam Puisinya
Pembahasan tentang hubungan antara kehidupan pengarang atau penyair dengan gagasan yang terdapat dalam suatu puisi yang diciptakannya sangatlah luas. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode histories, artinya membaca biografinya, dorasa dia lahir, pendidikan apa saja yang telah ditempuh, setelah besar bertempat tinggal di mana, siapa istri dan berapa anaknya, kapan dia meninggal dan di mana dikuburkan.
Setelah membahas uraian tentang hubungan antara kandungan makna dalam puisi dengan kehidupan pengarangnya akan timbul pertanyaan, apakah gagasan, kehidupan maupun ide-ide yang terdapat dalam puisi itu selalu identik dengan kehidupan penyairnya ? Jawabannya, tidak selalu ! puisi dapat mewadahi dan menggambarkan sesuatu yang sangat luas, dan bukan hanya cermin dari kehidupan penyairnya sendiri.
Perlu juga diketahui bahwa pembahasan masalah hubungan antara kehidupan penyair atau pengarang dengan gagasan yang terkandung dalam puisi yang diciptakannya sedikit banyak akan mengalami ketimpang tindihan dengan pendekatan sosio psykologis, yang perlu diperhatikan di sini adalah dalam membahas masalah hubungan antara kehidupan penyair dengan gagasan dalam puisi yang diciptakan, pembaca hanya melihat kehidupan penyair itu sendiri sebagai pribadi, sedangkan dalam pendekatan sosio psykologi, pembahasan melihat keberadaan penyair itu sebagai bagian dari kelompok sosial masyarakat tertentu, melihat bagaimana perilaku kejiwaannya dalam menanggapinya serta melihat bagaimana hubungan dengan gagasan yang terkandung dalam puisi yang diciptakannya.
Dari keseluruhan uraian di atas, akhirnya dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara kehidupan seorang penyair dengan gagasan yang dituangkan dalam puisi yang diciptakannya, sehingga dengan demikian dapat pula disimpulkan bahwa manfaat mempelajari biografi pengarang adalah untuk mengembangkan kemampuan apresiasi.

2.5.   Kata dalam Puisi
Berdasarkan bentuk dan isi, kata-kata dalam puisi dapat dibedakan antara: (1) Lambang, yakni bila kata-kata itu mengandung makna seperti makna dalam kamus (makna leksikal) sehingga acuan maknanya tidak menunjuk pada berbagai macam kemungkinan lain (makna denotative), (2) Utterance atau indice, yakni kata-kata yang mengandung makna sesuai dengan keberadaan dalam konteks pemakaian. Kata “jalang” dalam baris puisi Chairil, “Aku ini binatang jalang”, telah berbeda maknanya dengan “ wanita jalang itu telah berjanji berubah nasibnya”, dan (3) simbol, yakni bila kata-kata itu mengandung makna ganda (makna konotatif) sehingga untuk memahaminya seseorang harus menafsirkannya (interpretative) dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya (analisis kontektual), sekaligus berusaha menemukan figur semantisnya lewat kaidah proyeksi, mengembalikan kata ataupun bentuk larik (kalimat) ke dalam bentuk yang lebih sederhana lewat pendekatan parafrastis.
Lambang dalam puisi dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan. Sedangkan simbol dapat dibedakan antara (1) blank symbol, yakni bila simbol itu, meskipun acuan maknanya bersifat konotatif, pembaca tidak perlu menafsirkannya karena acuan maknanya sudah bersifat umum, misalnya “tangan panjang”, “lembah duka”, “mata keranjang”, (2) Natural symbol, yakni bila simbol menggunakan realitas alam, misalnya “cemara pun gugur daun”, “ganggang menari”, hutan kelabu dalam hujan”, dan (3) Private symbol, yakni bila simbol itu secara khusus diciptakan dan digunakan penyairnya, misalnya “aku ini binatang jalang”, “mengabut nyanyian”, “lembar bumi yang fana”. Batas antara private symbol dengan natural symbol dalam hal ini sering kali kabur.

SELENGKAPNYA
KLIK DI SINI 
Dengan memasukkan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari Judul Skripsi - Kumpulan Contoh Skripsi dan Makalah Pendidikan Bahasa Indonesia di inbox anda:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Blogger Template | Modified by Cara Membuat Blog